Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Hulubalang Harimau Laut


__ADS_3

Jung yang dinakhodai Raja Nio sudah memasuki perairan kepulauan Riau yang menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Johor. Dahulu, kota-kota Melayu pesisir di pulau Samudra ini merupakan wilayah pelabuhan dagang yang dikuasai oleh raja-raja dari Minangkabau. Para pedagang Minangkabau mendirikan kampung-kampung perdagangan di sepanjang Sungai Siak, Kampar, Rokan, dan Indragiri. Sedangkan penduduk setempat juga mendirikan setengah berdiri sendi yang diberi kebebasan untuk mengatur urusan dalam negerinya meski tetap diwajibkan untuk membayar upeti kepada para raja Minangkabau. Satu dari sekian banyak kampung yang terkenal adalah Senapelan di Riau.


Ada beberapa kerajaan mandiri yang berkuasa di Riau sebelum kedatangan bangsa bule. Kerajaan yang terawal bernama Kerajaan Keritang, diduga telah muncul pada abad ke-6 Masehi. Kerajaan ini pernah menjadi wilayah taklukan Majapahit, namun seiring masukkan ajaran Islam, kerajaan tersebut dikuasai pula oleh Kesultanan Melaka. Selain kerajaan ini, terdapat pula Kerajaan Kemuning, Kerajaan Batin Enam Suku, dan Kerajaan Indragiri.


Itulah sebabnya, setelah kejatuhan Malaka oleh bangsa Pranggi, maka kerajaan-kerajaan Melayu kecil yang sebelummya berada di bawah wilayah Malaka mulai mencoba mendirikan kerajaan lepas dari induknya.


Jambi misalnya, selama bertahun-tahun berusaha terus mengusik Pranggi dengan bekerja sama dengan Kesultanan Johor-Riau, walau tak banyak menunjukkan hasil.


Kesultanan Johor-Riau sendiri juga baru-baru ini menyambut tawaran tangan bangsa bule Walanda dari Betawi dalam menghadapi Pranggi sehingga menciptakan kerumitan lagi dalam hubungannya dengan kerajaan dan wilayah-wilayah Melayu lain.


Sebagai akibatnya, Jambi menjadi cukup awas dan was-was. Karena bagaimanapun, kelak bila Kesultanan Johor-Riau bersama Walanda bisa sampai berhasil menaklukkan Malaka, maka hubungan Jambi dan Johor serta Riau akan menjadi aneh. Dari awal keduanya sudah memutuskan kedaulatan negara mereka masing-masing namun masih tetap kesal dengan Pranggi yang telah menundukkan Malaka. Jadi, bila Kesultanan Johor mengambil alih Malaka bersama Walanda, kerajaan itu akan tampil kembali sebagai penguasa pengganti Malaka. Sangat mungkin sekali, Johor-Riau untuk mencaplok negara-negara Melayu lain yang dahulu berada di bawah Malaka, termasuk Jambi tentunya.


Ketegangan di belakang layar antara para penguasa, yaitu para Datuk, sementara ini tidak diamini oleh penguasa kedua belah pihak. Ini hanya untuk membuat rencana penaklukkan Malaka oleh kerjasama Kesultanan Johor-Riau dan Walanda dapat berjalan mulus tanpa gangguan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya, termasuk Jambi yang sudah ikut membantu melakukan perlawanan terhadap Pranggi Malaka sejak lama.


Bule Pranggi bukannya tak tahu menahu mengenai hal ini. Walanda dan orang-orang Melayu Johor terus-terusan melakukan banyak serangan dan segala tipu muslihat agar dapat menjatuhkan kekuasaan Pranggi, maka mereka juga tak tinggal diam.


Melalui para perompak dan orang-orang bayaran, Pranggi menyusup dan menyisipkan mereka ke perairan dan laut di kepulauan Riau untuk memecah perhatian dan persatuan mereka. Pranggi juga menebarkan kabar burung mengenai rencana jahat Johor untuk menguasai Jambi kepada para nelayan dan masyarakat pesisir Jambi. Tidak sampai disitu, Pranggi juga menghasut kelompok masyarakat Minangkabau dari kerajaan Pagarruyung untuk mencoba kembali menguasai kerajaan-kerajaan Melayu yang pernah mereka kuasai satu abad sebelumnya, yaitu abad ke-16 Masehi dengan mengabarkan kekacauan yang dialami oleh kerajaan-kerajaan Melayu akibat perpecahan tersebut.

__ADS_1


Sekali jala, banyak ikan tertangkap. Seperti orang-orang Bugis, misalnya. Yang berdiam di pesisir Johor, Riau dan Jambi serta menjadi pelaut, seakan diberikan angin segar dengan kabar bahwa mereka berhak dan pantas untuk ikut memiliki kekuasaan atas negara-negara dan wilayah yang mereka diami, dibanding dihancurkan oleh raja dan pemerintahan itu sendiri.


Segala kemelut yang siap meledak di kemudian hari ini tak dinyana diwakili pada pagi yang cerah di perairan kepulauan Riau. Pulau-pulau kecil terlihat dari kejauhan mengapung kokoh di atas samudra. Namun pemandangan tersebut dikacaukan oleh teriakan seorang awak jung Raja Nio yang melihat kapal-kapal melaju dengan cepat di depan mereka. Semuanya dilengkapi dengan persenjataan dan pasukan pula.


Tiga kapal bajak laut terlihat memacu tubuh kayu mereka menghindari kejaran empat kapal bercadik milik orang-orang Bugis. Dua kapal jung besar, hampir sebesar jung Raja Nio juga ikut berebut mengejar kapal para perompak itu. Keduanya masing-masing milik orang Melayu Jambi dan pelaut Melayu Riau. Tepat di depan kapal-kapal para perompak yang dikejar-kejar tersebut, dua buah kapal yang berisi campuran pelaut dan pendekar Pagarruyung serta Melayu Rejang atau Bengkulu telah menghalang.


***


Satu kapal perompak nekad tak menghentikan laju kapalnya, bahkan ketika dua tembakan meriam meletus dari kapal orang Minangkabau dan Melayu Bengkulu tersebut.


Satu kapal perompak ini menubruk salah satu kapal pelaut Minangkabau dan Melayu Bengkulu. Bunyi tubrukan keras terdengar, disertai hancurnya bagian depan kapal perompak yang memang lebih kecil itu.


Tembakan bedil juga langsung bersahutan dari geladak kapal Minangkabau-Bengkulu, mencoba menghajar para perompak yang berlompatan naik ke kapal mereka.


Hanya dua tubuh perompak yang tertembus pe*lor dan jatuh tewas di laut, sisanya, belasan perompak, berhasil naik dengan cepat ke atas kapal. Mereka sudah menggigit beragam senjata di mulut mereka seperti badik, tumbuk lada, keris, bahkan pedang dan kelewang.


Teriakan keras perintah terdengar dari atas geladak dari hulubalang dan pendekar-pendekar Minangkabau dan Melayu Bengkulu untuk mempersiapkan diri dari pertarungan hidup dan mati.

__ADS_1


Para pendekar Minangkabau langsung meloloskan kelewang dan pedang mereka yang digenggam di tangan kanan, serta kerambit di tangan kiri. Sedangkan para jawara Melayu Bengkulu menghunus senjata sejenis belati yang dinamakan Sewar.


Sewar dikenal dengan beragam nama di pulau Melayu ini seperti Sewah oleh orang Gayo, Seiva oleh orang Minangkabau, Siva oleh orang Alas dan Siwaih oleh orang Aceh.



Serupa dengan keris atau badik, Sewar biasanya dibawa dengan cara diselipkan di sabuk. Senjata belati bermata pendek ini digunakan dalam gaya bertarung jarak dekat untuk menyabet, meski juga baik sekali dengan serangan-serangan tusukan. Sewar memiliki bilah bermata tunggal atau bermata dua yang sedikit melengkung. Dari dasar gagang, bilahnya menyempit atau melebar di ujungnya, tergantung pada jenisnya. Sewar bermata dua memiliki tepi tajam belakang yang membentang dari ujung bilah sampai ke dasar gagang.


Sarungnya biasanya terbuat dari kayu, dengan penampang berbentuk lonjong, dan dihiasi ukiran. Sewar yang dimiliki oleh orang-orang kaya dan terpandang sering kali dihiasi dengan logam mulia atau permata. Sarungnya terdiri dari dua potong kayu yang disatukan dengan ikatan rotan atau perak dan emas.


Bila diperhatikan dengan seksama, Sewar mirip dengan rencong dan tumbuk lada, tetapi bilahnya lebih panjang, lebih berat dan memiliki sarung yang sangat berbeda.


Kedua kelompok pendekar Minangkabau-Bengkulu ini menyebut mereka sendiri dengan para Hulubalang Harimau Laut. Ini dapat dimaklumi, karena kerajaan-kerajaan di wilayah Melayu Bengkulu sangat dipengaruhi oleh Kerajaan Banten di Jawa, dan tentu saja Minangkabau. Jurus-jurus dan gaya bertarung pendekar-pendekar Melayu Bengkulu tersebut juga serupa dengan gaya bersilat asal Pagarruyung.


Silat Melayu Bengkulu juga meniru gerakan pertarungan dua ekor harimau, sehingga kuda-kuda rendah, lompatan, terkaman serangan mematikan dengan cakaran juga menjadi andalan. Bedanya, silat cikak harimau Melayu Bengkulu yang dikenal sebagai silat cekak dalam bahasa Minangkabau, lebih menekankan pada tangkapan dan kuncian, serta serangan pendek tajam dan mematikan dengan sikut dan lutut ketika musuh sedang dalam keadaan terjerat kuncian dan tangkapan tersebut.


Pertempuran pun langsung tak dapat dihindari, apalagi ketika satu kapal perompak lain juga mendarat di kapal mereka yang satunya.

__ADS_1


__ADS_2