Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Atas Sungai Bagian Kelimabelas: Serang Semua! Bersama-Sama!


__ADS_3

Jaka Pasirluhur terus mendesak ke arah Sasangka. Ia benar-benar ingin menjaga keunggulan mereka sekarang dengan menggabungkan kekuatan mereka. Di sisi lain, ia masih penasaran dengan siapa sosok orang Jawa yang mengaku menjadi Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu. Ia perlu sekali untuk membongkar rahasia yang menumpuk ini sembari terus melanjutkan perjalanan menemukan Jayaseta, bila memang desas-desus ini benar adanya.


Jaka Pasirluhur menyibak langkah-langkah lawan dengan bergerak terus sembari membabat. Jurus-jurusnya yang bagai orang mabuk dan oleng itu ternyata cocok dengan keadaan kapal yang bergoyang-goyang di atas sungai. Orang terakhir yang menutupi jalannya menuju ke Sasangka berhasil Jaka Pasirluhur lumpuhkan dengan terlebih dahulu menghindari dua tusukan cepat yang dibalas dengan sabetan menyilang yang jauh lebih cepat melukai wajahnya.


“Apa yang kau lakukan? Kita harus mendesak mereka ke tepian kapal. Bila mereka berjatuhan, itu satu-satunya cara untuk mengurangi jumlah penyerang dan mempertahankan wilayah pertahanan kita,” seru Jaka Pasirluhur ketika ia sudah berhasil berdiri berpunggungan dengan Sasangka.


Sasangka tidak membalas ucapan orang asing itu. Namun, ia setuju bahwa tadi ia cukup ceroboh. Ia sekarang sudah lumyan ngos-ngosan dan hampir putus asa menghadapi banyaknya musuh yang terus berdatangan dan menyerang dengan asal.


“Kita coba lakukan lagi,” ujar Sasangka akhirnya.


Sasangka memutuskan untuk menjadi penahan serangan dan penjaga gerakan Jaka Pasirluhur yang menderu-deru tersebut. Ia mengancam musuh yang hendak memberikan serangan balasan kepada Jaka Pasirluhur, untuk kemudian menjadi penyerang setelah Jaka Pasirluhur berganti peran menjadi penahan serangan.


Dua kali lagi peran dan pola mereka ini dilakukan bergantian, menghasilkan dua perompak lagi yang terluka parah dan kemungkinan besar telah tewas. Namun ini tidaklah cukup. Dua nyawa dalam beberapa kali serangan jurus dan langkah adalah benar-benar boros dan tidak tepat.

__ADS_1


Sasangka kembali bersumpah serapah ketika lemparan tombak kembali terlempar dan hampir mengenai dadanya. Jaka Pasirluhur menghindari lemparan tombak pula sehingga ia kehilangan waktu seperempat tarikan nafas dalam memusatkan perhatian, sehingga tendangan telak berhasil mengenai dadanya. Ia tersentak mundur, sedangkan


Sasangka juga sedang berpaling karena serangan lemparan tombak. Pola dan susunan pertarungan mereka menjadi ambyar.


Keduanya sadar dan ingin segera kembali ke keadaan semula. Namun, terlambat. Musuh mereka bukan sekadar orang-orangan kayu yang hanya diam menerima rencana apapun yang digunakan untuk mengalahkan mereka. Mereka sadar, kedua petarung jauh lebih unggul dan mereka memiliki pola pertahanan dan serangan yang sangat


mematikan dan tepat. Hanya saja, para perompak merasa lebih unggul dalam jumlah. Mereka pun harus bisa menggunakannya.


“Jangan serang bersama-sama. Gertak mereka, kemudian mundur, kemudian lemparkan senjata kalian!” teriak salah satu perompak Annam. Orang yang berteriak itu mungkin sekali bukan pemimpin mereka, tetapi jelas teriakan dan perintahnya sangat masuk akal sehingga langsung saja didengar oleh yang lain.


Sasangka yang telah terlanjur maju seakan terkena jebakan. Ia segera mundur dan berguling ke belakang ketika sebatang tombak hampir mengenainya. Tombak yang terlempar itu menancap di lantai papan geladak kapal untuk kemudian dicabut oleh sang pelempar. Senjata-senjata lain yang bersertakan kini juga sudah dengan cepat dipunguti oleh para perompak.


“Kurang ajar! Mereka tahu rencana kita,” ujar Sasangka berang.

__ADS_1


Ia kembali hendak menyerang, tetapi gerakannya lagi-lagi diberikan sambutan penipuan yang membuatnya kesal. Para perompak menjadi selangkah lebih jauh dari sasaran ketiga wedhungnya.


“Mereka kini yang memainkan peran kita. Mereka meniru pola dan rencana kita,” kali ini Jaka Pasirluhur yang terdengar cukup kesal dan cemas. Ia langsung memburu maju menyerang para perompak, karena ini adalah gilirannya menjadi penyerang.


Sama seperti apa yang Sasangka lakukan sebelumnya, para perompak berhasil menipunya dengan memberikan serangan gertakan untuk kemudian mundur dan dibantu dengan serangan para perompak lain dalam rupa sodokan tombak ataupun lemparan belati.


Jaka Pasirluhur menangkis dua lemparan belati sekaligus, tetapi ai terpaksa mundur jauh dan tersandung jatuh bergulingan ke belakang pada sodokan tombak yang datang menyerbu sampai tiga orang. Tubuh Jaka Pasirluhur ditarik keras oleh Sasangka ketika hujan tombak tak lantas berhenti, malah menyerang bagai kumpulan ikan mencicip berebutan pelet.


“Cepat bangung. Kita harus menghadapi mereka lagi,” seru Sasangka setelah menyelamatkan Jaka Pasirluhur dari deruan tusukan tombak.


Pola sudah bubar dan bubrah, saaatnya bagi para perompak menggunakan kesempatan mereka.


“Serang semua! Bersama-sama!” teriak perompak yang sama yang tadi memberikan perintah.

__ADS_1


Dalam waktu yang bersamaan, semua perompak menyerang dengan langkah yang serentak. Tombak terulur maju, belati dan pedang siap dilemparkan. Bahkan Jaka Pasirluhur dan Sasangku pun tahu, tidak semua serangan akan berhasil mereka hindari kali ini. Kuda-kuda tuga jurus Sasangka dan jurus-jurus kudhi buntung Jaka Pasirluhur disiapkan semampu mereka untuk menerima apa yang akan terjadi.


__ADS_2