
Sasangka yang terkejut tak sempat bertanya-tanya lagi apalagi berpikir mencari jawaban atas ucapan perompak pendekar Đại Việt yang ada di depannya tersebut, karena lawannya itu sudah menyerbu dengan dua sabetan menyilang ke bagian bawah tubuhnya. Sasangka mundur dan mencelat menghindari serangan.
Dalam sekali pantau, Sasangka mengenal kuda-kuda penyerangnya itu mirip sekali dengan silat gaya Cina. Namun menjadi sangat berciri khas karena diterapkan pada tubuh orang Đại Việt yang kecil dengan pedang bergaya Jepun. Gerakannya gesit, seperti terburu-buru tetapi luar biasa berbahaya dan mematikan.
"Baik, akan kulayani dahulu kau. Akan disimpan pertanyaan-pertanyaanku untuk nanti," gumam Sasangka di dalam hati. Jiwanya tertantang untuk membuka rahasia yang ada di depannya, tetapi di sisi lain, ia ingin memberi pelajaran pada si congkak itu.
Tiga belati digerakkan dalam saru poros membentuk tiga jurus seakan dilakukan tiga orang berbeda. Sasangka tak mau mengambil kemungkinan bahwa orang yang ada di depannya adalah seorang pendekar ulung. Ia tak mau bermain-main dan membuang waktu. Rasa ingin tahunya bisa menyusul kemudian saja.
Serangan cepat sang perompak Đại Việt adalah kembali sabetan menyilang pedang bergaya Jepun tersebut. Sasangka memutarkan wedhung kembar di tangan kanannya untuk menepis dua serangan menyilang lawan, kemudian tangan kirinya menusuk lurus dengan cepat didorong hentakan kaki ke depan.
Sang perompak Đại Việt masih sempat mundur secepatnya, walau dadanya tetap tertusuk ujung wedhung Sasangka. Ia menggelinding sekali kebelakang dan berteriak merutuk karena sakit dan kesal. Melihat kesempatan ini, Sasangka mencelat maju untuk menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Tiba-tiba sebilah tombak terlontar laju ke arahnya. Sasangka tersentak, membatalkan serangannya untuk menepis tombak itu.
TRAK!
Tombak terlempar ke atas geladak. Namun ada dua tombak lagi yang berhasil mengenai sasaran, dua prajurit Lan Xang terjerembab tewas di tempat setelah menggelepar terlebih dahulu bagai ikan yang terlempar ke daratan. Dada mereka tertembus tombak.
Sasangka memindai keadaan. Rupa-rupanya para perompak Đại Việt banyak telah berhasil naik ke atas geladak. Masih banyak lagi yang merengsek merayap di badan kapal bagai cicak atau merambati tali bagai monyet-monyet memanjat sulur-sulur tanaman.
Ia memandang ke belakang dan menyaksikan para perompak juga telah menaiki bagian tengah kapal.
Sang perompak Đại Việt dengan pedang melengkung serupa kata Jepunnya itu kini dibantu berdiri oleh tiga orang perompak lain yang nampaknya adalah gabungan orang Đại Việt dan Champa. Ketiganya bersenjata tombak di tangan kanan dan belati di tangan kiri.
__ADS_1
Di samping kiri dan kanan, bahkan belakang Sasangka, para prajurit Lan Xang sudah benar-benar kesulitan melayani tusukan tombak dari bawah kapal, atau mereka yang sudah berhasil naik ke geladak.
Si perompak yang terluka dadanya tadi terlihat penuh nafsu untuk menyobek-nyobek tubuh Sasangka. Ia semakin terlihat percaya diri karena ada tiga prajurit lain yang sekarang siap membantunya. Ia tak keberatan berbagi keroyokan dengan tiga rekannya selama tugas mereka menghabisi Sasangka dapat tercapai.
Wedhung melayang dan menancap tepat di kepala salah satu perompak Champa. Ia rubuh ke atas geladak kapal dengan dahi bocor dan wedhung masih tertancap kuat di sana. Darah menggelegak keluar dari luka di dahinya.
"Jangan banyak omong. Majulah kalian semua!" seru Sasangka. Ia sama sekali tak memberikan kesempatan bagi para perompak untuk merasa unggul. Bahkan keterkejutan para perompak itu saja belum usai, Sasangka langsung menerjang maju dengan dua wedhung yang dikaitkan di bagian hulunya.
Dalam tiga jurus, memutarkan ujung belati seakan dua sampai tiga orang yang bergerak sekaligus. Leher salah seorang perompak Đại Việt sobek, sisanya, termasuk perompak berpedang Jepun langsung bubar, mundur sejauh mungkin.
Sasangka menunjukkan tanduk dan taringnya dengan keganasan yang tak bisa dinalar. Silahkan saja para perompak naik terus-terusan, ia akan habisi mereka sebanyak mungkin, pikir Sasangka. Ia akan tunjukkan kepada orang-orang ini siapa yang mereka hadapi.
__ADS_1
Sasangka boleh saja beringas dan penuh semangat membara mengajar musuh, tetapi kenyataan yang terjadi entah sampai kapan ia bisa bertahan seperti itu. Keadaan di haluan sama sekali berbeda dengan buritan kapal. Bila Jaka Pasirluhur mampu menggerakkan prajurit dan penunggang kapal bersenjata untuk menahan para perompak selagi sang pendekar bertopeng Penthul Tembem itu membunuhi penyerang yang berhasil menembus pertahanan, berbeda dengan Sasangka yang keadaannya kacau balau.
Sasangka sendiri tak sadar bahwasanya ia masih bisa melawan musuh karena gerakan mereka terhadang oleh tindakan Jaka Pasirluhur.