Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Warangan


__ADS_3

Para anggota Jarum Bumi neraka ternyata begitu cekatan. Serangan mereka yang menyasar pada perusakan bangunan dan tempat-tempat penting serta pembunuhan prajurit Pranggi baik perwira bule maupun pribumi lumayan berhasil.


Beberapa bangunan lagi terbakar. Warga berlarian kebingungan dan ketakutan. Para prajurit beberapa tewas mati tanpa tanda-tanda siapa penyerangnya. Tentara tentu kalut, belum lagi berita mengenai kekacauan ini perlahan sampai juga ke telinga para pejabat di bangunan utama dalam benteng kota.


Para pasukan merasa kecolongan dengan kejadian ini, padahal mereka sedang mengetatkan penjagaan dan persiapan kemungkinan pertempuran dengan lawan mereka. Hubungan yang semakin memanas antara Pranggi Malaka dan Walanda Betawi sudah hampir pecah, namun kejadian ini seakan semakin menunjukkan bahwa Pranggi tidak dalam persiapan dan pertahanan yang baik.


Sasangka sudah menduga hal ini. Segala gerak-gerik para jawara dari Betawi yang menyamar menjadi para tukang bangunan itu sudah dapat dibaca olehnya.


Masalahnya sekarang, kekacauan sudah terjadi. Mungkin ia adalah satu-satunya orang yang tahu siapa pelaku pembakaran dan penyerangan para prajurit bule maupun pribumi Pranggi.


Bukan tempatnya untuk ikut campur urusan kisruh ini sebenarnya. Ia tak suka dan tak peduli dengan orang-orang bule dari negeri Barat jauh itu, apakah Walanda ataupun Pranggi, termasuk dengan para bawahan dan antek-antek pribumi mereka.


Hanya saja, usaha di Malaka ini adalah urusannya, keoentingan keluarganya sekarang. Ayah mertua dan kstrinya sudah mempercayakan tugas dan tanggung jawab kepadanya agar dapat membangun hubungan yang baik dengan para pembeli dan pedagang arak buatan Babah Lau di Betawi. Maka, ketika ia sedang dalam urusannya, harusnya tak ada yang bisa dan boleh mengganggunya.


Akan runyam urusannya bila sampai kota ini dikacaukan padahal ia baru saja sampai dan belum sempat melaksanakan apapun sesuai rencananya. Begitu juga dengan pertimbangan Babah Lau yang berpikir bahwa serangan Walanda Betawi tidak akan terjadi dalam waktu kurang dari satu atau dua tahun lagi. Maka, jelas ia tak bisa membiarkan hal ini terjadi.


Beberapa jawara pelempar paku dari kelompok Jarum Bumi Neraka menyerang para prajurit yang kebingungan dari balik tubuh warga yang berduyun-duyun pergi menghindari kekacauan. Dengan licik mereka melempar satu dua paku yang mengenai bagian atau anggota tubuh manapun dari para prajurit.


Sasangka kenal sekali dengan kepengecutan dan cara bertarung mereka. Sepasang wedhungnya siap kembali bermandi darah.


Sasangka mengambil selembar kain panjang dari balik bajunya. Agar benar-benar tak dikenali, ia bahkan ikut melepaskan baju atasannya dan menyimpan semuanya bersama arak-araknya.


Setelah menutup mulut dan hidungnya menggunakan selembar kain tersebut, Sasangka meloloskan sepasang wedhungnya dan meluncur ke tengah-tengah kekacauan yang diwarnai warga ramai berputar-putar bingung dengan keadaan serta kepulan asap yang menutupi udara.


***


Ujung lancip colhona ditempatkan di muka, menghadap Kamisan sang lawan. Kuda-kuda sang perwira Pranggi menekuk rendah, siap melesatkan tubuh menusuk tubuh musuh.


Kamisan, jawara Jawa dari Betawi, ketua salah satu pecahan gerombolan Jarum Bumi neraka yang bergelar Pikulan Sakti melakukan hal yang sebaliknya.

__ADS_1


Batang kayu pikulan diletakkan di bahunya. Kedua kakinya hampir dalam keadaan lurus berdiri biasa, santai, seakan-akan tidak benar-benar siap untuk bertarung.


Perwira Pranggi, dan kebanyakan lawan bertarung Kamisan seringkali tertipu. Bahkan sebenarnya ini adalah ciri khas jurus Pikulan Bulan Menumbuk Bumi. Kuda-kuda santai itu sebenarnya ditujukan agar Kamisan dapat bergerak dengan leluasa dalam melakukan serangan. Kuda-kuda lemas dan santainya itu bagai bulan purnama yang membuat lawan lengah dan terpesona, untuk kemudian ditumbuk hancur.


Si Pranggi menggeser kakinya menciptakan sebuah ancang-ancang menyerang. Ia melesat maju, namun kemudian berhenti tiba-tiba.


Kamisan bergeser dengan tujuan bersiap menghindar.


Rupa-rupanya sang perwira Pranggi melakukan sebuah gerak tipuan, kerena alih-alih menusuk dengan pedang kepiting atau colhona nya, ia berputar dan membabatkan bilah yang tajam di kedua sisinya itu satu lingkaran penuh dengan cepat.


Kamisan tersentak dan mundur jauh. Ujung colhona tak menyentuh sedikitpun tubuh Kamisan. Ini tak mengherankan karena meski gerakan tipuan sang Pranggi cukup mengagetkan, Kamisan adalah seorang pendekar, jawara, bahkan ketua kelompoknya. Mengenai penggunaan senjata mutakhir seperti bedil misalnya, mungkin ia bisa menjadi lawan berat, namun mengenai gerak langkah silat satu lawan satu, sang Pranggi bukanlah apa-apanya.


Maka juga tak mengherankan ketika malah sang perwira yang terkejut mendapatkan Kamisan menyerang balik dengan cepat padahal jawara itu baru saja menghindari serangannya.


Batang kayu pikulan yang separuh setengah bulat dan separuhnya lurus itu menderu menyasar dadanya.


Sang perwira oleng dan hampir terjungkal jatuh karena tak seimbang.


Batang kayu pikulan sebagai senjata itu hampir memecahkan kepala sang perwira bila tidak ia tangkis dengan pedang colhonanya.


Si perwira bule Pranggi jatuh bergulingan di tanah karena kerasnya serangan jurus Pikulan Bulan Menumbuk Bumi yang dilakukan lurus dari atas bagai bintang jatuh menghujam ke bumi.


Sang perwira merasakan bahunya kebas meski ia telah menahan dengan pedang serta menyelamatkan kepalanya. Serangan lawan memang tak main-main.


Ia kembali berdiri secepat mungkin dan bahkan memutuskan menyerang terlebih dahulu tanpa pikir panjang lagi. Ujung lancip bilah colhona meluncur maju. Kali ini ia benar-benar akan menusuk Kamisan.


PRAK!!


Malang bagi sang bule Pranggi, jurus Pikulan Bulan Menumbuk Bumi akan menjadi sangat manjur sebagai sebuah bentuk pertahanan sekaligus penyerangan.

__ADS_1


Dengan kuda-kuda santai itu, Kamisan bergeser dengan mudah dari tusukan colhona dan menumbuk paha sang perwira Pranggi, mematahkan tulangnya.


Tubuh laki-laki berkulit pucat itu ambruk dengan teriakan pilu. Colhona tertancap di tanah dan lepas dari tangannya.


Kamisan mendekat ke arah lawannya yang menggelepar di tanah. Ia mengangkat pikulan di atas kepala, siap menjatuhkan tenaga besar menghancurkan kepala musuh. Kali ini pasti berhasil karena tak terlihat ada penghalang lagi.


***


Sosok tertutup muka dan bertelanjang dada itu berlari cepat nan gesit bagai seekor kucing hutan menembus kepulan asap dan menyelip tubuh-tubuh warga yang berlarian.


Kedua wedhungnya membabat cepat dalam sekali dua tarikan, menyabet bahu dan lengan dua musuh sekaligus.


Kedua pelempar paku beracun rahasia itu tak menyangka bahwa ada sosok yang menyerang mereka, juga dengan sama-sama sembunyi-sembunyi nya. Sayangnya, mereka terlambat untuk paham. Setelah melukai mereka dengan parah, Sasangka menyarangkan bilah wedhung dalam-dalam ke kedua dada mereka. Keduanya tewas bersimbah darah.


Sasangka kembali melesat mencari sasaran korban sepasang wedhungnya. Beberapa orang anggota Jarum Bumi Neraka ternyata telah menyaksikan sepak terjang sosok itu dalam menghabisi dua anggota mereka.


Tak perlu sungkan-sungkan lagi, kesemuanya saling memberi tanda dan serta merta melepaskan masing-masing dua paku beracun warangan, bacem kodok atau bisa ular weling.


Sasangka memutarkan wedhungnya, menangkis lemparan paku, dan berguling menghindar. Desingan paku-paku beracun mematikan itu melewati wajah, kepala dan badannya. Hawa racun yang hampir menyerempet badannya membuat Sasangka malah menjadi semakin kesal.


Ia balas melemparkan kedua wedhungnya satu persatu sambil berlari maju.


Dua nyawa termakan bilah tajam senjata itu. Wedhung menancap di dada dan kepala dua jawara dari Betawi tersebut. Sasangka melompat maju, mencabut kedua wedhung dari tubuh musuh yang meregang nyawa sehingga darah muncrat gila-gilaan kemudian melakukan jurus tiga langkah menusuk, memapras dan menetak bahu, lengan dan leher musuh yang tersisa.


Darah kembali bercipratan. Nyawa melayang bersama teriakan pedih, sakit dan takut menjadi satu. Sasangka yang bertutup muka itu bergerak dalam tiga jurus yang singkat dan padat, tanpa ampun membasahi belati wedhungnya dengan darah.


Sepak terjang sosok tak dikenal ini membuat para pasukan Pranggi sadar siapa yang menyerang mereka. Walau heran dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, dan siapakah sosok itu, mereka jelas paham bahwa sosok bertutup wajah tersebut sedang membantu mereka.


Tak pikir panjang lagi karena sudah terlalu lama bingung dan kalut, para perwira dan pimpinan pasukan langsung memerintahkan mereka menyasar beberapa orang yang sedang mengepung sang sosok 'pahlawan' tersebut.

__ADS_1


Bunyi tembakan terdengar ketika bedil-bedil meletus mengepulkan asap putih tebal membumbung ke udara. Para anggota Jarum Bumi Neraka berjatuhan dengan pe*luru melesak masuk ke dalam tubuh mereka. Daerah bercucuran, nyawa beterbangan hilang.


Tak disangka, kerahasiaan mereka dalam menyerang pasukan Pranggi diganggu oleh seorang pendekar yang tak dikenal. Bukannya berhasil membuat kalut kota dan melarikan diri dengan selamat, sebaliknya, nampak-nampaknya usaha mereka hanya berhasil pada taraf membuat kekacauan setingkat perampok dan perompak biasa, bukannya telik sandi dan penjahat kiriman negara lain.


__ADS_2