
Pratiwi sudah benar-benar tak sadarkan diri. Dengan terseok-seok, sang kakek, Karsa, menggendongnya. Tulang-tulang yang retak di dalam tubuhnya butuh waktu untuk kembali utuh. Pecahannya menusuk-nusuk dagingnya dari dalam.
"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Sekarang atau tidak sama sekali," ujar Yu di dalam hati sembari berjalan di belakang kakek dan cucunya itu. Jelas ada pertentangan yang hebat di dalam jiwanya mengenai satu dan lain hal sehingga ia merasa harus memutuskan untuk melakukan sesuatu saat ini juga.
"Kakek, tunggu ... Tunggu sebentar!" seru Yu tiba-tiba. Mereka bisa dikatakan belum terlalu jauh melarikan diri dari benteng kayu ulin dan masih menyusuri tepian sungai. Bahkan Yu masih dapat mendengar teriakan perang dan bunyi besi beradu dari dalam benteng tersebut.
"Kenapa denganmu? Cepat, kita harus pergi sejauh mungkin. Cucuku sedang dalam keadaan lemah. Kita harus memberikan dia pertolongan secepatnya!" balas Karsa.
"Kakek, tolong berhenti sebentar. Aku tabib, aku paham bagaimana mengobati Pratiwi. Jangan kau lupakan itu, kakek," balas Yu dengan suara setengah mengiba.
Karsa terpaksa berhenti dan memandang ke belakang dengan enggan sekaligus gusar. "Ada apa sebenarnya, heh?" ujar sang kakek. Yu terlihat ngos-ngosan dan menunduk memegang kedua lututnya.
"Kemari sejenak, kek. Aku terluka. Sebaiknya kau letakkan Pratiwi dahulu. Aku merasa benar-benar kesakitan. Segera bantu aku," ujar Yu mengiba.
Karsa merasa ada hal yang mencurigakan terjadi padi Yu. Ia jelas menolak untuk meletakkan Pratiwi di tanah hanya untuk memeriksa keadaan laki-laki Cina itu. Apalagi mereka belum jauh dari pusat peperangan.
Namun selagi Karsa terlihat ragu, Yu berseru kembali, "Jangan berpikir untuk meninggalkan aku di sini dalam keadaan terluka seperti ini, kek. Aku dan Pratiwi yang menyelamatkanmu dari kematianmu yang entah untuk keberapa kali. Aku juga yang selama ini merawat Pratiwi dari luka dalamnya. Aku paham seluk-beluk kesehatan Pratiwi, terutama sekarang. Kalau kau meninggalkanku, Pratiwi akan makin parah keadaannya. Belum lagi dia akan semakin membencimu karena pertama, kau bukannya menyeret Jayaseta kepadanya, malah berniat membunuhnya dan kedua, kau meninggalkan calon suaminya, yaitu aku, untuk mati dalam keadaan terluka," jelas Yu panjang lebar.
"Apa katamu?!" Karsa membeliak.
"Ya, benar kek. Aku sudah melamar Pratiwi. Ia setuju untuk menikah denganku, dengan catatan aku ikut ia mencarimu dan Jayaseta, kemudian memberikan pelajaran kepada pendekar itu malah kalau bisa membunuhnya. Sekarang kau bayangkan, kek, kalau ia sadar dalam keadaan kesehatan yang buruk dan aku tak ada di sampingnya," balas Yu.
"Bang*sat! Kau cerewet sekali!" sumpah Karsa. Namun ia tetap menurunkan Pratiwi ke tanah dan mendekat ke arah Yu. Sekesal apapun ia, Karsa sadar bahwa apa yang diucapkan pria Cina itu benar sepenuhnya. Tak ada alasan untuk tak mendengarkannya.
Sedikit banyak Karsa mengenal Yu sebagai tabib Pratiwi ketika mereka berada di Betawi. Saat Pratiwi sedang dalam keadaannya yang sangat lemah, ia meminta kakek kembarnya, Karsa dan Mandura untuk memaksa Jayaseta datang ke Betawi, untuk dikawinkan dengan Pratiwi, meski keduanya memilih untuk melibatkan para anggota Jarum Bumi Neraka dan mencoba membunuh Jayaseta, bukannya memaksanya ke Betawi.
__ADS_1
Oleh sebab itu, Karsa juga yakin bahwa sang pria Cina itu memang terluka. Bisa saja ia hanyalah seorang tabib yang lemah dan ringkih, tak menguasai ilmu silat dan hanya mampu menggunakan alat-alat pengobatannya, termasuk melemparkan jarum-jarum untuk menyelamatkannya dan Pratiwi sebelumnya.
Karsa benar. Segala pemikirannya tepat adanya. Namun, meski ia tak mengeal ilmu kanuragan dengan baik dan sehebat para pendekar, bukan berarti Yu adalah pria bodoh dan polos. Ia punya banyak pengetahuan yang bila dibutuhkan, akan dapat digunakan untuk mengalahkan lawan.
Maka tanpa sepengetahuan Karsa, sewaktu Yu menunduk dan memegang lututnya, secara diam-diam ia menyelipkan sebatang jarum berkarat dan penuh racun pekat di bibirnya. Ia sudah menguasai sebuah cara untuk membuat racun yang ada di jarum tak tertelan dirinya sendiri, yaitu dengan cara menempatkannya di bagian bibir yang kering dengan sedemikian rupa.
Cara yang paling tepat menggunakannya adalah ketika sasaran berada di dekatnya. Itu sebabnya Yu meminta Karsa untuk mendekat dan meletakkan tubuh Pratiwi terlebih dahulu. Ia tak ingin membuat kesalahan sekecil apapun.
Tinggal dua langkah lagi Karsa sampai di dekatnya, Yu mendongak ke arah wajah Karsa. Sang pendekar tua segera tahu apa yang akan terjadi ketika melihat Yu memandang ke arahnya, namun semua terlambat.
Yu menembakkan jarum beracun dari mulutnya dengan meniupnya kuat-kuat. Latihan Yu pada pengaturan pernafasan ini telah sejak lama dilakukan dalam tuntutan pekerjaannya sebagai tabib, dimana memerlukan ketangguhan jasmani yang baik.
Sebatang jarum itu meluncur menembus lapisan bola mata Karsa yang tak kebal dan terlindungi.
Karsa memegang mata kanannya yang berdarah. Teriakannya menyusul dengan begitu menyayat sembilu.
Karsa kemudian memaksa melihat dengan satu mata lainnya yang masih bisa digunakan ke arah Yu. Saat itulah saru jarum lagi menembus biji matanya.
Karsa meraung sejadi-jadinya.
Belum selesai tulang-tulangnya yang patah kembali seperti semula, kini ia merasakan rasa sakit yang membuat kepalanya pening bagai dipukul palu godam.
"Kau akan kubunuh bang*sat tengik! Mampus kau, mampuusss...!" ujar Karsa berputar-putar memukulkan tangannya ke berbagai penjuru berharap mampu mengenai Yu.
Sang lelaki Cina itu bergerak ke samping kiri dan kanan, menunduk dan mundur menghindari pukulan sang pendekar tua itu.
__ADS_1
Karsa boleh saja sedang buta dan kesakitan saat ini, tapi pukulannya tetaplah pukulan penuh tenaga layaknya seorang pendekar. Bila Yu tak berhati-hati, sekali pukul cukup untuk membuatnya tewas.
Racun itu terus mengalir ke dalam aliran darah Karsa. Orang biasa akan tewas dalam beberapa tarikan nafas, namun bagi Karsa, racun hanya akan melukainya, tak peduli seberapa parah. Ia tak akan benar-benar mati, karena anggota tubuhnya akan tetap tumbuh sempurna kembali.
Karsa mencabut kedua jarum yang masuk dalam-dalam ke bola matanya. Darah muncrat keluar deras.
Yu lumayan ragu untuk melakukan tindakan berikutnya, namun ia tak punya alasan untuk membatalkannya. Sudah kepalang tanggung. Ia harus berani menanggung akibatnya karena Karsa menyulitkan kehidupan Pratiwi.
Ia paham betul bahwa Pratiwi adalah seorang pendekar, bahkan gadis itu adalah seorang pembunuh ulung nan berbahaya. Kehidupannya pasti tak akan jauh dari marabahaya dan pertarungan.
Namun bersamanya, Pratiwi dapat berubah. Saat ini adalah saat yang tepat bagi sang gadis untuk meninggalkan masa lalunya perlahan. Dan itu tak akan terjadi bila Jayaseta belum mati. Sialnya, tak akan ada apapun yang kan terjadi bila Pratiwi sendiri yang tewas.
Karsa, sang kakek adalah sumber masalah terbesar. Menurut penjelasan dan kabar yang ia dapatkan di Sukadana, ia menyimpulkan bahwa Karsa terus saja hidup dan akan terus memburu Jayaseta, sedangkan Yu sendiri yakin bahwa pendekar itu bukanlah lawan mereka. Jayaseta adalah seorang tokoh yang harus hidup di jalannya sendiri. Ia dan Pratiwi harus menjauh dari jalannya.
Untuk melepas hubungan kedua jalan yang bersalingsinggungan ini, ia harus melenyapkan Karsa untuk selamanya.
Kulit sang pendekar tua itu memang keras dan hampir tak tertembus, kecuali mungkin di leher. Sedangkan ia tak memiliki senjata tajam jenis apapun saat ini. Tapi sudah terbukti bahwasanya bagian dalam tubuh Karsa masih bisa diciderakan. Racun masih berpengaruh padanya walau tak lama. Tulang, jantung dan jeroannya bisa hancur, walau bisa kembali tumbuh. Tapi jelas ia bisa mati bila habis dibakar.
Yu maju cepat ke arah Karsa yang berputar-putar memukulkan kepalannya ke segala arah. Yu kemudian memberikan satu tinju sekeras mungkin ke bagian dada di bawah jantung Karsa, kemudian mundur secepat mungkin menghindari serangan membabibuta Karsa. Pukulan Yu itu jelas tak akan membuahkan hasil bila ditujukan untuk melukai bagian luar tubuh Karsa.
Namun, Yu menekan titik tertentu di dalam badan Karsa dengan sedikit tekanan saja. Karsa boleh tak merasakan apa-apa di kulit keriputnya, namun aliran darahnya berhenti tiba-tiba, ditambah racun yang masih bekerja masuk ke otaknya. Kembali Yu menerapkan kemampuan pengetahuan akan Dim Mak nya, untuk kedua kali di dalam hidupnya, membunuh manusia.
Kedua mata Karsa yang buta itu membelalak. Ia bahkan tak sempat mengatakan sumpah serapah. Lagi-lagi ia tewas dalam keadaan yang mengenaskan, tubuhnya jatuh berdebum ke tanah.
Yu yakin, akan butuh waktu lumayan lama bagi Karsa untuk hidup kembali. Titik yang ia pukul menekan pembuluh darah ke jantung, sehingga udara pun tak berhasil masuk.
__ADS_1
Mengingat tulang-tulang yang retak, kedua mata yang buta, dan jantung yang tak bekerja lagi, paling tidak butuh waktu dua hari bagi Karsa untuk kembali utuh dan hidup. Dan itu cukup untuk membuat Karsa mendapatkan ganjaran dari para prajurit Daya di dalam benteng kayu ulin tersebut. Yu yakin dengan adanya Jayaseta di pihak mereka, prajurit penyerang tak akan berhasil. Sore ini, sebelum mentari terbenam, kejayaan bakal sudah dapat dicapai. Dan ketika warga dan para prajurit Daya memeriksa sekitarnya, mereka akan mendapatkan tubuh Karsa teronggok di sini. Hukuman yang setimpal akan ia dapatkan.
Yu menggendong tubuh mungil Pratiwi yang masih semaput, memandang wajah ayu nya dan berkata, "Pratiwi, sudah saatnya kita pergi. Kita tak akan mengusik siapapun lagi. Aku sudah berjanji untuk ikut denganmu mencari kakek dan Jayaseta. Semua sudah kupenuhi, tinggal kau yang harus memenuhi janjimu. Kita akan kawin dan membina kehidupan bersama, jauh dari hiruk pikuk dunia dan masa lampau."