Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Sungai Bagian Kesepuluh: Berseru dan Menderu


__ADS_3

Gerakan Fong Pak Laoya menghindari serangan terlihat semain mengkhawatirkan. Sudah beberapa kali babatan sang pemimpin keloompok perompak Champa itu kurang saja sejengkal dari sasarannya. Pratiwi sudah geram dan gemas. Sang Laoya tadi berseru kepada Yu untuk memperhatikan apa yang akan dilakukan kepada pendekar Champa yang memiliki ilmu kebal tersebut. Namun, setelah melukai jari, menuliskan suatu mantra di atas kertas kuning dan memasukkan kertas itu ke mulutnya, tidak ada apapun yang dapat dilihat dari tujuan gerakan sang Laoya selain menghindar.


Pratiwi melihat ke arah Yu yang masih tegang memperhatikan sang Fong Pak Laoya diserang musuh terus-menerus. Tanpa meminta persetujuan Yu maupun Fong Pak Laoya, Pratiwi berseru dan menderu menyerang ke arah sang pemimpin perompak. Pratiwi tidak lagi memerhatikan aturan main dalam sebuah pertempuran, adil atau tidak adilnya. Toh yang ia hadapi adalah seorang perompak, selain Pratiwi sendiri bisa dikatakan telah lama bergelut di dalam dunia kelicikan sebagai seorang pendekar perempuan, pemimpin para penjahat.


Jadi, Pratiwi melompat ke arah belakang tubuh sang perompak dan menghajar punggung orang itu tanpa ampun. Tusukan dan sabetan seperti deburan air terjun ke punggung lawan. Andaikata sang musuh tak memiliki ilmu kekebalan tersebut, sudah dipastikan punggung pasti sudah tercabik-cabik berantakan. Namun yang terjadi, sang pemimpin perompak tersungkur ke depan dan bergulingan. Tubuhnya hampir mengenai api bila ia tidak segera bangun dan memasang kuda-kuda kembali. Pratiwi pun tak tahu apakah api dapat mencelakakan, membunuh atau memberikan hasil apapun pada orang itu.


“Laoya, apa yang kau lakukan? Mengapa kau hanya mengindar?” seru Pratiwi.


Sang Laoya menghela nafas cepat, kemudian menyeka keringat di keningnya. “Terimakasih, Pratiwi. Sudah cukup, aku berhasil menelan kertas itu. Minggirlah sekarang dan perhatikan,” balas Fong Pak Laoya.


“Kau sudah mengatakannya sedari awal untuk memperhatikanmu. Tapi nyatanya kau tetap butuh bantuanku tadi atau tubuhmu itu sudah pasti dicacah pedang orang Champa itu,” cibir Pratiwi. Namun, tetap saja ia mengundurkan diri beberapa langkah ke belakang, tepat ketika sang pemimpin perompak Champa maju kembali menyerang ke

__ADS_1


arah Fong Pak Laoya.


Yang diserang mengerak-gerakkan kedua tangannya cepat, seperti melakukan bunga-bunga jurus silat, tetapi sangat berbeda. Gerakannya tidak tepat guna, bukan seperti gerakan yang mempersiapkan diri untuk serangan musuh. Intinya, kekhawatiran Pratiwi masih belum terjawab apalagi hilang.


Yang terjadi sekarang, Fong Pak Laoya mengangkat kedua tangannya ke atas. Sebuah gerakan yang kembali dianggap tidak masuk akal dalam sebuah pertarungan yang melibatkan pedang yang siap mencabut nyawanya.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Pratiwi dan Yu ketika tubuh sang perompak tersentak ke belakang bagai tertarik oleh seutas tali tak terlihat. Itu belum seberapa ketika baik Yu maupun Pratiwi tak dapat menutupi keterkejutan mereka, menganga melihat sosok sang perompak terangkat sejengkal ke udara meski hanya


Inikah ilmu gaib itu? Pikir Pratiwi dan Yu.


Pratiwi tidak mudah kaget bila berhubungan dengan ilmu kanuragan dan kesaktian. Ia paham dengan tenaga dalam, chi dalam gongfu Cina atau ki dalam dunia silat Jepun. Ia sadar orang-orang di rimba persilatan nusantara bahkan mancanegara memiliki ilmu kekebalan atau penghilang rasa sakit. Bahkan kakek kembarnya sendiri adalah penganut ilmu rawarontek yang menyebabkan kematian rasa-rasanya mustahil datang mendekat.

__ADS_1


Namun, apa yang ia lihat ini adalah hal lain lagi.


Tentu keterkejutannya berbeda halnya dengan Yu. Pratiwi melihat hal ini lebih sebagai sebuah pengalaman baru yang menambah khasanah jagad pengetahuan persilatannya. Pratiwi terkejut untuk kagum. Ilmu kanuragan adalah satu hal, dunia gaib yang melibatkan hantu, gendruwo, wewe gombel, jin dan mahluk-mahluk tak kasat mata lainnya adalah hal lain lagi.


Yu, mau tak mau harus mengakui bahwa dunia ini dipenuhi hal-hal yang tak bisa selalu diraba oleh panca indera. Ia sedari dahulu tidak pernah terlalu menyukai, apalagi percaya dunia perdukunan. Baginya, tubuh manusia adalah tubuh jasmani, padat dan tersentuh, bukannya penuh dengan unsur-unsur rohaniah yang cenderung gamang dan tak terasa nyata.


Tubuh sang perompak terbanting jatuh di atas geladak kapal, kemudian berguling-guling bagai orang kesurupan. Atau memang ia sedang kesurupan?


Beberapa langkah di depannya, sang Laoya mengatupkan kedua tangannya. Salah satu tangannya mencuatkan jari telunjuk dan jari tengahnya kemudian mengangkatnya ke udara. Sembari mulutnya berkomat-kamit, ia menggerak-gerakkan tangannya bagai sedang menuliskan sesuatu di udara.


Akibatnya sudah jelas. Sang perompak menggelepar-gelepar di atas geladak kapal. Tubuhnya meregang, menegang, melengkung-lengkung dan bergetar hebat. Ada buih keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Pratiwi dan Yu akrab dengan beragam kesenian di pulau Jawa yang melibatkan penampilan orang-orang yang dirasuki roh tertentu. Orang-orang ini kemudian mampu memakan benda-benda tajam, termasuk bara, atau berdiri di atas paku dan sebagainya. Pratiwi tidak menolak percaya dengan adanya mahluk-mahluk adikodrati tersebut, meski Yu cenderung memercayai kekuatan pikiran dalam diri seseorang yang mempengaruhi tindakan orang-orang tersebut. Namun, Yu sudah melihat kemampuan kakek sang istri dan kekuatan mengerikannya. Ditambah pemandangan di depannya ini, dunia benar-benar berjalan dengan arah yang berbeda bagi Yu.


__ADS_2