Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Mandala


__ADS_3

Sepasang pisau rahasia terbang dengan cepat memotong udara ke arah dua sasaran yang berbeda. Jayaseta terpaksa harus membatalkan serangannya terhadap sisa para perompak dan berjumpalitan menghindari dua senjata rahasia yang meluncur laju ke arahnya. Kedua pisau hilang menembus pepohonan di belakang Jayaseta.


Jayaseta berdiri dengan kuda-kuda rendah. Cahaya jingga perlahan menerang, menyibak tirai kegelapan dan kekelaman dunia. Para perompak yang tersisa serta Lâm sendiri perlahan tetapi pasti walau hanya dengan sedikit bantuan sinar saja, dapat melihat bentuk sosok tubuh lawan mereka yang ganas tersebut.


Jayaseta, mengenakan celana bergaya Melayu-Jawa, bertelanjang dada dan mengenakan topeng perang suku Thai, baja tipis berwarna abu-abu. Mereka tidak mendapati apapun dan siapapun di belakang sosok tersebut. Ini berarti, sungguh orang bertopeng tersebut sedari tadi bekerja sendirian. Ia yang menghabisi para perompak dengan cepat dan tanpa diketahui. Mengetahui kenyataan ini membuat sisa perompak Champa menjadi ngeri sendiri.


Jayaseta membuka kedua matanya. Cukuplah bertempur dengan memanfaatkan semua indra kecuali matanya. Kini setelah mentari perlahan keluar dari peraduannya, sudah saatnya untuk bertempur secara alamiah.

__ADS_1


Lâm memandang sosok yang berlatar belakang cahaya jingga itu. Jelas dua serangannya tadi masih tidak membuahkan hasil. Bila memang pendekar bertopeng ini adalah benar Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu adanya, ia harus mengakui nama besar orang itu bukan hisapan jempol belaka, batin Lâm. Ia kembali meraba sabuknya.


"Siapkan sisa persenjataan kalian dan raih tameng kalian lagi. Cepat lakukan!" perintah Lâm kepada para bawahannya. Sisa perompak Champa itu melihat ragu ke arah Lâm. Mereka sebelumnya juga diperintah untuk bersiaga di sampingnya tetapi tetap saja satu persatu berjatuhan dengan cepat. Kini, Lâm ingin meminta mereka untuk melakukan hal yang sama, tentu mereka kembali berpikir.


Lâm sadar dengan keraguan mereka. "Kalian adalah masalahnya. Aku sudah katakan untuk tidak sembrono menyerang orang itu. Lagipula, tameng yang ia rebut adalah tameng bulat, bukan yang panjang. Kalian memiliki lebih banyak keuntungan bila melindungi diri kalian dengan perisai panjang. Segera lakukan sesuatu kataku!" perintah Lâm.


Ketidaktaatan bawahan-bawahan Lâm dikarenakan oleh kebiasaan dan pemikiran yang wajar. Selain karena para anggota Dunia Baru memang memiliki cara yang tidak biasa dalam memilih pemimpin setiap kelompok, sejak lama, orang-orang Champa juga memiliki kepercayaan sendiri dalam perihal kepemimpinan.

__ADS_1


Maklum, bilamana Lâm harus kembali menunjukkan kehebatannya agar dapat dituruti perintahnya.


"Kau tak segera mengeluarkan saja senjatamu, Lâm? Jangan bermain-main dengan pisau saja. Bisa-bisa tidak ada dari kita yang tersisa," ujar salah satu bawahan.


"Orang yang kita hadapi ini nyata-nyata adalah si pendekar sendiri. Ia sang Pendekar Topeng Seribu. Aku tak bisa gegabah sembarangan melawannya. Jangan sampai ia mengerti kemampuan dan senjataku. Aku akan menggunakannya di saat yang tepat. Dia tak bisa dilawan dengan kemampuan silat dan tarung kita. Ia terlalu cepat dan hebat. Kita harus lebih cerdik darinya. Maka dari itu, cepat pungut senjata dan perisai kalian!" perintah Lâm sekali lagi.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, para perompak yang tersisa enam orang itu langsung berlari cepat mengambil tombak dan perisai mereka yang berserakan. Kini setelah subuh mulai datang dan sinar mulai menyinari, mereka sudah dapat melihat sedikit lebih jelas dimana letak senjata dan dimana mereka berada.

__ADS_1


Jayaseta masih diam memerhatikan pergerakan musuh-musuhnya. Ia tahu sang pelempar pisau belum sempat memberikan kemampuan terbaiknya. Namun ia juga harus mengakui bahwa lawannya ini adalah seorang pendekar yang cerdas, dimana ia menghindari pertarungan satu lawan satu secara langsung. Ia malah nampak sedang merencanakan sebuah gelaran perang.


Sekarang, setelah enam perompak Champa memegang kembali tombak dan perisai mereka, Lâm meminta mereka masuk dalam gelaran perang lemparan lembing. "Ingat baik-baik. Kita adalah para perompak yang berlaku di atas kapal. Melempari musuh dengan lembing adalah kehebatan kita. Siapkan diri kalian dan dengar baik-baik aba-aba dariku!" Lanjut Lâm.


__ADS_2