
Orang-orang dari Kesultanan Banjar mengenal pengetahuan dalam membuat perahu dengan cara khusus. Perahu, sampan dan kapal sangatlah penting dalam kehidupan masyarakat dan negara, mengingat pulau Tanjung Pura dipenuhi dengan jalur-jalur sungai besar dan kecil. Sungai-sungai tersebut menjadi sarana bagi warga untuk bepergian dalam tujuan berdagang bahkan berperang.
Istilah untuk perahu buatan wilayah Banjar tersebut adalah perahu jukung. Letak ciri khas perahu ini dibanding dengan perahu laut atau sungai daerah lain adalah pada cara pembuatannya yang menerapkan pembakaran pada rongga batang kayu.
Jukung terbuat dari sebuah batang pohon utuh. Pohon yang besar dipilih kemudian ditebang, setelah itu harus melalui cara dimekarkan dan dipanaskan dengan menggunakan asap selama tujuh hari tujuh malam.
Orang-orang Daya maupun Melayu-Banjar di pulau Tanjung Pura bagian selatan ini biasanya mencari dan mengambil kayu dari pepohonan di kawasan Sungai Mangkutup dan Musi. Di tempat itulah terdapat pohon-pohon sejenis meranti atau tengkawang setinggi tiga puluhan depa.
Di hutan-hutan inilah para pembuat jukung membuat bakalan jukung. Mereka memilih, menebang, dan membuat bakal jukung dengan menggunakan perkakas yang biasanya digunakan untuk mengorek bagian dalam pohon dan membuat rongga yang selanjutnya dipindahkan ke sungai-sungai.
Bakal jukung tersebut kemudian dikerjakan lebih lanjut di Sungai Manusop dan Sungai Dusun yang letaknya ke arah hilir dari hutan tempat bakalan jukung dibuat. Di tempat tersebut, para pekerja dibagi dalam kelompok kerja yang terdiri dari empat sampai lima orang dalam satu kelompok.
Pekerjaan mereka adalah menyelesaikan pengerokan bagian dalam dan bagian luar bakal jukung, hingga membentuk jukung dengan kedua ujungnya yang lancip.
Selain itu, pekerjaan lainnya ialah menipiskan badan jukung sampai siap untuk dibuka bagian yang sudah dikeruknya dengan menggunakan api.
Pekerjaan selanjutnya disebut dengan mamaru, yaitu cara membuka bakal jukung dengan menggunakan api. Pada tahapan ini, bakal jukung diisi penuh dengan air, sedangkan sepanjang bagian bawahnya dipanaskan dengan api.
Setelah selesai, kemudian air dikeringkan dan bakal jukung dibalik dengan lambungnya menghadap ke atas. Dengan cara ini, seluruh rongga bakal jukung dipenuhi oleh asap dan uap panas.
Setelah selesai pekerjaan mamaru, kini bakal jukung itu dibalik lagi dengan salah satu sisinya ke arah api. Dengan menggunakan takik dan papan kayu pembukaan dilakukan dengan hati-hati sedikit demi sedikit.
Kini, bakal jukung sudah terbuka cukup lebar dan sudah terlihat menyerupai perahu. Selesai proses pembukaan dengan menggunakan api, bakal jukung ini siap dibawa ke tempat lain untuk tahapan penyelesaian.
Di tempat tersebut, bakal jukung diolah kembali sehingga jukung tersebut menjadi perahu atau jukung dengan jenis tertentu seperti jukung sudur, jukung patai, dan jukung batambit.
Puluhan orang Jawa itu berangkat menggunakan sepuluh buah jungkung buatan Banjar. Hubungan yang dekat antara Sukadana dan Banjar, membuat sedikit banyak, ada barang-barang buatan Banjar yang digunakan di Sukadana dan sebaliknya.
Peralatan mereka begitu lengkap. Dari senjata semacam pedang, golok, tombak sampai beberapa juga membawa senapan lontak. Katilapan masih setia dengan sepasang rotan Kali dan ginuntingnya. Narendra jelas masih membawa tombak bermata trisula dan menyelipkan keris yang diberikan salah satu rombongan orang-orang Jawa tersebut.
Namun, seperti yang dilakukan oleh rombongan kecil Jayaseta yang ditemani Dara Cempaka, Ireng dan Siam, rombongan ini juga mengenakan pakaian yang rapih, baik mutunya dan bersahaja. Dengan jumlah rombongan yang sebegitu banyak, akan sangat bermasalah ketika mereka berbondong-bondong berbekal senjata.
__ADS_1
***
Dua puluhan orang Daya dari suku berbeda telah berhasil masuk ke dalam benteng kayu ulin, entah bagaimana caranya. Jayaseta sedang menikmati hari terakhirnya di kampung ini dengan berbagi ilmu kanuragan dengan Punyan, sebelum satu kepala warga menggelinding putus dari lehernya.
Jayaseta sendiri sudah siap mengenakan topeng perang Daya dan mandau mantikei milik sang Man Da U sendiri yang diberikan kepadanya oleh sang Temenggung.
Perang tak terelakkan. Teriakan terdengar di sana-sini. Dua puluh prajurit Daya musuh itu sengaja menyebar ke segala penjuru mata angin di dalam kampung, dibanding melawan Punyan, Jayaseta dan prajurit bersenjata di depan mereka secara langsung.
"Kita tak bisa menyelamatkan semua orang, Jayaseta. Hadapi yang ada di depanmu. Mereka menggunakan cara yang sebelumnya mereka gunakan juga, menghabisi sebanyak mungkin warga," seru Punyan.
Jayaseta mengatupkan rahangnya dengan penuh amarah. Pertempuran macam apa ini yang membunuh orang-orang yang tak ikut berperang? Ia tak akan diam saja melihat kejadian ini. Selain penduduk desa, ada Dara Cempaka, Ireng dan Siam yang sekarang entah dimana.
Maka dengan dua kali gerak: menghindar dari babatan do musuh yang datang tiba-tiba, dan menebas ke arah leher, Jayaseta langsung membunuh lawan.
Ia meluncur dengan cepat mencari musuh yang tersebar di berbagai tempat, sembari otaknya terus bertanya-tanya: dimana Temenggung Beruang, Dara Cempaka dan yang lainnya? Dan tidakkah Punyan segera lari ke rumah untuk melindungi Kumang, istrinya?
***
Perjalanan rombongan orang-orang Jawa dari Sukadana ini tinggal setengah hari lagi sampai di perkampungan berbenteng kayu ulin setelah beberapa hari mendayung di sungai.
"Mereka orang-orang suku pedalaman, namun jelas bukan orang-orang dari suku Daya benteng kayu ulin yang hendak kita datangi, tuan," kata salah seorang Jawa yang ada di atas perahu bersama mereka.
"Tidak akan masalah bila kita tidak terlalu dekat dengan tepian sungai. Toh kita tak ada urusan dengan mereka," ujar orang Jawa itu kembali.
Namun anehnya, baru saja orang Jawa itu berkata bahwa tidak masalah bagi mereka jika tak mendekati daratan atau tepian sungai, Narendra merasakan perahu mereka malah dikayuh mendekat ke arah sosok-sosok yang bersembunyi itu. Bahkan Katilapan yang merasakan hal yang sama serta ikut mendengar percakapan antara Narendra dan orang Jawa itu langsung berteriak ke arah pendayung serta beberapa perahu yang juga terlihat jelas menuju dekat tepian. "Mengapa perahu kita mendekat ke tepian? Tidakkah kalian lihat itu?!" ujar Katilapan menunjuk ke arah beberapa orang pedalaman yang kini telah mulai terlihat jelas.
Anak panah berdesir. Satu tubuh jatuh ke sungai. Tak lama beberapa anak panah mulai terlepas dari busurnya, begitu juga jarum-jarum sumpit beracun yang bertajuhan ke atas perahu bagai hujan.
"Putar perahu, jauhkan dari tepian sungai!" teriak Narendra. Begitu juga Katilapan yang langsung meloloskan ginunting dan memapras anak-anak panah yang bentuknya jauh lebih pendek dibanding anak-anak panah yang biasa dipakai di Jawa.
Memang, ada beberapa suku Daya si Tanjung Pura ini yang mengenakan panah sebagai senjata jarak jauh selain sumpit. Hanya saja, anak panahnya lebih pendek dan ringkas untuk dibawa menembak melewati sela-sela pepohonan yang lebat.
__ADS_1
"Gunakan senapan!" teriak Katilapan.
DAR!
DAR!
DAR!
Tiga tembakan hampir serentak terdengar.
Namun yang rubuh adalah tiga tubuh tak bernyawa orang Jawa di dalam perahu.
Setiap perahu tak lama goyah, kericuhan terjadi. Perahu bahkan masih dengan cepat dikayuh ke tepian sungai.
Katilapan tak sempat memperhatikan apa yang terjadi ketika orang Jawa yang berbicara dengan Narendra tadi tertusuk tombak tembus dari punggungnya. Salah satu pengayuh perahu yang melakukannya. Sekarang bahkan satu pengayuh lagi mengambil tombak dan menyerang Katilapan.
***
Jipen menggenggam tangan kakaknya. Keduanya berlari ke arah sebuah rongga di antara benteng kayu ulin. Ada lima orang Daya penyerang berdiri di sana, sedangkan dua prajurit penjaga telah tewas.
"Kakak, kita harus pergi sekarang. Ini adalah kesempatan terakhir kita setelah rencana serangan sebelumnya tak berhasil," ujarnya.
"Tapi adikku, aku ingin menjadi orang yang membunuh Temenggung Beruang dan Punyan," balas Kumang menahan tarikan tangan adiknya.
"Kau keras kepala sekali, Kak! Kita akan bebas setelah lama menjadi budak mereka. Kini kau malah ingin menpertaruhkan kebebasan itu dengan nyawamu? Mereka bukan orang sembarangan. Biarkan aku dan orang-orang suku kita yang akan menghabisi mereka. Aku janji, Kak."
Kumang menggeleng keras. "Kau pikir cuma kau yang punya cara melawan musuh? Aku yang akan memenggal kepala Punyan dengan tanganku sendiri!"
Jipen menggertakkan giginya tanda gemas dengan kekeraskepalaan sang kakak. "Baik ... Baik. Tapi, bila segalanya menjadi buruk, tidak sesuai rencana, aku mau kau pergi bersama saudara sesuku kita dan biarkan aku menghadapi Punyan atau Temenggung Beruang. Bila kau masih keras kepala, Kak, percuma kita mencoba melarikan diri. Lebih baik aku mati di sini sebagai budak. Itu penawaran terakhirku!" tegas Jipen.
__ADS_1
"Aku yang boleh membunuh Punyan. Terserah kau dan para prajurit yang mengalahkan atau menangkapnya bila terpaksa, walau aku memiliki caraku sendiri. Namun, bila gagal, aku berjanji akan berlari keluar bersamamu, adikku."
Jipen mengangguk keras kemudian berlari cepat ke arah para prajurit penyusup. Tak lama Jipen datang bersama dua prajurit berlari mengendap-endap, sedangkan sisanya menunggu di rongga benteng ulin yang terbuka untuk bala bantuan lain yang sedang dalam perjalanan di atas perahu-perahu jukung.