Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Usadha


__ADS_3

Ketiga tabib menunggu, merunduk di balik semak-semak dan pepohonan. Setelah sekitar sepeminuman teh, tidak lagi terdengar bunyi ledakan bedil dan Equa mulai mengangkat kepalanya.


"Aku mencium bau anyir darah terbawa angin," ujarnya perlahan.


Yu dan Ngalimin mengakui bahwa mereka mencium bau serupa. Jiwa tabib mereka tergerak. Pasti ada sesuatu yang besar terjadi di daerah ini.


"Kita harus menyebar. Aku tahu bahwa kalian sepemikiran denganku. Kita mungkin akan menemukan banyak orang yang luka dan menderita. Tapi di sisi lain, aku tahu bahwa ada kejadian yang tidak biasa yang terlibat dalam hal ini," Yu dan Ngalimin mengangguk pelan secara bersamaan.


"Yu, kau ke sisi bukit bagian Utara. Ngalimin, kau ke bagian Selatan, arah yang berlawanan. Aku sendiri akan naik ke atas bukit. Bila menemukan seseorang yang terluka, bawalah ke gerobak sapi dan akan kita bawa pulang untuk segera diobati," perintah Equa.


***


Mayat-mayat bergelimpangan di berbagai tempat dengan luka yang parah dan mengerikan. Setelah memeriksa dengan cepat, Yu yakin rata-rata tubuh-tubuh yang bergelimpangan tersebut memang benar sudah tak bernyawa.


Ia hampir saja menyusul sang tuan, Meester Isaac Equa, ke atas bukit ketika pandangannya menubruk satu sosok lagi yang terbaring terlentang di rerimbunan pohon.


Seorang gadis.


Ada luka membiru mencuat di dadanya, mungkin juga luka itu ada di payudara kecil di balik kemben aneh yang gadis ini kenakan. Yu melihat bahwa kemben sang gadis berserakan besi dan rantai logam, meski kain kembennya yang sobek atau tersingkap.


Rupa sang gadis begitu ayu. Wajah mungilnya seperti tertidur dengan damai walau dari sudut bibirnya Yu melihat darah yang menggumpal berhenti mengalir.


Yu segera memeriksa denyut nadi si gadis dan menemukan bahwa ia masih bernafas. Tanpa menunggu lagi, ia langsung bopong sang gadis dan ia bawa berlari sekencang mungkin ke arah dimana mereka meletakkan gerobak sapi.


***


Mester Isaac Equa menemukan mayat-mayat pasukan Betawi yang tewas. Ia mengenal baik prajurit-prajurit tersebut dari busana dan persenjataan yang mereka kenakan dan gunakan karena ia juga bekerja pada pemerintahan Kompeni Walanda Betawi, apalagi ia juga menemukan dua jasad bule de Jaager.

__ADS_1


Equa menarik nafas panjang. Benar-benar sebuah masalah yang besar. Pastilah ini berhubungan dengan permasalahan pemberontakan atau perang antar negeri dan kerajaan. Apapun itu, Equa sedang memikirkan untuk melaporkan kejadian ini sesegera mungkin kepada pusat tempatnya bekerja di dalam benteng kota sana.


Namun sebelumnya, ia harus menemui kedua pegawainya untuk melihat apakah masih ada orang yang bisa mereka selamatkan.


Equa menuruni bukit ke arah Selatan, menyusul Ngalimin.


***


Ngalimin mengangkat kedua tangannya kepada dua orang di depannya yang masing-masing membawa dua tubuh di bahu mereka. Ngalimin ingin menunjukkan bahwa ia bukan orang yang mengancam, bahaya atau mencari masalah.


Dua orang di depan Ngalimin yang sama-sama berjalan tertatih tersebut menghunus senjata tajam berupa golok yang melengkung ke depan - kelak ia kenal senjata itu bernama ginunting - dan sebuah tombak bermata trisula. Di bahu mereka ada dua tubuh tak sadarkan diri.


"Tunggu, kisanak sekalian. Namaku Ngalimin, tolong jangan berburuk sangka kepadaku. Tapi, aku rasa jalan hidup kita berjodoh. Apapun yang terjadi dengan kalian, aku bisa membantu. Aku adalah seorang tabib. Aku datang kemari bersama tuanku, Meester Equa, seorang Cina," jawab Ngalimin secepat mungkin.


Ia tak mau orang-orang di depannya merasa terancam dan malah menyerangnya. Namun yang paling utama adalah perasaannya sebagai seorang tabib yang segera awas ketika melihat ada orang yang terluka dan ingin segera mengobatinya.


"Ia adalah tuanku, seorang tabib Cina," ujar Ngalimin cepat. "Kita akan mencoba menolong kalian dan rekan-rekan kalian. Bukan begitu, tuan Meester?"


Equa tak membalas, namun perhatiannya pada keempat orang yang terluka itu sudah menunjukkan bahwa ia mengiyakan ucapan Ngalimin.


***


Yu tak tenang duduk di gerobak menunggu tuan dan rekan tabibnya. Ia ingin segera mengobati gadis muda ini. Sedangkan ia tak memiliki alat dan obat yang dibutuhkan. Rumah pengobatan yang dibangun sang tuan lah kemana ia harus pergi.


Rompi rantai dan lempeng logam telah ia lepas dari tubuh gadis muda yang ternyata adalah Pratiwi ini. Yu merasa sangat khawatir, hatinya serasa diperas melihat keadaan yang luar biasa memprihatinkan pada tubuh sang gadis.


Nafas Pratiwi putus-putus. Dadanya makin membiru, membuat kulitnya yang gelap namun halus itu memucat.

__ADS_1


"Aku akan menyelamatkanmu," ujar Yu pelan.


Ia tak bisa menunggu tuan dan rekannya itu lagi. Maka, diambillah keputusan yang memang harus segera itu. Ia memacu gerobak sapinya yang tak laju itu. Namun, jauh lebih baik dibanding berlari, karena ia akan kehabisan tenaga dan semuanya akan menjadi percuma.


Yu berkali-kali memandang wajah mungil nan cantik Pratiwi yang tak sadarkan diri, tenang dalam tidurnya, walau Yu tahu pasti nyawanya sedang dipertaruhkan.


***


Ilmu pengobatan orang Jawa dititikberatkan pada tumbuh-tumbuhan, bukan bahan-bahan buatan lain yang membahayakan. Obat-obatan orang Jawa, bahkan menurut orang-orang bule, dianggap tidak membahayakan orang yang sakit. Tidak akan ada dampak yang berbahaya bagi tubuh ketika si sakit telah pulih.


Namun, orang Jawa dan nusantara pada umumnya juga menganggap sebuah penyakit bukan sekadar datang dan menyerang raga, namun juga jiwa.


Maka, para tabib juga menggunakan mantra, jampi-jampi, rapal, doa. gambar dan rajah serta dan jimat. Pengetahuan ilmu pengobatan ini telah lama diturunkan dari masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno sehingga sangat dipengaruhi oleh salah satu kitab agama Hindu, yaitu Ayurweda. Setelah ratusan tahun perubahan jaman dan kedatangan bangsa-bangsa lain, maka ilmu pengobatan Jawa yang dinamakan Usadha yang berarti obat-obatan dari tumbuhan ini, juga dipengaruhi oleh pengetahuan dari jazirah Arab dan Cina.


Penyakit bagi para tabib Jawa bisa pula termasuk kegilaan, kesurupan mahluk halus, bahkan serangan tenaga dalam. Para tabib merasa perlu melibatkan kekuatan Tuhan dalam penyembuhan penyakit tersebut.


Misalnya saja, dalam membuat obat penyakit untuk telinga yang tuli,  diperlukan bahan seperti tujuh butir merica, akar kelor, empedu ayam hitam, dan minyak wijen. Ramuannya lalu diteteskan pada lubang telinga yang tuli sambil membaca palak binas atau Surat Al-Falaq dan An-Naas tiga kali.


Oleh sebab itu, sebagai orang yang telah mengenal dan belajar ilmu pengobatan ini, Ngalimin merasakan bahwasanya salah satu dari dua orang yang terkapar tak sadarkan diri itu sedang bergulat dengan kekuatan gelap di dalam dirinya. Ada semacam kekuatan gaib setara dengan kutukan yang membuatnya menjadi sakit seperti ini, selain secara kasat mata dapat dilihat bahwa tubuhnya pun penuh luka-luka.


Equa sadar ini. Ia membalut dan mengobati luka Narendra dan Katilapan sehingga darah mereka dapat berhenti, selagi ia juga segera merawat Sasangka.


"Kita tak bisa membawa mereka kembali ke rumah pengobatanku, Ngaliman," ujar Equa. "Kau tahu, mereka baru saja bentrok dengan serdadu Betawi. Bahkan mereka berhasil membunuh dua bule perwira penting kompeni Betawi, de Jaager bersaudara."


Ngaliman tersentak. Keduanya sedang mengambil obat-obatan dari dalam tas kulit ketika Equa berbisik pelan pada Ngalimin.


Tapi Ngalimin segera paham. Mereka tak mungkin juga kembali ke gerobak sapi dimana mungkin Yu sudah berada di sana menunggu mereka. Akan runyam jadinya bila misalnya Yu berhasil membawa beberapa korban terluka yang merupakan serdadu Betawi.

__ADS_1


"Kita akan membawanya ke rumah saudaraku di dekat sini, tuan Meester. Ia sudah tua dan tinggal sendirian. Biarkan Yu memutuskan sendiri untuk pulang ke rumah pengobatan sendiri atau membawa orang yang terluka ke sana. Kita akan hubungi Yu satu atau dua hari kemudian, melihat perkembangan," ujar Ngalimin.


__ADS_2