
Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa orang-orang Siam berasal dari wilayah Selatan Cina lebih dari seribu tahun yang lalu. Orang-orang Siam saat itu adalah kelompok suku Tai yang berasal dari sebuah wilayah di Cina Selatan bernama Guangxi Zhuang. Saat itu adalah tahun 214 Sebelum Masehi, dimana Cina dikuasai oleh kemaharajaan Qin yang membangun ibukotanya, Guangdong. Hanya saja akibat pembangunan ini, maka terjadilah tekanan besar dalam bidang kemasyarakatan, kenegaraan dan kepentingan masyarakat Cina Tai yang membuat mereka terpaksa pergi hijrah berbondong-bondong ke arah Selatan selama ratusan tahun.
Di Selatan itu lah, orang-orang Tai sampai dan bertemu masyarakat yang telah lebih dahulu dipengaruhi budaya dan agama negeri Hindustan. Kejadian ini terjadi kurang lebih dari abad ke-8 sampai ke-10 Masehi.
Ketika telah merasa nyaman, orang-orang Tai ini perlahan-lahan menetap di lembah Chao Phraya mulai dari abad ke-10 Masehi ke depan, di tempat dimana budaya Dwarawati dari negeri Hindustan berkembang. Orang-orang Tai itu juga tentu berkawin-mawin dan bercampur dengan orang-orang Mon dan Khmer.
Orang-orang Tai ini tersebar di wilayah tersebut dan membentuk kerajaan Sukothai serta menjadi bagian dari penduduk kerajaan Lavo orang-orang Khmer. Mereka sendiri kemudian dipanggil sebagai orang-orang Siam oleh penduduk Angkor sebagai bagian dari pasukan kerajaan Lavo. Bisa dikatakan, masyarakat Tai atau Siam saat itu masih berada di bawah kekuasaan dan kekuatan Kemaharajaan Khmer yang berpusat di Angkor Wat termasuk masa raja Suryawarman Kedua dan Jayawarman Ketujuh.
Orang-orang Tai yang telah dikenal sebagai orang-orang Siam ini lah kemudian membangun sebuah kota-negara yang dikenal dengan nama Ayutthaya, merujuk pada nama kota Ayodya di negeri Hindustan, negeri kekuasaan sang Rama Wijaya dalam lakon pewayangan dan wicarita negeri Hindustan. Perlahan, kota-negara orang-orang Siam yang dibentuk oleh Ramathibodi ini tumbuh dan berkembang menjadi pusat pemerintahan orang-orang Siam yang semakin maju.
__ADS_1
Dipengaruhi oleh Kemaharajaan Khmer yang bercorak Hindu, perlahan namun pasti, Ayutthaya mulai meluaskan kekuasaan ke pemukiman dan wilayah tinggal orang-orang Tai atau Siam sejak tahun 1350 Masehi, meski Sejak dari masa kerajaan Sukothai diperintah oleh Ram Khamhaeng, orang-orang Siam telah memeluk ajaran agama Buddha Therawada.
Maka, Ayutthaya pun mulai berani melepaskan diri dari kekuasaan Kemaharajaan Khmer dengan mengalahkannya dalam perang besar pada tahun 1431 Masehi. Malahan, Ayutthaya akhirnya berhasil membuat Khmer dan Mon menjadi negeri-negeri bawahan yang memberikan upeti.
Tentu kemudian masalah terjadi ketika Ayutthaya harus menghadapi kekuatan kerajaan-kerajaan Melayu serta Burma sebagai musuh bebuyutannya.
Sang Khun Wanchay mengenakan pakaian kebesaran yang menunjukkan wibawa sana tingkatan kemasyarakatannya: baju sutra lengan panjang berwarna merah terang dengan hiasan benang serta kancing emas. Ia mengenakan selop dan kepalanya ditutupi semacam mahkota yang berhias batu berharga dan ukiran indah keemasan. Usia paruh baya tak membuatnya terlihat tua, sebaliknya, Khun Wanchay na Ayutthaya meruapkan hawa kuasa san wibawa.
__ADS_1
Sang tuan tanah tersenyum, kemudian mengangkat kedua telapak tangan yang dikatupkannya ke atas kepala. "Ampun, tuan Kittisak, punggawa kerajaan Ayutthaya yang begitu hamba hormati. Hamba merasa begitu malu sekaligus berterimakasih karena tindakan cepat tuan punggawa. Hamba mengakui kepandiran hamba sendiri dalam melaksanakan dan membuktikan bakti hamba kepada negara. Awalnya, dengan menggunakan orang-orang Burma, hamba berpikir kita orang-orang Siam dapat membuktikan bahwa kita juga memiliki kekuatan tidak hanya atas orang-orang Khmer di Kamboja, orang Mon dan Lao dari negeri Lan Xang, tetapi juga orang-orang Burma yang selama ini menjadi salah satu musuh bebuyutan Ayutthaya selain kerajaan-kerajaan Melayu dan Malaka Pranggi," ujar sang tuan tanah dengan sopan dan berwajah manis madu.
Kittisak memicingkan mata dan mengelus dagunya. Nampaknya ia merasakan sesuatu yang tidak ia pikirkan sebelumnya. "Ah, kau benar juga, tuan Wanchay. Aku tak berpikir sejauh itu," ujar Kittisak masih menerawang.
Khun Wanchay kembali tersenyum, lebih lebar sekarang. Sang tuan tanah yang memiliki pemikiran yang sulit ditebak ini sepertinya juga telah menjalankan rencana rahasianya. "Namun, tuan punggawa Kittisak, rencana hanyalah rencana. Tiada yang menyalahkan sikap dan keputusan tuan menghabisi para pendekar Burma itu. Toh, mereka memang tak begitu berharga, tuan. Hanya saja, pasti tuan juga telah mendengar bahwa sisa pendekar-pendekar Siam di bawah pimpinan hamba akhirnya semuanya tewas hari itu. Kabar angin mengatakan bahwasanya seorang pendekar dari tanah Jawa tempat dahulunya terlahir kerajaan Majapahit bergelar Pendekar Topeng Seribu lah yang menghabisi mereka semua. Jelas sekali bahwa pendekar tersohor itu kini memihak Kedah, tuanku."
Kittisak mengangguk-angguk paham. "Aku sudah mendengarnya, tuan Wanchay. Awalnya aku hendak langsung saja menurunkan para prajurit dan mata-mata Ayutthaya untuk mencari tahu dan membekuk, bahkan bila mungkin, untuk membunuhnya langsung. Namun, mendengar tujuan dan rencanamu semula, terbersit rencana lain di kepalaku. Aku perintahkan kau, tuan Wanchay, untuk menggunakan kekuatan para pendekar segala bangsa yang berada di bawah kekuasaan dan pengaruh Siam Ayutthaya. Ambil dan bayar para pendekar Siam dengan Muay Boran nya, orang-orang Lao dengan Muay Lao nya, orang-orang Khmer dengan bokator nya, atau orang-orang Burma dengan Lethwei nya. Bila perlu ambil pula orang-orang Melayu Pattani dengan silat Tomoi mereka. Kita cari Pendekar Topeng Seribu dan hancurkan segala rencana orang-orang Melayu Kedah itu. Kita layani mereka," ujar Kittisak.
Sang Khun Wanchay na Ayutthaya kembali mengangkat kedua telapak tangannya yang dikatupkan di di depan keningnya. Seringai licik muncul tak terlihat dari wajah pria paruh baya tersebut.
__ADS_1