
Tombak berdapur brongsong pengait meluncur membelah udara menyasar pada de Paula yang mengarahkan kedua pistolnya dengan gusar ke berbagai arah dimana musuhnya bertebaran.
Lemparan lembing Jayaseta tak mungkin gagal mengenai sasaran, karena kemampuan kanuragan khususnya pula hal lempar-melempar. Namun kini yang terjadi adalah mata tombak di bagian pengait menyabet kedua lengan de Paula, tidak tepat di dada atau bagian tubuh yang bisa membunuhnya.
De Paula berteriak keras. Kedua lengannya tersobek lebar. Sepasang pistolnya jatuh, sedangkan ia hilang keseimbangan dan jatuh terjungkal ke geladak bawah.
Teriakan tertahan de Paula terdengar kembali ketika kedua kakinya tak mampu menahan jatuh tubuhnya. Bunyi berderak patah juga terdengar keras.
Maksud hati Jayaseta ingin membuat sang bule menjelaskan segala rencana dan memaksanya bertanggungjawab atas banyak nyawa yang telah ditumpahkan pada hari ini saja. Namun, para budak sudah menyimpan gelora dendam yang terlalu besar.
Jayaseta tak sempat melakukan apa-apa ketika budak-budak Nias itu menyerbu bagai kumpulan lebah ke arah de Paula. Teriakannya tertutup teriakan amarah para budak yang menyobek tubuhnya, mencakar, memukul, menginjak-injak dan menghancurkannya bagai bubur.
Para pasukan penembak bedil dari Flores dan Ambonia menempelkan punggung mereka ke dinding geladak atas dan mengarahkan bedil mereka ke segala arah, bingung akan apa yang harus mereka lakukan.
Sang nakhoda masih terlentang di lantai, perlahan kehabisan tenaga karena kesakitan dan mulai kehilangan kesadaran. De Paula, sang tuan, nampak-nampaknya telah tewas. Dengan keganasan para budak, nampak sekali merekapun akan mengalami nasib yang sama dengan bule Prnaggi itu.
Jelas para penembak itu tak mau ambil akibat yang buruk. Bagaimanapun, walau dikelilingi musuh, baik dari luar maupun dari dalam kapal mereka sendiri, paling tidak mereka sekarang masih memegang bedil. Masih ada kesempatan untuk melawan, membunuh beberapa orang dan mengancam penyerang lainnya.
Satu orang penembak bedil memandang rekan-rekannya yang lain, "Sudah kepalang basah. Lagipula, kita yang menentukan mau mati dengan cara apa dan bagaimana. Mari dibunuh budak-budak bang*sat itu, dihukum mati lawan, atau mati dalam perang dan perlawanan?" ujarnya.
Tak butuh waktu lama bagi teman-temannya untuk mengangguk setuju. "Kita arahkan ke pendekar yang satu itu. Bila kita bisa menewaskannya, bisa saja yang lain akan ciut nyalinya," ujar seorang penembak lain.
__ADS_1
Sekarang semua penembak saling pandang dan mengangguk serentak. Batang bedil sejajar ke arah satu titik, Jayaseta.
DAR! DAR! DAR!
Letupan senapan tak lagi bisa dibendung. Asap tebal membumbung ke angkasa. Suara ledakan bedil yang keras memekakkan telinga.
Pel*or berhamburan menghajar berbagai sudut. Tapi, ledakan-ledakan itu bukan sekadar berasal dari tembakan bedil para penembak Flores dan Ambonia. Entah kapan, tahu-tahu Ireng dan Siam telah naik ke geladak kapal. Keduanya menggenggam bedil pula yang dibawa dari jung Raja Nio untuk berjaga-jaga dan bagian dari persenjataan.
Mereka tak sabar dengan apa yang terjadi di atas kapal yang dinakhodai Jala Jangkung dari Semarang itu. Meski tak dapat melihat secara utuh kejadian demi kejadian di atas geladak kapal, sedikit banyak keduanya dapat memastikan bahwa Jayaseta, Datuk Mas Kuning, Katilapan dan Narendra pastilah telah berhasil mengalahkan lawan. Gerakan para awak yang terlihat dari kapal layar mereka menunjukkan bahwa ada penggulingan kekuasaan yang berhasil dilakukan di sana.
Baik Siam maupun Ireng sama-sama sudah lama bekerja di atas kapal. Mereka paham ciri-ciri kapal dengan awak dari para budak. Tak mungkin terjadi pergerakan para awak yang begitu ramai, dimana mereka meninggalkan tanggung jawab mereka di tempat-tempat mereka harusnya bertugas bila tidak karena sebuah pemberontakan. Maka kemungkinan besar, pimpinan mereka yang menguasai kapal telah digulingkan oleh suatu pihak. Oleh sebab itu keduanya memutuskan untuk naik ke kapal tersebut untuk melihat secara langsung apa yang terjadi.
Tak perlu pikir lagi, Ireng dan Siam menembakkan bedil yang mereka bawa. Muntahan pel*uru menghajar dua dari barisan penembak Flores dan Ambonia dan menyentakkan tubuh mereka keras, membuat penembak lainnya terkecoh.
Jayaseta berguling menghindari tembakan yang lepas menyasar sembarang. Katilapan, Narendra, Kakek Keling dan dua orang Bali dan Datuk Mas Kuning langsung sigap bergerak.
Para penembak sudah kebingungan sama sekali. Mereka tak lagi berpusat pada Jayaseta karena harus memikirkan para penembak bedil yang datang menyerang mendadak, dimana bahkan dua rekan mereka telah tertembak dan meregang nyawa.
Mereka tak tahu lagi akan diarahkan kemana letusan senapan mereka. Sialnya pula dalam keadaan bingung ini pula, para pendekar menghambur ke arah mereka. Gununting menderu membabat menusuk. Tombak bermata trisula mematuk bagai ular berkepala tiga yang ganas. Dua orang Bali yang juga telah sampai duluan ke geladak atas sudah menyerang para penembak itu pula.
Pel*uru masih sempat bertebaran dan bertaburan dan sedikit banyak menyerempet kulit para pendekar. Salah satu dari dua orang Bali tersobek di bahu. Narendra juga sempat tergores di pahanya. Namun semua tembakan ini sama sekali tak memberikan akibat yang besar.
__ADS_1
Semua pendekar menyerang tanpa penghalang. Kakek Keling, Datuk Mas Kuning dan Jayaseta tak mendapatkan ruang untuk ikut dalam serangan tawur tersebut, toh hanya dalam tiga setengah tarikan nafas, para penembak sudah kocar kacir tewas di tempat.
***
Ujung teropong Raja Nio menggambarkan dengan jelas apa yang terjadi di kapal yang ia curigai sebagai biang kelas pertempuran-pertempuran di laut dangkal dekat kepulauan Riau wilayah yang menjadi saksi persengketaan banyak negeri terutama Kesultanan Johor-Riau dan Jambi ini.
Bunyi ledakan meriam dan tembakan masih terdengar menjadi latar belakang suasana hari ini. Kapal-kapal pelaut pendekar Minang Bengkulu, Jambi dan Bugis masih melawan dengan sengit dua kapal penyerang yang jelas merupakan tipu daya yang diciptakan oleh sebuah kapal yang sedang Raja Nio amati sekarang ini.
Ia melihat bahwa sudah terjadi kekacauan di kapal tersebut. Nampaknya para awak, yant mungkin sekali adalah para budak, terdorong untuk memberontak karena tindakan para pendekar hebat dari kapalnya. Raja Nio juga jelas melihat Ireng dan Siam memanjat naik ke kapal tersebut dan terlibat dalam pertempuran.
Tak lama, kedua awak kapal andalannya itu memberikan tanda ke arahnya. Mereka mengibarkan bendera dan menggerak-gerakkannya sebagai cara berbicara dari jauh, sebuah cara yang sangat dipahami para pelaut.
Intinya, keadaan telah ditanggulangi dan kapal telah dikuasai. Jung besar Raja Nio diminta merapat karena keadaan sudah aman.
Sang nakhoda menarik nafas lega dan tersenyum. Ia memandang ke arah para perompak yang masih dalam keadaan terikat dan dijagai para pengawal jung bersenjata lengkap.
Sudah kepalang tanggung. Syukurnya semua bisa diselesaikan, pikirnya. Jung nya penuh dengan pendekar-pendekar hebat, apalagi ada Jayaseta disitu. Jadi, mengapa tak menyelesaikannya sampai tuntas?
Ia mengangkat tangannya dan berseru kepada para awak agar mengangkat layar bergerak maju mendekati kapal yang sudah dikuasai Jayaseta beserta rekan-rekan.
Angin kencang bertiup membawa asap ledakan bubuk api dari meriam dan bedil ke angkasa. Jaman ini tidak cocok untuk kedamaian. Hidup Raja Nio pun jauh dari sekadar nakhoda kapal dagang. Hidup telah membawanya berlayar ke negeri-negeri penuh dendam, amarah, angkara murka serta nafsu kekuasaan. Ia akan menghadapinya, mengikuti bagaimana takdir mengombang-ambingkannya seperti sebuah jung di atas samudra.
__ADS_1