
Naginata pada zaman Edo di Jepun kemudian malah menurun kamhasyuran penggunaannya. Lebih banyak senjata lain yang kemudian menjadi lebih sering dipuja karena keunggulannya, termasuk senapan salah satunya. Selain itu, zaman Edo terbilang merupakan sebuah masa yang damai di negeri Jepun.
Namun, bukan berarti naginata tidak digunakan sama sekali. Penggunaannya masih sangat tangguh dan terkenal. Hanya saja, saat itu kemudian, naginata lebih kerap dipelajari dan digunakan oleh para perempuan dibanding prajurit laki-laki. Naginata menjadi lambang priyayi perempuan Jepun yang diwajibkan juga untuk melatih diri mereka agar dapat menjaga keluarga.
Para perempuan di tingkat kemasyarakatan yang tinggi saat itu sengaja memilih naginata karena dapat menunjang gerak dan bentuk tubuh mereka. Naginata yang panjang, dapat dimanfaatkan dengan baik. Tubuh perempuan yang kecil dan lebih rendah dibanding laki-laki, dapat ditutupi dengan naginata yang dapat digunakan untuk menusuk maupun memotong. Naginata yang awalnya memang digunakan para prajurit berjalan Jepun, memang dimaksudkan untuk membuka ruang yang besar. Bentuknya yang panjang membuat para penyerang harus berpikir dua kali untuk dapat langsung mendekat.
Para perempuan priyayi Jepun ini juga menggunakan naginata agar tak semudah itu didekati apalagi disentuh musuh.
Pada akhir masa Heian dan awal masa Kamakura, sekitar tahun 1100-an Masehi, hiduplah seorang samurai perempuan atau yang disebut sebagai onna-musha. Samurai perempuan ini bernama Hangaku Gozen.
Putri Hangaku ini adalah anggota dari trah keluarga Taira yang tinggal bersama keluarganya di Echigo. Ia memiliki ayah bernama Jo Sukenaga yang tewas di medan pertempuran melawan Kiso Yoshinaka. Tak lama, ia mengikuti pamannya yang bernama Jo Nagamochi dan sepupu laki-lakinya yang bernama Jo Sukemori di sebuah pertempuran. Pertempuran itu bernama Pemberontakan Kennin tahun 1201 Masehi, dimana ia dan keluarganya memberontak melawan Shogun Kamakura, seperti yang mendiang ayahnya lakukan.
Putri Hangaku kemudian terkenal sebagai seorang samurai perempuan yang gagah berani dan lihai. Ia diceritakan dalam catatan sejarah memimpin 3000 orang pasukan untuk melawan 10.000 pasukan lawan.
Ia memiliki kemampuan mengendarai kuda sembari memanah dari atas pelana. Ia juga memiliki kesaktian dalam menggunakan naginata. Dari atas kuda, naginata mampu membabat dan menusuk musuh dengan cepat. Bilah naginata yang melengkung bagai katana dapat memotong daging lawan tanpa tenaga yang besar.
Meski keluarga Jo dari trah Taira kemudian kalah dalam peperangan, nama Hangaku Gozen menjadi mahsyur, terutama karena jurus-jurus penggunaan nagainata-nya.
Paulo Omura sedikit banyak juga telah mempelajari saripati dan intisari beberapa jurus andalan Putri Hangaku tersebut. bilah naginata-nya terangkat ke atas. Kuda-kudanya berubah-ubah cepat, begitu juga dengan kedua tangannya yang berganti tempat.
__ADS_1
Empat lawannya kebanyakan berkuda-kuda Bokator. Memang luar biasa mirip dengan Muay Boran khususnya Krabi Krabong, yaitu kedua pedang menyilang di depan dada, atau terangkat di atas kepala, sedangkan lutut secara bergantian kanan dan kiri dinaikkan. Kini keempat prajurit bawahan Sokhem dan Sovanara itu sudah meningkatkan kewaspadaan mereka dibanding sebelumnya.
Padahal, dari awal mereka sudah tahu siapa yang bakal dihadapi, yaitu satu dari sembilan pendekar Dunia Baru yang kesaktiannya bisa dibandingkan bahkan disetarakan dengan kedua sejoli tuan mereka. Namun toh, ketika melihat ronin Kirishitan yang sepertinya tidak meyakinkan bila dianggap sebagai seorang pendekar besar tersebut, prajurit gabungan Khmer dan Siam itu malah meletakkan kedua dha dan daap mereka di samping, bukannya dengan kuda-kuda silat Bokator dan Krabi Krabong. Alhasil, satu rekan mereka tewas hanya dalam sekali gebrak.
“Cepat, jangan menghabiskan waktuku! Harusnya Sokhem mengirimkan kalian semua kesini, bukannya merendahkanku dengan hanya memberikan lima nyawa di depan piring makanku!” seru Paulo Omura dengan menggunakan bahasa Jepun yang jelas tak dimengerti sama sekali oleh para pengeroyoknya.
Dua prajurit Khmer asal negeri Kamboja itu, memain-mainkan kedua dha mereka seperti layaknya bunga-bunga silat. Tujuannya untuk menentukan serangan dan memancing lawan. Satu petarung yang hanya memegang satu buah pedang, membalikkan bilahnya sehingga segaris dan selaras dengan lengan atasnya, kemudian mengangkat satu lututnya.
Pendekar inilah yang malah maju menyerang terlebih dahulu. Ia memutarkan badannya untuk mendapatkan jangkauan yang lebih jauh dan tenaga yang lebih besar untuk sabetannya. Serangan pedangnya yang bagai bulan sabit itu memapras panjang serong dari arah kepala ke bahu Paulo Omura.
Yang diserang menurunkan bilah naginata-nya dan bergeser ke samping. Bilah pedang lawan memotong udara kosong seruas jari kelingking saja dari kepalanya.
BUG!
Si prajurit Khmer terdorong keras dan hampir hilang keseimbangan. Ia langsung berguling menyamping agar tak terjatuh.
Namun, bukan Paulo Omura jika tidak mendapatkan sesuatu dari setiap gerakannya. Ia memang tak mendapatkan celah untuk menyerang orang Khmer berpedang tunggal, tetapi ia mengubah serangan dengan menyongsong dua penyerang.
__ADS_1
Bilah naginata yang menghadap ke bawah dinaikkan dan ditebaskan lurus ke atas tetapi dengan pendek dan cepat.
SRET!
Satu penyerang tak menyangka lengannya putus begitu saja dalam sekali sabet. Ia jatuh duduk mendeprok di tanah dengan pandangan mata terpukul setengah mati. Tak lama rasa sakit menjalar ke otaknya, mengejutkan semua syaraf sehingga membuatnya berteriak tertahan.
Namun, serangan naginatajutsu Paulo Omura tidak berhenti di serangan itu. Paulo Omura berlari cepat ke samping menghindari tebasan dua kali pedang ganda lawan yang diarahkan membabi buta ke kepala dan dadanya, kemudian maju cepat dari awah samping tubuh lawan untuk menusukkan naginata-nya.
JLEB!
Naginata menembus lambung atas lawan menyelip melalui tulang iga. Paulo Omura mencabut cepat senjatanya itu bahkan sebelum lawan sempat sadar bahwa dirinya telah tertusuk.
Darah menyembur keluar dengan lancar.
Paulo Omura mengangkat bilah naginata-nya tidak terlalu tinggi. Tepat ketika tubuh lawan mulai ambruk, Paulo Omura menyabetkan naginata-nya dengan kecepatan tinggi.
Kepala lawan lepas dari tubuhnya, jatuh menggelinding, tepat ketika tubuh yang tak berkepala itu ambruk ke tanah berumput.
Paulo Omura tidak mau berhenti sampai disitu. Benar ucapannya bahwa ia tak mau buang-buang waktu. Ia menjejak tubuh lawan yang bersimpuh karena satu tangannya hilang itu, sehingga terjengkang ke belakang dengan keras dan deras.
__ADS_1
Tindakan ini bukan tanpa tujuan. Tubuh lawan yang tersentak itu menyandung dua satu lawan lain yang hendak menyerang ke arahnya, sehingga serta merta ia terjatuh.
Dalam keadaan ini, Paulo Omura kembali berlari cepat. Gerakannya seperti seekor kancil yang gesit. Seperti semua jenis silat Jepun, gerakan yang tegas dan patah-patah adalah cirinya. Bahkan cara berlari Paulo Omura pun kecil-kecil, pendek-pendek, tetapi tegas dan cepat. Kini ia menyasar si pendekar Khmer dengan pedang tunggal yang tadi sempat berguling menghindari kejatuhan akibat dibahu dengan keras oleh Paulo Omura.