
Darah menggelegak dari mulut Siam. Pandangannya separuh saja berada di bumi, sisanya entah di surga entah di neraka. Sosok Jayaseta tepat berdiri menjulang di depannya dengan tombak yang tergenggam erat.
Namun Siam adalah seorang pendekar. Ia sadar bahwa ia kemungkinan besar mati dai dalam sebuah pertarungan atau pertempuran. Maka ia berusaha tersenyum dalam kesekaratannya. “Kau … kau memang hebat, Ja … Jayaseta. Aku .. aku akui itu,” ujarnya terpatah-patah. “Aku iri padamu. Kau masih memiliki waktu untuk menghadapi banyak … banyak pendekar. Kau masih bisa menghabiskan waktu … waktumu untuk berolah kanuragan. Tapi … kau bukan dewa, Jayaseta. Kau punya kelemahan … banyak sekali bahkan. Satu titik nanti kau akan sadar bahwa nyawamu sama murahnya denganku. Silahkan nikmati dahulu kejayaanmu dan khawatirlah dengan kesehatan Dara … Dara Cempaka karena sudah akan ada yang mengurus … mengurus Al … Almira … disana,” ujar Siam panjang lebar. Raut wajahnya mendadak menjadi licik. Seringai kejam terlintas di wajah sekaratnya yang penuh peluh, darah dan nafas yang terengah-engah.
“Kurang ajar!” seru Jayaseta. Ia tak menyangka Siam masih sanggup menyerangnya bahkan dalam keadaan sekarat. Kata-katanya menjadi sebuah senjata tajam yang mampu membuatnya terluka.
Sampai saat ini pun Jayaseta masih tidak dapat menerima alasan rencana besar Duni Baru yang melibatkan dirinya. Mengapa mereka masih mereportkan diri mereka sendiri untuk mengejar seorang Jayaseta. Mereka bagai kaki gurita yang menjalar dimana-mana. Mereka tahu seluk-beluk kehidupan Jayaseta. Bahkan kali ini Siam menyebuat nama istrinya, Almira. Tentu saja menambah kemurkaan sang pendekar. Di satu sisi ia tahu bahwa gertakan saja yang diberikan Siam, di sisi lain, ia juga memikirkan kemungkinan itu.
__ADS_1
Jayaseta mengangkat tombaknya dan langsung menghujamkan ke paha Siam sampai mata tomba itu menebus daging dan mematahkan tulangnya.
Teriakan Siam menggema. Kematiannya seakan tertunda karena sengatan rasa sakit kembali menjalar ke seantero tubuhnya melaui syarafnya yang terbangun mendadak.
“Kau tak pantas mendapatkan kematian terhormat dariku, Siam. Kau benar, aku akan menikmati hari-hariku, menjalani kehidupan dan mengikuti perjalanan takdirku. Aku akan menghadapi banyak musuh dan banyak kesulitan. Mungkin orang-orang istimewa di sampingku akan mati sebelum diriku. Aku akan sedih dan menderita. Tapi, sebagai seorang anggota Dunia Baru, kau pun harusnya tahu bahwa hal itu bukan baru bagiku. Orang-orang di sekelilingku telah tewas. Ada juga yang berkhianat, seperti kau misalnya. Nyatanya, aku tetap terus berjalan dan menghadapi semua. Sekarang, aku yang mempersilahkan kau untuk menikmati kesengsaraanmu sendiri. Kau tak mungkin terselamatkan, Siam. Punggungmu telah patah, begitu banyak tulang di tubuhmu. Luka tombak di pahamu ini akan menguras darahmu perlahan. Kau akan mati kehabisan darah. Bila ada orang yang menemukanmu pun, kau tetap tidak akan bertahan hidup!” balas Jayaseta sama panjangnya. Kegeraman telah meliputi jiwanya.
“Sialan. Bangsat kau, Jayaseta! Bunuh aku sekarang. Kau tak bisa membiarkan seorang pendekar mati dengan cara seperti ini,” seru Siam. Ia tidak berteriak dengan permohonan, melainkan dengan ancaman. Ia masih tetap bersikap jemawa sampai maut sedang turun menjemput.
__ADS_1
Jayaseta memandang ke arah Ireng, mendekat kemudian menepuk bahunya. “Maaf, Ireng. Aku menyesal kau harus mengalami ini, Ireng. Tetapi memang Siam sama sekali bukan orang yang selama ini kau dan aku kena,” ujar Jayaseta pendek. Ia kemudian berjalan cepat meninggalkan tempat itu. “Segera lah. Kami akan menunggumu,” ujar Jayaseta sebelum benar-benar meninggalkan Ireng.
Laki-laki Jawa itu memandang sahabatnya yang sedang sekarat.
“Ireng, segera bantu aku. Bunuh aku segera. Aku … aku tak kuat menahan ini,” ujar Siam mengiba.
“Aku heran mengapa kau selama ini bisa menipuku, Siam. Aku bahkan tak tahu bahwa kau pandai bersilat. Kau adalah salah satu dari pendekar dengan rahasia tapi dengan nama mahsyur. Aku tahu kau adalah sahabatku. Tapi sekarang aku sudah memiliki semua orang yang aku perlukan. Aku memiliki tuan sekaligus kawan, Siam.”
__ADS_1
Siam terkekeh. “Kau … kau belum belajar, bukan? Tidak ada sahabat … tidak ada … tidak ada kawan, Ireng. Semua hanya sesuai kepentingan,” ujar laki-laki yang sedang sekarat tersebut. Ia tertawa keras sampai terbatuk-batuk.
Ireng menggelengkan kepalanya, kemudian berbalik. Ia tak lagi dengarkan tawa perih dan kesakitan Siam di belakangnya. Ia menghapus genangan air mata yang hendak jatuh ke pipinya, kemudian berlari cepat meninggalkan tempat itu.