Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sake


__ADS_3

Gelar Sembilan Pendekar Dunia Baru sejatinya adalah daya jual kelompok rahasia – tetapi terdengar pula di berbagai tempat – ini. Sembilan pendekar tersebut tidak memiliki hubungan perguruan, persaudaraan, bahkan persahabatan sekalipun. Mereka hanya dipilih oleh kekuasaan yang lebih besar karena dianggap memiliki kemampuan di atas rata-rata, sakti dan cerdas pula. Gampangnya bisa dikatakan bahwa kesembilan pendekar tersebut hanya berhubungan dalam pekerjaan. Bertemu pun hanya beberapa kali untuk membahas rencana yang lebih besar.


Kesanga terbangun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Bukan hanya karena ia terluka dan lemah, tetapi karena kehancuran hatinya. Kesanga merasa begitu terluka dan tak memiliki semangat hidup lagi. Ia diam terpaku terikat di salah satu saka guru, tiang penyangga rumah Almira. Ia sudah mampu merasakan bahwa aliran darahnya tidak lagi diwarnai hawa murni dan tenaga dalam. Kekebalannya juga sudah musnah sama sekali.


“Maaf, Kesanga, kami harus mengurungmu. Beberapa prajurit akan melaporkan kepada penguasa Kadipaten, dan mungkin pusat kerajaan Mataram. Mereka yang akan memutuskan hukuman apa yang tepat buatmu,” ujar Sudiamara.


Kesanga yang sedari siuman tadi memandang kosong kini menatap nanar ke arah Sudiamara. Ia terkekeh. “Kau membiarkan aku dihakimi oleh Mataram. Kerajaan yang menaklukkan Blambangan? Benar-benar lelucon,” ujar Kesanga perih.


“Kau tidak dalam keadaan menawar dan berdebat denganku, Kesanga. Masih untung aku tak membunuhmu, padahal kau mengacaukan tempat ini. Jangan membahas mengenai ketatanegaraan denganku. Kita berada dalam keadaan dan pihak yang sangat membingungkan. Kita membeNci kekuasan negara dan peperangan antar kerajaan, tetapi malah menjadi bagian dari bentukan sebuah kekuasaan yang lain lagi. Jangan berdebat denganku! Terimalah nasibmu!” seru Sudiamara kesal. Ia sungguh tak mau berdebat dengan Kesanga, ia tak mau mendengar tentang pemikiran-pemikiran Dunia Baru dan segala anggapan dan pendapat mereka.


Ia tak peduli lagi.


Memang benar, di sudut dunia lain, Tiga Dewa Iai yang terdiri atas Konoshi Hidetada, Arima Oda dan Paulo Omura sedang menjajaki rencana yang merupakan pemberontakan dari arahan pimpinan. Mereka harus mengunggu di wilayah ibu kota Ayutthaya untuk menyongsong Jayaseta dan kelompoknya bila Sokhem dan Sovanara, dua sejoli Khmer itu gagal.

__ADS_1


“Melihat sejarah dan penceritaan yang selama ini kita dengar mengenai kematian dua ronin bayaran Walanda di Betawi, aku sungguh ingin menjajal Jayaseta,” ujar Arima Oda kepada kedua temannya suatu saat. Mereka sedang menikmati arak buatan pulau Jawa yang dibawa oleh bule Walanda dari Betawi.


“Lalu, apa rencanamu?” balas Paulo Omura pendek. Ia adalah yang paling tidak sabar untuk menghadapi pendekar dari tanah Jawa itu, meski sepertinya ia terlihat tenang saja.


“Kau tahu apa rencanaku, Omura. Kau paham dengan jelas itu. Apa kau mau membiarkan Sokhem dan Sovanara mendapatkan keberuntungan bertarung dengan Jayaseta dengan para pemburu Thai yang tidak mumpuni itu? Andaikata memang mereka yang memang, dengan cara yang licik atau apapun itu, bukankah kebesaran akan menjadi milik orang Khmer?” jawab Arima Oda.


“Kita memerlukan nama kita. Bukan hanya untuk Dunia Baru, tapi kebesaran orang Jepun di tanah Ayutthaya dan dunia. Tidakkah kau sakit hatidengan kekuasaan orang-orang Jepun di tanah kita sendiri, yang membunuh para petani dan keluargamu tanpa peri kemanusiaan?” kini Konoshi Hidetada yang berucap.


Paulo Omura menenggak araknya lagi. Ia rindu dengan rasa sake atau nihon-shu. Minuman keras memabukkan tersebut sudah tercatat dalam sejarah Jepun sejak tahun 700 Masehi. Sake memiliki aroma serupa dengan tapai beras. Di wilayah kepulauan Saikaido, sake berarti minuman yang disuling. Sedangkan di Ryukyu, sake disebut dengan shōchu yang dibuat dari tebu.


“Kita berangkat malam ini dengan kapal. Aku ingin sekali bertempur dengan kuda, tapi selain kita akan kesulitan untuk mencari Jayaseta dan rombongannya, pertarungan dengan Jayaseta pun akan tidak memuaskan lagi,” jawab Paulo Omura tegas tetapi seperti tanpa perasaan.


Kedua rekannya terkekeh.

__ADS_1


“Baik, aku akan mempersiapkan segala sesuatu. Semoga Jayaseta adalah orang yang pantas kita hadapi sehingga paripurna lah pencapaian kehidupan kita di tanah Siam ini,” ujar Konoshi Hidetada.


Tujuh hari jauhnya dengan berlayar di Sungai, Ireng tersenyum melihat keceriaan yang terjadi hari ini selepas kejadian yang melelahkan beberapa hari yang lalu. Ia tak mungkin berbohong pada diri sendiri mengenai rasa sedih, kecewa dan kesal yang terjadi akibat kenyataan bahwa Siam adalah seorang pengkhianat. Perasaan dibohongi dan ditipu orang yang paling dekat dengannya adalah sesuatu yang hampir tak bisa didenalar dan dijelaskan. Namun, sedari awal bertemu dengan Jayaseta, ia sudah menentukan jalan hidupnya. Orang mungkin akan mengolok-oloknya dengan mengatakan bahwa ia hanyalah menempatkan dirinya sebagai seorang budak belaka. Bukan! Bukan budak, tetapi abdi! Ia akhirnya mendapatkan tuan yang tepat dan pantas ia abdi.


Ia mengecap makanan yang menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Makanan ini sebenarnya berasal dari wilayah kerajaan Ayutthaya bagian tengah, dimana santan sendiri sudah berasal dari masa kerajaan Sukhotai sebelum Ayutthaya dan budaya Dwarawati orang-orang Mon, jauh sebelum orang Siam atau Tai di wilayah tersebut. Ia kemudian melahap makanan yang dibelikan sang tuan dan rombongannya sewaktu mereka juga ikut makan makanan tersebut.


“Tuan Jayaseta. Aku tahu tuan begitu menikmati pemberhentian kita kali ini, tetapi ada baiknya kita kembali segera melanjutkan perjalanan sebelum kehadiran kita menjadi mencurigakan. Orang-orang Thai di belakang kita dengan dua pendekar Khmer itu kemungkinan masih mengejar kita, sedangkan kita pun tak tahu benar apa yang akan menghadang perjalanan kita di depan,” ujar Ireng.


Jayaseta mendekat ke arah Ireng, menepuk bahunya pelan. “Aku minta maaf atas Siam. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan, Ireng. Aku harap kau maklum mengenai hal ini,” ujar Jayaseta.


Ireng mengangguk mantap. Ia beruntung berjalan bersama Jayaseta dan rombongannya. Orang-orang yang hebat tetapi sama sekali tak kehilangan perasaan dan kemanusiaannya.


Jayaseta kemudian meraih lengan istrinya, Dara Cempaka, yang masih memerhatikan serta menikmati keadaan pasar kecil di pesisir itu. “Sebenci-bencinya aku dengan air, Ireng yang meminta kita untuk melanjutkan perjalanan. Jadi, kita harus pergi sekarang, Dara,” ujar Jayaseta.

__ADS_1


Dara Cempaka mengangguk. Ia setuju dengan pikiran sang suami. Katilapan dan Narendra yang sedang sibuk makan, masih sempat membeli banyak bahan makanan dan makanan jadi dari pembeli sebelum menyusul Jayaseta, Dara Cempaka dan Ireng kembali ke perahu.


Satu setengah hari di belakang mereka, pasukan berkapal berukuran sedang berlayar tiada henti mengejar Jayaseta dan rombongannya. Kapal itu dipimpin oleh pendekar sejoli Khmer, Sokhem dan Sovanara berserta belasan prajurit pemburu Thai. Lucunya lagi, satu hari di belakang mereka, dua kapal dagang yang berisi pasukan Lan Xang dengan Sasangka, Jaka Pasirluhur, Yu, Pratiwi dan Fong Pak Laoya juga berlayar dengan cepat.


__ADS_2