Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Yulgok


__ADS_3

Jayaseta tak habis pikir dengan apa yang telah ia perbuat. Ini adalah kesalahan terbesar di dalam hidupnya sejauh yang bisa ia ingat.


Bagaimana bisa ia mengkhianati Almira, istrinya, dan jatuh ke dalam pesona Dara Cempaka malam itu. Ia tak bisa berdusta bahwa kecantikan gadis itu membuat ia seakan memandang Almira. Entah karena pengaruh mantra yang dirapalkan Punyan, dan kekuatan ghaib Temenggung Beruang, atau benar-benar kekhilafannya sendiri.


Jayaseta terpaksa menerima yang terakhir.


Kerinduan kepada sang istri serta hubungan antara suami istri yang lama tak terengguk, serta kecantikan Dara Cempaka yang baru saja ia sadari. Mungkin selama ini Jayaseta sudah menaruh hati pada Dara Cempaka, namun ia sendiri menolak memercayai dirinya sendiri bahkan menyangkalnya.


Apapun itu, semua sudah terlanjur. Sebagai seorang pendekar pilih tanding, berkelana ke berbagai daerah dan melawan beragam musuh sakti dan berbahaya, Jayaseta tak pernah merasa sekalah dan sepengecut ini.


Ia tak berani memandang wajah Dara Cempaka yang memerah di pagi buta ini. Tubuhnya dibalut kain dengan cara seadanya.


***


Dara Cempaka bingung harus merasa apa dan bagaimana. Ia sedih karena sudah melepaskan kesuciannya dalam keadaan yang salah dan sama sekali tak terencana. Dosa besar ini sudah terjadi, dilakukannya dengan sadar bahkan penuh kenikmatan.


Tak mungkin menolak pesona Jayaseta, orang yang dikasihinya sudah sejak pertama bertemu. Bila dipertanyakan, maka ia akan mengatakan bahwa ini adalah salahnya secara keseluruhan. Bukan karena sebagai perempuan, maka ia patut dipersalahkan, seperti perempuan-perempuan lain di dunia ini. Namun, ia bisa saja menolak godaan Jayaseta malam itu. Ia bisa saja beranggapan bahwa Jayaseta kurang ajar, cabul dan melecehkannya.


Hanya saja, bagaimana bila ia sendiri yang memang menantikan saat-saat seperti ini? Bagaimana bila sebenarnya memang ialah yang secara sadar maupun tidak, telah berusaha menggoda Jayaseta untuk menyentuhnya, menyetu*buhinya?


Dara Cempaka menunduk, memperhatikan peluh yang mengalir di lengannya, memantulkan sinar mentari pagi yang masuk melewati sela-sela dinding kayu.


Ia siap dengan apapun yang akan terjadi. Buruknya, ia akan mendapat malu, hukuman adat dan agama, begitu juga dengan keluarga besarnya. Dara Cempaka tak dapat membayangkan bagaimana perasaan dan sikap sang Datuk tercintanya dengan perilaku dan tindakan tak terpujinya ini, belum lagi kedua orangtuanya.

__ADS_1


Namun, di sisi lain, mungkin ia bisa bersama Jayaseta. Mungkin mereka akan segera kawin. Apapun itu, bukankah tindakan semalam dilakukan atas dasar suka sama suka? Bukankah ini berarti sang abang tercinta telah memiliki rasa tertarik yang sama dengannya?


Menyadari hal ini, Dara Cempaka menahan senyum setengah mati.


***


Kerajaan atau Negera Joseon yang Agung sudah berdiri sejak berabad lalu, tepatnya tahun 1392 Masehi setelah runtuhnya kerajaan dari wangsa Goryeo. Wangsa Joseon didirikan oleh Yi Seong-gye yang memindahkan ibukota kerajaan dari Kaesong ke Hanseong, sedangkan batas wilayahnya pun diperluas di bagian utara kerajaan ke Yalu dan Sungai Tumen melalui penaklukan atas suku Jurchen.


Yi Seong-gye adalah panglima perang kerajaan sebelumnya, yaitu Goryeo, yang menumbangkan wangsa Wang. Ketika menjadi raja, ia bahkan hendak menghabisi semua keluarga wangsa ini.


Kerajaan Joseon atau juga disebut Choson dari wangsa Yi, atau Li dalam bahasa Cina, ini sangat terpengaruh dengan agama dan falsafah Konghucu dari Cina. Bahkan bisa dikatakan setiap sendi kehidupan bangsa Joseon dipengaruhi Tiongkok, dari pakaian, makanan bahkan tulisan. Ini karena kerajaan tersebut mendukung penuh cita-cita dan kepercayaan Konghucu. Dukungan terhadap agama yang lahir di Cina ini kerap pula menjadi masalah bagi agama yang lebih dahulu hadir di sana, yaitu Buddha, dimana para penganutnya kerap mendapatkan penganiyaan dan direndahkan martabatnya.


Begitu kuatnya pengaruh Tiongkok pada kerajaan ini yang membuat Joseon juga menjadi negeri yang makmur.


Pemuda Daya yang berahang tegas namun bermata sipit mirip orang Cina atau Jepun itu sebenarnya adalah orang dari Joseon. Awalnya sebagai budak, ia dijual kepada kerajaan Cina Ming oleh tuannya di Joseon namun kemudian kapal dimana ia bekerja diserang oleh orang-orang Jepun. Dalam tawanan orang-orang Jepun inilah, ia dipaksa menjadi prajurit dan kelak membantu para Ronin atau Samurai tak bertuan, bekerja pada orang-orang Walanda di Betawi.


Beberapa tahun yang lalu, ketika Walanda mengirimkan duta kepada kerajaan Sukadana, sang pemuda Joseon ini ikut sebagai pengawal dan bagian dari ketentaraan Walanda bersama para ronin.


Pada masa kerajaan Joseon, jumlah budak mencapai lebih dari setengah jumlah penduduk, sisanya adalah para melayan dan petani, serta orang-orang yang memiliki jabatan di kerajaan seperti tentara atau prajurit, abdi dalem, keluarga berdarah biru atau orang dalam lingkaran kerajaan.


Hal inilah yang menyebabkan hanya orang-orang berdarah biru, priyayi, yang memiliki nama keluarga. Sedangkan para budak pada dasarnya tak bernama, menjadikan separuh bangsa Joseon juga tak bernama.


Namun terjadi perubahan ketika terjadi serangan dari bangsa Jepun dan Manchu, juga wangsa Qing Cina dari Manchu yang kelak menggantikan kekuasaan Cina Ming.

__ADS_1


Para negara penyerang ini meminta pajak dan upeti dari Joseon karena mereka menuntut dianggap sebagai bangsa yang lebih besar. Maka dari itu, Joseon memperbolehkan para budak untuk membayar demi membeli nama dan meningkatkan harkat dan martabat mereka sehingga tidak lagi menjadi sekadar budak tak bernama. Di sisi lain, kerajaan Joseon kemudian memiliki biaya untuk membayar pajak dan upeti pada negara-negara penyerang.


Kebanyakan budak memilih nama keluarga yang berpengaruh, berkuasa dan termahsyur di Joseon, sedangkan beberapa memilih nama keluarga tuan mereka sehingga berkesan bahwa jumlah keluarga mereka menjadi berkembang pesat dan besar.


Sang pemuda mengambil nama Yulgok yang berarti 'Lembah Pepohonan Kacang Kastanya', merujuk pada nama samaran Yi I, seorang sarjana dan ahli Konghucu di abad ke-16 di Joseon sana.


Sewaktu kecil dan menjadi budak, ia sama sekali tak memikirkan untuk dapat meningkatkan derajatnya menjadi seorang prajurit atau pendekar. Ia selalu berkhayal untuk dapat menjadi sarjana dan pemikir.


Bahkan saat ia masih kanak-kanak, di Joseon sana, bela diri, silat dan seni perang sempat turun derajatnya dikarenakan oleh kegemaran kerajaan dan para pejabatnya pada agama dan falsafah Konghucu. Para pendekar dan kegiatan beladiri juga sempat dilarang secara besar-besaran, kecuali bagi para prajurit atau tentara kerajaan.


Tapi setelah itu, kehidupan sebenarnya menubruknya dengan keras, ia harus bangun dan menerima jalan hidupnya ini, dimana kekerasan dan darah menghiasi masa depannya.


Yulgok mengambil pedang panjangnya, sebuah jingum, yang sangat serupa dengan katana Jepun namun dengan bilah yang sedikit lebih tebal dan lebar. Ini dapat dimaklumi karena memang jingum sangat dipengaruhi oleh pedang asal Jupun tersebut.



Sewaktu bangsa Jepun menyerang Joseon, pedang katana dan sejenisnya, kebanyakan rusak atau dibawa kembali ke Jepun setelah perang. Para prajurit Joseon mencoba meniru bentuk pedang Jepun tersebut dan mengembangkan jurus-jurus pedang sendiri menggunakan jingum yang membedakannya dengan jurus-jurus pedang Jepun.


Yulgok ingat ketika tiga orang ronin yang datang bersamanya ke pulau Tanjung Pura ini harus meregang nyawa, tewas dikayau oleh para prajurit Daya. Ia sendiri, berkat kemampuan ilmu pedang Joseon nya, mampu melawan dan menewaskan tiga orang lainnya.


Tiga nyawa dibalas tiga nyawa.


Kemampuan bermain pedang Yulgok ini dipuji dan dikagumi sang panglima perang Daya Biaju. Oleh sebab itu, bukannya membunuh Yulgok, sang panglima mengangkatnya sebagai bagian dari suku Biaju dan menerimanya sebagai bagian dari prajurit perang mereka.

__ADS_1


Maka, Yulgok, dengan busana serupa prajurit Daya Biaju lainnya hanya berbeda dengan celana sutra panjang menutupi kakinya serta sabuk khusus untuk menggantungkan jingum, ia telah bersiap dengan belasan prajurit lain untuk menyerang benteng kayu ulin suku Daya yang sudah menjadi musuh bebuyutan Biaju sejak lama.


__ADS_2