
Satu orang perwira tentara bule Walanda, tiga orang jawara Jawa dan dua prajurit Melayu muncul di depan Pratiwi, Lau Siufan dan Yu. Mereka berdiri menghadang ketiga orang yang sedang berjalan di tepi sungai kecil tempat biasanya Pratiwi berlatih ilmu silat itu.
"Kau harus ikut kami. Tugasmu sudah selesai dan kau gagal!" ujar sang perwira bule dengan berkacak pinggang. Namun ia berdiri di belakang kelima orang pribumi yang sedang membuat wajah mereka sesangar mungkin. Baju putih bersih sang perwira memantulkan sinar matahari. Nampak sekali ia membersihkannya dengan telaten.
Salah seorang jawara Jawa maju mendekati Pratiwi, "Kau sudah mengorbankan banyak orang. Semua anggota Jarum Bumi Neraka telah tewas, termasuk kakek kembarmu sendiri, pasangan Sang Penyair Baka."
Rekan satunya, sesama jawara Jawa ikut berkata, "Semarang sudah jauh di luar kewenangan Betawi. Kau memang mendapat perintah untuk menghancurkan musuh-musuh Betawi, tapi bukannya melakukannya, kau malah sibuk dengan urusanmu sendiri, masalah percintaan. Cih!" sang jawara meludah ke tanah.
Pratiwi tertawa, "Kakang ..., kakang .... Kau memang seorang pendekar yang hebat," guman Pratiwi. Ucapan ini sebenarnya ditujukan pada Jayaseta.
Pratiwi kemudian memandang gerombolan tersebut, "Itu berarti orang yang kalian buru adalah orang yang sakti, bukan begitu?"
"Asal kau tahu, kakek-kakekmu dan anggota Jarum Bumi Neraka itu terbunuh oleh teman-teman si pendekar, ia sendiri pergi berlayar ke Tanjung Pura setelah terlebih dahulu menikah di Semarang," balas salah satu perwira Jawa yang pertama berbicara.
Yu dan Lau Siufan serentak memandang Pratiwi yang raut wajahnya, secara mengejutkan, tak menunjukkan dan menggambarkan perasaan apapun.
Pratiwi kemudian malah memandang Yu, "Kau tahu apa yang akan terjadi bila aku ikut mereka?"
Yu balik memandang wajah gadis yang ia sayangi itu lekat-lekat. Pada dasarnya di dalam hatinya, Yu paham benar apa yang akan terjadi pada Pratiwi, tapi ia enggan untuk mengatakannya.
"Betawi akan menghukum mati diriku," lanjut Pratiwi perlahan namun jelas.
"Tidak, Pratiwi. Kita pasti bisa melakukan sesuatu untuk menghindari hukuman itu," jawab Yu segera.
"Lalu kau mau aku dihukum seumur hidup? Aku lebih baik mati!" balas Pratiwi. Saat itulah dengan cepat Pratiwi berbalik dan sebelum semua orang tahu apa yang terjadi, gadis itu sudah mencabut pedang di pinggang salah satu jawara Jawa itu dan membabat kepalanya.
Darah menyembur bersamaan dengan teriakan sang jawara yang rubuh ke tanah dengan luka menganga di kepalanya.
Sang perwira bule mencabut pis*tol di pinggangnya, lalu mundur mengatur jarak tembak. Meski sudah menjadi bagian dari pelatihan seorang tentara pada saat apapun, terutama ketika menghadapi pribumi sebagai orang jajahan, tetap saja tindakan gadis pendekar ini mengejutkannya.
Sisa jawara dan prajurit jelas langsung ambil kuda-kuda. Bunyi bilah pedang dan golok lepas dari sarungnya terdengar hampir serentak.
__ADS_1
Yu langsung ditarik mundur oleh Lau Siufan agak menghindar dari jarak tempur.
"Bang*sat! Daripada kami repot-repot menangkap kau, memang lebih baik kau langsung mampus disini!" kali ini prajurit Melayu yang berbicara. Ia pula yang duluan menyerang Pratiwi dengan golok terhunus.
Biasanya, dalam keadaan perang atau perintah resmi dari kompeni Walanda Betawi, ia dan prajurit lain akan dibekali dengan bedil panjang, tombak, perisai dan pedang tentunya. Ia menyesal tak membawa perlengkapan itu karena menganggap sekadar diperintahkan untuk menangkap salah satu ketua kelompok bayaran Walanda yang sudah terlalu banyak menghabiskan dana dan malah menambah kekacauan.
Ia berpikir bahwa orang ini paling-paling adalah semacam jawara kampung yang banyak tingkah. Ia kaget karena ternyata yang hendak ia tangkap hanyalah seorang gadis muda. Harusnya makin gampanglah pekerjaan ini.
Nyatanya, ia harus mempertaruhkan nyawa untuk membawa orang ini ke dalam benteng untuk diadili. Sudah satu dari rombongannya langsung tewas ditempat. Maka, dibanding ia juga harus mengalami hal yang sama, maka lebih baik ia bunuh gadis itu sekarang juga entah siapa sebenarnya perempuan itu.
Pratiwi mengelak dari dua serangan menyilang sang prajurit Melayu. Memang ia masih dalam keadaan jasmaniah yang sangat buruk, terutama setelah pertarungannya dengan Lau Siufan yang memaksanya menggunakan tenaga dalam. Tapi, bagaimanapun, ia adalah seorang pendekar, yang tanpa belas kasihan pula.
Serangan sang prajurit Melayu dengan mudah. Pratiwi hendak membalas ketika satu prajurit Melayu ikut menyerang. Pratiwi mundur dan berguling ke belakang. Rasa sakit menyerang tubuhnya akibat luka dalam. Namun Pratiwi adalah seorang pendekar kepala batu, angkuh sekaligus kejam. Maka ia paksa tubuhnya menderu.
Pratiwi membacok lengan penyerang terakhirnya. Meski sang prajurit Melayu berhasil menghindar, namun Pratiwi melanjutkan dengan tusukan yang begitu cepat. Jurus-jurus belatinya ketika diterapkan dalam jurus-jurus pedang, sekaligus langkah-langkah meringankan tubuh Pratiwi, walau tanpa tenaga dalam, tetaplah menjadi sangat berbahaya.
Akibatnya, ujung pedang melengkung itu menembus lambung kiri musuh. Satu lawan lagi tumbang.
Pratiwi tersimpuh. Pel*or menyerempet betisnya.
Sang perwira Walanda sudah mencabut pistolnya dan sekarang sedang kembali mengisi senjata itu dengan pel*uru melalui moncongnya.
Yu seketika bergerak, ingin membantu Pratiwi. Tapi itu jelas tak mungkin. Lau Siufan menahannya dengan memegang erat lengannya. "Ko, kita tidak bisa melakukan apa-apa."
"Tapi Pratiwi bisa mati! Aku tak bisa membiarkan gadis itu tewas dengan cara seperti ini," balas Yu.
Perilaku Yu ini bertolak belakang dengan Pratiwi yang tertawa bahkan ketika betis langsingnya mengucurkan darah. Ia bahkan berdiri dengan santai seakan tadi ia hanya terpeleset.
Para jawara dan prajurit mengelilinginya, mengetahui bahwa sang buruan ini berbahaya dan sekejap saja sudah membunuh dua diantara mereka, sedangkan sekarang sedang dalam keadaan terluka, maka sudah saatnya untuk menghabisinya.
Tapi Pratiwi tertawa bagai orang gila. Ini membuat para jawara dan prajurit menjadi bingung sekaligus semakin berhati-hati.
__ADS_1
"Aku benar-benar beruntung hari ini. Kalian datang ketika aku sedang tidak dalam keadaan badaniah yang sempurna. Bila kalian melawanku ketika aku tak terluka, maka mati kalian tak berharga dan tak bermakna. Namun saat ini aku sedang dalam keadaan kesal luar biasa. Ini membuat membunuh kalian adalah hal yang begitu menyenangkan. Aku akan menikmati setiap saat nyawa kalian lepas dari tubuh."
Setelah berbicara, raut wajah gila Pratiwi berubah. Mukanya menjadi begitu keram. Ia memperhatikan setiap orang yang mengerumuninya dengan senjata terhubus.
Pratiwi melesat ke satu sudut, ia menggunakan sebuah gerakan menipu. Semua pengeroyok menduga bahwa Pratiwi akan menyerang salah satu dari mereka, padahal ia tanpa diduga meloncat dan melemparkan pedangnya.
Pedang mimik jawara Jawa itu melayang cepat dan membentur tangan perwira bule Walanda yang sedang mengisi pelu*ru secepat ia bisa. Mengetahui bahwa ada benda terbang ke arahnya, sang bule mencoba menangkis. Malang, dua jarinya putus. Senjatanya jatuh ke tanah bersamaan dengan raungan rasa sakit.
Yang lain begitu terkejut tak menyangka serangan yang dilakukan Pratiwi ditujukan pada tuan mereka, orang Kompeni, sebagai balasan atas tembakannya ke betis Pratiwi.
Selang kurang dari satu tarik nafas, ketika semua perhatian tertuju kepada tuan sekaligus pemimpin rombongan penangkap Pratiwi ini, sang perempuan pendekar sudah memungut golok prajurit Melayu yang terkapar tewas.
Langkah-langkah jurus meringankan tubuh Pratiwi digunakan untuk melakukan sebuah tebasan panjang setengah berputar dalam satu lingkaran penuh. Serangan ini ditujukan untuk membabat semua pengeroyoknya.
Dalam keadaan biasa, sudah pasti Pratiwi bisa membunuh semua musuh dalam sebuah gerakan panjang ini. Namun, sayang, walau semua pengeroyok dalam keadaan setengah lengah, dalam keadaan menderita luka dalam dan di betisnya, Pratiwi hanya berhasil melukai bahu satu jawara Jawa saja, sedangkan sisanya langsung mundur dengan cepat.
Ini tidak hanya mengakibatkan serangan Pratiwi lolos, namun juga langkahnya menjadi terbaca.
Serangan pedang dan golok lawan menghambur menyongsong Pratiwi.
Pratiwi terpaksa mundur, bergulingan ke belakang dan jatuh terduduk sejauh dua tombak. Ketika ia berhasil berdiri, dua sabetan sekaligus melukai leher dan lengannya. Goresan kedua bilah senjata tajam itu nampak-nampaknya akan sampai pada sasarannya sebentar lagi.
Terlalu mudah melihat bahwa Pratiwi benar-benar kesulitan dan tergopoh-gopoh menanggapi serangan ini. Belum lagi jawara Jawa yang terluka di bahunya ternyata tidak cukup parah untuk tidak melanjutkan pertarungan.
Serangan mereka membuat Pratiwi terus-terusan menghindar.
Wajah Yu mengeras. Pikiran kekhawatiran berseliweran di dalam kepalanya. Lengannya masih digenggam Lau Siufan dengan erat.
Sang sepupu, Lau Siufan, merasa sekali bahwa saudara nya ini memang sedang disiksa oleh perasaannya.
Lau Siufan menjadi begitu gundah. Ia sangat peduli dengan laki-laki Cina ini, meski di sisi lain ia juga merasa kesal karena kedunguan pria yang sedang dibudak asmara.
__ADS_1
Ia memandang wajah Yu sekali lagi, kemudian melepaskan genggaman pada lengan saudaranya. Lau Siufan berjalan cepat ke medan pertempuran.