Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Cakar


__ADS_3

Lâm berlari bagai kesetanan. Ia menyumpah serapah sendiri karena merasa menjadi seorang pengecut, seorang sampah yang memalukan. Ia tak tahu mengapa lututnya bergetar dan jantungnya serasa jatuh ke perut sehabis melepaskan lemparan pisau rahasia dengan kemampuan terbaiknya itu. Pisau terakhirnya lolos dengan mudahnya. Setelah itu, ia sadar sekali bahwa nyawanya pun akan semudah itu lolos dari tubuhnya. Pembantaian semua anggota Dunia Baru di dalam rombongannya adalah sebuah kejadian yang sama sekali tidak masuk akal. Mahluk seperti apa sebenarnya Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu itu? Ia tak bisa melihat wajah sang pendekar, ia tak bisa melihat seperti apa rupa orang yang memiliki kemampuan yang mungkin setingkat dewa tersebut. Ia tak mau mati di dalam rasa penasaran dan ditakuti habis-habisan seperti itu.


Lâm tidak peduli ketika tubuhnya terus membelah rerumputan dan ilalang tinggi. Ranting dan batang-batang pohon ia libas dan lewati. Ia tak memerhatikan ketika kaki telanjangnya menghajar akar-akar pepohonan yang menjalar bagai sekeluarga ular. Yang ia inginkan adalah menjauh dari sang pencabut nyawa sejauh mungkin. Ia tak peduli lagi dengan apapun saat ini, tak pendapat, tak harga diri, tak jati diri. Nyawanya mungkin adalah yang paling penting. Kemungkinan besar Jayaseta sedang mengejarnya bagai seekor macan memburu seekor kijang.


Lâm tak salah. Jayaseta memang tidak bisa membiarkan sosok pemimpin para perompak itu lari dari hadapannya. Menurutnya, sang perompak Champa itu memiliki ilmu kanuragan yang tidak bisa disepelakan. Ia saja sempat terluka karenanya. Jayaseta merasa bahwa orang itu akan dapat menjadi berbahaya di kemudian hari. Niat sedari awal mereka memang untuk membunuh dirinya dan semua anggota perjalanannya. Maka, ketika sang pemimpin lepas, ia sudah megantongi beragam berita dan kisah yang akan bisa diberikan kepada anggota yang lain atau dimanfaatkan sedemikian rupa untuk mempersulit dan memperumit perjalanan Jayaseta.


Maka dari itu, Jayaseta meluncur mengejar Lâm.


Yang dikejar berlari bak anak kecil dikejar seekor anjing. Rasa-rasanya ia sudah lama berlari, tetapi jantungnya masih menggedor-gedor keras dinding dadanya. Ia masih belum mau berhenti sampai nafasnya benar-benar habis. Selagi ia bisa, ia masih mau berusaha untuk menolak kematiannya sendiri.

__ADS_1


BRUK!


Lâm tersentak, kemudian jatuh bergulingan ke depan. Tak lama ia mencoba berdiri, tetapi gagal. Lututnya terlalu lemas karena telah berlari terlalu lama. Hal terbaik yang ia bisa lakukan adalah mundur dan berguling ke belakang sejauh mungkin. Tidak sampai disitu, Lâmbahkan masih menyeret tubuhnya mundur.


Sosok itu mendadak muncul mengagetkan Lâm. Bayangan gelapnya berlari cepat di samping Lâm selama satu tarikan nafas dan tiba-tiba sudah berada di depannya, tepat di balik rerimbunan pepohonan dan daun-daun lebar.


Lâmmenarik nafas panjang dan menghempaskannya keras.


“Kau, rupanya!” seru Lâm menggunakan bahasa orang Siam. “Bisa-bisanya kau membuat jantungku tersentak seperti ini. Bila tak mati oleh Jayaseta, aku bisa mati terkejut!” ujar Lâm. Ia kemudian berdiri untuk menghadap sosok tersebut. Wajahnya kini sudah tidak tegang. Nafasnya perlahan mengalir secara alami. Ada kelegaan besar di balik raut wajah pemimpin serombongan perompak Champa ini. Lâmbahkan hampir tersenyum melihat siapa gerangan yang datang di hadapannya.

__ADS_1


“Selama ini dimana saja kau, heh? Kau tidak berbuat apa-apa selama ini, malah korban telah berjatuhan. Jadi, di sisi mana sebenarnya kau berada?” ujar Lâm. Nampak sekali bahwa Lâmmengenal baik sosok itu.


“Pengecut!” balas sang sosok tanpa diduga dengan suara datarnya.


“Apa? Kau sebut aku pengecut? Lalu bagaimana dengan dirimu yang selama ini ternyata hanya bermain aman, bersembunyi di bawah ketiak alasan penyamaran? Dunia Baru memiliki perintah yang jelas, memiliki tujuan yang terarah pula, tapi kau sama bengalnya. ah, jangan-jangan kau sama pengecutnya dengan aku sehingga terus-menerus bersembunyi dan berpura-pura menyamar. Jangan-jangan kau sudah tak mau lagi melaksanakan perintah dan tugasmu itu,” balas Lâm penuh amarah.


Sang sosok tidak menjawab. Sebaliknya ia melaju dengan cepat ke arah Lâm yang sama sekali tidak siap dengan hal ini. Jari-jari tangan kanan dan kirinya yang membentuk cakar menghujam ke dada dan tenggorokan Lâm.


Kerongkongan Lâm robek, mengeluarkan darah yang bermuncratan liar, sedangkan dadanya juga bisa dikatakan remuk oleh cakar sang sosok yang mirip serangan harimau tersebut. Lâm tewas seketika.

__ADS_1


__ADS_2