
Khaung memutarkan dha dan mengembangkan bunga-bunga jurus silat Burma nya dan mempersiapkan kuda-kudanya. Serupa dengan Krabi Krabong orang Siam, Khaung pun mengangkat satu kaki di depan sebagai bagian dari jurusnya.
Seberapapun terkejut dan herannya Jayaseta dengan kenyataan yang baru saja ia terima tadi, ia tak boleh terhanyut di dalam permainan kara dan permainan pikiran sang lawan. Sebaliknya, naluri kependekarannya langsung meneliti gerakan lawan dengan cepat.
Walau masih satu akar dengan silat Muay Boran, memang kuda-kuda silat pedang dha kembar yang digunakan Khaung ini terbilang berbeda dan lebih mendekati silat Melayu atau Jawa, pikir Jayaseta.
Nyatanya memang benar, silat Khaung dengan menggunakan senjata itu secara umum disebut sebagai Banshay. Untuk segala jenis silat yang berasal dari orang-orang Burma, mereka menyebutnya dengan Thaing. Termasuk di dalammya Lethwei, silat Burma tangan kosong seperti para pendekar pendukung Khun Wanchay Na Ayutthaya. Maka Banshay Thaing adalah istilah untuk silat Burma dengan menggunakan senjata.
Satunya, Sovannarith si orang Khmer dari Kamboja itu, meski tak berbicara dalam lidah Melayu, agaknya paham betul apa yang diucapkan rekannya, Khaung si perampok Burma itu. Ia juga langsung memutarkan sepasang daab nya dalam gaya tarung silat orang Khmer negeri Kamboja yang dikenal dengan nama Kbach Kun Boran Khmer, yang kurang lebih berarti silat kuno bangsa Khmer. Dalam bahasa Khmer, daab adalah dav. Bentuknya, walau juga hampir tak bisa dibedakan dengan daab, sebenarnya lebih mirip ke arah dha milik bangsa Burma seperti rekannya, Khaung.
Nampaknya Jayaseta perlu menahan keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahu dan penasarannya yang begitu besar tentang semua hal ini. Tantangan musuh di depan tidak kalah menariknya. Jiwa pendekar yang telah merasuk di dalam dadanya menjerit ingin menjajal lagi gaya silat negeri Siam dan sekitarnya ini, negeri yang lepas dari wilayah bangsa Melayu.
__ADS_1
Jayaseta berbalik arah dan berjalan ke arah rombongannya secara mendadak. Khaung dan Sovannarith sontak dibuatnya bingung. Begitu juga dengan Siam, Ireng dan yang lainnya ketika melihat Jayaseta berjalan mendekat ke arah mereka.
"Kakang Katilapan, tolong pinjamkan sepasang tongkat rotanmu. Dua orang itu sudah tahu luar dalam mengenai diriku dan rombongan kita tanpa terkecuali. Saatnya aku yang akan menggali penjelasan dari mereka. Jurus-jurus Kali Bisaya mu akan kupinjam, Kakang, untuk membuat mereka jera berhadapan denganku," ujar Jayaseta.
Walau masih bingung harus menjawab atau berpikir apa, Katilapan tetap melemparkan sepasang senjata tongkat rotannya.
Setelah menangkap dua batang senjata tumpul itu, Jayaseta menancapkan sebilah daab rampasannya dari salah saru perampok tadi di tanah.
Ia berbalik lagi dan berjalan menuju ke tempat semula, berhadapan dengan dua perampok berkebangsaan berbeda tersebut.
Mendengar ini, Khaung dan Sovannarith mengernyitkan dahi mereka heran, apalagi melihat Jayaseta berganti senjata dari tajam ke tumpul. Keduanya sadar benar mengenai kisah kesaktian sang pendekar. Mereka juga menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka bagaimana dengan hampir tanpa usaha yang seberapa, Jayaseta membuat pasukan berkuda para perampok Dunia Baru kocar-kacir berantakan. Namun, menghadapi mereka berdua dengan menggunakan dua batang rotan jelas melecehkan dan menghina harga diri mereka.
__ADS_1
"Bangs*at kau, Jayaseta!" sumpah Khaung. Ia memalingkan wajahnya ke arah Sovannarith sejenak untuk bersepakat, kemudian menghambur langsung menyerang Jayaseta.
Kedua pedangnya membabat menyilang ke bagian dalam secara bersamaan. Di belakangnya, Sovvanarith ikut membabatkan dav nya dari arah yang berbeda.
Jayaseta menyeret kakinya cepat dan berkelit dari serangan beruntun dalam satu jurus itu. Sabetan dha dan dav melewati dada, leher, kepala dan bahunya.
Sovannarith menerjang maju lagi, tapi kali ini dengan serangan lutut yang panjang dan tajam. Serangan itu nyatanya adalah pembuka belaka. Dav nya membabat menyilang lagi ketika Jayaseta berhasil menghindari lututnya.
Di saat yang sama, Khaung berputar bagai kitiran menebas bagian bawah tubuh Jayaseta.
PLAK! PLAK! PLAK!
__ADS_1
Kin Jayaseta membalas serangan mereka dengan memainkan tongkat rotannya, menepis serangan dengan memukul lengan lawan, sembari menghindari serangan.
Khaung dan Sovannarith berteriak tertahan mendapatkan kedua tangan mereka dipukul sedemikian rupa. Bukan rasa sakit di tangan yang begitu terasa, tapi hati dan harga diri, membuat wajah keduanya merah padam karena marah dan kesal.