Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Perompak Đại Việt


__ADS_3

Memasuki hari kedua, lancaran yang ditumpangi Jayaseta masih belum memasuki sungai utama negeri Siam, yaitu Chao Phraya. Menurut penjelasan para awak kapal yang dapat berbicara dengan baik dan jelas dalam bahasa Melayu ataupun Jawa karena berasal dari Madura itu, bila ingin berlayar terus dengan lancaran ini, mereka akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai ke kota kerajaan Ayutthaya melalui sungai Ta Chin kemudian baru masuk ke sungai Chao Phraya.


Mendengar kata 'sungai' berkali-kali membuat Jayaseta mual dan bergidik ngeri. Sungai-sungai di negeri Siam ini mengingatkannya akan pulau Tanjung Pura sewaktu masih di Sukadana. Di sisi lain, Dara Cempaka berdiri di tepian lancaran memerhatikan rerimbunan pepohonan dan arus air yang menggelap di senja hari tersebut dengan senyuman tipis. Jelas ini mengingatkan ia sendiri pada kampung halamannya di Sukadana sana.


Tentu tidak begitu dengan Jayaseta. Dua hari yang lalu ia menghajar habis para perompak Siam, Burma dan Kamboja yang ternyata adalah kelompok gelap Dunia Baru tanpa ampun, bahkan ketika mereka semua berada di atas kuda dan puluhan jumlahnya. Kini, meski telah memiliki banyak sekali pengalaman bertarung di atas air, Jayaseta tetap tak merasa percaya diri dan lemah.


"Ada adik Dara, Abang Jayaseta," ujar Dara Cempaka mendadak mendekati Jayaseta dan sedang duduk di tepian kapal. Tangan lembut gadis itu menyentuh lembut bahu Jayaseta. Senyumnya membuat Jayaseta menjadi lebih tenang sampai-sampai ia tak memerhatikan beberapa buah kapal kecil yang berada di tepi kiri kanan sungai berada dalam keadaan siaga.

__ADS_1


Sang awak kapal memberitahu banyak penumpang, termasuk Siam, Ireng, Narendra dan Katilapan.


"Orang-orang Đại Việt," gumam Siam, sengaja perlahan agar tak terdengar oleh Jayaseta.


"Dan juga Champa," ujar Katilapan.


"Kesemuanya adalah para perompak, tuan-tuan. Namun jelas sekali mereka tak berniat menyerang lancaran kita. Padahal orang-orang Đại Việt tidak pernah takut menyerang lawan macam apapun. Menurut pengalaman, dua kali kapal ini diserang perompak sungai Đại Việt yang tak memiliki persenjataan memadai. Memang mereka kalah, tapi tak pernah tak mencoba. Hari ini mereka sepertinya tak berniat sama sekali. Mungkin melihat cetbang lancaran ini mengilap karena baru saja kami gosok," ujar seorang awak kapal sembari tertawa.

__ADS_1


Para perompak Đại Việt, bertubuh kecil tapi bergerak begitu cepat. Mereka bersenjatakan tongkat, tembak dan pedang besar yang bentuknya serupa dengan dao karena memang dipengaruhi oleh Cina.


Perahu-perahu besar dan kecil bermunculan dari anak-anak sungai. Tetapi mereka tidak mengacuhkan lancaran Jawa-Melayu yang ditumpangi Jayaseta. Padahal ada lebih dari tiga puluh perompak Đại Việt dan Champa.


Orang-orang Đại Việt dan Champa itu bercawat dan berbaju atas tanpa lengan dan bertutup kepala. Ada pula yang mengenakan sehelai cawat namun atasan berlengan panjang dan kainnya menutupi sampai lutut, menyembunyikan dao atau pedang melengkung lain yang sangat dipengaruhi oleh katana Jepun.


Orang-orang bangsa Đại Việt yang beragama Buddha dan Champa yang beragama Islam ini memiliki jenis silat di negerinya yang secara umum disebut dengan Võ Thuật. Silat Đại Việt ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu silat asli orang-orang Champa yang mirip dengan silat nusantara dan disebut pula dengan Võ Lâm Tân Khánh Bà Trà, serta silat yang dipengaruhi orang-orang negeri Cina.

__ADS_1


Tetapi inti dari silat Võ Thuật terletak pada kecepatan. Senjata maka menjadi sebuah keharusan dan keniscayaan. Silat Võ Lâm Tân Khánh Bà Trà malahan awalnya dirancang untuk tidak hanya mengalahkan lawan, namun juga binatang buas, dengan senjata maupun membuat tangan kosong menjadi senjata.


Tentu tidak diketahui rombongan Jayaseta bahwa para perompak Đại Việt ini adalah anggota kelompok Dunia Baru yang dua hari yang lalu mendapatkan perintah dari salah satu tokoh utama kelompok, yaitu Dewa Langkah Tiga dari Kerinci, untuk membunuh Sasangka yang mengikuti perjalanan Jayaseta, dan membakar habis kapal yang dinakhodai orang Lan Xang tersebut.


__ADS_2