Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Biksu


__ADS_3

Tidak tanggung-tanggung, sebelas orang perompak muncul dari semak belukar dan pepohonan di balik bukit dekat sungai wilayah Ayutthaya tersebut.


Rombongan Jayaseta sudah berjalan kali hampir seharian penuh. Seperti diketahui, akibat penahanan di perbatasan karena masalah ketegangan yang sedang memuncak antara Ayutthaya dan Kesultanan Kedah, orang-orang dari wilayah Melayu yang masuk ke daerah orang-orang Siam itu harus tersendat dan menumpuk. Kini seharian penuh mereka berjalan bersama berbondong-bondong.


Para peniaga, pedagang, pelancong, bahkan pemuka agama Buddha yang berjalan kaki - ada tiga biksu Buddha aliran Theravada yang kemungkinan sehabis melakukan perjalanan dari negeri Tengah Jauh, menggunakan gerobak sapi atau kerbau dan berkuda, sebenarnya menjadi sasaran empuk para perompak Siam.


Sialnya lagi, para prajurit penjaga perbatasan dari Kerajaan Ayutthaya sedang terkecoh perhatiannya karena kesatrian mereka habis diserang orang yang mengaku bergelar Pendekar Topeng Seribu. Pembantaian atas para prajurit jelas bukanlah hal yang sepele.


Jadi sekali lagi, para perompak yang merasa mereka pandai ini menggunakan kesempatan emas ketiadaan para prajurit negara untuk merampok kelompok dan rombongan dari seberang yang mereka anggap sebagai binatang ternak yang gemuk-gemuk.


Sebelas perompak, separuhnya bertubuh gempal, separuhnya lagi berotot liat, bersenjatakan sepasang daab yang digantungkan menyilang di punggung mereka. Beberapa duduk di atas pelana kuda, sisanya berlari dan melompat cepat menyergap rombongan.


Para perampok itu segera saja mengerumuni para rombongan bagai semut mengerubungi gula.


"Hal-hal semacam ini nampaknya terlalu akrab dengan kita. Sepertinya tidak ada cara untuk menghindarinya," ujar Narendra dengan suara rendah.


Katilapan mengangguk setuju. Ia meraba sepasang tongkat rotannya di pinggang.


Para perampok jelas bertindak dengan begitu kasar dan nampak terlalu bersemangat. Mereka sudah menghunus daab ganda mereka dan menyabetkannya ke udara dengan tujuan mengancam.


Beberapa orang begal melesat maju, melompat dan menerjang para kusir kuda dan gerobak sapi serta kerbau, membuat mereka terjungkal jatuh.

__ADS_1


"Teman-teman, persiapkan diri kalian. Jangan terlalu menonjol dalam menghadapi para perampok itu. Kita memang tidak boleh menyepelekan mereka, tapi juga tak bisa terlalu melepaskan semua kemampuan kita. Kelak, bila kita melakukan perlawanan yang terlalu hebat, kita akan ditanyai dan dicurigai pihak pemerintah kerajaan Ayutthaya," ujar Siam pelan. Ia membuka kotak benda pusaka yang mereka bawa dan mempersilahkan siapa saja untuk mengambil salah satu belati dari dalamnya.


Beberapa orang pedagang tak mau membiarkan diri mereka dirampok begitu saja. Tentu tidak sedikit dari diantara mereka memiliki kemampuan silat dan merupakan petarung-petarung handal pula.


Serangan para perampok ke rombongan terdepan disambut dengan perlawanan para pedagang dengan pedang dan tombak.


Bagian tengah rombongan yang berisi para biksu Buddha cukup nahas hampir tanpa perlawanan. Seorang biksu tewas menggelepar di tanah akibat sabetan daab seorang perampok. Padahal kumpulan biksu itu sudah mengangkat tangan untuk menunjukkan mereka tak hendak melakukan perlawanan.


Rupa-rupanya para begal ini memang benar-benar memanfaatkan kesempatan mereka untuk menyerang rombongan. Pertama, kelompok besar akan membuat rombongan kesulitan merancang perlawanan. Kedua, para rombongan mungkin sekali merasa aman karena masih dekat dengan perbatasan yang mana ini berarti kemungkinan atas adanya penjahat atau perampok di jalanan kecil sekali. Ketiga, serangan harus dilakukan dengan cepat dan sigap. Tidak ada ampun dan tawar menawar, atau bisa saja prajurit Ayutthaya yang berada di sekitar tempat itu mengetahuinya sehingga rencana akan menjadi berantakan.


Tak heran, bahkan biksu tak bersenjata pun langsung menjadi sasaran. Ini sebagai bentuk ancaman nyata dan contoh bagi rombongan lainnya bahwa mereka tidak main-main.


"Ingat. Jangan terlalu menonjol. Kita hadapi mereka sebisanya, lumpuhkan saja," ujar Siam. Ia sendiri mundur bersama Ireng di balik Narendra dan Katilapan serta Jayaseta. Mereka sadar bahwa kemampuan silat ketiga orang tersebut lebih bisa dipercaya dibanding mereka. Toh kalau mereka harus melawan para perampok, terpaksa mereka harus membunuh bukannya melumpuhkan.


Dara Cempaka ditarik mundur pula oleh Ireng, meski gadis itu sudah memegang sebilah keris di tangan kanannya.


Teriakan demi teriakan terus terdengar. Para perampok menyerang dengan makin menjadi-jadi. Satu dua tubuh berjatuhan tewas dengan darah membasahi tanah. Beberapa orang yang melawan para perampok di bagian depan tak terlihat kabarnya karena tertutup tubuh-tubuh orang-orang yang berlarian ketakutan.


Kengerian ini terus terjadi agar para rombongan semakin tercekam dan akhirnya akan benar-benar menyerahkan harta yang mereka bawa.


Satu orang biksu kembali tumbang, tewas dibacok sehingga kepalanya hampir terputus dari badannya.

__ADS_1


"Bang*sat! Kita tak bisa mendiamkan ini," seru Jayaseta. Ia terlihat sangat geram. "Apa kita hanya berdiri disini menunggu diserang lalu berpura-pura bertahan sedangkan orang-orang dibantai? Tidakkah kalian lihat mereka membunuh para pemuka agama itu tanpa belas kasihan?" Jayaseta kembali berseru. Darah sang pendekar menggelegak sampai ke ubun-ubun. Ia tak bisa lagi menerima kenyataan dan kejadian di depan matanya ini.


"Jayaseta. Perjalanan kita masih panjang. Kau tak boleh terburu nafsu dan ceroboh. Bagaimanapun kita harus ...."


Ucapan Katilapan terputus. Jayaseta meraih cepat selembar kain yang dilingkarkan di leher Dara Cempaka. Ia menggunakannya untuk menutupi mulut dan keningnya dengan cara membuntalkannya di kepala. Secepat itu pula Jayaseta meloloskan belati Siam yang ia ambil dari kotak kayu yang dibawa Siam, kemudian melesat menyongsong ke arah para perampok.


________________________________________________


Para pembaca yang budiman, selagi terus menunggu dan mengikuti cerita Pendekar Topeng Seribu langkah demi langkah, sudi kiranya untuk mendukung karya penulis yang lain di wadah gwp.id berjudul Lengkung Takdir. Novel tersebut adalah sebuah fiksi sejarah yang memodifikasi sejarah/cerita rakyat Kalimantan Barat tentang Aji Melayu, seorang tokoh yang kelak akan menurunkan raja-raja di Kalimantan Barat, seperti Sintang sampai Kerajaan Kapuas.


Novel ini juga memasukkan banyak sekali unsur horor/thriller serta aksi/silat pula.


Semoga para pembaca dapat pula menikmati cerita tersebut dan memberikan dukungan yang penulis butuhkan, termasuk komentar dan saran. Apalagi cerita tersebut juga rencananya akan diikutsertakan dalam sebuah sayembara kepenulisan.



Dama' Bulan sang Pengeran Muda Melayu yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya di Kerajaan Songkhla pada penghujung abad ketiga belas Masehi untuk menghindari pertumpahan darah akibat nafsu kekuasaan sang Kakak, Dama' Bintang sang Pangeran Sulong, harus mengalami beragam tantangan di pulau Hujung Tanah.


Sang Pangeran Muda dan para pengikut setianya mungkin tak cukup kuat menghadapi kekuatan pasukan pimpinan Pangeran Sulong, namun dalam kemampuan ilmu batin, ia masih dapat menantang kerajaan gaib dengan sosok melayang-layang di balik bayang-bayang pepohonan hutan, mengambang di air sungai yang gelap, beterbangan di balik kabut perbukitan dan merangkak di tanah berawa.


Pemuda berdarah biru itu terpaksa menciptakan takdirnya sendiri di atas bumi asing yang ia pijak. Nyatanya toh takdir bukanlah sebuah garis lurus,melainkan lengkungan yang menciptakan riak-riak kehidupan. Dama' Bulan sang Pangeran Muda tidak hanya harus menaklukkan kerajaan siluman buaya, hantu-hantu tanpa kepala, sosok-sosok kepala tanpa raga, atau mahluk-mahluk gaib yang tak berjiwa, ia pun berusaha mengumpulkan sanak saudara dan pengikut setia yang tercerai-berai selama perjalanan bertahun yang melelahkan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2