Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Candrasa


__ADS_3

Karsan melemparkan lempeng besi yang terselip di balik bajunya.


Benar ternyata ujar Jayaseta, ia memerlukan satu lempeng ini untuk pertahanan diri. Ada dua lempeng besi yang berhasil Jayaseta rebut ketika menyerang Pratiwi di penginapan Abun tempo hari.


Satu Jayaseta sendiri kenakan sewaktu melawan dua ronin dan orang perwira Walanda de Jaager. Lempeng itu menyelamatkannya dari tembakan pistol sang bule. Sedangkan yang kedua berhasil menyelamatkan Karsan.


Jayaseta sudah mewanti-wanti Karsan bahwasanya menghadapi Walanda dan cecunguknya, mereka perlu persiapan lebih. Kelicikan Walanda sudah sangat terkenal. Mereka juga senang sekali menggunakan senjata-senjata bedil dan bubuk api. Ada baiknya Karsan menyelipkan salah satu lempeng yang ia rebut dari Pratiwi, karena ia adalah pendekar pemanah yang berurusan dengan serangaan-serangan jarak jauh.


Dan memang terbukti.


Karsan menarik nafas panjang, berdiri perlahan dan melihat di balik ilalang tinggi, ketiga rekannya sedang meluncur turun dengan teriakan perang yang membara.


"Kesuma, Mahendra, Sasangka!" ia berteriak.


Sontak ketiga rekannya melihat ke arah datangnya suara. Ketiganya menarik nafas lega dan tertawa lebar, "********, masih hidup ternyata kau, Karsan," ujar Sasangka tertawa lepas.


"Tunggu, aku akan menyusul, kita habisi mereka!" jawab Karsan sembari mengambil satu anak panah dari kantongnya.


Ia melihat Pratiwi juga berlari naik ke atas sembari tersenyum licik. Ia paham bahwa Karsan terselamatkan dari tembakan anak buahnya oleh lempeng besi dari baju zirah yang sekarang sedang dikenakan Pratiwi juga.


***


Jayaseta jatuh berlutut. Sepasang matanya memandang Pratiwi di bawah bukit.


Selama pertarungan melawan rombongan perwira Walanda dan ronin Jepun tadi, ia berhasil menahan racun kutukan Kanjeng Kyai Ageng Plered, Nagataksaka dan Garuda Sentanu agar tak keluar.


Namun demi melihat wajah sang pembunuh kakek gurunya yang hampir saja menyelesaikan rajahnya, hatinya terbakar amarah.


Sebagai akibatnya, kelelahan dan luka yang dialami tubuhnya ditambah rasa amarah yang berkobar-kobar, membuat semua kekuatan gaib di dalam jiwanya saling bertarung ingin keluar.


Ia mencoba berdiri sembari berpegangan pada barang pohon.


***


Sasangka membabat kaki satu prajurit bawahan Pratiwi dengan wedhungnya. Teriakan sakit sang prajurit tak sempat lama karena Mahendra menebas lehernya.

__ADS_1


Kesuma berkelit ke arah kiri dari sabetan pedang seorang prajurit yang menyerang dari bawah bukit. Tak butuh waktu lama untuk menancapkan wedhungnya ke ketiak sang musuh. Sasangkan dan Mahendra datang bagai kancil menancapkan belati-belati mereka ke perut, leher dan kepala sang prajurit.


Anak panah Karsan melesat, mengenai bahu, dada dan mata prajurit lainnya.


Semua prajurit habis seketika.


Keempatnya kini menghadang dan menghadapi Pratiwi dengan kedua keris tanpa luk nya.


"Semua sudah selesai, Pratiwi. Perempuan busuk penipu semacam kau pasti akan mendapatkan ganjarannya," ujar Karsan yang merentangkan gandewa nya ke arah Pratiwi.


Pratiwi tersenyum, "Kalian tahu bagimana keadaan kakang Jayaseta?"


"Cuih!" Sasangka meludah ke tanah. "Kau benar-benar seorang perempuan gila! Mana mungkin Jayaseta akan memaafkan tindakanmu membunuh kakek dari negeri Hindustan itu. Apalagi berharap akan cintanya. Aku tak pernah mengenal perempuan kejam sekaligus sinting seperti dirimu," lanjutnya.


"Aku rasa bukan kalian yang berhak menentukan itu, kakang-kakang sekalian," balas Pratiwi santai dan tenang.


"Baik, kalau itu maumu, kami akan serahkan kau pada Jayaseta dan lihat bagaimana nasibmu nanti," kali ini Karsan yang berbicara di balik gandewa nya.


Sepasang mata Pratiwi berbinar, "Jadi, kakang Jayaseta baik-baik saja? Sudah kuduga, ia pasti akan menang melawan musuh-musuhnya, apalagi para perwira Walanda dungu itu."


"Kalau bukan sinting, aku tak tahu apa lagi namanya. Kau jelas-jelas berada di pihak negeri Betawi yang dipimpin orang-orang bule Walanda itu. Harusnya kau merasa cemas ketika pimpinanmu kalah dan mungkin sekali tewas di bukit sana," ujar Kesuma.


"Bawa aku ke kakang Jayaseta. Urusanku maupun urusan kami bukan urusan kalian," ujar Pratiwi masih dengan mata berbinar.


Keempat pendekar dari pihak Jayaseta ini menggeleng-gelengkan kepala mereka hampir bersamaan saking tak bisa berkata apa-apa terhadap keanehan sang gadis.


"Mundur, jangan dekati perempuan itu," suara Jayaseta terdengar dari atas bukit.


Pratiwi mendongak dan melihat sosok laki-laki pujaannya berdiri di atas sana, "Kakang ... Kakang Jayaseta. Aku akan kesana kakang. Kita akan bersatu. Tak ada siapapun yang akan menghalangi kita," teriak Pratiwi genit.


"Jayaseta, kami sudah yakin kau pasti menang, ha ha ha ...," Kesuma tertawa lega, dibarengi ketiga rekannya.


Namun saat itu pula mereka semua melihat Jayaseta ambruk ke tanah. Samar-samar mereka mendengar teriakan lemah Jayaseta, "Nagataksaka, Garuda Sentanu, ... Nagataksaka ... Garuda ...."


Karsan menatap ketiga pasang pendekar belati, "Serangan itu datang lagi. Nampaknya Jayaseta sedang melawan kekuatan racun di dalam tubuhnya," ujar Karsan.

__ADS_1


"Aku akan ke atas, Karsan. Kalian jaga perempuan itu," ujar Sasangka. Yang lain mengangguk dan seketika Sasangka sudah meluncur naik ke atas bukit ke arah ambruknya Jayaseta.


Pratiwi memandang wajah musuh-musuhnya yang sepertinya berselimutkan kecemasan.


"Ada apa dengan kakang Jayaseta?" tanyanya. Ketika tak seorangpun yang menjawab, ia menaikkan nada suaranya, "Ada apa dengan kakang Jayaseta? Apa yang terjadi dengan kakang Jayaseta? Mengapa ia ambruk seperti itu?" kecemasan kini menular kepada Pratiwi.


"Heh, kau benar-benar peduli atau pura-pura, perempuan licik? Baiklah, akan kuberitahu sebelum kau pun akan kami hukum nantinya. Jayaseta menderita luka akibat tenaga dalam yang luar biasa. Kakek yang kau bunuh saat itu sedang dalam usaha mengobatinya. Jayaseta harus melewati penyakit ini dengan berusaha setengah mati, atau kesadarannya akan diambil oleh tenaga asing itu. Akibatnya Jayaseta bisa menjadi sinting dan ganas, atau ia akan tewas dimakan tenaganya itu sendiri," ujar Mahendra panjang lebar.


"Kakang ....," suara Pratiwi terdengar pelan. "Kalian harus membiarkan aku melihat keadaannya sekarang juga," ujar Pratiwi kemudian, dengan rendah.


"******* tak tahu diri. Kau akan mendapatkan giliranmu nanti ...," belum selesai Karsan berkata, Pratiwi melemparkan sesuatu ke arahnya. Benda itu menancap di lengan kiri atasnya, lengan yang digunakan untuk memegang busur.


Teriakan tertahan Karsan terdengar. Anak panahnya melesat liar menancap ke ke betis Mahendra.


Pratiwi mengambil benda serupa dengan yang ia lemparkan ke arah Karsan dari ikatan snggulan rambutnya, kemudian meluncur ke arah Kesuma yang sedang tak awas.


Pratiwi menusukkan senjata itu ke arah leher Kesuma. Pratiwi menarik tangannya ketika Kesuma membabatkan wedhungnya ke arah tangan Pratiwi sehingga benda itu tak sampai masuk lebih dalam, namun tak pelak darah muncrat dari luka tusuk tersebut.


Meskipun begitu, ketiga orang pendekar ini rubuh seketika, hanya dalam tiga kedipan mata saja.


***


Candrasa adalah senjata yang berbentuk mirip seperti hiasan sanggul pada rambut. Senjata ini masuk ke dalam jenis senjata tikam yang akan digunakan ketika musuh dalam keadaan yang lengah atau tidak awas. Senjata milik telik sandi ini sangat akrab digunakan oleh perempuan.



Senjata ini tidaklah begitu nampak oleh pihak lawan. Oleh sebab itu, cara menggunakannya yaitu dengan menyelipkannya pada sanggul atau ikat rambut, mirip dengan tusuk kondhe.


Ujung dari candrasa ini dibuat sangat runcing dan bercabang-cabang. Ujung yang runcing tersebut dibuat tajam melalui asahan dengan menggunakan batu asah.


Yang lebih mengerikan adalah bahwa candrasa milik Pratiwi ini beracun dan sangat mematikan. Oleh sebab itu, Karsan dan Kesuma langsung rubuh pula setelah terkena tusukan candrasa Pratiwi. Sialnya, anak panah Karsan yang tidak sengaja menancap di betis Mahendra juga beracun.


***


Pratiwi meraih sepasang keris tanpa luknya yang ia jatuhkan ke tanah.

__ADS_1


Sembari meluncur naik ke arah puncak bukit dimana Jayaseta berada, Pratiwi menggorok leher Mahendra dengan keris di tangan kanannya, menusuk jantung Kesuma melalui sela-sela tulang belikatnya menggunakan keris di tangan kirinya, menarik medua keris itu dan menusuk dada Karsan sampai mematahkan dadanya.


Pratiwi lanjut berlari naik, meninggalkan ketiga pendekar yang sedang meregang nyawa, tanpa sekalipun berpaling ke belakang lagi.


__ADS_2