
Sang pemimpin pasukan penjaga di rumah Almira mengangkat tameng logamnya, sedangkan tangan kanannya sudah menggenggam keris berluk sembilan. Dengan berteriak keras, sang pemimpin prajurit penjaga itu menderu maju. Tameng logam bulat yang menutupi lengannya berada di depan sedangkan kerisnya siap menusuk dari belakang.
BRAG!
Sang pemimpin ternyata memiliki kemampuan oleh kanuragan yang tidak bisa disepelakan. Ia lumayan cepat dan gesit. Tameng logam itu menubruk bahu sang orang asing dan membuatnya terjengkang ke belakang. Keris di tangan satunya siap ditunjamkan ke dada lawan. Namun, si orang asing meski memang mundur ke belakang, masih tidak terlalu terpengaruh dengan serangan tersebut. ia bergeser sedikit ke samping sehingga membuat pemimpin pasukan yang menyerangnya membatalkan serangan tusukan kerisnya.
Ia kembali mengarahkan tameng ke musuh, kemudian maju menderu. Si orang asing yang bertubuh gempal itu tidak mau mengulang pola yang sama. Ia mundur jauh, menggeser tubuhnya sedikit saja ke samping, kemudian menampar tameng yang gagal mengenai tubuhnya.
Sang pemimpin prajurit sedikit oleng. Si orang asing menggunakan kesempatan itu untuk membabatkan pedang luwuknya bermaksud ingin memapras habis tangan si pemimpin prajurit.
Sang pemimpin langsung berguling ke depan secepat mungkin. Bilah pedang luwuk yang sedikit melengkung ke depan lolos dari sasaran. Sang pemimpin pasukan berhasil menyelamatkan tangannya dari terpotong menjadi dua.
Si orang asing terlihat lumayan kesal. Ia menggenggam erat gagang pedang luwuknya. Pedang luwuk yang ia katakan tadi sebagai pedang luwuk Blambangan tersebut memang berbeda dengan pedang luwuk gaya Majapahit.
__ADS_1
Secara sederhana, setiap pedang luwuk terlihat berwarna hitam legam dengan bilah tajam di satu sisinya. Di bilah yang tajam terdapat pamor atau hiasan dengan gaya tertentu. Pedang luwuk Majapahit terkenal ketika digunakan pada tahun 1478 Masehi saat perang Paregreg berlangsung. Pada pedang luwuk Majapahit, pamornya adalah garis dari pangkal bilah sampai ujungnya yang lancip. Yang membedakannya dengan pedang luwuk Blambangan yang digunakan si orang asing tersebut, pamornya berupa matahari terbelah di bagian bilah tajamnya. Jumlah pamor ini selalu ganjil, bisa tiga, lima atau tujuh, sama seperti luk sebuah keris. Ada tiga pamor matahari terbelah di pedang luwuk si orang asing tersebut. Hal lain yang membedakannya dengan pedang luwuk Majapahit, adalah ukurannya yang terbilang pendek dan melengkung ke depan, cenderung seperti belati saja dibanding sebuah pedang atau golok.
Warna hitam legam pedang luwuk Blambangan yang digenggam si orang asing sudah tidak bisa diragukan bahayanya. Sebuah pedang luwuk sangat awam bila telah dibaluri dengan bisa ular hijau, atau dikenal juga dengan ular Luwuk. Tersabet sedikit saja di kulitnya dapat membuat seseorang mati membiru dan dengan menyakitkan.
Sang pemimpin prajurit penjaga rumah Almira bukan hanya beruntung tangannya tak terpapras, tetapi juga beruntung karena tak tersentuh sedikitpun. Kali ini, ia tak akan memberikan kesempatan itu lagi. Sang musuh nampaknya memang berniat mengganggu keamanan dan ketertiban tempat ini.
“Baik, bangsat! Kita lihat, pedang luwukmu atau kerisku ini yang akan menusuk daging dan menghilangkan nyawa,” seru sang pemimpin prajurit.
asing.
Sang pemimpin prajurit meludah ke tanah. “Memberikan kesempatan, katamu! Jangan mimpi, orang asing. Aku hanya lebih cepat darimu. Kau tak akan mampu menyentuhku seujung kuku jaripun.”
__ADS_1
Si orang asing yang gempal itu seperti benar-benar menahan amarah. “Sudah cukup!” ia meluncur cepat tanpa aba-aba.
Si pemimpin prajurit sudah tidak sempat lagi menghindar. Ia mengangkat tamengnya tepat di depan dada.
PRANG!
Bunyi ledakan tenaga begitu keras hasil benturan telapak tangan kiri sang sosok orang asing itu yang beradu ke tameng logam. Sang pemimpin prajurit tak menyangka dengan kekuatan telapak tangan yang kali ini dibaluti dengan tenaga dalam tersebut. Ia terlontar sampai dua tombak, kemudian masih jatuh terduduk dan bergulung ke belakang. Kerisnya terlepas, tamengnya terlontar jauh. Ia sendiri terbatuk keras dan mengeluarkan setitik darah.
Si pemimpin prajurit sadar, si orang asing sudah menunjukkan jati diri kependekarannya. Dengan memegang dadanya yang terasa sakit, sang pemimpin prajurit mencari kerisnya yang terjatuh ke tanah. Ia mengambilnya dan dengan susah payah kembali berdiri dan memasang kuda-kuda.
“Masih belum belajar juga? Dengan terpaksa aku akan membikin kau semaput! Jadi, persiapkan dirimu,” ujar sang orang asing.
“Kakang Sudiamara? Itukah dirimu, kakang?” teriak Almira mendadak. Sosok Nyai rumah itu berjalan mendekat meski telah dicegah oleh beberapa orang prajurit penjaga.
__ADS_1
“Ah, Almira. Disana rupanya kau, nduk!” balas si sosok tak dikenal tersebut.