Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Merlin


__ADS_3

Penggunaan ilmu sihir atau gaib dalam sebuah pertarungan tidak menjadi hal yang terlalu awam lagi pada abad ke-17 Masehi ini. Bukan berarti ilmu semacam itu tidak ada, hanya saja, ilmu sihir bukan hal yang mudah dipelajari dan diterapkan. Walau dahsyat, ada banyak keterbatasan dan pantang yang tak boleh dilanggar.


Para prajurit saat ini sudah semakin menguasai senjata api yang dapat digunakan siapapun dengan latihan yang cukup, namun tak sekeras para pandita dan pendekar di masa lalu. Kerajaan dan penguasa sudah mulai menggunakan otak, rencana dan mengembangkan kelicikan serta adu domba untuk mengalahkan musuh.


Lama-kelamaan ilmu sihir berkurang penggemar dan penggunanya. Ini dikarenakan untuk menguasai ilmu sihir terlalu banyak tantangan dan pantangan, belum lagi menguras waktu.


Padahal, misalnya saja pada masa kerajaan Kahuripan yang dipimpin Raja Airlangga atau Erlangga tahun 1009 sampai 1042 Masehi, yang bergelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa, ilmu sihir digunakan untuk melawan balik penyihir itu sendiri, seorang janda sakti penguasa ilmu hitam yang berasal dari Desa Girah bernama Calonarang.


Ia dan murid-murid perempuannya mampu menyebarkan tulah dan pagebluk yang melanda desa-desa, membuat semua mati karena penyakit yang mengerikan. Belum lagi kemampuan serta kesaktiannya dan murid-muridnya membangkitkan orang mati, menyemburkan api dari mata dan mulutnya, serta berubah menjadi beragam hewan dan benda seperti anjing, babi, kambing, lidah api, keranda mayat dan kain kafan yang beterbangan di angkasa dalam bentuk larik-larik sinar.


Untuk mengalahkannya, sang Raja menitahkan Mpu Baradah, sang penasehat kerajaan. Dengan muslihatnya, Mpu Baradah mampu mendapatkan rahasia ilmu sihir Calonarang yang berasal dari sebuah buku mantra dengan cara mengawinkan murid laki-lakinya yang bernama Mpu Bahula dengan putri jelita Calonarang bernama Ratna Manggali. Dari perkawinan inilah, Mpu Bahula dapat mencuri kitab mantra ilmu sihir tersebut dan digunakan untuk kelak mengalahkan Calonarang.


Orang-orang bule malah lebih cepat meninggalkan penggunaan ilmu sihir. Mereka memuja kemajuan ilmu pengetahuan manusia yang didapatkan dari berpikir dan melakukan uji coba. Mereka meninggalkan percakapan dengan alam dan semesta, sehingga ilmu sihir dianggap merupakan bualan semata yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang dianggap tertinggal dan jauh dari peradaban.


Padahal, di Britania Raya sekitar lima ratus tahun sebelum masa Raja Erlangga, tercatat kisah tentang Raja hebat nan sakti bernama Arthur yang konon katanya menjadi raja setelah menarik pedang Excalibur dari batu saat masih belia, dimana pedang pusaka tersebut terbukti tak ada yang bisa mencabut dari batu kecuali bila ia memang ditakdirkan menjadi seorang raja.


Ia kemudian memimpin peperangan suku Kelt melawan bangsa-bangsa yang ingin menjajah negerinya yaitu kaum Saxon dan Yuti, pada sekitar abad ke-5 atau ke-6 Masehi. Kesaktiannya dan pedang pusaka Excalibur mampu membuatnya menghadapi, mengalahkan dan membunuh sekaligus lima ratusan lawan seorang diri.


Ilmu sihir juga digunakan oleh Merlin, penyihir kerajaan yang dilahirkan dari seorang perempuan biasa dan ayah seorang jin dikenal dengan nama Incubus. Kekuatan sihir Merlin meliputi penerawangan masa depan dan pengubah bentuk, mirip seperti Calonarang.


Sayangnya, kemampuan-kemampuan sihir yang mengerikan dan bahana ini tidak dapat dipelihara dengan baik oleh orang-orang yang hidup di jaman selanjutnya.


Hutan, gunung, sungai dan lautan perlahan telah dibuka lebar-lebar oleh manusia yang bertambah banyak. Segala rahasia malah dikubur dan dibangun kerajaan dan peradaban di atasnya.

__ADS_1


Hanya orang-orang di hutan-hutan dan kaki gunung seperti Merapi dan pulau Tanjung Pura inilah yang masih kedapatan memelihara ilmu sihir, bekerja dengan alam dan roh untuk menjaga daerahnya, entah sampai kapan, sampai manusia dengan bedil, meriam dan bubuk apinya menghanguskan serta meluluhlantakkan tempat-tempat keramat dan tersembunyi itu.


Terlihatlah sekarang bahwa Punyan mengambang di udara dalam satu tarikan nafas. Tarikan nafas sebelumnya, sosok laki-laki pendekar itu menghilang di antara kepulan asap.


Tahu-tahu tubuh pemuda penuh rajah itu sudah mencelat di atas Panglima Asuam.


Walau terkejut, ternyata Panglima Asuam sudah memperkirakan bahwa sang lawan pastilah memiliki ilmu sihir pula yanh memang tak bisa diremehkan.


Dengan sekali sentak Punyan terlempar. Tubuhnya hampir saja menubruk kumpulan pohon sebelum kembali menghilang.


Maka, inilah yang terjadi.


Sebuah pertempuran yang sama sekali tak biasa. Keduanya saling melepaskan serangan kasat mata. Punyan berlompatan, menghilang di balik asap dam bergerak begitu cepat. Sedangkan Panglima Asuam melemparkan pukulan tanpa menyentuh sama sekali.


Orang yang tak percaya dan tak memahami ilmu sihir semacam ini mungkin hanya dapat melihat dua orang yang bertempur tanpa pertarungan. Cuma sekadar tubuh yang terlempar, kemudian berlari hilang di balik asap, kemudian muncul untuk terlempar lagi. Padahal orang biasa tak akan sempat melakukan perlawanan sama sekali karena sudah pasti langsung tewas terkena serangan gaib tersebut seketika itu jua.


Panglima Asuam mulai keteteran dengan kecepatan lawan yang sepertinya telah menguasai jalannya pertarungan. Bukan itu saja, Punyan sudah paham betapa alam adalah bagian dari kehidupan rakyat kampungnya. Ia enggan hanya memanfaatkan kekuatan dari alam hanya untuk kekuatan dan kesaktian saja. Ia harus memberikan sesuatu kembali bagi alam.


Peperangan saat ini bukan lagi demi kemenangan semata, namun bentuk pengabdian pada alam. Darah yang tertumpah, baik dari musuh maupun sukunya, adalah pupuk yang subur bagi tanah. Darahnya adalah darah pengorbanan. Ia tak akan menyesal bila sang apai tewas, atau ia sendiri yang menjadi bangkai, selama memang Bumi yang menghendaki.


Sebuah pandangan yang aneh, mungkin akan dianggap sebagai pandangan orang-orang tak beradab, namun itulah falsafah yang membuat orang-orang Daya ini hidup di pedalaman, membangun pemikiran dan peradaban mereka sendiri.


Panglima Asuam di lain pihak, masih menempatkan pertarungan sebagai sebuah hal yang harus dimenangkan. Cara apapun wajib dilakukan untuk mencapainya.

__ADS_1


Akibatnya, ilmu gaib dan sihirnya hanya terbatas pada satu tujuan. Punyan sendiri mendapatkan bantuan yang lebih besar karena alam dan Bumi menerima balik sesuatu darinya, yaitu pengorbanan.


Panglima Asuam tersentak ketika jari-jari Punyan yang membentuk cakar akhirnya dapat menyobek lambungnya. Darah tercurah ke tanah, memberikan senyum lebar pada Bumi.


***


Katilapan dan Narendra mendapatkan bantuan dari Jayaseta. Tembakan bedil dari penembak-penembak ulung dari Jawa ini lumayan membuat mereka kerepotan, apalagi perhatian mereka bukan hanya melawan musuh, namun juga melindungi dan membebaskan perempuan dan anak-anak dari perbudakan musuh.


Dara Cempaka masih tampak ragu dan enggan menebaskan mandau pemberian Jayaseta kepada musuh yang mencoba-coba menghalanginya membebaskan warga kampung.


Satu orang Biaju bersenjata tombak dan perisai segi enam menyeruduknya. Dara Cempaka berkelit dengan anggun dan memberikan sebuah tendangan keras ke rusuk sang pemuda.


Walau prajurit itu sempat terjerembab, perang harus diakhiri dengan kematian, karena sang ksatria Biaju itu kembali bangun dengan cepat. Ujung tombaknya menggores bahu ramping Dara Cempaka.


Jeritan Dara Cempaka mengundang Jayaseta yang menghambur bagai burung hantu menyambar seekor tikus, ia membabat tengkorak kepala sang prajurit Biaju sampai retak. Kemudian mengajar leher, punggung dan pinggang lawan hingga musuh jatuh berlutut dan tewas perlahan.


***


Tiada pemimpin lagi di sisi para penyerang Biaju.


Yulgok telah tewas. Karsa menghilang, padahal ia yang diharapkan membantu mereka - andai mereka tahu bahwa mayatnya terbaring kaku di luar benteng. Sedangkan sang panglima sedang bertempur dengan putra kepala suku lawan, Punyan.


Peta pertempuran mulai tak imbang. Orang-orang Jawa yang merupakan penembak ulung telah banyak tewas oleh kemunculan orang-orang yang tak dikenal dan tak diharapkan. Sisanya berhadapan dengan orang-orang Jawa lain yang gagal mereka habisi, atau melawan Jayaseta dan kedua pendekar tak dikenal tersebut.

__ADS_1


Sebaliknya, para prajurit Biaju mendapatkan lawan yang begitu bersemangat dari pasukan Daya dari benteng ini. Belasan orang sudah meregang nyawa, terkapar di tanah bergiliran. Para budak yang memutuskan membalas dendam juga ternyata tak membantu banyak. Sebentar saja mereka mulai berguguran, sama seperti pimpinan dan perintis pemberontakan mereka, Jipen dan Kumang yang telah tewas lebih dahulu.


Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepeminuman tuak dalam bumbung bambu, peperangan ini jelas terlihat arah kemana kemenangan berhembus.


__ADS_2