Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lima Iblis Pencium Darah


__ADS_3

Para pendekar pembunuh berdarah dingin yang menyerang Jayaseta bergelar Lima Iblis Pencium Darah. Sarti yang tewas ditusuk pisau di ujung senapannya sendiri oleh Jayaseta, adalah bekas salah satu pemimpin pasukan Trisat Kenya yang merupakan pasukan perempuan Mataram yang sangat ditakuti oleh semua musuhnya.


Penggambaran mengenai prajurit perempuan, terutama dari kerajaan Mataram mungkin agak mengagetkan. Prajurit perempuan sama sekali tidak terlihat kelelaki-lakian, termasuk berotot dan berbusana seperti kaum pria. Mereka tetap menunjukkan jati diri sebagai seorang perempuan namun sangat berbahaya dan mematikan. Bahkan pasukan Trisat Kenya terkenal memiliki kemampuan menggunakan bedil jauh lebih baik dibanding prajurit laki-laki.


Kecuali Tiang Goan, yang lainnya juga adalah mantan pasukan Mataram yang gagal dalam penyerangan ke benteng Betawi kompeni Walanda. Tiang Goan memang dari awal sudah memihak Walanda di Betawi. Ia bersama pasukan-pasukan Cina dan pribumi bayaran Walanda, orang-orang Hindustan, beberapa Samurai Jepun dan prajurit bule Walanda melawan pasukan Mataram yang menyerang Betawi.


Empat orang pendekar Mataram tersebut akhirnya memilih untuk menyebrang ke Betawi karena takut dihabisi oleh Sultan Agung, dihukum karena kegagalan mereka menjatuhkan benteng Betawi.


Sarti tewas. Kangsa terluka sangat parah sehingga kemungkinan besar ia tidak akan dapat menggunakan kedua pedangnya lagi. Damar dan Tiang Goan mengalami luka yang parah di wajah. Walau mereka terluka cukup parah, namun sudah dipastikan wajah mereka masih akan dapat pulih.


Parta terluka di dada. Toya bajanya mengecap di dada Parta akibat tendangan yang luar biasa dari Jayaseta.


Keempatnya memang berhasil selamat. Senjata mereka terkumpul di bawah kaki Jayaseta, sedangkan mereka semua sudah siuman dan terduduk di bawah dua buah pohon besar.


Jayaseta memainkan satu cabang di tangan kanannya. Ia masih mengenakan topeng Samba yang selalu tersenyum aneh itu. Ia sudah mengumpulkan ketiga cakramnya dan kembali meletakkannya di atas kepalanya. Sayangnya, satu cakram telah sompel di salah satu bagian tepiannya yang tajam karena beradu dengan ***** Sarti.


“Sekarang aku mau kejelasannya. Tidak perlu berputar-putar. Sarti terpaksa tewas di tanganku. Toh, kalian berharap yang sebaliknya bukan? Melihat mayatku, bukannya salah satu dari kalian,” Jayaseta melanjutkan.


Keempat pendekar tersebut saling berpandang-pandangan. Sudah jelas perilaku dan semangat mereka sekarang merosot. Apalagi melihat Sarti sudah tergeletak tak bernyawa. Sarti memang mungkin memiliki tempat yang luar biasanya tinggi bagi mereka. Sarti malah mungkin adalah pendekar yang terhebat diantara mereka semua.


“Kami berlima adalah telik sandi dari Betawi yang bergelar Lima Iblis Pencium Darah,” ujar Parta yang suaranya masih dapat keluar dengan baik dari tenggorokannya. Sedangkan yang lain mungkin sudah kesusahan untuk berucap kata.


Saat itulah baru Parta menceritakan secara utuh siapa mereka. Ia kemudian juga menjelaskan mengapa mereka ingin menghabisi Jayaseta dan bagaimana mereka tahu mengenai dirinya.


Pusat pemerintahan Kompeni di Betawi kesal karena anggota telik sandi mereka yang lain yang berasal dari kelompok Jarum Bumi Neraka telah terbunuh oleh orang yang bergelar Pendekar Topeng Seribu. Tak lama terjadi kejadian lain di Cerbon, dimana tiga anggota Jarum Bumi Neraka juga dihajar dan bahkan seorang diantaranya tewas di tangan sang pendekar. Kabar menjelaskan bahwa si pendekar ternyata adalah seorang pemuda yang ingin berangkat ke Banten dan Betawi menggunakan sebuah kapal. Ia juga diiringi tujuh pendekar lain dalam perjalanannya.


Ciri-ciri ini sangat kuat menempel di diri Jayaseta yang masuk ke Banten bersama tujuh orang rombongan termasuk pamannya. Sarti dan Damar sudah mengikuti Jayaseta sejak mereka sampai di pelabuhan Cerbon.

__ADS_1


Jayaseta menjatuhkan cabang di tangannya ke tanah. Di saat itulah tanpa disangka-sangka, Tiang Goan yang tadinya seperti sudah tidak berniat melanjutkan pertarungan menerjang Jayaseta. Tak bisa dipastikan kapan ia melakukannya, yang jelas Tiang Goan sudah melepaskan tali yang membelit gumpalan rambutnya. Kemudian ia mengibaskan kepalanya ke arah Jayaseta. Tali merah itu meluncur ke arah Jayaseta.


BRET!


Kulit dada Jayaseta tergores, menyobek pakaiannya dan mengiris dadanya. Darah langsung keluar dari dadanya. Jayaseta hanya sempat bergeser mundur sedikit karena kurang Parsiapan. Rupanya di ujung tali pengikat rambut Tiang Goan terikat sebilah mata pisau kecil yang begitu tajam.


Senjata ini sebenarnya bentuk lain dari shéng biāo, atau tali bermata tombak. Biasanya tali bermata tombak digunakan mirip seperti cambuk rantai, namun lebih panjang dan lentur. Keluarga senjata ini termasuk palu rantai, cakar terbang, cambuk rantai dan fei tou yang mata pisaunya serupa ujung tombak namun lebih berat.


Tali bermata tombak atau shéng biāo ini memiliki banyak keunggulan ketika digunakan untuk menghadapi lawan. Dalam jarak yang cukup jauh, ujung tali bermata tombak ini dapat dilemparkan ke arah musuh dan ditarik kembali. Senjata ini juga dapat digunakan untuk menyabet, menusuk, mencekik, dan bahkan menjerat lawan.


Namun, bentuk senjata yang dibuat khusus oleh Tiang Goan ini dimainkan dengan menggunakan kepalanya. Terlihat jelas senjata ini diperlakukan sebagai sebuah senjata rahasia yang disembunyikan dalam rupa simpul rambut yang akan mudah digunakan ketika sedang dalam keadaan terpaksa.


Tiang Goan nampaknya memang seorang pendekar yang khusus mempelajari ilmu senjata lentur. Konon senjata lentur seperti cambuk rantai, rantai dan tali bermata tombak berasal dari seorang ketua penjahat yang menjadi tawanan di negeri Cina ratusan tahun yang lalu.


Tawanan ini dapat meloloskan diri dari penjara dan dapat mengalahkan semua prajurit dan penjaga yang berusaha menangkapnya, padahal saat itu tangannya masih diikat dengan rantai. Ternyata ia menggunakan rantai yang menggantung di tangannya sebagai senjata.


Lambat laun ia menciptakan dan menyempurnakan senjata lentur ini beserta jurus dan penggunaannya.


Jayaseta mundur beberapa langkah dan bergeser ke kiri dan ke kanan untuk menghindari sabetan tali Tiang Goan. Serangan Tiang Goan ternyata makin menjadi hingga dengan sangat terpaksa ketika sebuah serangan Tiang Goan begitu berbahaya, Jayaseta menggunakan kedua lengannya untuk melindungi lehernya.


Senjata tali Tiang Goan melingkar di kedua tangan Jayaseta dan mengikatnya. Dalam sekali sentak Jayaseta tetarik maju. Ketika tubuhnya sudah mendekat ke arah Tiang Goan, Tiang Goan menggunakan kepalanya untuk meyodok dada Jayaseta dengan keras.


Ikatan senjata tali Tiang Goan terlepas dari tangan Jayaseta, namun Jayaseta terlempar beberapa langkah karena dadanya terseruduk kepala Tiang Goan. Tali Tiang Goan berdesir lagi. Kali ini tangan kiri Jayaseta yang terikat tali tersebut. Tiang Goan menghentakkannya kembali dan membuat sekali lagi Jayaseta tertarik ke depan. Sudah jelas Tiang Goan ingin melakukan hal yang sama, yaitu menyerang Jayaseta dengan sundulan kepalanya. Namun ini tidak terjadi.


Jayaseta terlalu gampang mempelajari semua jurus musuh-musuhnya. Ketika ia terhentak maju dan kepala Tiang Goan telah siap menyundul dada atau lehernya, Jayaseta mengerahkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Dengan cepat ia menghantamkan wajahnya yang bertopeng ke kepala Tiang Goan.


PRAK!!

__ADS_1


“Akhhhh ….!!”


Kepala Tiang Goan terluka. Secarik luka mengeluarkan darah dari kepalanya di sela-sela rambutnya. Tiang Goan sendiri berteriak-teriak kesakitan sembari memegang kepalanya. Sedangkan topeng Jayaseta terbelah menjadi tiga bagian.


Jurus Tiang Goan bukanlah jurus sembarangan. Kepalanya sudah dilatih sedemikian rupa agar menjadi senjata. Dalam ilmu silat Cina, banyak pendekar melatih kepalanya menjadi sangat kuat karena kerasnya latihan tertentu.


Kepala mereka dapat mematahkan kayu dan menghancurkan batu bata. Itulah sebabnya, tali yang diikat di rambut Tiang Goan pun menjadi senjata yang luar biasa karena urat-urat dan otot-otot kepala Tiang Goan telah terlatih dengan baik.


Namun sial bagi Tiang Goan, Jayaseta bukan petarung biasa. Ia sempat mengumpulkan tenaga dalam ke kepalanya ketika Tiang Goan menarik tali yang melingkar di lengan Jayaseta sehingga topeng kayu di wajah Jayaseta menjadi lebih keras daripada kayu biasa karena telah dialiri tenaga dalam. Ini akhirnya berhasil melukai kerasnya kepala Tiang Goan. Kesialan Tiang Goan pun tidak berhenti disitu, karena tali tersebut masih membelit tangan kiri Jayaseta.


Kali ini Jayaseta yang menghentakkannya sehingga giliran Tiang Goan yang tersentak mendekat ke arahnya. Saat Tiang Goan telah dekat itulah, Jayaseta membuka topengnya yang telah terbelah menjadi tiga bagian. Satu bagian dari tiga bagian topeng yang terbelah itu kini berupa pilah kayu yang tajam. Jayaseta menggunakannya sebagai semacam senjata tajam bak belati, dan menancapkan bilah kayu tersebut tepat di leher Tiang Goan.


Tiang Goan memegangi lehernya yang tertusuk bilah kayu topeng Jayaseta yang menancap. Darah memuncrat deras sampai Tiang Goan mati terbaring di tanah dengan kedua mata terbeliak.


Sama seperti Tiang Goan, ketiga temannya yang lain pun membeliakkan mata mereka. Sekarang nyali mereka bukan lagi menciut, namun sudah sama sekali habis. Sekarang di depan mereka berdiri seorang pemuda yang begitu mengerikan. Pendekar Topeng Seribu nampaknya merupakan sebuah gelar yang tidak main-main. Pecahan topeng itu tersenyum aneh, karena hanya sedikit saja bagian wajah yang terlihat, tertancap di leher Tiang Goan.


Jayaseta melepaskan tali dari rambut Tiang Goan yang masih melilit di tangan kirinya. Kemudian ia mengambil senjata Tiang Goan, yaitu cambuk rantai, dan melingkarkannya di pinggangnya.


“Aku ambil senjata ini,” kata Jayaseta dingin. Sedangkan ketiga gerombolan Lima Iblis Pencium Darah yang tersisa mengangguk-angguk dengan keras karena gentar dan rasa ketakutan yang luar biasa.


Dengan luka yang masih terasa nyeri di bahu kirinya karena cambuk rantai Tiang Goan, luka di dada karena pisau di ujung rambut Tiang Goan, dan sisi lehernya yang tertembus ***** senapan Sarti, Jayaseta membelakangi ketiga gerombolan Iblis Pencium Darah dan berjalan meninggalkan mereka.


“Jangan coba-coba ikuti aku lagi. Pergi jauh-jauh kalau masih ingin hidup!” kata Jayaseta sambil lalu.


Suara Jayaseta yang dingin memang tiba-tiba menjadi sangat menyeramkan bagi ketiga gerombolan tersebut. Mereka diam tak bergerak sama sekali dari tempatnya, seperti terpaku di tanah.


Jayaseta sendiri menghela nafas panjang-panjang sembari terus berjalan. Ia menghimpun hawa murni untuk mengobati luka-luka dan rasa lelahnya dari dalam. Syukurlah lukanya tidak terlalu dalam. Begitu sampai kedai makan atau penginapan nantinya, ia sudah bisa beristirahat untuk mengembalikan tenaga dan mengobati luka-lukanya.

__ADS_1


Ia sama sekali tidak pernah memiliki rencana untuk membunuh, menghabisi nyawa musuh-musuhnya. Sampai saat ini, ia hanya melakukan apa yang dirasa perlu ia lakukan. Apakah ini membuatnya menjadi pembantai? Dalam usia semuda ini Jayaseta telah membunuh banyak orang. Baik orang-orang yang beberapa anggap pantas untuk dibunuh karena kejahatan mereka, atau orang yang membahayakan nyawanya.


Ia kadang bingung dengan tindak-tanduknya sendiri. Harusnya tidak ada seorangpun yang perlu menjadi korbannya. Namun ada saja hal yang membuatnya secara terpaksa melakukan tindakan tersebut. Ia khawatir bahwa ia akan memiliki kecenderungan untuk menghabisi nyawa seseorang, baik penjahat atau orang-orang yang membahayakan nyawanya. Sebagai seorang pendekar, apakah ini adalah hal yang lumrah? Tapi ia tadi memang harus menghentikan serang-serangan Tiang Goan dengan sekuat tenaga. Topengnya hancur dan pakaian yang diberikan Pratiwi telah compang-camping. Ia menjadi kesal sendiri dan memutuskan untuk melupakan perdebatan di dalam kepalanya.


__ADS_2