Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lembing


__ADS_3

“Heyaa … heyaa ….”


Pratiwi menghentakkan tali kekang kudanya dengan keras. Kuda tersebut meningkik dan memacu secepat yang nafasnya mampu.


“Ceroboh!” umpatnya sembari berada di atas kuda. Ia merujuk kepada de Jaager  bersaudara yang ia anggap terlalu berani mengambil keputusan sembrono menantang Jayaseta.


Ia paham bahwa de Jaager bersaudara tak mungkin menghadapi Jayaseta sendirian. Ia pasti dengan licik sudah mempersiapkan para serdadu kompeni di belakangnya untuk membokong Jayaseta bila pertarungannya gagal.


Tetapi setahu Pratiwi juga, penyerangan terakhir serdadu kompeni berakhir dengan tidak begitu baik. Walau Salman sudah tewas dan rencana meredam pemberontakan dan gangguan terhadap pemerintahan konpeni Walanda terlaksana, terlalu banyak korban dari pihak kompeni dengan kehadiran pendekar-pendekar yang berada di pihak Jayaseta yang muncul tiba-tiba saat itu. Jadi, sangat mungkin para pendekar itu juga berada di belakang Jayaseta saat ini.


Bagaimanapun Jayaseta adalah seorang pendekar yang tangguh. De Jaager bersaudara tak akan mudah mengalahkannya, bahkan ketika dibantu oleh Koguro dan Hideyoshi sekalipun. Selain itu yang paling utama adalah bahwa Pratiwi merasa bahwa de Jaager tak pantas menyentuh Jayaseta, kekasih pujaan hatinya.


Untuk itulah, Pratiwi bergegas berkuda bersama sepuluh serdadu pribumi bangsa Jawa pilihannya segera menyusul de Jaager untuk memberikan bantuan. Delapan prajurit berjalan sudah lebih dahulu berlari di depan mereka sesuai permintaan Pratiwi. Pasukan berjalan ini terdiri dari empat pasang penembak dan pengisi pelurunya. Mereka dipersenjatai dengan dua senapan lantak dan dua pistol, serta pedang. Mereka memiliki kemampuan khusus dalam menggunakan senjata api.


Pratiwi memerintahkan mereka segera berlari ke bukit hutan bambu tempat direncanakannya pertarungan antara Jayaseta dan de Jaager bersaudara, sedangkan ia membutuhkan sedikit waktu untuk mengumpulkan pasukan kepercayaannya untuk berangkat dengan berkuda. Ini dilakukan sesegera mungkin ketika ia mendapati berita bahwa 'majikan' Walanda mereka sedang menjalankan rencana pertarungan dengan Jayaseta.


Sebastian de Jaager dari awal memang tak memberitahukan rencana ini kepada Pratiwi, pimpinan pasukan pribumi bayaran pengganti Sarti dan anggota-anggota Lima Iblis Pencium Darah yang dipekerjakan oleh Kompeni. Ia lebih percaya pada kemampuan pasukannya sendiri dan sedikit banyak ia mendengar sikap aneh perempuan muda itu pada sang Pendekar Topeng Seribu.


Pratiwi dan sepuluh serdadu Walanda terus memacu kuda mereka hingga yang terlihat dari belakang hanya kepulan debu yang menutupi rombongan itu.


Matahari pagi yang merangkak memanas memercikkan sinarnya yang berpantulan di busana perang Pratiwi. Ia mengenakan kemben besi khasnya yang sekarang sudah diperbaiki karena Jayaseta mengoyakkan dua lempeng besi pelindung di bagian dadanya.


Sejenak Pratiwi tersenyum membayangkan wajah Jayaseta yang gemas dengannya pada saat perobekan lempeng itu tempo hari.


Senapan laras panjang menyilang di punggung Pratiwi dan bergoyang-goyang karena derap kuda yang ia tunggangi. Sebagai putri seorang prajurit Trisat Kenya Mataram, Pratiwi juga telah terasah kemampuannya dalam ilmu menembak, sedikit banyak seperti sang almarhumah ibundanya.


Dua buah belati yang tergantung di pinggang kiri dan kanannya sebenarnya adalah sepasang keris tanpa luk, namun gagangnya memiliki ciri yang tidak dimiliki oleh keris dan lebih cenderung pada bentuk sebuah gagang golok atau pedang. Satu tombak panjang tergantung di pelana kuda.


Sepuluh serdadu berkuda di belakangnya mengenakan pakaian seragam berwarna gelap. Mereka juga membawa serta sebatang tombak, pedang, keris dan tameng dari rotan.


Pratiwi dan para serdadu bergegas melecutkan kekang kuda mereka. Ia bertekad menghabisi semua pendekar yang membantu Jayaseta sebelum para pendekar itu malah menghabisi serdadu-serdadu kompeni yang dibawa de Jaager bersaudara.


Ia juga akan bergegas melerai pertarungan agar Jayaseta tidak diapa-apakan. Ia sangat yakin Jayaseta akan memenangkan pertarungan dengan de Jaager. Tapi di sisi lain, ia juga tidak mau pujaan hatinya itu terluka. Jayaseta akan sadar bahwa Pratiwi lah yang pantas ada di hatinya karena dengan rasa cinta Pratiwi akan menyelamatkannya dan tidak akan ada lagi pendekar-pendekar sahabat Jayaseta. Para pendekar akan tewas dan Jayaseta sadar bahwa ia hanya memiliki Pratiwi seorang di dunia ini yang peduli padanya.

__ADS_1


Tak lama Pratiwi dan pasukan sepuluh serdadu Walanda nya sudah melihat


puncak bukit yang diduga keras sebagai titik pertarungan de Jaager bersaudara dan Jayaseta. Bukit yang rimbun dengan pepohonan bambu di luar dan pepohonan rimbun lainnya di bagian dalamnya adalah tempat yang sangat dikenal Pratiwi dan para serdadu Walanda.


Di kaki bukit itu terhampar sebuah hutan kecil dengan pepohonan yang tumbuh cukup lebat menaungi jalan setapak menuju puncak bukit.


Tempo hari, seorang serdadu bule Walanda menjelaskan kepada Pratiwi mengenai rencana Sebastian de Jaager untuk menangkap Jayaseta atau membunuhnya dengan cara menantangnya bertarung beradu ilmu kanuragan. Sang serdadu berseloroh dengan mengatakan bahwa sang pendekar akan dengan gampang dihabisi oleh Sebastian dan Devisser de Jaager. Bahkan mungkin sebelum sempat menjajal keduanya, ia sudah mati di tangan Koguro dan Hideyoshi.


“Dungu! Kau pikir Jayaseta akan mudah dikalahkan?” ucap Pratiwi kepada serdadu ini saat itu.


“Tapi, ia bersama belasan serdadu lain yang akan berlindung di pepohonan sehingga bila keadaan tidak memungkinkan, para serdadu akan mengepungnya dan membunuhnya.”


Saat itulah dengan geram Pratiwi memerintahkan sepuluh pasukan bawahaannya dan empat pasang lain yang ahli dalam menggunakan senapan untuk mengikutinya ke tempat pertarungan itu berada.


“Hanya dua kali tegukan teh kita akan sampai di tempat itu. Berhenti di bawah bukit dan perlahan masuk ke tempat pertarungan. Jangan sampai siapapun tahu bahwa kita datang,” perintah Pratiwi sembari terus melecutkan kekang kudanya.


Pratiwi akhirnya melihat sosok-sosok pasukan berjalan yang ia kenal dengan baik. Mereka harusnya sudah sampai di bukit, paling tidak mereka harusnya mempersiapkan diri. Namun, mengapa mereka bersembunyi merunduk dan mengendap-endap di balik pepohonan?


***


Narendra bersembunyi di balik salah satu pohon dengan dua buah tombak yang ia genggam di masing-masing tangan. Tombak trisulanya ada di punggung.


Keduanya mendapatkan tugas - lebih tepatnya mengajukan diri - untuk menjaga jalan, menghadang laju pasukan tambahan yang mungkin sekali dikirimkan oleh Betawi.


Sebelum dini hari, para prajurit sahabat baru Jayaseta ini sudah mengambil tempat di sekitar daerah tempat pertarungan tersebut. Mereka sudah bersembunyi lebih dahulu, memperhatikan kedatangan de Jaager bersaudara bersama para ronin pembunuh sewaan atau watari zamurai, Takigawa Hideyoshi dan Mishima Koguro, serta belasan serdadu gabungan bule dan pribumi.


Sekarang, dari kaki bukit, mereka melihat para prajurit yang menenteng senapan berlari ke arah mereka. Sudah pasti mereka adalah tambahan pasukan yang dikirim dari Betawi untuk membantu tuan mereka, de Jaager bersaudara.


***


Para prajurit Jawa ini ternyata bukan penembak ulung. Lama bagi mereka untuk mengisi ulang peluru senapan mereka, apalagi menembakkannya dengan tepat.


Narendra telah berhasil membunuh satu prajurit penembak dengan secara tiba-tiba melemparkan lembingnya. Katilapan juga sudah menancapkan ginuntingnya ke dada satu prajurit.

__ADS_1


Menjadi masalah besar bagi para prajurit penembak karena awalnya mereka diperintahkan jelas-jelas oleh Pratiwi, pimpinan mereka, bahwa mereka harus benar-benar mengendap ketika sampai di daerah tersebut. Jangan sampai Jayaseta dan rekan-rekannya tahu kedatangan mereka.


Apa boleh buat, ternyata mereka sudah lebih dahulu disambut serangan mendadak yang sudah berhasil membunuh dua orang anggota mereka sekaligus.


***


"*******! Apa ini?" kutuk Pratiwi mendengar suara tembakan di depannya. Bukan sekali dua, namun berkali-kali. Ia mempercepat hentakan tali kekang kudanya tanpa memedulikan para pasukan penembaknya yang bersembunyi di balik pepohonan, kemudian memiringkan tubuhnya di atas kuda ketika sebuah tombak terlempar ke arahnya.


Serangan Narendra lolos. Tombak itu menancap si tubuh satu prajurit berkuda di belakang Pratiwi.


Pratiwi langsung dapat melihat sosok sang pelempar dari balik sebuah pohon. Ia langsung mengambil tombak yang tergantung di pelana kudanya kemudian dengan kecepatan lari kuda yang tak berkurang, membalas serangan Narendra dengan melepaskan tombak itu.


Narendra mencelat ke belakang. Tombak yang dilemparkan Pratiwi menancap di tanah, sejengkal dari selangkangannya.


Melihat sosok Narendra, para pasukan penembak kembali menghujaninya dengan letusan peluru kembali, memaksa Narendra bergulingan di tanah.


Katilapan melompat tinggi dari balik pohon, menusukkan ginunting ke arah Pratiwi di atas kudanya yang berlari kencang.


Pratiwi masih bukan lawan Katilapan.


Pratiwi menelentangkan tubuh di atas kuda. Ginunting melewati tubuhnya. Pratiwi mencabut satu belati, keris tanpa luk, dan membabat lengan sang penyerang.


Ginunting lepas dari tangan Katilapan, syukurnya ia pun mengambil keputusan yang tepat melepaskannya dibanding tangannya putus oleh serangan balasan mendadak pendekar perempuan muda itu.


Pratiwi pun melesat jauh, namun hanya beberapa pasukan berkuda saja yang berhasil mengikutinya. Sisanya tersangkut serangan Narendra yang sudah meloloskan tombak trisulanya dan langsung menyerang para prajurit Jawa yang duduk di atas kuda. Begitu juga Katilapan yang membabati kaki dan tubuh-tubuh kuda dengan sepasang tongkat pemukul rotannya.


Kuda-kuda meringkik, menjatuhkan para pengendaranya. Para penembak semakin kesulitan membidik karena keadaan yang kacau di depan sana.


***


Di puncak bukit hutan bambu, de Jaager bersaudara saling pandang ketika mendengar bunyi letupan tembakan. Tapi mereka lebih tertuju pada tubuh Jayaseta yang terkapar di depan mereka. Keduanya kemudian kemudian mengehela nafas. Dada Sebastian de Jaager membusung. Selesai sudah pikirnya.


Namun, harapan jauh dari kenyataan.

__ADS_1


Jayaseta berdiri perlahan. Topeng Hanuman yang ia kenakan telah menghitam di sebagian besar permukaannya akibat ledakan keras dari saber Sebastian de Jaager. Ada beberapa bagian kayu yang terkelupas, namun topeng itu masih kuat terpasang di wajah Jayaseta. Tubuhnya terluka di banyak bagian karena Jayaseta kemudian melepaskan baju putih tanpa kancingnya yang terkoyak-koyak, gosong karena terbakar dan berbercak merah karena darah.


Dari situ terlihatlah tubuh Jayaseta yang terluka dimana-mana, termasuk sayuran rapier Devisser de Jaager yang masih mengalihkan darah. Dadanya naik turun mengatur pernafasan. Sedangkan asap di kepala Jayaseta sudah menghilang. Apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_2