Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tertambat


__ADS_3

Tercatat bahwa hubungan orang-orang Champa dan nusantara,teru ama dalam sejarah Jawa sangatlah erat. Putri Dwarawati atau Anarawati, seorang putri kerajaan Champa yang beragama Islam, dinikahi oleh Kertawijaya atau Brawijaya Lima, raja kerajaan Majapahit yang ketujuh. Perempuan Champa itu memberikan pengaruh yang besar atas ajaran agama sehingga keluarga kerajaan Majapahit pun akhirnya memeluk agama Islam. Tidak hanya itu, sebenarnya secara budaya dan bahasa, ada kemiripan dengan orang-orang Aceh dan pulau Tanjung Pura serta suku Melayu pada umumnya, terutama yang dipengaruhi agama Hindustan.


Oleh sebab itu, bila tidak memperhatikan dengan baik, bisa-bisa orang Champa dianggap merupakan orang-orang nusantara, bukannya bagian dari kelompok Annam yang kerap bersama mereka, terutama dalam kelompok perompak tersebut.


Lâm memandang ke arah para perompak yang bisa dikatakan seluruhnya adalah orang-orang Champa, termasuk para pendayung yang bukan merupakan budak, tetapi perompak cadangan pula.


“Siapkan baik-baik senjata kalian. Aku sedari awal ragu bahwasanya Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu sedigdaya apa yang didengung-dengungkan orang-orang di dunia persilatan. Namun, kita tidak bisa menyederhanakan keadaan apalagi menyepelekan musuh. Kita harus siap bilamana Jayaseta memang memiliki sesuatu pada dirinya, kehebatan atau apapun itu. Selain itu, kita juga harus mempertimbangan orang-orang yang ada bersamanya. Setidakpercaya apapun kita kepada Dewa Langkah Tiga, pastilah ia memiliki pertimbangan tersendiri dalam memberikan perintah dan menganggap Jayaseta sebagai seseorang yang tangguh dan tidak bisa dianggap remeh. Oleh sebab itu, satu-satunya cara, kita akan berbalik arah dan menghabisi Jayaseta dan rombongannya secepat mungkin. Bila ia memang tak sesakti apa yang sudah dikisahkan, itu jauh lebih baik. Toh, aku pikir, rombongan kita di belakang sana pasti juga sudah bisa menghabisi mereka lebih dahulu bila Jayaseta memang tak sesakti itu,” ujar Lâm.

__ADS_1


Yang lain mulai sumringah dengan perintah ini.


“Lalu, bagaimana bila rekan-rekan kita ternyata di belakang sana hanya terlambat, mereka benar-benar ketinggalan rombongan saja, Lâm?” ujar salah seorang perompak yang pertama tadi berbicara dengan Lâm.


“Berarti kita sekalian ajak mereka untuk putar arah dan mengejar lancaran yang dinaiki Jayaseta dan rombongannya. Kita akan benar-benar mengubah rencana kita. Kita akan dengan cepat menghancurkan Jayaseta sekaligus kapalnya. Dengan begitu, tindakan kita hanya akan dianggap sebagai perompakan biasa saja dan rencana kita masih tidak akan teraba pihak kerajaan manapun, terutama Ayutthaya,” balas Lâm, sang pemimpin perompak. “Putar perahu kalian. Kali ini kita akan selesaikan rencana ini. Kita habisi Jayaseta si Pendekar Topeng Seribu,” lanjut Lâm berseru.


Seruan Lâmdisambut dengan gemuruh seruan para perompak Champa lain. Kini, mereka berbalik arah, kembali menyusuri sungai ke arah yang berlawanan. Butuh waktu lagi untuk sampai ke tempat semula mereka berpapasan dengan lancaran orang Melayu itu, tetapi perahu mereka yang kecil tetap akan dapat mengejar lancaran yang ukurannya jauh lebih besar tersebut.

__ADS_1


Para perompak jelas berharap mereka masih mendapatkan sinar, bahkan sangat terang yang dapat mereka lihat. Mereka sangat menginginkan cahaya datang dari kapal yang terbakar atau paling tidak obor dan pelita dari perahu-perahu rekan-rekan mereka di depan sana. Tetapi bahkan sampai malam pun, mereka masih berlum menemukan apa-apa.


“Lâm, kau harus lihat ini!” mendadak seorang pengayuh yang juga merupakan prajurit perompak cadangan merasakan dayungnya menubruk sesuatu. Ia langsung memeriksa benda yang ia tubruk tadi, kemudian meminta persetujuan teman di belakangnya untuk meyakinkan apa yang mereka lihat.


Lâm langsung menuju ke tempat yang ditunjukkan sang pendayung. “Mayat perompak Annam,” gumamnya.


Benar, sang pendayung ternyata menemukan satu mayat perompak Annam yang dari pakaiannya cukup mereka kenal karena berasal dari satu rombongan. Mayat itu mengikuri arus air, tetapi sempat tertahan akar-akar pohon besar yang tumbuh sampai ke tepian sungai.

__ADS_1


“Cepat, dayung lebih cepat. Kita harus ke sumbernya,” seru Lâmlebih awas sekarang. Ia benar-benar yakin bahwa peperangan sudah berkobar. Mayat perompak Annam itu buktina. Namun, ia sama sekali tidak melihat secercah sinar apapun di depan sana sebagai pertanda adanya pertempuran.


Pertanyaannya kemudian terjawab sudah ketika melihat beberapa perahu tertambat di tepian sungai di sekitar tempat perahu-perahu mereka berpapasan dengan lancaran Melayu yang ditumpangi Jayaseta dan kelompoknya, tanda pertempuran sama sekali tidak terjadi di atas sungai. Memang sudah ada pertempuran, tetapi kini tujuan Lâm dan rekan-rekannya tidak lagi mengejar lancaran, melainkan mengikuti kemana rekan-rekannya menghilang. Pasti ada alasan dibalik tindakan mereka tersebut.


__ADS_2