Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Betawi


__ADS_3

Selain pelabuhannya yang padat oleh kapal-kapal dari berbagai bangsa dan negeri, Betawi adalah sebuah kota yang besar dan ramai yang dibangun di muara kali Ciliwung. Jayaseta sudah melewati beragam kota dari beragam kesultanan sepanjang jalan menuju Betawi, namun sekali lagi, kota ini pun memiliki gejolak kehidupannya sendiri. Jayaseta melihat banyak orang dengan warna kulit, bahasa dan cara berpakaian yang berbeda-beda. Jayaseta merasa seperti berada dalam sebuah dunia antah berantah dimana mahluk-mahluk beragam bentuk sedang berkumpul.


Sedikit banyak ia mengenal beragam bahasa dari para penduduk Betawi ini. Ada bahasa Cina gaya Hokkien, bahasa Jawa Tengahan, Jawa Timuran, Banyumasan, sampai Melayu. Sisanya ia sama sekali belum pernah mendengar bahasa-bahasa lain. Ada bahasa yang mengalun terus kemudian meledak-ledak yang digunakan oleh budak-budak dan kuli yang berkulit sehitam jelaga. Jayaseta juga baru kali ini melihat orang-orang jangkung berambut keemasan dan berkulit pucat dengan bahasa mereka yang seperti orang sedang berkumur-kumur.


Ia berdiri di seberang kali Ciliwung yang mengitari dinding kota Betawi dari batu dimana terlihat pula banyak menara jaga tinggi-tinggi hampir di setiap sudut dinding, di sebuah pusat perdagangan dengan beragam orang yang lalu lalang dan ribut menawarkan barang dagangannya.


Di kali Ciliwung perahu-perahu dengan ujung-ujung yang melengkung dan sampan-sampan lancip berseliweran dengan beragam barang dagangan. Sebuah bangunan kayu dua tingkat yang kokoh dan panjang dengan atapnya yang tinggi berdiri di belakang Jayaseta. Bangunan itu adalah bagian dari pasar. Walau begitu, halamannya juga dipenuhi dengan orang-orang yang berjualan di sela-sela pepohonan kelapa yang juga menjulang tinggi. Tempat ini walau ramai namun rimbun pikir Jayaseta.


Cukup berbeda dengan Banten, Betawi memang merupakan sebuah negeri yang lebih rapih dan teratur. Sepertinya orang-orang Walanda memang berniat untuk menciptakan sebuah negeri yang makmur dengan meniru kotaraja di negeri asal mereka. Padahal, di balik tembok kota dan benteng-benteng yang melindunginya, hutan lebat melingkupi negeri Betawi. Para prajurit dan pasukan Walanda tanpa henti menjaga kota dari serangan musuh, entah dari Mataram, Banten atau negeri-negeri yang masih geram terhadap sikap Walanda yang ingin menguasai perdagangan dan pemerintahan di Jawa dan sekitarnya.


Betawi dahulu sangat dipengaruhi oleh Banten ketika masih dikuasai oleh Tubagus Angke, suami dari Ratu Pembayum, anak perempuan Sultan Hasanuddin. Banten memiliki kekuasaan atas perdagangan lada dan rempah-rempah yang sangat penting dari dan ke Maluku. Kekuasaan Banten di Jayakarta, nama Betawi sebelumnya, dan Lampung sebagai penghasil dan penjualan lada akhirnya harus terganggu ketika Walanda berhasil menjadikan Betawi pusat pemerintahan dan pedagangannya. Oleh sebab itu, Banten sebenarnya cukup bermusuhan dengan Betawi, sama seperti Mataram.


Jayaseta memasuki kota dengan menyebrangi sebuah jembatan kayu memasuki sebuah gerbang kota yang besar dan indah. Jalan raya nya lurus dan lebar, sedangkan di tepi nya beralaskan batu bata dan berbentuk lorong-lorong dikhususkan untuk para pejalan kaki.


Ada beberapa benteng di dalam dinding kota yang biasa disebut kastil. Salah satu nya yang Jayaseta perhatikan adalah sebuah kastil yang sangat menonjol. Bentuknya bujur sangkar berdiri di sebuah muara sungai dan terbuat dari batu. Nampaknya ini adalah salah satu kastil pertahanan utama dari serangan musuh, terutama pada masa serangan Mataram beberapa tahun yang lalu.


Empat kubu pertahanan yang terbuat dari batu pula dilengkapi dengan meriam-meriam jagur, bangunan-bangunan atau wisma yang nampaknya asri meski terlihat dari luar sedikit, serta tentu dengan pasukan lengkap yang menjaga dengan berdiri ataupun hilir mudik.


Di luar kastil ada parit-parit yang lebar dan dalam. Sedangkan di dalamnya selain terdapat halaman dan lapangan bagi para pasukan berkumpul, juga terdapat sebuah wisma utama yang terbuat dari batu bata yang tinggi, begitu tinggi dan indah bahkan telah terlihat dari lautan lepas. Sudah pasti di dalam kastil tersebut terdapat gudang senjata, baik senjata api ataupun bubuk api untuk meriam dan senapan.


Ada dua pintu utama untuk masuk dan keluar kastil. Satu yang menuju ke pedesaan dengan sebuah jembatan batu dan batu bata, sedangkan satunya berada di sebelah utara. Di sana-sini masih terlihat banyak bangunan yang sedang dalam masa pembangunan. Jayaseta melihat bahwa orang-orang Walanda di Betawi juga membangun tempat ibadah agama Barat dengan tanda palang di bagian atapnya yang dinamakan mereka gereja.


Kakinya terus melangkah menyusuri jalan setapak. Beberapa kali ia harus menghindari gerobak sapi dan kerbau yang membawa pasokan barang atau kereta kuda yang membawa pejabat atau barisan pasukan Walanda yang berbaris rapi dengan wajah yang bengis dan penuh ancaman bagi masyarakat awam yang mengganggu perjalanan mereka.


Di barisan yang lain nampak juga wajah-wajah orang pribum bukan bule berkulit pucat. Ada pasukan Jawa, Ambonia atau Melayu.


Tak lama Jayaseta sampai juga ke sebuah wilayah pasar lagi di dalam pagar kota di tepi sebuah sungai. Pasar ini di bagian depannya adalah rumah jagal yang menyediakan daging sapi, kerbau dan ayam. Semua kotoran pemotongan hewan dibuang ke sungai. Bangunan ini beratap genteng dan bertiang.

__ADS_1


Bangunan lain di sebelahnya yang juga beratap genteng dan bertiang adalah sebuah pelelangan ikan dengan para pelelang yang berteriak-teriak menawarkan ikan mereka. Semua pelelang ikan adalah orang Cina. Jayaseta memperhatikan bahwasanya orang Cina sangat banyak di Betawi, melebihi negeri manapun yang pernah ia singgahi, termasuk Giri, Mataram, Cerbon maupun Banten.


Pandangan Jayaseta terus berkeliling melihat beragam keramaian ini dan tertumbuk pada satu sudut lapangan, di tepi sungai, tepat di bawah dua buah pohon kelapa yang tinggi menjulang. Kedua pohon tersebut melengkung karena saking tingginya. Jayaseta melihat seseorang yang sedang duduk dikelilingi anak-anak kecil dan beberapa orang yang lebih dewasa. Ia bersuara nyaring dengan bahasa Melayu dan cukup menyita perhatian banyak orang. Suaranya berubah-ubah dari lengkingan tinggi, geraman rendah sampai tawa dan tangis. Orang-orang di sekelilingnya juga seperti terbawa untuk ikut tertawa atau mengerutkan kening. Orang itu ternyata adalah seorang pendongeng.


Sang pendongeng menggelar selembar kain berwarna merah dengan beragam peralatan untuk mendukung ceritanya. Ada pula sebuah mangkuk terbuat dari tanah liat untuk kepengan uang sebagai penghargaan atau belas kasih orang-orang yang menonton pertunjukan dongengnya.


Ada beragam alat peraga yang ia gunakan. Mulai dari wayang, beragam bentuk hewan-hewan kecil terbuat dari kayu, sampai beragam jenis topeng. Jayaseta langsung jatuh hati melihat salah satu topeng yang berwarna putih bersih dengan mata bulat melotot dan memiliki moncong. Moncong topeng itu setengah terbuka memperlihatkan barisan gigi-gigi yang tajam laksana gergaji berwarna keemasan. Itu adalah sebuah topeng Hanuman, tokoh kera yang sakti di lakon mayang Ramayana.


Jayaseta ingat bahwa ia dahulu sewaktu di Giri pernah pula memiliki sebuah topeng Hanuman yang ia kenakan untuk bertarung melawan mata-mata kerajaan Mataram yang membuat onar di Giri. Hanya saja saat itu topeng Hanuman yang ia kenakan berbentuk lebih besar dan berat dengan rambut-rambut di sisi-sisinya untuk menggambarkan bulu kera yang lebat.. Sedangkan topeng kera putih milik sang pendongeng ini lebih kecil, tanpa hiasan bulu atau rambut-rambut namun terlihat sangat indah. Kesan kera yang liar namun bijak tergambar jelas pada lekuk topeng. Belum lagi kesan misterius yang Jayaseta suka dari semua topeng juga hadir dalam topeng ini.


Entah mengapa ia sangat menginginkan topeng itu. Topeng terakhir yang ia miliki telah rusak belah tiga, padahal rekan-rekannya yang memberikannya. Ia perlu memiliki topeng lain.


Mungkin sudah jodoh, ia hampir selalu dapat menemukan topeng dimanapun ia berada. Topeng sudah menjadi kebutuhannya sebagai pelengkap jati diri, mengingatkan ia akan siapa ia sebenarnya, tujuan hidup dan perjalanannya sebagai seorang pendekar. Topeng juga merupakan salah satu senjatanya.


Dengan topeng, ia membuat musuh bingung, penasaran dan sulit menebak jurus-jurus yang ia gunakan. Apalagi Jurus Tanpa Jurusnya terbukti sejalan dengan topengnya yang sama-sama sulit ditebak. Bahkan topeng benar-benar menjadi senjata dalam gambaran sebenarnya. Ia menangkis paku beracun dengan topengnya, menyerang musuh dengan melemparkan topengnya untuk mengganggu pikiran mereka, serta bahkan menancapkan serpihan topeng di leher musuh hingga tewas.


“Apakah kau adalah si Pendekar Topeng Seribu anak muda?” tanya sang pendongeng tiba-tiba.


Jayaseta tak bisa tidak terkejut dengan pertanyaan mendadak sang pendongeng yang ia taksir berusia di atas empatpuluhan ini.


“Ah … apa maksud bapak? Saya tidak tahu menahu mengenai siapapun yang bapak katakan. Saya hanya … ,” mendadak Jayaseta terdiam ketika sang pendongeng mengangkat tangannya ke atas sebagai tanda ia tidak tertarik untuk mendengar alasan-alasan Jayaseta lebih jauh.


“Sudahlah anak muda. Tidak perlu menutup-nutupi. Tidak ada orang yang tertarik dengan topeng kecuali ia adalah seorang seniman sama seperti aku, atau anak-anak. Itupun mereka biasa membeli di kedai-kedai kerajinan, bukannya di sembarang tempat seperti di sini,” ujar sang pendongeng.


Jayaseta masih terdiam, sepertinya bingung ingin mengatakan apa.


“Aku akan berikan topeng Hanuman ini untukmu dengan cuma-cuma. Aku berharap kau memang si Pendekar Topeng Seribu yang tersohor itu. Anggaplah topeng ini sebagai ungkapan dukunganku terhadapmu karena banyak yang menceritakan tentang sepak terjangmu yang membela kebenaran dan keadilan dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


“Namun, bila kau memang bukan orang yang kumaksud, anggap saja topeng ini hadiah dari orang yang sama-sama mencintai seni topeng,” sang pendongeng memberikan topeng Hanuman tersebut sembari tersenyum penuh makna. Jayaseta mengangguk dan membalas senyuman sang pendongeng. Ia kemudian berbalik arah dan meninggalkan sang pendongeng yang kembali tersenyum dengan lebih lebar sembari menatap punggung sang pendekar dan kembali membereskan barang-barang miliknya.


Jayaseta menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum-senyum sendiri. Ia sudah tidak bisa menghindar dari ketenaran seorang Pendekar Topeng Seribu. Jayaseta kemudian berkeliling lagi di pusat perdagangan itu untuk membeli beragam keperluan. Ia membeli selembar kain yang ia gunakan untuk membungkus topeng Hanumannya, selembar pakaian dan celana lain yang juga ia beli.


Namun ia masih mengenakan pakaian yang lama yang diberikan Pratiwi walau sudah sobek di beberapa bagian. Ia juga sempat makan di sebuah kedai dan menuju sebuah sudut di kali Ciliwung untuk mandi dan membersihkan diri.


Di kali Ciliwung dimana ia sedang membersihkan diri ini, Jayaseta dari awal kedatangannya pun sudah ternganga dengan kemengahan sebuah benteng raksasa di depannya. Sebenarnya, di dalam benteng raksasa itulah kota yang disebut Betawi. Tak heran Kerajaan Mataram begitu sulit menembus benteng kokoh buatan orang-orang berkulit pucat itu. Pastilah butuh banyak dana dan tenaga budak membangun benteng di atas puing-puing Jayakarta. Benteng ini terbuat dari batu bata yang sangat tebal.


Sebenarnya ia berbentuk segi empat, namun di setiap pojoknya berbentuk segitiga karena digunakan untuk pertahanan dengan meriam yang menjorok keluar. Sedikit berbeda dengan tembok bentengnya, bangunan dengan meriam yang menjorok keluar ini terbuat dari kayu-kayu besar. Selain kali Ciliwung yang mengitari benteng, ada pula parit yang dibangun mengitari benteng sebagai pertahananan. Sedangkan gerbang benteng tersebut terletak bagian utara dan selatan. Konon luas benteng ini sembilan kali luas benteng Jayakarta sebelumnya.


Menurut kabar yang Jayaseta dapatkan dari seorang penjual kain asal Cina yang ia ajak bicara menggunakan bahasa Hokkien dengan campuran Melayu, di bagian barat Betawi tinggal orang-orang Pranggi, Cina dan para budak serta orang-orang rendahan. Di sanalah orang Cina ini tinggal. Sedangkan di bagian timur, orang-orang kompeni Walanda dan orang-orang kaya tinggal. Jayaseta masih bingung untuk memulai pencarian Kakek Salman dari mana.


Mungkinkah ia tinggal di daerah barat bersama orang Pranggi, Cina dan kaum rendahan, atau sebaliknya, kakek Salman adalah orang kaya semacam saudagar Amir? Atau apa mungkin ia tinggal di dalam lingkungan benteng Betawi sendiri yang berisi rumah-rumah pejabat dan tentara Kompeni Walanda?


Daerah di luar benteng Betawi sepertinya memang sedang dalam sebuah masa pembangunan yang luar biasa. Parit-parit, bangunan yang berjejer dan jalanan semuanya berbentuk persegi dan berkotak-kotak. Jayaseta belum pernah melihat tata kota semacam ini. Bisa jadi pikirnya, ini sengaja dibangun untuk meniru gaya tata kota di negara asal kompeni di Walanda sana.


***


Jayaseta sekarang telah berganti pakaian. Celana yang ia kenakan telah berganti walau masih berjenis dan berwana yang serupa dengan celana selutut yang ia kenakan sebelumnya. Sedangkan celana lamanya beserta baju pemberian Pratiwi sudah ia cuci dan kering dalam sekejap karena panasnya sinar matahari.


Ia sudah memasukkan pakaiannya ke dalam buntalan kain nya yang baru sebagai pengganti buntal kulit pemberian Kakek Keling bersama topeng Hanumannya. Ia sekarang juga telah mengenakan baju berlengan panjang tanpa kancing berwarna putih bersih. Bahan kainnya lebih tipis dibanding baju pemberian Pratiwi.


Dua sisi baju diselipkan dan jarit batik mengikat melingkar di sekeliling pinggangnya dengan sebuah sabuk kulit sederhana. Rantai cambuk terikat di sekeliling pinggangnya namun tertutup oleh lipatan jarit batik. Rambutnya sudah digulung kembali seperti biasa di puncak kepalanya. Selembar kain pun terlipat dan terikat mengelilingi dahi dan belakang kepalanya menyembunyikan tiga buah cakram yang diletakkan di atas kepalanya.


Jayaseta menarik nafas dan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke arah barat untuk mencari tahu dimana Kakek Salman tinggal. Walau tak banyak kabar yang Kakek Keling berikan, ia tetap akan mencoba mencari dengan sekuat tenaga. Paling tidak ia akan mulai mencari ciri-ciri kakek Salman yang sepertinya tidak begitu sulit untuk dikenali. Ia haruslah seorang kakek berusia seumuran Kakek Keling, enam puluhan tahun, dan bercirikan wajah dan warna kulit seperti layaknya orang-orang dari negara Hindustan.


Jayaseta kemudian berjalan kaki menuju ke arah barat di atas sebuah jalan setapak menyusuri sungai. Bangunan kedai-kedai Cina berjejer di tepi sebuah jalan yang lurus yang kerap dilewati para pejalan kaki, gerobak sapi dan kerbau atau kereta kuda. Di tepi sungai itu juga terdapat banyak rumah-rumah orang Cina, sedangkan di sisi lain jalan tersebut tumbuh beragam pepohonan yang membuatnya rindang. Sawah-sawah seperti yang ada di hampir semua tempat di pulau Jawa belum terlihat di Betawi ini. Hanya bangunan, sungai, pepohonan dan benteng-benteng kompeni yang ternyata dibangun di banyak tempat.

__ADS_1


__ADS_2