Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kuda


__ADS_3

Koncar melihat para pemanah telah berjatuhan. Mereka tak sempat mengambil senjata mereka yang lain karena telah dilecut dengan kekuatan musuh yang luar biasa cepat dan bertenaga. Satu pemanah memang sempat melepaskan anak panahnya, tetapi dengan mudah pula ditepis oleh sang sosok. Ia sendiri kemudian menjadi makanan empuk bagi ujung cemeti lawan. Wajahnya tersobek oleh kerasnya cambukan sang sosok yang sudah membuyarkan tatanan para pemanah tersebut.


“Mundur kalian semua. Mundur sejauh-jauhnya. Terutama dari jarak serang cambuk!” perintah Koncar. Ia sendiri langsung maju dan menusukkan tombaknya ke arah sosok pendekar bertombak tersebut. Mata tombaknya menerobos lengkungan cambuk yang berkelok-kelok bagai buntut seekor naga.


Namun, tentu saja tombak itu tidak semudah itu mengenai tubuh lawan. Keris yang entah kapan dicabut dari sarungnya menepis mata tombak dengan lihai. Satu tendangan bahkan menjadi jawaban dan balasan terhadap serangan Koncar.


PLANG!


Tameng Koncar menjadi saksi betapa dahsyatnya tenaga yang dikeluarkan sang pendekar. Koncar tersentak mundur, tetapi langsung melaju ke depan. Tameng tetap di depan, sedangkan tombak di belakang siap menunjam.


CTAR!


CTAR!


Dua kali sabetan cambuk menampar tameng, tetapi dua kali pula senjata cambuk yang bersifat lentur itu tetap lolos dan menyelip melalui ruang kosong dan menghajar lengan Koncar. Garis-garis luka menyembul dari lengan Koncar yang memegang tameng. Namun Koncar tetap memacu kecepatannya dan mencoba menghalau pecutan dengan dengan tusukan tombaknya. Dua kali pecutan dibalas dua kali tusukan. Sang pendekar menggulung ke belakang cepat, berdiri, bergerak menyamping dengan cepat dan kembali memecutkan cambuknya.


Sialnya, kali ini tameng Koncar tak benar-benar bisa menahan serangan itu karena sang pendekar menggunakan pecutnya untuk menyerang kaki. Salah satu tungkai kaki Koncar terbelit cemeti dengan erat. Sekali sentak Koncar terangkat ke udara kemudian terbanting ke tanah dengan keras. Tameng dan tombaknya terlepas dari genggaman.


Koncar merasakan pandangannya agak berkunang-kunang karena kepalanya rupa-rupanya terbentur tanah, serta rasa nyeri di lengan tangan kiri dan pergelangan kakinya.


Koncar meraba keris di sabuk bagian depannya. Dengan cepat, meski masih sempoyongan, ia berguling ke samping sehingga letusan cemeti mengenai tanah kosong di sampingnya, seperti yang ia perkirakan sebelumnya.


Koncar mencabut keris, berdiri cepat dan kembali berguling ke samping menghindari pecutan.

__ADS_1


“Panah! Cepat, panah dia sekarang!” teriak Koncar sembari menggelinding ke belakang. Ia tak mungkin sempat berdiri untuk mepersiapkan kuda-kuda. Maka menggelinding dan bergulingan adalah kemungkinan terbaik yang bisa ia lakukan.


Tiga anak panah terlepas dari busurnya, berdesing di atas kepalanya. Sang pendekar menarik cambuk dan memutarkannya. Dua anak panah terhempas dan terlontar jauh, satunya berhasil menerobos pertahanan dan menyerempet bahu sang pendekar.


Koncar terpana. Dengan jelas ia dapat melihat kulit sang musuh tersobek. Ada secercah darah disana.


“Tunggu, bukankah Sudiamara mengatakan bahwa Kesanga sang Cemeti Sakti memiliki ilmu kebal? Lalu mengapa anak panah itu dapat melukainya?” batin Koncar.


“Ayo, panah dia sekali lagi. Cukup sekali!” perintah Koncar.


Panah langsung kembali berdesing. Ada sekitar lima anak panah yang terlepas untuk serangan pertama, menyusul tiga anak panah lagi.


Sang pendekar bergerak ke kiri dan ke kanan dengan terus memutarkan cambuknya. Banyak anak panah runtuh, tetapi tiga menancap di bahu dan menembus pahanya.


Koncar maju dengan terlalu cepat kemudian menusukkan kerisnya sekali ke perut. Koncar merasakan bilah kerisnya menembus perut dengan mudahnya. Ia mencabut lagi dan menusukkan ke dada untuk meyakinkan serangannya berhasil.


Sosok pendekar cemeti yang tadi membuyarkan para pemanah, kini jatuh berdebum ke bumi bagai sebatang pohon yang ditebang. Nyawanya jelas tak bisa diselamatkan karena darah terus menggelegak keluar dari bekas tusukan keris dan panah serta mulutnya memuntahkan darah yang sama kentalnya.


Sorak sorai kemenangan terdengar menggema dari para pasukan pemanah. Koncar berdiri tak percaya. Ia masih bingung mengapa sosok ini tak kebal. Lalu, apakah pendekar asli sedang melawan Sudiamara? Pikirnya. Ia berpaling ke balakang dan melihat Sudiamara sedang berlari ke arahnya.


Koncar bernafas lega. “Ah, Sudiamara. Berarti kau telah berhasil mengalahkan Kesanga si Cemeti Sakti? Ternyata kau melebih-lebihkan tentang kehebatan pendekar itu,” ujar Koncar.


Sudiamara melongok ke arah mayat sang pendekar cemeti yang mati terbenam oleh darahnya sendiri.

__ADS_1


“Dia bukan Kesanga!” ujar Sudiamara.


“Tentu dia bukan Kesanga, Sudiamara. Aku dan para prajurit yang membunuhnya. Kau ‘kan yang membunuh si Cemeti Sakti? Buktinya kau sudah berada di sini,” ujar Koncar.


Sudiamara mengernyit. “Bedebah! Apa maksud orang itu? Tipuan apa yang digunakannya?” serunya.


Koncar memandang ke arah Sudiamara dan ikut bingung. "Bukankah kau sudah mengalahkan orang itu, Sudiamara?"


Sudiamara menengok ke arah para prajurit yang ia tinggalkan tadi. Dua pendekar bercemeti memang ternyata telah berhasil dilumpuhkan, mungkin sekali telah tewas. Itu sebabnya sorak-sorai juga terdengar di sisi lain pelataran itu.


"Kau tak menjawab pertanyaanku, Sudiamara? Kau sudah membunuh Kesanga, bukan?" Cecar Koncar.


Sudiamara memandang Koncar kemudian menggeleng. "Pasti ada sesuatu yang salah. Aku yakin salah satu diantara mereka adalah Kesanga. Nyatanya, dia tidak bersama ketiga orang pendekar cemeti tersebut. Tak ada satupun diantara mereka adalah Kesanga."


Koncar berkacak pinggang. "Kau sudah lihat muka mereka? Cepat lakukan sekarang," ujar Koncar.


Sudiamara berlari ke arah para prajurit yang masih bersorak-sorai setelah ia tinggalkan tadi. Dua mayat nyata pendekar cemeti terpampang di depannya. Sudiamara mendekat dan memeriksa dengan seksama. Dua pendekar cemeti itu tewas dengan tusukan dimana-mana si seluruh bagian tubuh mereka. Tak satupun yang Sudiamara kenal.


"Sialan! Anjing kudis, kucing kurap. Ular beludak!" sumpah serapah Sudiamara. Ia tak bisa berpikir jernih lagi. Apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini? Kemana Kesanga si Cemeti Sakti itu? Kesanga tak mungkin bersikap pengecut. Sang pendekar tak mungkin urung datang hanya untuk mengorbankan para pesuruhnya.


Sudiamara memindai sekitarnya dan masih berharap menemukan sesuatu sehingga dapat memecahkan keganjilan ini.


Ringkikan kuda terdengar tidak jauh dari tempatnya berdiri tapi bukan dari arah gapura gerbang, melainkan dari sisi tembok.

__ADS_1


Bunyi lecutan cambuk menggema di udara dibarengai kemunculan seekor kuda jantan yang besar melompati tembok dengan sosok yang Sudiamara yakin itu adalah sang Kesanga itu sendiri, duduk di atas pelananya.


__ADS_2