
Baharuddin Labbiri memang menepati janji, ia bersungguh-sungguh. Serangannya tidak boros. Pertimbangan langkah dan keputusan menyerang menjadi lebih terarah.
Silat Tomoi menjadi tak murni lagi. Baharuddin Labbiri jelas tak mau sekadar main-main memperkenalkan gaya bertarung pengaruh orang-orang Siam tersebut. Untuk setingkat Jayaseta, memberikan pelajaran, sedikit pengenalan saja sudah cukup. Pendekar itu langsung dapat menguasainya. Maka tak mungkin ia sekadar bebal menggunakan Silat Tomoi melulu yang mampu dikuasai Jayaseta sekejap mata, sedangkan sebagai guru, ia mampu menggunakan beragam jurus yang telah diajarkan kepada para muridnya.
Baharuddin Labbiri lebih sering memberikan semacam gertakan dan tipuan serangan. Tendangan-tendangan pendek ke pinggang dan kaki Jayaseta dilancarkan. Bila Jayaseta terpancing melakukan serangan balasan, Baharuddin Labbiri akan menjebaknya.
Silat Tomoi menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Jayaseta akhirnya mendapatkan perlawanan dan pelajaran yang pantas. Jurus-jurus Baharuddin Labbiri berhasil menipu Jayaseta.
Jayaseta sudah terlebih dahulu disirami pengetahuan tentang ciri-ciri silat Tomoi, maka ia sangat memperhatikan dan menyerap ilmunya. Tapi, mana ia tahu bahwa sang Tun Guru mengubah gerakannya semaunya. Dalam beberapa jurus tipuan, serangan, elakan, tangkisan dan tepisan, Baharuddin Labbiri memasukkan unsur semua jurus Silat Gayong Melayu yang sebelumnya dilakukan oleh empat pendekar Harimau Gayong Melayu yang Jayaseta telah hadapi. Bedanya, kemampuan sang Tun Guru ini memang berkali lipat hebatnya.
Jayaseta akhirnya terbelit dengan permainan pergantian jurus Baharuddin Labbiri yang ia pikir bakal sekadar menggunakan Silat Tomoi.
__ADS_1
Jurus-jurus Baharuddin Labbiri lebur dalam sebuah jurus baru. Baharuddin Labbiri berseru, "Sudah saatnya engkau menerima jurus-jurusku yang kuberi nama Jurus Segala Bentuk!" serunya.
Baharuddin Labbiri menekuk satu lututnya kemudian satunya lagi lurus selonjor ke depan. Kuda-kuda nya sangat rendah, sedangkan kedua tangannya bergetar dan membentuk semacam bunga. Jayaseta paham sang Tun Guru sedang mengumpulkan hawa murni tenaga dalam yang disalurkan ke dalam kedua telapak tangannya.
Ia sedang bersungguh-sungguh.
Apa itu Jurus Segala Bentuk? Pikir Jayaseta. Pertanyaan itu terjawab ketika Baharuddin Labbiri meloncat maju dan menyerang dengan satu urutan jurus bercampur dalam sekali serang.
Cakar dengan tangan kiri, disusul tinju dengan tangan kanan, kemudian berputar memberikan serangan siku, kemudian melompat dengan menusukkan lutut, terakhir berputar dan meledakkan tenaga dalam dengan kedua telapak tangan.
Suasana perlahan riuh. Para penonton masih ragu apakah benar kali ini sang pendekar tak dikenal itu sungguh benar kalah? Mereka tak mungkin ragu dengan kemampuan kependekaran sang guru, bahkan kali ini mereka mendapatkan bukti yang begitu meyakinkan berapa hebatnya sang Tun Guru mereka tersebut. Hanya saja, bukan tanpa alasan pendapat dan pemikiran mereka itu salah adanya.
__ADS_1
Jayaseta bangun berdiri perlahan. Ia mengusap-usap dadanya.
Pelajaran silat tangan kosong antara dirinya dan Baharuddin Labbiri tak ia sangka merupakan sebuah pertarungan terpanjang yang ia pernah alami, selain tentu saja sewaktu ia mendapatkan pelajaran kanuragan dari gurunya terdahulu, Kakek Keling, ketika mempelajari jurus-jurus Tendangan Guntur dari Selatan.
"Kau harus terbiasa dengan pertarungan semacam ini, Jayaseta. Kelak kau akan paham dengan nasehatku ini setelah mencapai tanah negeri Siam," ujar Baharuddin Labbiri seakan dapat membaca pikiran Jayaseta.
Jayaseta sendiri maklum, toh ia memang sengaja mencoba mendapatkan pelajaran dari pertarungan ini.
"Setelah sekarang kau paham dengan pelajaran yang aku berikan, Jayaseta, mari segera selesaikan saja pertarungan kita. Tolong gunakan kemampuan sejatimu. Kali ini, aku, bapak yang memintamu," lanjut Baharuddin Labbiri kembali seakan membaca pikiran sang pendekar.
Jayaseta mengelus dan menepuk-nepuk dadanya. Ia memandang ke sekeliling, melihat semangat dan rasa penasaran tercetak di wajah-wajah para murid Baharuddin Labbiri. Ia juga menyapu pandangan rekan-rekannya, Datuk Mas Kuning dan sang istri, Dara Cempaka. Gadis itu tersenyum ke arahnya. Wajahnya luar biasa manis dan memesona. Senyuman itu penuh makna rasa percaya dan kebanggaan. Jayaseta mendadak sadar bahwa istri keduanya ini adalah juga seorang pendekar.
__ADS_1
Ah, ia harus segera menyelesaikan pertarungan ini, pikirnya.