Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Nakhon Si Thammarat


__ADS_3

Tahun 1629 Masehi, raja Ayutthaya saat itu, Prasat Thong, ingin memutus pengaruh orang-orang Jepun di negeri Siam yang telah semakin kuat. Sebagai hasilnya, Yamada Nagamasa, yang merupakan pemimpin desa Jepun atau Ban Yipun di pusat kota Ayutthaya saat itu, menentang keputusan Prasat Thong. Sebagai akibatnya ia dikirim ke wilayah Nakhon Si Thammarat sebagai pemimpin di sana, setelah mengetahui bahwa banyak pejabat Siam juga sangat menentang dorang Jepun tersebut.


Di sana, sang pemimpin Jepun sempat membentuk kelompok masyarakat Jepun, tetapi hanya dalam waktu satu tahun saja, tahun 1630 Masehi, kekuasaan Yamada Nagasama diruntuhkan. Ia dibunuh dan perkampungan orang-orang Jepun di Nakhon Si Thammarat dihancurkan. Kerajaan Ayutthaya mengirimkan seorang pedagang asalah Parsi yang telah mendapatkan jabatan sebagai hakim agung Ayutthaya. Ia bernama Syeikh Ahmad. Jabatan tingginya membuat ia dinobatkan sebagai Boworn Rajnayok Chaophraya dan bekerja sebagai Chao Kromma Tha Kwa, yang memberikannya kekuasaan atas perdagangan dan menyelesaikan permasalahan antar orang asing, kecuali Cina.


Dengan kekuatannya yang besar, Syeikh Ahmad yang juga digelari sebagai Chula Rajmontri atau Syakh al-Islam, pemimpin umat Islam di Ayutthaya itu, sebelumnya telah memiliki pengalaman menghancurkan kekuatan pasukan Jepun yang ingin melakukan gerakan pemberontakan melawan kerajaan Ayutthaya pada tahun 1611 Masehi. Maka, menyerang Yamada Nagasama dan masyakajat Jepunnya beberapa tahun kemudian juga bukan merupakan hal yang sulit. Bahkan perkampungan masyarakat Jepun di Nakhon Si Thammarat juga dibakar habis. Ini membuat banyak orang Jepun yang berhasil selamat, kabur melarikan diri ke kerajaan Khmer.

__ADS_1


Saat ini, sudah ada beberapa orang pembunuh bayaran Jepun yang masuk kembali ke Nakhon Si Thammarat diam-diam. Tujuh orang pembunuh bayaran ini disertai dengan lima orang petarung Khmer datang menyamar sebagai para pedagang. Mereka sudah diperintahkan oleh Dewa Langkah Tiga untuk memata-matai rombongan Jayaseta. Sang pendekar tua baya tersebut sadar sekali dengan sifat jemawa dan tak sabaran para pendekar dari Dunia Baru. Itulah sulitnya mengatur para pendekar yang sama-sama haus akan pertarungan.


Dewa Langkah Tiga sengaja mengirim mereka dalam jumlah banyak, agar bila sampai mereka tak sabaran ketika sekadar diminta memata-matai yang memutuskan untuk menyerang Jayaseta, paling tidak mereka berjumlah cukup banyak. Ia berharap para pendekar Jepun itu bisa disadarkan bahwa Jayaseta bukan lawan mereka. Dan ketika saatnya tiba, Dewa Langkah Tiga berharap satu saja dari rombongan ini yang selamat dan bisa melaporkan semuanya kepadanya.


Kini mereka memutuskan untuk menyebar berdua-dua mencari kabar di penjuru kota, termasuk melalui jalur sungai. Butuh beberapa hari untuk dapat menemukan kabar keberadaan kelompok yag paling dicari Dunia Baru tersebut. Sedangkan, di sisi lain, bila kelak Jayaseta memutuskan untuk berjalan kaki, melewati jalur darat, bisa-bisa, membutuhkan waktu puluhan hari untuk sampai ke Nakhon Si Thammarat.

__ADS_1


Di sisi lain, iring-iringan kapal orang-orang Lan Xang terus menyusuri sungai utama menuju ke Ayutthaya. Sasangka dan Jaka Pasirluhur berada di satu geladak. Jaka Pasirluhur berada di haluan, sedangkan Sasangka memutuskan untuk tinggal di buritan. Jaka Pasirluhur sebenarnya merasa geli dengan perilaku sosok tak dikenal itu. Siapa dia sebenarnya yang merasa pantas menyandang nama Jayaseta. Meski dirinya sendiri juga berperilaku yang sama. Ia menjadi bertambah geli.


Para prajurit penjaga orang-orang Lan Xang memberikan hormat yang tinggi kepada kedua orang Jawa tersebut. Mereka memiliki keterbatasan berbicara karena memiliki bahasa yang berbeda. Namun, mereka sadar bahwa siapapun mereka, kemampuan ilmu kanuragan dua orang tersebut sangat mumpuni. Keduanya lah yang habis-habisan menjaga kapal itu dari serangan demi serangan para perompak Annam dan Champa. Kehebatan mereka tak bisa disepelekan karena keduanya menghabisi siapapun yang mencoba merebut kapal itu.


Jadilah Sasangka dan Jaka Pasirluhur saling merenung tentang masa depan perjalanan mereka ini, termasuk hal-hal yang aneh, lucu dan menggelikan yang mereka alami.

__ADS_1


__ADS_2