
Datuk Mas Kuning berdiri membelakangi orang-orang yang menghadapnya. Lukanya belum sembuh benar, namun sebagai seorang pendekar kawakan, ilmu kanuragannya masih dapat menyembuhkan luka dengan lebih cepat daripada orang biasa.
Katilapan dan Narendra duduk bersila di lantai bersama belasan orang Jawa yang berkunjung. Di bawah, di depan rumah sang Datuk, dua puluh orang Jawa lagi ditahan oleh prajurit Melayu Sukadana, yang jumlahnya hampir dua kali lipat. Di dalam rumah sang Datuk sendiri juga terdapat lebih dari dua puluh prajurit Sukadana yang menjagai para tamu dengan terlebih dahulu meminta mereka melucuti senjata.
"Aku rasa kesalahanku sebagai orangtua adalah memberikan kesempatan bagi cucu perempuanku menjadi dewasa sebelum ia siap dan mau. Dan kedewasaan itu bukan Dara Cempaka yang memutuskan, tetapi aku. Entah bagaimana aku yang sudah menghitung hari hidup di dunia ini akan mengatakan kepada kedua orangtuanya, anak dan menantuku, bahwa anak gadis mereka yang seharusnya ada dalam bimbinganku, ternyata harus melalui mara bahaya," ujar sang Datuk masih membelakangi para penghadapnya.
"Oleh sebab itu biarkan kami yang akan menjemput cucu Datuk, bersama Jayaseta. Tujuan kami datang kemari memang untuk mengetahui kabar orang yang penting bagi kami tersebut," ujar Narendra.
Beberapa hari lalu, ia dan Katilapan akhirnya mendapatkan kabar utuh dari orang-orang Jawa yang ada di Sukadana, bahwa Datuk Mas Kuning sedang diserang oleh seorang pendekar sakti bernama Karsa yang berjuluk Sang Penyair Baka.
Orang-orang Jawa tersebut kemudian mencoba membantu sang Datuk dari serangan si pendekar tua yang dibantu beberapa prajurit Daya yang tak dikenal.
Pendek cerita, semuanya dapat menyimpulkan bahwa Jayaseta dapat lolos dan pergi menghadap ke Temenggung Beruang melalui perjalanan yang panjang. Katilapan juga berhasil menegaskan hal itu setelah tak sengaja bertemu dengan awak jung milik Raja Nio serta bertemu dengannya secara langsung.
"Sang nakhoda mengatakan bahwa mereka pergi berempat, bersama awak jung lain yang bernama Ireng dan Siam. Jayaseta sudah melalui banyak hal, dan kami yakin tak akan terjadi hal buruk padanya. Namun, demi keselamatan cucu Datuk, aku dan Narendra akan pergi menjemputnya ditemani beberapa orang, terutama mereka yang pernah menemani Datuk bersama rombongan kerajaan pergi ke pelosok hutan bertahun lalu," jelas panjang lebar Katilapan setelah paham cerita lengkapnya dari sang Datuk.
Sang Datuk berbalik dan memandang wajah Katilapan, Narendra dan semua yang hadir di sana. "Aku yang harusnya turun tangan langsung menemui Temenggung Beruang, bukan cucuku atau orang lain."
"Namun Datuk tidak dalam keadaan yang sempurna. Datuk sendiri sudah memberikan tanggung jawab kepada Dara untuk membawa Jayaseta kepada suku Daya tersebut. Datuk di sini untuk menjaga nama dan martabat keluarga yang bilamana Datuk pergi meninggalkan rumah ini, akan hancur dan percuma. Bukankah itu yang Datuk sampaikan, termasuk kepada Dara Cempaka?" Kali ini seorang Jawa yang berbicara.
***
Tak ada yang benar-benar curiga dengan kedatangan sepasang tuan Cina dan pembantu laki-laki Jawanya ke pelabuhan Sukadana ini, kecuali kenyataan bahwa sang pelayan laki-laki itu terlihat masih kanak-kanak - karena bertubuh kecil mungil - dan sang tuan Cina hanya membawa satu pelayan saja.
Yu memandang ke seantero pelabuhan yang ramai itu. "Kita harus mulai darimana, Pratiwi?" ujarnya perlahan di telinga perempuan terkasihnya itu. Sebenarnya, ia dan Pratiwi sudah bersepakat untuk memberi nama baru, nama laki-laki, bagi Pratiwi sebagai nama samarannya, yaitu Pratama.
Pratama adalah nama yang digunakan Yu ketika harus memanggil Pratiwi di tempat yang ramai dengan orang asing. Sedangkan ia sendiri cukup dipanggil 'Tuan.'
Bagaimanapun keduanya adalah buronan orang-orang Kompeni Betawi, dan memang Sukadana sendiri masih memiliki hubungan baik dengan Sukadana sehingga kapal dagang maupun tentara - atau jawara bayaran - kerap hilir mudik dari Betawi ke Sukadana dan sebaliknya.
Maka memang Yu sendiri kesulitan untuk berpura-pura dan berkali-kali hampir kelepasan memanggil nama yang salah. Tidak dengan Pratiwi. Ia adalah seorang pemain peran yang baik, melihat ia sendiri adalah seorang pendekar dan telik sandi yang sempat menjadi andalan Kompeni Betawi.
__ADS_1
Meski keadaan jiwa dan perasaannya kini berantakan, termasuk kekuatan badaniah dan tenaga dalamnya yang masih belum kembali sempurna. Hanya saja, perjalanan di atas jung ini telah benar-benar membuatnya menemukan jati dirinya kembali.
Kini ia benar-benar ingin menemukan sang kakek dan melihat keadaannya.
Ia juga bersungguh-sungguh untuk menikahi Yu.
"Kita nampaknya harus mencari penginapan dahulu, Pratiwi," ujar Yu kemudian.
Pratiwi mengangkat barang-barang mereka yang tak seberapa itu dengan cepat. Yu ingin mencegahnya, merasa tak pantas bagi seorang perempuan untuk membawakan barang-barang, sebelum ia lupa bahwa Pratiwi adalah seorang pendekar dan ia sekarang sedang menyamar menjadi seorang pelayan laki-laki.
***
Serangan Temenggung Beruang membuat Jayaseta berkelit dengan sedikit berjumpalitan ke samping. Rupa-rupanya sang Temenggung hanya memberikan semacam serangan kejutan dengan tamengnya.
Di balik topengnya, sang Temenggung tersenyum. Kini ia kembali menurunkan kedua kakinya dengan kuda-kuda yang rendah. Pinggulnya bermain, bergerak sesuai dengan putaran tubuh. Sedangkan do di tangan kanannya diputar-putarkan.
"Kau tahu bahwa nama senjata yang kupegang ini adalah do, Jayaseta?" seru sang Temenggung. Badan sang kepala suku itu bergeser dan memberi jarak dan ruang serangan, namun terus bergerak tak berhenti seperti seekor ayam hutan atau burung sedang berasiap melabrak buruannya.
"Kyaaakkk!"
Teriakan tiba-tiba Temenggung Beruang memecah angkasa ketika secara mendadak pula sabetan do mengarah ke bagian atas tubuh Jayaseta melesat.
PRAK!
Jayaseta menangkisnya dengan tameng. Kerasnya serangan tersebut membuat Jayaseta undur ke belakan tiga langkah.
Sang Temenggung kembali memainkan dan memutar-mutarkan do nya.
"Hmmm ... Rupanya jarak adalah kuncinya," gumam Jayaseta dalam hatinya.
Serangan jurus kinyah pengayau prajurit Daya ini memanfaatkan jarak dan menyerang dengan kejutan, mencari celah ketika musuh lengah. Gaya bertarung ini mengingatkan Jayaseta akan jurus-jurus pedang para Samurai dari negeri Jepun. Bedanya, ronin yang pernah ia hadapi benar-benar bergerak pelan atau tak bergerak sama sekali dalam kuda-kudanya, sedangkan kinyah Daya yang digunakan sang Temenggung adalah dengan berjalan, berputar dan terus mengubah kuda-kuda dan letak kaki.
__ADS_1
"Namun, do yang kugunakan ini bernama Mandau," ujar sang Temenggung kembali, tanpa memedulikan dan mengacuhkan kenyataan bahwa ia baru saja menyerang Jayaseta dengan tebasan do yang sangat berbahaya.
"Beberapa suku Daya mengatakan bahwa Mandau atau Mando adalah sebuah kependekan dari dua kata Man dan Do. Man merupakan kependekan dari kuman yang berarti makan, dan Do dari kata dohong yang merujuk pada salah satu jenis senjata tajam pula. Intinya senjata Mando ini memiliki kemahsyuran yang lebih hebat dari senjata Dohong," lanjut Temenggung Beruang. "Namun, mandau yang kupegang ini berbeda sejarah, Jayaseta."
***
Suku Nan-Man adalah suku yang bukan merupakan suku Han Cina, melainkan dianggap bagian dari empat suku liar yang tinggal dan menetap di luar wilatah Cina selain tiga suku lain, yaitu suku Dongyi di sebelah timur, suku Xirong di sebelah barat dan suku Beidi di sebelah utara. Bahkan istilah Nan-Man itu sendiri berarti 'suku liar dari Selatan'.
Di masa kuno, pada masa Tiga Negara atau Tiga Kerajaan yang berlangsung pada tahun 220 sampai 280 Masehi,dimana negeri Han Cina terpecah menjadi tiga negara yang saling bermusuhan dan terus berperang, negara Shu Han memerintah Cina barat daya. Dua negara lain adalah Wu dan Wei. Setelah wafatnya pendiri negara Shu Han yaitu Liu Bei, suku-suku di daerah memberontak melawan kekuasaan Shu Han. Seorang pejabat utusan Shu Han yang Zhuge Liang kemudian memimpin pasukan dan berhasil menumpas pemberontakan.
Zhuge Liang yang lahir pada tahun 181 Masehi dan wafat pada tahun 234 Masehi adalah seorang penganut agama Konghucu yang taat dan merupakan salah satu ahli perencanaan dan gelar perang terbaik dari Cina pada jaman Samkok atau tiga negeri tersebut. Tidak hanya itu, ia juga merupakan seorang Perdana Menteri, ilmuwan, dan penemu yang handal.
Di jaman pemberontakan besar-besaran di Shu Han, sebagai Perdana Menteri negara Shu Han, Zhuge Liang meminta izin untuk menumpas pemberontakan oleh Suku dari Selatan. Suku Selatan itulah yang disebut sebagai orang-orang Nan-Man atau orang dari Selatan.
Pemimpin di daerah Selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo. Zhuge Liang yang karena kepandaiaannya itu telah mengalahkan Meng Huo sebanyak tujuh kali, namun juga membebaskannya sampai sebanyak tujuh kali pula, di mana saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada negara Shu Han.
Namun setelah runtuhnya wangsa Cina Han dan menyerahnya Meng Huo, maka bangsa Nan-Man bercampur dan berbaur dengan bangsa-bangsa lain di Cina dan sekitarnya.
Orang-orang Nan-Man perlahan menyebar ke arah utara pada abad ke-7 Masehi, termasuk ke Birma dan bercampur baur dengan penduduk setwmpat serta menjadi cikal bakal orang-orang suku Bamar dan Shan selain menurunkan suku She dan Yao di Cina sendiri.
Namun ada beberapa orang Nan-Man yang juga sampai ke pulau Tanjung Pura dan tinggal di sana.
Man Da U adalah nama seorang Man yang pertama kali membuat bentuk senjata pedang yang menjadi cikal bakal senjata do orang-orang Daya tersebut, sehingga namanya digunakan sebagai nama senjata tersebut.
Man Da U datang ke pulau Tanjung Pura beserta para tawanan perang dari suku-suku liar Cina bagian Selatan, daerah darimana ia juga berasal. Man Da U datang ke pulau Tanjung Pura untuk mencari hasil alam. Dalam perjalanannya, ia berkeliling ke sungai-sungai dan membentuk kelompok-kelompok dari tempat satu dan tempat lainnya. Tubuh-tubuh mereka ditandai dengan ukiran-ukiran rajah agar mereka mengenal setiap kelompok orang yang mereka temui.
Man Da U terkenal kejam dan ahli dalam peperangan, kelompok suku baru mereka ini telah banyak melawan bangsa-bangsa lain yang datang ke pulau Tanjung Pura, termasuk bangsa Melayu dari Sriwijaya dan bangsa pendatang lain, seperti orang-orang Formosa atau kepulauan Bisaya.
Karena sering terjadinya peperangan antar kelompok suku dan bangsa-bangsa yang datang ke pulau Tanjung Pura, Man Da U menjadi terkenal dengan bilah senjatanya yang tajam dan suka memenggal kepala musuh-musuhnya. Ini mirip dengan adat Pengayauan yang telah terlebih dahulu disumbangkan oleh orang-orang suku Formosa kepada orang-orang Daya Tanjung Pura ratusan tahun sebelumnya.
Bilah mandau yang digunakan sang Temenggung adalah mandau pusaka, senjata pertama yang dibuat dan digunakan sang Man Da U sendiri ketika berada di pulau Tanjung Pura, melawan dan membunuh para kelompok dan suku penyerang dan menjadi cikal bakal do seluruh suku Daya.
__ADS_1