Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Annam


__ADS_3

Puluhan perahu kecil dengan lima atau lebih perompak di dalamnya bertaburan memenuhi sungai. Mereka mengerubuti sebuah kapal dagang yang dinakhodai oleh orang Lan Xang. Selain itu mereka juga memang sengaja menutupi jalur tersebut untuk beberapa waktu agar tidak diganggu oleh kapal-kapal lain.


Perahu-perahu yang lebih kecil sudah lebih dahulu menambatkam diri mereka di tepian sungai, apalagi sekadar sampan rakyat. Namun, tiga kapal lainnya, yang harusnya juga menghindari pertempuran malah melaju kencang. Ketiga nakhoda Cina tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemauan dan niat para penumpang dan prajurit penjaga kapal sewaan yang kesemuanya dari Lan Xang itu.


"Aku sebagai nakhoda tidak hanya menguasai kapal ini, tetapi juga memikirkan keselamatan penumpang, barang sekaligus kapal ini," ujar salah satu nakhoda Cina bersikeras.


"Percuma, tuan nakhoda. Semuanya tiada gunanya bila baik penumpang, awak maupun prajurit penjaga kapal tuan ini tidak ada di tempat. Kami semua akan turun membantu kapal Lan Xang itu. Bila sudah seperti ini, tuan tak akan memiliki awak dan prajurit untuk diperintah dan penumpang untuk dijaga," balas sang pemimpin pasukan Lan Xang yang menjaga kapal Cina itu.

__ADS_1


"Kami paham tuan tidak ingin terlibat permasalahan ini. Terutama karena para penyerang itu adalah bangsa Đại Việt yang bermusuhan pula dengan negeri tuan. Kami juga pada dasarnya bingung ada masalah apa orang-orang Đại Việt dan Champa itu dengan Lan Xang. Bukankah mereka juga sebenarnya bermusuhan pula? Ah, tapi tuan tak perlu khawatir. Dekatkan kapal ini saja, kami yang akan turun dengan perahu dan menyerang mereka. Tuan tidak perlu terlibat. Tuan pun tak perlu menembakkan meriam-meriam dari kapal ini. Aku sudah memerintahkan para awak dan beberapa prajurit untuk tetap tinggal di kapal ini. Namun, bila tidak ada gerakan sama sekali dari kami, para awak dan teman-temanku tentu tak akan mau mendengar perintah. Mereka akan turun sendiri, semuanya, tuan," jelas sang ketua prajurit.


Sang nakhoda terlihat jelas berpikir keras. Ia menggaruk kepalanya yang ditutupi rambut yang digelung di puncak kepalanya. "Bagaimana dengan dua kapal di belakang kita? Bagaimana bila mereka tidak ingin terlibat dan malah merasa terganggu bila kita memutuskan untuk menyerang perahu-perahu itu?"


Sang ketua prajurit memegang hulu daab nya kemudian tersenyum. "Semua kapal sudah setuju, tuan. Rekan-rekan kami sudah saling memberikan kabar dengan tanda bendera sejak tadi. Tinggal keputusan kami, tuan. Kapal kita adalah yang paling dekat dengan perahu-perahu itu. Jadi, kita yang akan memulai serangan lebih dahulu. Dekatkan saja kapal ini, tuan. Perahu-perahu telah siap diturunkan," ujar sang ketua prajurit sewaan dari Lan Xang itu mantap.


Dan memang itulah yang terjadi. Kapal sang nakhoda Cina dipacu kencang, memancing dua kapal lainnya di belakangnya ikut memacu laju. Keputusan sudah bulat. Sudah terlanjur basah, mandi saja sekalian.

__ADS_1


Arus air sungai yang lurus memang memiliki perbedaan mendasar dengan laut. Oleh sebab itu, cara berlayar dan cara berperang pun cukup berbeda. Laju ketiga kapal tak bisa ditahan oleh perahu-perahu Đại Việt dan Champa.


"Mati kalian orang-orang Annam," teriak para prajurit Lan Xang dengan bersemangat. Annam adalah nama lain bagi Đại Việt.


Haluan kapal langsung menubruk badan-badan sampan dan perahu musuh, menghancurkannya dan membuat para perompak terlempar keluar dari perahu. Ini jelas merupakan kejutan bagi orang-orang Đại Việt dan Champa yang merasa bahwa biasanya dan wajarnya, para perahu pedagang akan menghindari para perompak. Apalagi dapat dilihat terang-terangan bahwa perompak berjumlah banyak berkali lipat.


Kapal kedua dan ketiga juga menerobos kumpulan perahu dan membalikkan mereka semua. Tidak hanya sampai disitu, para prajurit Lan Xang sekaligus melemparkan lembing ke arah para perompak Annam tersebut, melukai dab membunuh mereka. Darah mulai membasahi air sungai yang berwarna keruh.

__ADS_1


__ADS_2