
"Apa kita perlu mempersiapkan meriam untuk menyerang kapal itu, Tuan?" ujar salah seorang awak kapal yang datang bersama Ireng dan Siam kepada Raja Nio.
Raja Nio mengangkat satu tangannya. "Persiapkan saja, tapi kita tidak boleh menyerang duluan. Tidak boleh ada percikan api sedikitpun tanpa aba-aba dariku, kecuali mereka menyerang lebih dahulu. Kita belum tahu siapa mereka walau kecurigaanku lumayan kuat. Berharap dan berdoa saja dugaanku ini salah," sang awak mengangguk paham. Ia bergegas pergi. Siam dan Ireng masih berdiri menatap sang nakhoda.
"Kalian siapkan perahu berlayar kita. Kalian ikut dengan beberapa pendekar untuk turun mengejar kapal itu. Jung ini tak akan mampu mengejar kapal berukuran sedang itu. Aku sedikit banyak paham dengan pengetahuan dan tabiat orang-orang Pranggi ...,"
"Jadi, maksud Tuan, kapal pribumi itu berisi orang-orang Pranggi?" potong Siam.
"Aku tak tahu dengan pasti, Siam. Tapi melihat gerak-gerik kapal itu, pengetahuan milik orang Pranggi terlihat cukup jelas."
***
Lopes Fransisco de Paula baru saja hendak menutup kedua matanya sembari mendengarkan indahnya suara dentuman meriam dan letusan senjata api ketika pintu ruangannya diketuk dari luar. Seorang awak sekaligus pendekar Toba dari Balige bergelar Babiat Sibolang yang berarti Macan Loreng. Ia dan ketiga rekannya dipekerjakan oleh Pranggi di bawah kepemimpinan de Paula.
Babiat Sibolang yang mengenakan kain menutupi bagian bawahnya sepanjang mata kaki serta kain selempang yang menutupi sebagaian dadanya itu masih berdiri di depan pintu ruangan kapal sang pemimpin. Satu tangannya diletakkan di hulu tumbuk lada, sebagai sebuah kebiasaan. Tiga rekan sesama orang Toba berdiri agak jauh darinya. Mereka mengenakan pakaian yang berdiri serupa. Namun, selain menyelipkan tumbuk lada atau piso - dalam bahasa Melayu sederhananya adalah pisau - mereka juga menggenggam batang-batang tombak bernama hujur siringis.
Tombak-tembak itu sangat ramping, dibuat dari kayu yang ringan namun kuat. Penggunaannya sangat baik bila ditusukkan dengan cepat atau dilemparkan sebagai lembing.
Dengan sedikit bersungut-sungut, de Paula membuka pintu dan melihat Babiat Sibolang berdiri di depan pintu. Tubuh pendekar pribumi itu ramping namun liat oleh otot serta gelap oleh sinar matahari.
__ADS_1
"Ada apa Babiat?" tanya de Paula.
Babiat Sibolang memberikan tanda kepada salah seorang rekannya yang langsung datang membawa sebuah teropong. Babiat Sibolang kemudian memberikannya kepada de Paula.
"Silahkan tuan lihat. Jung niaga yang kita jebak kini mengarah ke kapal kita seorang diri ketika kapal Johor dan Jambi sekarang diserang dua kapal kita," ujar Babiat Sibolang.
De Paula mengambil teropong itu dari tangan Babiat Sibolang. Ia berjalan cepat ke tepi geladang dan meneropong ke sebuah arah yang ditunjukkan sang awak pendekar.
Tak lama si Pranggi tersenyum. "Aku sedang menatap sang nakhoda yang juga sedang menatapku dengan teropongnya," katanya sembari terkekeh. "Sepertinya ia orang dari Nusatenggara. Entah Timor, Flores atau Larantuka. Menarik ... Pantas ia paham dan curiga bahwasanya kapal ini terlibat pertempuran kapal-kapal itu," lanjutnya lebih kepada diri sendiri.
"Lantas, apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Babiat Sibolang.
"Jung niaga itu tak akan mampu mengejar kapal kita. Meski mereka memiliki meriam dan persenjataan, jung itu lebih dirancang untuk bertahan dari serangan musuh, seperti perompak misalnya."
"Jangan! Kita tak boleh terlibat dengan pertempuran ini. Jangan sampai siapapun paham bahwa kapal ini memiliki persenjataan. Itu akan menarik perhatian yang lainnya, walau jelas nakhoda kapal itu mencurigai kita. Toh, jung itu tak akan mampu mengejar kapal ini," jawab de Paula.
"Tunggu!" ujar de Paula mendadak. Ia tersentak dengan apa yang ia lihat. "Jung itu menurunkan dua kapal layar untuk mengejar kita."
De Paula tertawa terbahak-bahak. "Mereka tak memiliki prajurit seperti orang-orang Jambi, Johor, Bugis dan Minangkabau. Mereka hanya punya beberapa pasukan pengawal. Dan aku tak melihat pasukan pengawal itu turun ke kapal layar itu," lanjutnya.
"Baik, Babiat. Persiapkan para pendekar kita. Jangan halangi mereka naik ke kapal ini. Aku tak mau menarik perhatian kapal-kapal lain. Bahkan, kita permudah mereka untuk bisa naik ke geladak. Aku ingin melihat siapa yang nekad mencari masalah dengan kita dan terlalu percaya diri itu. Habisi mereka di atas geladak kapal dan tetap pergi menjauh dari kapal mereka secepat mungkin."
Babiat Sibolang dan rekan-rekannya langsung berbalik dan melaksanakan perintah tuan mereka. Sang Pranggi tersenyum. Merasa akan ada kejadian menarik di atas geladak kapalnya hari ini.
__ADS_1
***
Raja Nio melihat jelas sosok laki-laki bule itu. Jelas, sesuai dugaannya, orang itu pastilah orang Pranggi. Dari ilmu pengetahuan tentang perkapalan, segala gerakan kapal yang digunakan, walau menyamar sebagai kapal nusantara belaka, tetaplah berciri Pranggi. Belum lagi persenjataan yang digunakan.
"Orang itu menantang kita. Ia sengaja sedikit memperlambat kapalnya agar kemungkinan besar kapal layar kita bisa mengejarnya namun tidak jung ini. Permainan apa yang ia mainkan?" ujar Raja Nio.
Jayaseta sedikit khawatir karena ia harus naik di kapal layar bersama Katilapan, Narendra, Ireng, Siam, beberapa awak kapal dan Datuk Mas Kuning. Awalnya para pengawal kapal hendak ikut turun, namun para pendekar ini dianggap sudah cukup untuk menyelesaikan perkara ini.
"Apa kau ingin aku ikut naik ke kapal layar, Jayaseta?" tanya Raja Nio melihat kekhawatiran yang jelas tercetak pada bahasa tubuh Jayaseta walau seluruh wajahnya masih tertutup topeng.
"Jangan, Raja Nio. Aku bisa melakukannya. Aku tak bisa terus-terusan terlena oleh kelemahanku ini. Lagipula engkau harus menjaga istriku serta kapal ini. Seorang nakhoda tidak boleh jauh-jauh dari jung nya," balas Jayaseta.
Raja Nio mengangguk dan tersenyum, "Baiklah, Jayaseta. Kita akan bongkar siapa dalang dibalik permasalahan ini. Untuk itu, sebagai seorang pendekar pilih tanding, kau mendapatkan segala kepercayaan dariku," ujar sang nakhoda.
***
Tiga pendekar Aceh mempersiapkan senjata mereka yang terselip di pinggang. Beberapa orang Bugis dan Mangkasara berdiri di tepian geladak bersama empat orang Toba. Para bekas budak orang Nias dan pendekar-pendekar asal Bali mengurus tali-temali kapal dan mengatur layar. Namun, tangan mereka juga siap di hulu senjata. Sedangkan para penembak asal Ambonia dan Flores berjajar rapi di buritan kapal. Tangan mereka memegang bedil, mengarahkan ke kapal layar yang sedang melaju ke arah kapal mereka, namun tak ditembakkan sesuai dengan perintah sang pemimpin, de Paula.
De Paula sendiri kini sudah berada di bilik utama bersama sang nakhoda, laki-laki Jawa asal Semarang yang berwajah lembut namun memiliki sisi-sisi yang gelap dan tak diketahui itu terlihat tenang. Ia bahkan nampaknya menikmati hal ini. Nama sang nakhoda adalah Jala Jangkung. Jelas ini bukan nama aslinya. Entah makna apa yang bergantung pada gelar yang disematkan pada sang nakhoda.
Lopes Fransisco de Paula dan Jala Jangkung berbagi senyum tipis yang sama. Mereka sudah sama sekali siap menyambut kedatangan para tamu terhormat dari jung niaga yang sembrono masuk ke kapal mereka. Sebuah jebakan sudah dipersiapkan dengan matang.
Hanya saja, mereka sama sekali tidak menduga, tidak terlintas dalam pikiran mereka, bahwa ada sosok Pendekar Topeng Seribu yang namanya tersohor di seluruh Nusantara, hadir bersama pendekar-pendekar pilihan pula di atas kapal layar sederhana yang sedang melaju ke arah mereka itu.
__ADS_1