
Para perompak Champa menyerbu bersama-sama. Mereka memulai dengan serangan tusukan tombak. Pratiwi menyelip dengan lincah nan lentur diantara batang-batang tombak dengan mata logam runcingnya. Untuk memotong jarak dengan para penyerang, Pratiwi menyerang balik dengan sebuah tendangan lurus yang tepat mengenai dada salah satu penyerang, membuat musuh terjengkang ke belakang.
Kini, setelah lepas dari kepungan, Pratiwi mampu memecah pengepung menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ia yang hadapi, sisanya menyerang sang Laoya. Di satu sudut, Yu mempersiapkan jarum-jarum terakhirnya.
Fong Pak Laoya berdiri tenang menghadapi beberapa penyerangnya. Ketika dua penyerang menyerang secara bersamaan, dengan gerakan menghindar yang lembut, terlihat lambat tetapi sebenarnya sangat lentur dan cepat, Fong Pak Laoya berkelit. Ia memainkan bahu dan langkah kaki yang panjang serta rendah. Pedang lentur di tangannya masih digenggam. Dengan menggunakan getaran pelan tapi tegas di bahu, Laoya menubruk satu penyerang di dadanya dan membuatnya tersentak mundur ke belakang. Satu penyerang lagi hendak memapraskan pedangnya, tetapi juga tersentak munduk oleh tendangan pendek di paha.
Saat itulah Fong Pak Laoya menyabetkan pedang lenturnya. Dengan sedikit berputar untuk memperkuat sabetan dan mendekatkan jarak dengan penyerang, Fong Pak Laoya menebaskan jian lenturnya lurus ke arah dada lawan. Ia sendiri menekukkan kaki yang berada di depan dan meluruskan kaki di bagian belakang.
SPLAT!
Terikan tertahan terdengar. Lawan sudah berusaha untuk menahan serangan itu dengan pedangnya, tetapi Fong Pak Laoya terlalu cepat. Ujung jian sudah menyobek dadanya. Ia jatuh menggelinding di atas geladak kapal dan tak bergerak lagi. Mungkin tak sadarkan diri dengan luka yang lebar, atau mungkin sekali telah tewas.
__ADS_1
Sang pemimpin, pendek dan beraut wajah paling beringas terlihat semakin menegang. Ia tak bisa lagi melihat saja dengan apa yang terjadi di depan kedua bola matanya. Ia melontarkan tombak di tangan kanannya ke arah sang tabib Cina itu.
Fong Pak Laoya lagi-lagi berhasil menghindar dari serangan itu. Tanpa disangka-sangka, tubuhnya meliuk gesit berputar dua kali di udara dan mendarat ringan di atas geladak kapal. Inilah sebuah jenis beladiri yang terkenal dari tanah Tiongkok yang bernama wushu, sebuah nama lain dari gongfu atau quanfa.
Wushu pada dasarnya berarti secara umum adalah seni perang atau beladiri. Kata wushu sudah digunakan sejak masa wangsa Liang yang berkuasa tahun 502 sampai 557 Masehi. Wushu, gongfu atau kungfu, serta quanfa hanyalah istilah umum untuk silat Cina secara keseluruhan. Beragam jurus dan gaya bertarung yang jumlahnya hampir tak terhitung di Tiongkok itu bagaimanapun tetap memiliki keserupaan atau kesamaan.
Fong Pak Laoya terlihat sekali menggunakan jurus-jurus dari gaya wushu Tàijíquán yang digabungkan dengan beragam jurus lain yang mungkin didapatkannya selama mengembara, atau malah diciptakannya sendiri. Gerakannya yang pelan kemudian mendadak meledak itu berasal dari ajaran agama Tao dan Konghucu yang disebut Taiji, dilambangkan dengan kuasa Yin dan Yang.
Itulah sebabnya hubunga serasi Yin dan Yang dalam jurus-jurus Fong Pak Laoya terlihat dari gerakan lambatnya yang mendadak menjadi cepat, atau ledakan tenaga yang tiba-tiba. Penggunaan pedang lenturnya seakan menjadi lambang Tàijíquá yang lembut sekaligus kuat, lambat sekaligus cepat.
Sang pemimpin perompak bertampang bengis meloncat tinggi dan berteriak keras menerjang lawan. Pedangnya dipapraskan lurus dari atas ke bawah, membelas tubuh Fong Pak Laoya menjadi dua. Itu rencananya. Namun, tentu saja sang Laoya menghindar dengan baik dengan hanya menggerakkan tubuhnya pelan ke samping.
__ADS_1
Perompak satunya yang tadi ditubruk dadanya ikut maju menyerang menyusul pemimpinnya. Ia malah menyerang membabibuta ke arah Fong Pak Laoya, tiada rencana dan aba-aba, apalagi terarah. Tentu saja ini juga akhirnya mengganggu jalannya serangan sang pemimpin.
Fong Pak Laoya memberikan apa yang diminta lawan. Tangannya gemulai menebaskan pedang lentur, kemudian menyentak keras dan cepat di satu arah. Satu tangannya terentang ke belakang, sebagai bagian dari jurus Tàijíquán, menyeimbangkan tubuh sehingga menyempurnakan tenaga dan jarak.
Tusukan jian lentur itu menyobek leher musuh. Fong Pak Laoya tak berhenti. Ia kembali berputar dan menyabetkan pedangnya sekali lagi ke arah perompak Champa yang menyerangnya tadi.
Melihat ini, sang pemimpin perompak menghalangi serangan jian lentur itu agar tak mengenai anak buahnya.
TRANG!
Pedang dan pedang berbenturan. Bunyi logam terdengar keras. Namun apa yang terjadi? Pedang lentur milik sang Laoya menolak terhambat di pedang Champa sang pemimpin perompak. Bilah lentur TàijíquánFong Pak Laoya melengkung dan terus membelah leher lawan yang berusaha dilindungi sekali lagi. Kali ini, korban benar-benar tewas.
__ADS_1