
Bunyi tetabuhan menghentak. Gemerincing lonceng logam menggema di dalam ruangan tersebut. Empat penari terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki menghentakkan kaki mereka di lantai kayu. Tiga penari perempuan menekuk kaki mereka, berputar perlahan, memainkan leher dan kepala bagai tiga ekor burung. Kedua tangan mereka mengepak-ngepak bagai sayap, apalagi bulu-bulu burung diselipkan di sela-sela jari mereka sehingga benar-benar mewakili gerakan sayap seekor burung.
Sang penari laki-laki, memainkan do di tangan kanannya dengan luwes, menekuk lutut, meloncat-loncat pendek sembari berteriak, "Kyaaakkk!"
Temenggung Beruang ikut menari berputar-putar dengan sebilah do yang digigit di mulutnya.
Di sela-sela tetabuhan terdengar Punyan merapal sebuah mantra, "Tujoh kayu pinang di buket, tujoh kayu ku sanarai. Tujoh kali pulong menyangket,
Tujoh kali ku tawarai. Aku towu somor pulong makan porot, tajam tumpol bise tawar."
Mantra ini dibacakan berkali-kali sembari bunyi-bunyian dan irama menjadi semakin cepat. Tak lama, Temenggung Beruang menjadi kerasukan. Roh-roh nenek moyang mereka masuk ke dalam tubuh sang Temenggung.
Tubuh sang Temenggung bergerak semakin cepat bersamaan dengan bunyi dan irama tetabuhan.
Jayaseta duduk bersila di tengah ruangan. Ia berada di tengah-tengah para penari dan Temenggung Beruang, sedangkan di sampingnya Punyan berikat kepala kain merah masih khusuk membaca mantra. Di langit-langit, menjadi latar belakang pemandangan Temenggung Beruang yang menari kerasukan, Jayaseta melihat beberapa tengkorak kepala tergantung, termasuk kepala Karsa yang terlihat masih segar walau tak ada sisa darah lagi yang menetes.
Dara Cempaka merasakan bulu kuduknya meremang menyaksikan upacara ini. Duduk di samping dan sekelilingnya Ireng, Siam dan para warga, baik laki-laki dan perempuan, tua muda, memandang upacara dengan khidmat.
Jayaseta memusatkan semua perhatian ke tenaga dalam racunnya yang sedari tadi sudah mulai menggelegak karena dipancing oleh bunyi dan irama tetabuhan yang nyaring, cepat dan bersemangat tersebut. Keringat terlihat mengalir keluar dengan deras dari tubuhnya yang hanya dililit oleh selembar cawat di bagian bawah tubuhnya.
"Kau tak perlu membuat mereka keluar, terima saja. Biar aku dan ayahku yang menjebaknya. Ikuti saja mau mereka," bisik Punyan di sela-sela mantranya. Kemudian, pemuda calon kepala suku itu mencipratkan air dari tongkat kayu yang berhias bulu-bulu burung dan dedaunan itu ke tubuh Jayaseta.
Semua orang dapat melihat dengan kasat mata bahwa asap tipis mengepul dari tubuh telanjang Jayaseta ketika terkena tetesan air, bagai bara api.
Jayaseta berteriak tertahan. Begitu pula Dara Cempaka yang menggigit bibirnya sendiri, khawatir sekaligus takut dengan apa yang sedang dialami Jayaseta ini. Bukan sekali ia melihat Jayaseta mati-matian menerima pengobatan. Ini kedua kalinya ia menyaksikan rasa sakit yang mendera laki-laki pujaan hatinya itu selain ketika Datuk Mas Kuning menatahkan rajah bunga kenanga.
Punyan berteriak di dalam ruangan itu dalam bahasa suku mereka, "Buka jalan. Biarkan mahluk-mahluk itu keluar!"
Sontak warga yang berkumpul mengelilingi upacara itu langsung berdiri dan dalam artian sebenarnya, membuka jalan ke pintu keluar ruangan.
Temenggung Beruang sudah dalam keadaan dimana para tetua telah tinggal di dalam dirinya. Pandangan matanya menjadi lebih tajam, ganas dan menunjukkan kekunoan. Ada sekaligus lima roh nenek moyang yang merasuk di dalam tubuhnya.
Jayaseta, juga dalam keadaan yang sama. Dara Cempaka sekarang tidak lagi melihat Jayaseta, namun semacam mahluk mengerikan yang mengambil alih tubuh itu. Tatapan mata Jayaseta liar. Ia berdiri membukuk dan mendengus. Kedua tangannya membentuk cakar, memandang berkeliling siap menyerang bagai binatang liar.
Sebaliknya, Temenggung Beruang kini berdiri tegak, juga telah dikuasai roh para tetua. Do nya masih ia gigit, namun tak lama bilah mantikei itu telah berada di genggamannya.
Temeggung Beruang menggerakkan tangannya membentuk tanda mengusir. Jayaseta yang telah dikuasai sepenuhnya oleh tenaga asing di dalam tubuhnya yang tadinya memandang nyalang ke sekelilingnya, kini membalikkan tubuhnya dan berlari keluar dengan cepat. Temenggung Beruang juga menyusul kepergian Jayaseta dengan berlari dan melompat dengan tangkas keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Segenap isi ruangan sontak ramai dengan segala macam ucapan mewakili perasaan terkejut, penasaran dan khawatir, terutama untuk Ireng, Siam dan Dara Cempaka.
Kini semuanya ikut menghambur keluar ruangan ke dalam gelapnya malam ke lapangan di depan bangunan itu yang diterangi nyala obor bambu dan lampu minyak kelapa.
***
"Ayahku memang ingin melepaskan tenaga-tenaga asing itu dari tubuh Jayaseta, bukan untuk menguncinya. Selama ini kekuatan-kekuatan lain yang telah ia dapatkan dari beragam guru berusaha menjinakkan racun kutukan itu, namun puncaknya adalah pelepasan sang mahluk liar dari tubuh Jayaseta. Untuk itu, ayah tak bisa sendiri, ia meminta pertolongan pada roh leluhur untuk memancing mereka keluar," ujar Punyan menjelaskan kepada Dara Cempaka, Ireng dan Siam yang jelas sekali terlihat cemas dan khawatir.
***
Jayaseta meraung. Kesepuluh jarinya membentuk cakar, siap menyobek tubuh Temenggung Beruang yang menantangnya. Tubuhnya mencelat tinggi dan menukik tajam ke arah musuh.
Temenggung beruang bergeser ke samping dan membabat cepat ke arah Jayaseta yang serangannya telah gagal mengenai sasaran tersebut.
TAK!!!
Seruan dan jeritan tertahan terdengar dari warga, terutama Dara Cempaka, yang menyaksikan ini.
Jayaseta terhuyung dan jatuh ke tanah. Sinar dari api obor dan lampu minyak berpendaran menimpa bayangan tubuhnya.
"Apakah kau yakin kau mau melepaskan diri dari kekuatan sebegini rupa, Jayaseta? Bila kau bisa mendengar ini, camkan baik-baik, bahwa bila kau bisa menguasai kekuatan luar biasa ini, kau tak akan terkalahkan. Tidak hanya kebal dan sulit untuk dibunuh, namun kau juga tetap cepat dan memiliki jurus-jurus hebat yang telah kau pelajari selama ini," Temenggung Beruang berkata. Suaranya berlapis-lapis, seakan ada beberapa orang sekaligus yang berbicara bersamaan.
Jayaseta menutup mata. Kini sosok Jayaseta yang asli kembali. Ia berdiri tegak dan memandang Temenggung Beruang tajam namun penuh hormat. Ia kemudian menjura, "Para leluhur terhormat, melalui Temenggung Beruang yang hamba juga hormati dan tinggikan. Hamba mohon untuk sudi membantu hamba melepaskan diri dari kekuatan asing ini. Hamba sama sekali tak tertarik untuk menjadi orang terkuat di muka bumi. Hamba hanya memiliki keinginan untuk membantu banyak orang. Bila memang hamba hanya bisa membantu mereka dengan kekuatan yang hamba dapatkan sendiri melalui latihan dan pengalaman, hamba rasa itu sudah lebih dari cukup. Kekuatan hebat semacam ini hanya akan membuat hamba dimakan oleh kejumawaan, kepandiran dan rasa haus akan kemenangan. Darah hanya akan terus tercurah demi hawa nafsu hamba. Hamba mohon, para Datuk, Temenggung dan Panglima pulau suci ini membantu hamba mengenyahkan kekuatan asing yang selama ini tidak hanya menyulitkan hamba, namun juga membuat korban dimana-mana. Hamba takut orang-orang baik, tak bersalah, atau orang-orang terkasih hamba akan ikut menjadi korbannya," ujar Jayaseta panjang lebar.
Temenggung Beruang bersama para leluhur tersenyum, "Baiklah. Sebuah keputusan yang bijak. Bila kau memang menginginkannya, biarkan tenaga asing itu bertarung dengan kami!" ujar sang Temenggung dengan suara berlapis-lapis.
Jayaseta menutup mata. Saat itulah ia sudah tenggelam lagi digantikan mahluk yang hampir tak dikenal sama sekali, kecuali dari tubuh yang ia pakai.
Temenggung Beruang melemparkan do nya yang berputar setengah lingkaran membabat Jayaseta.
Mahluk di dalam tubuh Jayaseta mencelat dan berjumpalitan di udara. Do tak mengenainya, namun secara ajaib kembali ke tangan sang empunya.
Jurus Do Terbang yang termahsyur namun sangat dirahasiakan keberadaannya. Ireng terpana, Siam terbuka mulutnya lebar dan Dara Cempaka tercekat. Ilmu yang seakan hanya cerita itu ternyata nyata adanya.
Jayaseta melompat dan sekali lagi menggunakan cakarnya untuk menyobek- nyobek tubuh musuh.
Temenggung Beruang bergerak menghindar begitu cepat bagai hilang saja. Tiba-tiba ia sudah berjarak sepuluh tombak dari Jayaseta.
__ADS_1
Ilmu sihir macam apa ini? Pikir Ireng.
Sekali lagi, semua warga dipertontonkan dengan jurus rahasia itu. Bilah do melayang cepat, membabat dua tiga kali ke tubuh Jayaseta yang tak sempat lagi menghindar.
TAK!!!
TAK!!!
TAK!!!
... dan kembali lagi ke tangan pemiliknya.
Jayaseta terlempar jatuh menggelinding di tanah. Tubuhnya masih tak menunjukkan luka sedikitpun, namun asap tipis mengepul dari bekas do terbang menghajar tubuhnya.
Tubuh Jayaseta kini melemah. Mahluk di dalam dirinya masih mencoba garang dan beringas, namun taringnya seakan telah copot.
Temenggung Beruang melaju secepat kilat. Do nya kini di tangan, jurus kinyah berusia ribuan tahun kembali dilancarkan.
Tanpa ragu dan pikir panjang, Temenggung Beruang membabatkan do nya tiga kaki berturut-turut ke luka tusuk yang disebabkan tombak Kyai Ageng Plered di dada bawah bagian kiri Jayaseta, kemudian dua kali sabetan di paha kiri dan kanan, serta satu sabetan panjang di dada.
Percikan api terlihat dari benturan do di tubuh Jayaseta yang sekeras batu itu. Asap menguap dari setiap tebasan.
Punyan menutup mata dan kembali merapal mantra khusuk berulang-ulang, "Totak alu tumang alu,
aku towu somor pialu.
Urang jorah utan tanah arai, parek sitan iblis tanah arai. Lokas ku somor lokas boyek, dalam pansang luar melayang."
Jayaseta berteriak keras. Tubuhnya rebah ke tanah dan mengejang. Asap atau uap putih tipis menghilang. Setelah itu tubuh laki-laki pendekar itu lunglai. Ia tak sadarkan diri. Begitu juga Temenggung Beruang yang langsung rubuh ke tanah. Para leluhur sudah meninggalkan badannya.
Punyan bergegas menghampiri sang apai bersama beberapa orang warga laki-laki untuk memeriksa keadaan sang kepala suku.
Dara Cempaka sendiri sudah tak dapat menahan diri dan bahkan telah berlari lebih dahulu ke arah Jayaseta sebelum Punyan menghampiri apainya.
Ireng dan Siam membutuhkan sedikit waktu lebih lama sebelum sadar dan ikut bergegas mendekati Jayaseta.
Dara Cempaka sudah memeluk tubuh lunglai Jayaseta yang penuh peluh itu. Ia sudah tak mampu menahan gejolak rasa cemas dan khawatirnya. Maka, dipeluk eratnyalah tubuh ramping penuh otot yang liat itu. Air mata takut mengalir dari mata indah sang gadis.
__ADS_1