
Si pedang tunggal berdiri tergopoh. Namun ia merasa masih bisa menghadapi serangan Paulo Omura yang menderu ke arahnya. Ia masih memiliki kesempatan mempersiapkan kuda-kuda dan mengangkat pedangnya.
Bukan Paulo Omura jika setiap gerakan jurusnya dapat diketahui lawan. Sebelum si pedang tunggal siap menghadapi serangannya, Paulo Omura sudah lebih dahulu membaca ketersiapan lawan. Maka, alih-alih terus maju menyerang, Paulo Omura melemparkan naginata-nya pada jarak yang tidak disangka-sangka lawan. Tidak hanya itu, Paulo Omura melemparkan naginata-nya ke arah kaki.
Serangan ini jelas membuat lawan menjadi kelabakan. Ia baru saja berdiri dan mempersiapkan kuda-kudanya. Maka, sekenanya, ia menyapu naginata dengan pedangnya. Kuda-kudanya kembali oleng dan sabetan pedang mengarah ke bawah.
Paulo Omura mendadak sudah ada di depannya.
“Anggap kau beruntung karena menjadi saksi jurus Iai-ku!” seru Paulo Omura dalam bahasa Jepun.
Si pedang tunggal tak mampu memahami bahasa maupun keadaannya karena Paulo Omura sudah mencabut katana dan wakizashi dengan sekali sentak. Kepala sang pedang tunggal lepas dari badannya. Katana Paulo Omura menebasnya, sedangkan wakizashi menancap ke jantungnya.
Melihat ini, kematian sudah membayang di wajah sisa dari lima prajurit Khmer dan Siam yang tangannya telah terpotong itu. Ia berusaha berdiri, tetapi sekali lagi, dengan kecepatan yang tak bisa dinalar, Paulo Omura berlari dan menclat tinggi. Bilah katana membelah batok kepala sisa prajurit itu sebelum ia berhasil berdiri sama sekali.
Paulo Omura membersihkan katana dan wakizashi dari dengan menggunakan busana para pengeroyoknya yang sudah menjadi mayat tersebut kemudian langsung kembali menyarungkan keduanya.
Mendadak ia ingat bahwa kedua rekannya pasti juga sedang menghadapi musuh. Ia kesal. Harusnya ia terlibat di dalam pertempuran itu. Katana-nya sudah sempat dicabut. Maka, dengan cepat Paulo Omura berlari meraih naginata-nya dan berlari mencari keberadaan Konoshi Hodetada dan Arima Oda.
Benar apa yang dipikirkan Paulo Omura. Konoshi Hidetada tak terpisah jauh dari Arima Oda. Berbeda dengan Paulo Omura, keduanya dicegat sisa prajurit di tepi sungai. Bahkan para warga sempat melihat cikal bakal kekacauan, sehingga mereka segera pergi dari tempat itu bila tidak mau menjadi korban atau bagian dari perkelahian.
“Sial! Kita harus cepat menyelesaikan ini, Hidetada. Para warga itu sudah melihat kita. Dua orang Jepun yang dikelilingi orang Khmer dan Siam. Tak lama pasukan kerajaan Siam atau mungkin saja orang-orang Pranggi penjilat itu akan segera datang kemari,” ujar Arima Oda kepada rekannya.
Katana dan Wakizashi-nya sudah lolos dari sarungnya. Ia berdiri dengan kuda-kuda khas seorang samurai. Beberapa langkah di belakangnya, Konoshi Hidetada menodongkan tanegashima atau senapan sumbu kancing di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya juga sudah meloloskan katana.
“Maka, bunuh mereka dengan cepat. Sesederhana itu, bukan?” ujar Konoshi Hidetada sembari tersenyum licik. Ia bahkan menyeringai bagai sosok iblis yang bersiap memanen nyawa manusia.
Arima Oda merasakan seringai rekannya itu walau tak melihatnya. Nada bicara Konoshi Hidetada sangat ia kenal.
“Baiklah! Ayo kita mulai saja, Hidetada. Berikan satu nyawa sebagai permulaan,” seru Arima Oda.
__ADS_1
DAR!
Suara letusan terdengar keras.
Konoshi Hidetada sungguh melakukan apa yang diminta rekannya itu. Ia melepaskan tembakan pertama. Asap putih mengepul tebal dan satu tubuh roboh begitu saja. Mimis gotri timah meluncur dari moncong tanegashima dan menembus dahi lawan.
Kurang dari setengah tarikan nafas, para pengepung yang sadar bahwa pertemuran telah dimulai, mulai bersorak liar, terutama melihat salah satu anggota rombongan mereka telah tewas.
Dha dan daap yang rata-rata digunakan berpasangan langsung terangkat ke udara. Semua prajurit maju hampir bersamaan.
Konoshi Hidetada menyabetkan senapannya ke prajurit terdekat dan mengenai bahunya. Ia memukulkan senapan itu ke kiri dan ke kanan, kemudian melemparkannya ke lawan yang berbaris maju.
Kesempatan ini digunakan untuk mencabut wakizashi-nya.
Konoshi Hidetada dan Arima Oda berlari kesana kemari, dengan cepat, gesit, mencari celah dan kesempatan untuk menebas lawan.
Arima Oda berguling ke depan, kemudian ke samping. Lalu menebas kaki satu penyerang. Ketika tubuh itu jatuh karena kehilangan keseimbangan dan rasa sakit yang luar biasa, Arima Oda kembali berguling tetapi sebelumnya menyelesaikan dengan satu tebasan cepat ke perut lawan.
Arima Oda bergerak bagai seekor katak. Ia melompat tinggi, tetapi kemudian menunduk dan berguling. Sode, atau pelindung bahunya membantu gerakan jurus-jurusnya sehingga ketika ia berguling, letak bahunya menjadi sempurna. Tak heran ia juga hanya bercawat dan berkasut jerami.
Sabetan demi sabetan lolos tak mengenainya.
Sebaliknya, ia berhasil memapras habis paha serta pinggul lawan, sebelum menancapkan wakizashinya di lambung satu penyerang.
Lawan menderu dari belakang. Ia tak sempat menarik wakizashi-nya, sehingga ia harus mencelat ke belakang dan melepaskan wakizashi-nya untuk menghindari serangan itu.
Konoshi Hidetada memiliki gaya berbeda dengan Arima Oda. Ia menggunakan langkah-langkah panjang serta melompat tinggi. Tebasan katana-nya sama panjang-panjang dan tegas. Satu sabetan menyamping dan melebar langsung menyabet dua penyerang sekaligus.
Dua orang tersebut menggelinjang kesakitan ketika lengan dan beberapa ruas jari mereka terputus. Dada dan perut mereka pun harus membuka lebar oleh bilah katana yang luar biasa tajam tersebut.
__ADS_1
Konoshi Hidetada kemudian menggunakan tenaga ki dan menyalurkan ke pedangnya, kemudian menebaskan katana itu dengan sudut tertentu ke arah daap lawan yang dibabatkan ke arahnya.
TRANG!
Bilah daap patah jadi dua.
Sang penyerang terlena karena hanya dalam sekali tebas, dua daapnya patah. Seberapa kuat katana itu, dan seberapa hebat kesaktian permainan pedang orang Jepun ini.
Namun, keterlenaannya membawa petaka.
Lehernya tembus tertusuk wakizashi Konoshi Hidetada sebelum katanya juga membelah dadanya.
“Bangsat! Kalian berpesta tanpaku rupanya!” suara Paulo Omura terdengar keras.
Naginata-nya menderu berputar-putar bagai menggusah kumpulan anjing.
“Hah, kau sendiri sudah mengambil bagianmu, bukan Paulo?” balas Konoshi Hidetada.
“Tapi kami tak bisa menyalahkanmu yang masih kelaparan. Mari, kita berpesta bersama sampai kenyang. Lakukan dengan cepat, sebelum banyak orang lain yang ikut campur!” kali ini Arima Oda yang menjawab.
Tiga Dewa Iai telah kembali bertemu.
Sudah jelas bagaimana gelar itu tersemat pada mereka.
Darah mengalir sampai ke sungai dan terbawa arus. Teriakan-teriakan kesakitan terus terdengar ketika Tiga Dewa Iai menjadi tiga dewa kematian bagi para prajurit tersebut. Naginata Paulo Omura menebas batok kepala, bahu, leher dan menusuk perut musuh. Daisho Konoshi Hidetada menusuk dan memapras dada, lambung dan punggung. Katana Arima Oda memotong kaki, menusuk paha dan perut, serta melepaskan kepala dari tubuh musuh.
Tiga Dewa Iai bukanlah lawan manusia-manusia rendah tersebut.
__ADS_1