Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Semilir


__ADS_3

Jayaseta tak bisa menghindari gejolak jantungnya mendengar gelar Pendekar Topeng Seribu yang ia sandang selama ini digunakan orang lain, tepat di depan wajahnya. Ireng, dengan kemampuan bahasa Siam nya yang meski tak terlalu bagus, namun sudah lebulih dari cukup untuk memahami apa yang terjadi, segera saja menerjemahkan teriakan-teriakan kehebohan dari prajurit yang baru datang tersebut.


"Jayaseta, ingat dengan tujuan kita. Kau sudah bertahun-tahun menjadi seorang pendekar pilih tanding, tapi masih bisa terpancing dengan hal semacam ini?" bisik Narendra kepada Jayaseta ketika melihat gelagat sahabatnya itu. Ia sudah dapat membaca air muka Jayaseta yang terlihat tak terima begitu saja dengan berita yang terjadi.


Jayaeseta menghela nafasnya, kemudian memandang Narendra. "Kakang Narendra, bagaimana bisa orang yang tak dikenal menggunakan namaku untuk tujuan antar kenegaraan? Aku bukan orang yang terikat dan peduli dengan hal-hal semacam itu. Pendekar Topeng Seribu tidak mungkin membantai musuh dan mengambil tempat di satu pihak, apalagi sebuah negara," balas Jayaseta.


Katilapan berdecak dan menggeleng tak sabar. "Kau yakin kau ini masih merupakan seorang pendekar, Jayaseta? Kau sebenarnya keberatan atas tindakan orang tak dikenal itu, atau hanya merasa harga dirimu sebagai seorang jagoan dengan nama besar sedang terganggu dan tertantang?"


Jayaseta hendak menjawab, tapi segera sadar bahwa ucapan Katilapan mungkin ada benarnya. Selama ini ia sudah berbuah menjadi sosok yang secara badaniah tertempa pengalaman dan pertarungan besar. Namun, masalah jiwa, mengapa ia menjadi kerdil dan tak berkembang? Harusnya ia sudah semakin bijak. Nyatanya, ia melakukan banyak sekali kesalahan, kecerobohan dan tindak tanduk yang didasari hawa nafsu belaka. Buktinya, kini ia melakukan perjalanan jauh lagi adalah karena semata-mata kesalahannya.


"Abang tak perlu merasa terhina dan tersinggung. Nama besar abang bukanlah abang sendiri. Nama hanyalah nama. Percuma untuk mencoba membersihkan nama bila kita sendiri tak sadar apakah kita berhak menyandang nama tersebut. Biarlah gelar Pendekar Topeng Seribu terus diperebutkan dan dipermasalahkan di dunia persilatan. Bagiku, abang adalah Jayaseta," kini Dara Cempaka yang urun bicara.


Jayaseta menatap kedua mata istrinya dengan takzim. Kedewasaan lebih cocok untuk sang istri dibanding dirinya. Ia merasa malu dan ingin sekali memeluk Dara Cempaka bila tidak ingat perempuan itu sedang berpakaian seorang pria.


Di lain pihak, Siam dan Ireng sebenarnya agak kecewa. Mereka malahan menginginkan Jayaseta untuk menggunakan kepalannya lagi untuk menghajar musuh menjadi bubur. Bukan hanya Jayaseta, keduanya malah lebih geram dengan berita tentang sosok jagoan yang mengaku-aku sebagai Pendekar Topeng Seribu itu.


Namun, jelas keinginan mereka bila kesampaian di perjalanan dini ini akan menjadi sebuah kebodohan terbesar. Bukannya menghindari masalah, malah kejadian apapun yang dapat menghalangi mereka masuk ke wilayah Ayutthaya akan menjadi rintangan awal yang tak perlu.

__ADS_1


Akibat kehebohan dan keramaian yang terjadi di tempat penyeberangan itu, lebih dari dua puluh prajurit yang tersebar di tempat penyeberangan dan pondok prajurit, segera menaiki kuda mereka, termasuk prajurit yang tadi sedang menanyai Siam dan rombongannya serta sang Punggawa, Kittisak.


Dengan kurangnya penjaga perbatasan, keleluasaan masuk ke wilayah Ayutthaya dalam keadaan kenegaraan yang panas ini menjadi sebuah keberuntungan yang luar biasa bagi rombongan Siam dan Jayaseta itu.


Segeralah para prajurit yang tersisa langsung mengendurkan penjagaan dan pemeriksaan. Toh, mereka juga sebenarnya tak memusatkan perhatian di tempat ini. Kejadian di kesatrian sudah menyita habis perhatian sisa prajurit penjaga.


Setelah membereskan kotak kayu berisi senjata pusaka karya kerjasama Datuk Mas Kuning, Siam dan Ireng, rombongan ini dipersilahkan masuk ke wilayah Ayutthaya.


Bagaimanapun perasaan lega tentu menyelimuti semuanya.


"Abang Siam. Apa yang kau katakan pada prajurit Ayutthaya tadi mengenai diriku? Mengapa ia melihatku dengan aneh?" tukas Dara Cempaka tiba-tiba. Ia menyusul jalannya Siam dan Ireng yang berada di barisan paling depan sebagai penunjuk jalan. Sedari tadi Dara Cempaka memang sudah penasaran dengan alasan apa yang diberikan Siam tentang siapa dirinya ketika ditanyai oleh orang, terutama oleh prajurit Ayutthaya tersebut.


"Nah, apa itu?" desak Dara Cempaka lagi.


"Itu adalah ..., hmm, ..., jenis kelamin ketiga, adinda."


Di samping Siam, Ireng juga nampak sama berusaha menahan senyumannya.

__ADS_1


"Kenapa abang tak jelaskan saja langsung, apa maksud kelamin ketiga itu? Jangan buat aku penasaran dan terus bertanya," keluh Dara Cempaka.


Ireng nampaknya tak kuat untuk tak tersenyum. "Kelamin ketiga itu maksudnya banci, adinda Dara," celetuknya.


"Apa?! Kalian menyebutku banci di hadapan mereka? Di hadapan para prajurit Ayyuthaya?" seru Dara Cempaka. Ia langsung mengghambur ke arah Siam dan menjejak ke arah dada laki-laki campuran Siam dan Jawa itu.


Tendangan Dara Cempaka memang bukan ditujukan untuk menyakiti, tapi tetap saja merupakan perwakilan kekesalan sang gadis. Siam yang sempat menahan tendangan itu dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada tetap saja tersentak ke belakang dan jatuh bergulingan sekali ke belakang, di tanah perbukitan berumput tersebut.


Ireng tertawa terbahak-bahak.


Dara Cempaka masih hendak melepaskan kekesalannya ketika Siam berteriak-teriak kalut. "Tunggu, tunggu, Adinda Dara. Jangan dengarkan Ireng. Banci di negeri ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dengan aku mengatakan kau adalah Phi Ying Praphet Song sebenarnya untuk membuat kita aman dari pertanyaan lanjutan. Pria kemayu di daerah ini adalah bagian dari kehidupan. Mereka diterima dengan baik, bukan dilecehkan atau diperolok, Adinda."


"Lebih baik engkau segera jelaskan maksudnya apa, abang Siam. Atau aku akan menyerangmu," ancam Dara Cempaka geram.


Jayaseta, Narendra dan Katilapan juga tak bisa menahan tawanya.


"Siam. Lebih baik kau segera jelaskan. Aku jamin, kau tak akan mau bila istriku mengeluarkan jurus-jurus silat Melayunya," ujar Jayaseta menambah-nambah.

__ADS_1


Angin di tanah perbukitan Ayutthaya itu bertiup lumayan semilir. Perjalanan awal mereka nampaknya cukup direstui semesta. Begitu pula dengan Sasangka yang dapat melihat mereka dari kejauhan dan sengaja mengatur jarak sejauh satu kunyahan sirih.


Pengurangan prajurit di perbatasan membuat Sasangka pun berhasil lolos dari pemeriksaan dengan baik. Padahal ia sempat ragu karena membawa tiga buah belati tarung yang bisa jadi sangat mencurigakan bagi para penjaga. Begitu pula kelak dengan Jaka Pasirluhur yang berjarak setengah hari di belakang mereka. Bedanya ia tak tahu bahwa takdir yang sedang ia cari sedang berada di ujung lengkung kehidupannya.


__ADS_2