Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jipen Kumang


__ADS_3

"Esok hari adalah bagianku untuk menjajal ilmu kanuraganmu, terutama ilmu tangan kosong, Jayaseta," ujar Punyan.


Jayaseta tak merasa perlu menjawab tantangan tersebut. Ia juga tak perlu merasa sungkan dan berbasa-basi untuk menolaknya, karena jelas kedatangannya ke kampung ini adalah untuk mendapatkan hal yang bermanfaat untuk kesehatannya, serta apapun itu untuk dapat ia pelajari. Dalam hal ini, sebagai seorang pendekar, tentu olah kanuragan adalah hal penting lainnya.


"Namun, hari ini, sesuai janjiku, mari kuperkenalkan kepada keluargaku dahuli," ujar Punyan. Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju ke satu sisi kampung. Beberapa warga yang berpapasan menyapa dan memberikan hormat ketika tahu siapa yang melintas.


***


Tidak semua kelompok suku Daya atau suku-suku pedalaman di pulau Tanjung Pura ini memiliki peraturan mengenai adat dan kepercayaan atau agama yang sama. Beragam tingkatan kemasyarakatan yang dianut juga berbeda, meski tidak jarang kebanyakan perihal juga sama dan saling mempengaruhi. Semua suku dan perkampungan memiliki kepala suku, prajurit, pekerja dan warga dengan penjabatan peran masing-masing yang kurang lebih sama.


Kepala suku biasanya bertindak sebagai pengambil keputusan dan memberikan perintah. Beberapa juga bertindak sebagai balian atau pemimpin dan pemuka agama.


Para balian di suku Iban disebut sebagai beliau, namun ia memiliki peran berbeda secara keagamaan dengan Tuai Burung. Tuai Burung adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian tinggi dalam keagamaan. Mereka dikatakan dapat berhubungan dengan jiwa-jiwa gaib seperti hantu, dewa-dewa atau roh-roh leluhur yang hidup dalam dunia yang bernama Penggau Libau dan Gelung Nakung.


Tuai Burung dapat mengadakan upacara suci yang berhubungan dengan dunia roh, mimpi buruk dan pembersihan nasib sial atau semacam ruwatan. Namun dapat pula seseorang yang bukan Tuai Burung, melakukan kegiatan ini bila ia juga memiliki kemampuan tersebut. Maka ia dinamakan Tuai Rumah.


Dalam upacara keagamaan atau adat kampung, Manang, atau dukun sekaligus tabib akan berbicara dengan para roh dibantu dengan Lemambang sang penyair yang membacakan mantra doa atau pengantar ke dunia kematian atau akhirat.


Ada pula Tukang Sabak yang terlibat dalam upacara kematian dengan memanggil semua roh orang mati kembali ke dunia. Sedangkan seorang Beliau dapat menyembuhkan seseorang dari guna-guna, ilmu nujum, ilmu teluh atau ilmu hitam lainnya, termasuk pelanggaran pantangan. Seorang Beliau juga dipercayai mampu membuat seseorang menjadi kuat, berani atau memiliki pesona sehingga lawan jenis dapat jatuh cinta. Oleh sebab itu, seorang Beliau juga mampu membuat beragam jimat.


Temenggung Beruang dalam hal ini bertindak sebagai kepala kampung dan sekaligus Tuai Burung.


Pada masyarakat orang-orang suku Ngaju, mereka memiliki kepala kampung yang bekerja sama dengan orang luar kampung, berbicara dengan mereka untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau rencana tertentu.


Sedangkan, prajurit adalah warga terlatih yang bertugas mempertahankan wilayah atau menyerang daerah musuh. Meski dalam banyak hal, setiap laki-laki dewasa Daya pada dasarnya adalah prajurit. Maka hal ini membuat para warga juga merupakan prajurit sekaligus pekerja yang bekerjasama dalam sebuah aturan kampung.

__ADS_1


Beberapa suku pengayau, yang terkenal kuat dan hebat dalam menundukkan musuh-musuh mereka atau karena terpaksa demi membela tanah dan wilayahnya dari serangan musuh merajahi tubuh mereka, misalnya orang Iban yang dirajah di buku-buku jarinya dalam bentuk garis-garis lurus dan melintang karena telah berhasil memenggal kepala lawan. Jenis rajah yang bernama tegulun dalam hal ini berlambang keberanian, kegagahan dan keperkasaan.


Kepala yang telah dipenggal digantungkan di depan pintu rumah seseorang sebagai bentuk tingkatan masyarakat yang lebih tinggi. Orang ini akan dianggap sebagai seorang Bujang Berani, seorang ksatria.


Untuk para warga dalam masyarakat suku Ngaju disebut sebagai orang-orang Pantan. Mereka merupakan penduduk asli yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari diusahakan sendiri. Kewajiban mereka mematuhi perintah pimpinan, serta wajib menyediakan tenaga sukarela apabila dibutuhkan pimpinan. Disini nasib dan kesejahteraan mereka banyak tergantung kepada kepribadian, tindak tanduk, perilaku dan kebijaksanaan pimpinan mereka. Sedangkan orang-orang bukan asli kampung atau dianggap sebagai orang asing disebut Tamuei.


Namun pada dasarnya, bisa dikatakan semua tingkatan masyarakat suku dan perkampungan Daya terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu golongan merdeka dan golongan budak. Istilah kemasyarakatan ini memiliki beragam nama, seperti utus, jalahan, bunuh, boboha, atau ungkup.


Sebutan utus gatung atau utus tatau merujuk pada golongan bangsawan tinggi serta kaya. Mereka dianggap sebagai pewaris keturunan orang besar dan keturunan langsung dari keilahian, misalnya seperti kekuasaan, kekuatan dan kemampuan keagamaan mereka.


Golongan ini memiliki dan menguasai beragam benda dan kepemilikan yang menunjukkan serta melambangkan kebesaran, kuasa, kekuatan, serta kekudusan atau keilahian, seperti sebut saja gong, bejana atau tempayan suci, senjata seperti do atau tombak. Dari kalangan dan golongan ini pula di pilihnya kepala adat dan pemimpin masyarakat.


Ada pula yang dinamakan utus rendah atau utus pehe-belum. Golongan ini meskipun masuk dalam golongan merdeka, mereka masih dibedakan dalam kedudukan kemasyarakatan dan kekayaannya. Meski mereka tetap dianggap orang-orang yang dekat dengan dewa-dewa yang suci, namun secara tidak langsung. Perbedaannya dengan utus gantung, kepemilikan mereka akan benda-benda perlambang kekuasaan itu tadi terbatas pada kekayaan harta pusaka yang nilainya rendah.


Di dalam golongan inilah lahir para balian atau imam atau dukun atau pemimpin agama, yang juga disebut basir.


Ada beragam jenis istilah untuk budak termasuk letak dan peran mereka dalam kemasyarakatan. Misalnya rewar yang merupakan budak yang secara turun-temurun adalah kepunyaan tuannya. Menurut hukum adat, golongan rewar adalah mereka yang muncul akibat hukuman terhadap pelanggaran-pelanggaran adat yang berat dan kalah perang.


Dalam istilah orang Ngaju, para budak dikenal dengan istilah jipen. Para Jipen sama sekali tidak memiliki harta benda dimana seluruh kebutuhan hidupnya disediakan oleh majikannya. Para Kepala Kampung, orang-orang merdeka serta orang-orang pantan diizinkan mempunyai jipen.


Jipen berasal dari orang-orang yang kalah perang dan tak sanggup melunasi hutang-hutangnya. Apabila para jipen telah sanggup melunasi hutangnya, maka kemerdekaan akan mereka peroleh. Akan tetapi bila hingga akhir hayat hutang belum mampu mereka lunasi, maka anak keturunannya akan tetap menjadi jipen, dan biasa disebut utus jipen, sampai hutang yang ada dapat dilunasi.


Orang-orang suku Daya percaya bahwa budak memang dilahirkan sebagai pailenge atau kaki tangan tuan mereka, oleh karena itu semasa hidupnya sampai kealam baka, mereka harus memanggil pemiliknya dengan sebutan tempongku atau sangiangku yang berarti tuanku. Para budak dilarang mendirikan rumah di dalam kampung melainkan di daerah perbatasan kampung atau di dalam hutan sekitar kampung.


Istri Punyan yang bernama Kumang sebenarnya adalah seorang perempuan utus jipen, bersama saudara laki-lakinya.

__ADS_1


Perempuan itu mengenakan dua potong kain, pertama yang membelit bagian bawah tubuhnya setinggi betis serta satu lapis lagi yang membungkus sepasang payu*daranya. Kulitnya berwarna sawo matang, dan ia terlihat begitu cantik. Tidak banyak hiasan melekat di tubuhnya, namun tak mengurangi pesonanya.


Punyan menyeringai lebar di depan Jayaseta, seakan baru saja selesai memamerkan barang kebanggaannya.


Sayang, menurut Jayaseta, wajah Kurang terlihat sendu. Sepasang matanya malu-malu bersinar. Ada semacam rahasia gelap yang tersimpan.


"Ia awalnya memang seorang budak, Jayaseta. Suku kami mengambil Kumang, saudara laki-lakinya, dan beberapa warga kampung lain yang kalah perang. Ia menjadi budak sejak masih kecil. Tapi, lambat laun aku jatuh cinta padanya. Butuh usaha luar biasa untuk dapat mengangkat derajatnya dan menjadikannya istriku," ujar Punyan mengingat perjuangan yang berat di masa lalu. Namun kedua matanya berbinar memandang sang istri yang sedang menjemur ikan untuk diasinkan.


Di sisi lain, sedang menganyam rotan menjadi bubuhan ikan, seorang laki-laki muda yang wajahnya hampir tak bisa dibedakan dengan Kumang, bahkan termasuk warna kulitnya.


"Itu adik laki-laki istriku, Kumang. Sejak kecil ia menolak memberitahukan namanya, jadi kami memanggilnya Jipen saja. Ia bahkan sudah lama berhenti berbicara sama sekali, bahkan mungkin tak pula dengan sang kaka. Ia tak mau dipisahkan dengan sang kakak. Padahal, aku sudah berusaha setengah mati untuk dapat menikahi Kumang, mencari celah dalam aturan adat. Ketila berhasil, tak mungkin aku membawa serta si Jipen itu untuk ikut menjadi seorang yang bebas, bukan?" ujar Punyan memperlambat jalannya menuju ke rumahnya.


"Tapi apa boleh buat, terpaksa Jipen tetap ikut dengan keluargaku. Ia menjadi budak kakaknya sendiri yang dulu menyandang gelar budak yang sama. Kau tahu betapa membingungkannya hal itu?" lanjut Punyan.


Demi melihat sang suami telah pulang, Kumang meninggalkan semua pekerjaannya dan langsung mendekati Punyan, mengambil do serta tombak yang ia bawa dan dimasukkan ke dalam rumah tanpa kata.


Punyan terlihat senang sekali atas penyambutan sang istri. Jayaseta sendiri melihat bahwa Kumang tak menunjukkan perilaku yang serupa dengan suaminya.


"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Jayaseta," ujar Punyan.


"Aku tak berpikir mengenai apapun, Punyan," balas Jayaseta merasa tertuduh.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Mungkin Kumang tak memiliki rasa yang sama denganku. Itu tak apa, aku akan terus membuatnya mencintaiku tulus suatu saat kelak. Bisa dimaklumi bahwa ia dan adiknya merasa bahwa mereka tetaplah budak. Aku hanya membeli raga Kumang, namun jiwanya tetap terpenjara. Satu-satunya yang membuat ia merasa iklas menerimaku, mungkin karena aku juga membawa serta Jipen," ujarnya.


Kumang tak lama keluar rumah, membawakan satu potongan bambu berisi air tuak dan satu potongan bambu berisi air putih untuk Jayaseta.

__ADS_1


Lagi-lagi gadis itu menunjukkan wajah sendu namun tanpa terlihat sedih atau sengsara. Hal ini malah tiba-tiba menyiksa Jayaseta. Ia mengingat dosa-dosanya pada Almira dan Dara Cempaka.


__ADS_2