
Hari semakin menanjak. Tapi sepertinya semesta juga sedang senang dengan tontonan adu kanuragan sosok-sosok pendekar di dalam sebuah lapangan di tengah-tengah gugusan bangunan rumah bergaya Melayu dengan unsur bule Pranggi dan Cina.
Mansur, laki-laki bertubuh gempal itu mengambil gilirannya. Nampaknya usianya adalah yang tertua di banding yang lain, bahkan lebih tua dari Jayaseta. Tak ada satu apapun yang ada di dalam pikirannya. Ia tak bisa dikatakan ciut atau takut, pun tak gagah berani mati. Ia lebih merasa kesal karena penasaran mampus dengan siapa yang ia hadapi ini. Sang guru sama sekali tak memberikan penjelasan, bahkan petunjuk sedikitpun. Ia dan semua murid memang sudah tahu bahwa sejak kemarin sang guru kedatangan rombongan tamu istimewa. Seharian penuh mereka sibuk bercerita, entah mengenai apa itu. Tapi Mansur tak menyangka bahwasanya kelompok orang ini kemungkinan besar adalah para pendekar, para pelaku ilmu kedigdayaan.
Tetabuhan masih dibunyikan oleh para murid sebagai pengantar pertarungan. Bunyi-bunyian ini memang selalu menemani waktu latihan para murid dimana latihan Silat Gayong Melayu ini menjadi menyatu dengan seni tari, yang seperti diketahui sejarahnya, adalah bentuk tipuan kepada orang-orang Pranggi atas bentuk sejati dan sebenar-benarnya jurus-jurus beladiri mematikan silat tersebut.
"Aku Mansur, Pendekar Jayaseta. Silahkan bersiap. Ijinkan aku menempa Silat Gayong dengan jurus-jurusmu. Perkenalkan julukan yang tak pantas kusandang ini, saudaraku: Sang Harimau Kelantan," ujar Mansur. Kedua lengannya yang berisi mengatupkan telapak tangan di depan dadanya. Ia menunduk, namun sepasang mata tetap memandang ke arah Jayaseta.
Jayaseta membalas hormat Mansur. "Terimakasih sudah bersedia berbagi ilmu, saudaraku, Mansur," ujar Jayaseta dengan penghargaan yang jujur dan tidak dibuat-buat untuk berbasa-basi.
Mansur membuka kuda-kuda dengan bunga-bunga jurus. Kakinya rendah, terus bergerak: menyilang, berputar, bergeser, melangkah, kadang sedikit meloncat.
Kedua tangannya terus dimainkan. Jari-jarinya lentik bergoyang membuka menutup, begitu juga telapak tangannya yang digerakkan oleh pergelangan tangan dan bahu. Bahkan kepalanya juga bergerak-gerak mematah.
Mansur terlihat sangat mirip dengan orang yang sedang menari. Mungkin bisa dikatakan bahwa gaya silat Mansur ini adalah yang mendekati penerapan silat pulut.
Mansur maju cepat, menggertak, untuk kemudian mundur dan kembali melakukan bunga-bunga silat yang cukup rumit itu.
Jayaseta membalas gertakan Mansur dengan mencoba satu gerakan menyerang. Mansur mundur dengan memutar-mutar dan mengibaskan kedua lengannya untuk menghindar sekaligus menangkis.
Jayaseta kemudian juga harus mundur ketika Mansur memberikan tipuan serangan lagi, dua kali bahkan. Kedua lengannya terus berputar-putar seperti hendak menyerang, namun kenyataannya tak ada buah pukul yang dilepaskan.
Jayaseta memerhatikan setiap langkah dan gerakan tangan bunga-bunga yang begitu ramai dan rumit itu, sampai akhirnya serangan Mansur datang jua.
Mansur menyeruduk ke arah perut Jayaseta, melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang musuh, kemudian mengangkat tubuh Jayaseta hendak membantingnya.
Dengan kecepatan dan kepekaan yang terlatih, Jayaseta menahan lengan dan punggung Mansur, namun gerakan tak teramalkan itu sudah terlanjur mengenai Jayaseta. Maka, ia meluweskan tubuhnya kemudian melepaskan diri tepat sebelum tubuhnya dihantamkan ke bumi.
__ADS_1
Desah nafas para penonton terdengar keras melalui sela-sela bunyi alat tiup dan tetabuhan bertalu-talu.
Mansur kembali memainkan bunga-bunga silatnya. Ia menepuk paha, bahu dan lengannya sendiri. Kedua kakinya melangkah berkelok, berputar lalu maju dengan cepat.
Mansur menunduk kemudian mencoba memegang lengan Jayaseta yang segera menepisnya, namun Mansur kembali memegang pergelangan tangan Jayaseta, kemudian satu tangannya diletakkan menyangga ke paha. Dalam satu sentakan keras, dengan memainkan pinggul, pinggang dan dada bagian atas, Mansur melemparkan Jayaseta.
Sang Pendekar Topeng Seribu mengikuti arah lemparan Mansur. Ia mencelat ke udara kemudian berguling di tanah.
Tepukan keras terdengar di seantero lapangan di tengah gugusan rumah itu. Semua mata menyaksikan bahwa Mansur entah bagaimana berhasil 'menyentuh' Jayaseta, walau serangannya belum telak menghempaskan Jayaseta ke atas bumi. Perlawanan Mansur dengan gaya silatnya yang tidak biasa itu seakan memberikan perlawanan yang sengit kepada pendekar yang tak mereka kenal tersebut.
Jayaseta tersenyum. Mansur nampaknya tidak memiliki buah pukul dalam gerakan silatnya. Bantingan dan kuncian adalah jurus-jurus utamanya. Jayaseta merasa sedikit akrab dengan gaya pertarungan semacam ini.
Ia berdiri sedikit saja membungkuk dengan tanpa menunjukkan kuda-kuda yang berarti, membuat para penonton semakin penasaran mengenai cara berkelahinya.
Mansur di sisi yang berseberangan sudah kembali memutar-murarkan pergelangan tangan dan memainkan langkah-langkahnya. Lengannya kadang terentang kadang merapat.
Semua menahan nafas, terutama rekan-rekan Harimau Gayong Melayu Mansur. Mereka paham bila Mansur berhasil melakukan serangan ini, maka Jayaseta akan terlempar ke udara dan terhempas ke bumi. Hasilnya akan benar-benar luar biasa bagi sang korban.
Tubuh Jayaseta terangkat. Tepat ketika Mansur hendak membantingnya, Jayaseta melesakkan lutut kaki yang bebas ke pinggang Mansur, membuatnya tersentak oleh rasa sakit yang menjalar ke otaknya. Jayaseta kemudian menghajar punggung Mansur dengan sikut sehingga tubuhnya tertunduk. Maka akibatnya, tubuh Jayaseta batal terangkat.
Saat itulah Jayaseta meraih lengan Mansur dari bagian dalam, memutar tubuhnya sendiri dengan cepat dan menggunakan sebuah hentakan melalui pinggul, membanting Mansur.
Tubuh gempal berisi otot itu terhempas ke tanah dengan keras.
Mansur menarik nafas, tak terlalu bersemangat untuk bangun. Ia terlentang dengan rasa sakit di sekujur tubuh, terutama punggungnya.
Inilah bayaran atas keberhasilannya 'menyentuh' dan hampir berhasil menyerang Jayaseta. Mansur tidak hanya merasa malu, tapi juga rasa sakit yang tak bisa dikatakan kecil.
__ADS_1
Ia benar-benar mendapatkan pelajaran hari ini.
Hamid Sang Harimau Kedah mengaku kalah karena jemawa dan enggan bertempur karena tahu hasilnya, bahwa ia bisa dihajar habis-habisan dan mungkin dapat terluka parah. Zainal Sang Harimau Terengganu mati langkah, kalah telak karena jurus-jurusnya telah dibaca habis. Mansur di sisi lain kalah terpukul telak.
Kesalahan utamanya adalah bahwa ia berpikir bahwa musuh akan melawan dengan gaya bertarungnya, yaitu bantingan dan kuncian. Jayaseta mengajarkan dan menyadarkannya bahwa musuh akan melawan dengan jurus dan gaya besilat apapun yang ia bisa dan ia mau. Jayaseta tak mau sekadar bermain-main dengan meniru dan membalas serangan-serangan Mansur dengan gaya yang serupa. Mansur kecolongan.
Sialnya, Jayaset memang memberikan beban pada serangan lutut dan sikutnya dengan mengalirkan sedikit saja tenaga dalam.
Para pendekar murid-murid Baharuddin Labbiri ini bukanlah para pesilat biasa. Kedua pendekar sebelumnya dikalahkan Jayaseta dengan pelajaran yang pantas. Mansur dikalahkan Jayaseta dengan tambahan tenaga.
Silat Gayong Kelantan yang dikuasai Mansur dari sang guru dikenal dengan nama Silat Jatuh. Bunga-bunga indah dari gerakan tangan serta langkah kaki silat ini memiliki seribu satu muslihat.
Bunga-bunga silat ini ditujukan untuk menyembunyikan kuda-kuda, sudut serangan maupun sebagai pengumpan serangan lawan. Tidak jarang, sang pesilat sengaja membuka bagian tubuh tertentu yang rentan untuk diserang untuk kemudian menjebak dan memerangkap musuh.
Pukulan dan tendangan cenderung hampir tak digunakan. Harusnya keunggulan Mansur terletak pada pertahanan dengan cara memancing Jayaseta untuk kemudian mengunci dan membanting atau menjatuhkannya. Tapi, Mansur kurang awas, berpikir Jayaseta terjebak dalam permainannya walau yang terjadi sebaliknya.
Gaya bertarung Silat Jatuh ini memang cukup berbeda dibanding Silat Gayong Melayu lainnya, mengingat Kelantan adalah salah satu negeri Melayu yang memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dengan negeri Melayu sekitarnya. Kelantan memiliki logat Melayu yang sedikit berbeda, termasuk makanan dan budaya yang sangat dipengaruhi Pattani serta negeri Siam.
Meski pada tahun 1499 Masehi Kelantan menjadi negeri bawahan Malaka, kedudukannya berubah ketika Malaka jatuh ke tangan Pranggi pada tahun 1511 Masehi. Selama itu Kelantan dipimpin oleh tuan tanah atau tokoh-tokoh kuat yang silih berganti serta berbakti dengan membayar pajak dan upeti kepada Kesultanan Pattani. Sekarang, Kelantan sudah bisa dikatakan merupakan bagian dari kekuasaan dan pengaruh Pattani.
Jayaseta mendekat ke arah Mansur dan mengulurkan tangannya. Mansur meraihnya dan Jayaseta membantu mengangkatnya berdiri.
"Padahal engkau masih bisa bangun dan melawanku, saudaraku Mansur," ujar Jayaseta.
"Kami bertiga masih bisa melawanmu, Jayaseta. Tapi bukan itu makna dari jajal kanuragan ini, bukan? Bukan ihwal bunuh-membunuh, hancur menghancurkan, tetapi saling belajar dan memberikan ilmu. Aku sudah menunjukkanmu kepada Silat Gayong Kelantan yang juga disebut Silat Jatuh, sedangkan engkau sudah memberikanku pelajaran bahwa bagaimanapun aku harus bersiap dengan jurus apapun yang lawan gunakan," tegas Mansur. Ia menghormat kepada Jayaseta dan dibalas dengan hormat yang sama.
Yunus Sang Harimau Pattani berkacak pinggang dan menggeleng pelan. "Aku yakin, orang ini adalah pendekar dengan nama besar," ujarnya. Senyum tipis mengejek rekan-rekannya seakan mengatakan, "Apa yang kali ini akan terjadi padamu, Yunus?"
__ADS_1
Angin berhembus sepoi-sepoi seakan ikut memberikan kenyamanan pada setiap orang untuk menikmati pertunjukan ini. Seakan ada tontonan yang sudah direncanakan oleh alam. Kali ini pertunjukan selanjutnya adalah raungan seekor harimau dari Pattani.