Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Topeng Ireng Lokajaya


__ADS_3

Sang nakhoda adalah seorang laki-laki berumur tiga puluhan akhir dengan wajah tampan bersudut tegas. Kulitnya gelap mengkilat ciri khas orang-orang Larantuka yang diperkuat oleh paparan sinar matahari. Di kapal ini ia adalah satu-satunya orang Larantuka yang terletak di Nusa Dipa atau Pulau Naga, disebut pula sebagai Flores oleh orang-orang Pranggi dan beragama Nasrani beraliran Katolik. Ini dikarenakan kerajaan Larantuka sangat dipengaruhi oleh agama orang-orang Pranggi yang datang menyebarkan agamanya di sana pada tahun 1561 Masehi.


Nama asli sang nakhoda adalah Antonio da Silva. Hanya saja karena seorang nahkoda di sebuah kapal sudah dianggap sebagai raja, karena kepemimpinannya yang mutlak, maka ia dipanggil Tuan Nio atau Raja Nio. Meski sang pemilik kapal atau juragan jung ini adalah seorang Cina, ia menyerahkan kapal dan barang jualannya pada nakhoda untuk dijalankan atas dasar bagi laba.


Jadi, Raja Nio tidak digaji oleh si juragan Cina, ia malah mendapatkan sebagian laba dari barang dagangan kapal. Begitu juga dengan awak kapal ini yang berjumlah dua puluhan, mendapatkan laba dari kesepakatan dengan Raja Nio.


Sang nakhoda adalah pemimpin kapal yang mengepalai semua urusan di atas geladak serta muatannya. Untuk ini Raja Nio dibantu jurumudi yang bertanggungjawab dalam hal kemudi. Ada pula dua jurubatu yang bertanggungjawab atas jangkar dan letak kapal agar jangan menumbuk batu karang. Sedangkan pemandu kapal disebut mualim. Mualim kecil atau mualimangin adalah awak kapal yang bertugas pada layar dan tali-temali serta menguasai arah angin.


Raja Nio juga mengepalai para tukang kapal yang membetulkan segala bagian di kapal, seperti tukang kiri untuk lambung kapal bagian kiri, tukang kanan untuk lambung kapal bagian kanan, tukang petak untuk ruang atau kamar-kamar di dalam kapal serta petak-petak tempat barang, serta tukang tengah yang mengurusi bagian tengah kapal.


Anak-anak kapal yang diketuai seorang mandor adalah awak paling bawah derajatnya di kapal. Mereka terdiri dari beragam orang, seperti orang abdi atau para budak, orang yang berhutang dan melunasinya dengan bekerja sebagai anak kapal atau orang turun penukan yang meski berhutang tapi masih memiliki wewenang tertentu yang diberikan oleh sang nakhoda.


Sang Raja Nio juga mempersiapkan dua buah meriam di jungnya serta persenjataan lengkap seperti bedil, parang dan pedang, lembing dan beragam senjata lain yang dibawa oleh setiap awak kapal, termasuk setiap penumpang kapal diwajibkan mempersenjatai diri mereka sendiri mengingat kemungkin para perompak atau bajak laut yang dapat datang kapan saja.


Raja Nio sudah memperhatikan Jayaseta dari awal ia naik ke jungnya. Sudah hampir tujuh hari perjalanan, pemuda itu mabuk laut dan kesulitan di atas kapal. Jayaseta sendiri termasuk orang tumpang, yaitu seorang penumpang yang membayar uang tambang untuk berlayar ke Sukadana.


Selain Jayaseta, penumpang kapal selain awak terdiri atas muda-muda, istilah yang digunakan untuk orang-orang yang ingin mencari pengalaman di atas kapal. Ada pula kiwi, yaitu para pedagang yang tidak ikut membantu pelayaran karena murni ikut untuk berdagang. Yang terakhir adalah orang senawi, mereka yang menumpang kapal namun tidak membayar. Sebagai gantinya ia akan bekerja bersama para awak kapal.


Awalnya Jayaseta hendak memutuskan menjadi muda-muda atau orang senawi, namun Almira sang istri yang kaya raya merasa bahwa ini tidak perlu. Ia bisa membantu membayarkan sang suami. Tentu Jayaseta menolak dengan tegas bantuan sang istri.


Namun apa lacur, demi melihat jung raksasa yang bersandar di pelabuhan, mendadak perutnya mulas dan tubuhnya serasa meriang. Mana mungkin ia bisa bekerja di atas kapal bila ia harus bertarung dengan mabuk laut dan rasa takutnya sendiri?


Akhirnya ia harus menerima tawaran sang istri dengan syarat hanya akan mengambil sedikit bekal uang dan barang pemberian Almira.


Kudi yang Jayaseta ikat di punggungnya  awalnya membuat Raja Nio tidak khawatir sekalipun atas keselamatan sang orang tumpang ini. Namun melihat gelagatnya hampir tujuh hari penuh ini, Raja Nio berpikir bahwa penumpang yang membayar ini tak akan bisa bertahan lama ketika terjadi serangan perompak. Ia bahkan tak yakin pemuda itu bisa bertahan di kapal sebelum sampai ke Sukadana.


Raja Nio tersenyum kecut.


***


Ana kidung rumeksa ing wengi


Teguh hayu luputa ing lara

__ADS_1


Luputa bilahi kabeh


Jim setan datan purun


Paneluhan tan awa wani


Miwah panggawe ala


Gunaning wong luput


Geni atemahan tirta


Maling adoh tan ana ngarah ing mami


Guna duduk pan sirno


Sakehing lara pan samya bali


Sakeh ngama pan sami miruda


Sakehing braja luput


Kadi kapuk tibaning wesi


Sakehing wisa tawa


Sato galak tutut


Kayu aeng lemah sangar


Songing landhak guwaning


Wong lemah miring

__ADS_1


Myang pakiponing merak ...


Sayup-sayup Jayaseta mendengar potongan lantunan sebuah lagu berbahasa Jawa dibawa angin ke telinganya. Sepasang matanya menumbuk sosok seorang kakek duduk bersender di tepi geladak kapal tak jauh dari tempatnya duduk sedang melagukan sebuah tembang yang Jayaseta sangat kenal. Tembang dalam bentuk macapat itu berjudul Kidung Rumeksa Ing Wengi.


Kidung ini konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga yang bertujuan untuk menyingkirkan segala gangguan, baik yang tampak maupun nggak kasatmata. Kidung ini juga dijadikan sarana untuk mengingatkan manusia agar selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka.


Dengan keadaan yang sedikit lega setelah muntah akibat mabuk laut, Jayaseta dapat melihat jelas sang kakek yang ternyata juga memperhatikannya.


Ternyata pandangan kakek itu sangat ajaib. Kedua matanya yang berair dan terlihat sayu tersebut ternyata mampu menembus ke dalam hati Jayaseta. Entah mengapa Jayaseta merasa badannya panas dingin dan dadanya bergemuruh. Sang kakek kemudian berpaling sembari kembali melihat lautan kelam dengan bintang yang bertaburan di langit seperti gula-gula di atas panganan.


“Apakah kau menyukai topeng, cu?” tanya sang kakek tiba-tiba.


Jayaseta tersentak. Pertanyaan yang tidak kalah ajaib. Apa maksud sang kakek menanyakan mengenai topeng secara tiba-tiba padanya?


Namun Jayaseta berusaha menunjukkan pengendalian dirinya. "Harusnya aku yang bertanya kepada kakek, apa yang membuat kakek tertarik dengan diriku sehingga selama hampir tujuh hari di atas geladak kapal ini kakek selalu mengintaiku, bahkan sejak pertama kali berangkat dari pelabuhan Semarang?" ujar Jayaseta.


Seperti tak menampik 'tuduhan' Jayaseta, sang kakek tertawa terbahak-bahak. Ia sepertinya tak menyangka bahwa orang yang memang sudah ia perhatikan dari awal keberangkatan ternyata memiliki waskita yang tinggi sehingga dapat membaca dengan baik sasmita yang terpancar dari dirinya.


Sang kakek sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa laki-laki mabuk laut ini bukan orang sembarangan.


"Kau tahu anak muda, bahwa tindakan jahat tetap merupakan tindakan jahat apapun alasannya," ujar sang kakek setelah tawanya reda.


“Para perompak, begal atau perampok, semuanya adalah orang-orang yang dengan suka hati merampas milik orang yang bukanlah haknya. Apapun alasannya, merampas hak orang lain adalah salah adanya. Sebelum menjadi seorang Sunan, yaitu Wali Allah di dunia, Sunan Kalijaga yang bernama asli Raden Said dahulunya adalah seorang begal dan perampok yang ulung, sakti, ditakuti dan disegani semua pejabat kerajaan dan orang-orang kaya di tanah Tuban. Ketika menjalankan kegiatan merampoknya, ia bergelar Brandal Lokajaya," lanjut sang kakek tanpa menghiraukan kebingungan Jayaseta.


“Sewaktu bertemu calon gurunya yaitu Sunan Bonang, sang brandal menjelaskan bahwa ia ingin merampok tongkat berkepala emas yang dimiliki oleh Sunan Bonang yang dihadangnya di sebuah jalan. Brandal Lokajaya memberikan penjelasan bahwa ia harus melakukan ini karena bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Ia merampok untuk kemudian memberikan hasil rampokannya kepada orang-orang yang kesusahan. Ia hanya mengambil harta orang kaya dan membagikannya kepada orang-orang yang tidak beruntung," walau terdengar begitu aneh, Jayaseta tetap terbius untuk mendengarkan cerita sang kakek.


“Walau sepertinya mulia, Sunan Bonang, Wali Allah yang bijak nan sakti itu hanya mengatakan bahwa tindakan Lokajaya adalah sama halnya dengan mencuci baju dengan air kencing. Bahwasanya walau niatnya baik yaitu untuk membersihkan baju, namun cara yang dilakukan sangatlah buruk, membuat baju malah semakin kotor dan bau. Sebagai akibatnya, tujuannya sama sekali tidak tercapai. Dalam hal ini, tindakan merampok dan membegal Brandal Lokajaya dianggap sia-sia adanya. Penjelasan inilah yang membuat sang Brandal kemudian tobat dan berniat untuk berguru kepada Sunan Bonang, apalagi bahwa didapati kemudian bahwa Sunan Bonang ternyata sakti mandraguna dan tak dapat dikalahkan oleh Brandal Lokajaya.


Inilah awal kelahiran Sunan Kalijaga yang bijak dan terkenal seantero pulau Jawa sebagai salah seorang Wali luar biasa yang menyebarkan Islam di pulau Jawa tersebut," sang kakek kembali melantunkan potongan kidung Rumeksa Ing Wengi sembari merogoh sesuatu dari balik bajunya.


"Ini adalah topeng Ireng Lokajaya yang dipakai oleh Brandal Lokajaya dalam segala kegiatan merampoknya sebelum beliau menjadi Sunan Kalijaga .


Jayaseta tak tahu harus bagaimana membalas kata-kata dan penjelasan sag kakek. Entah ia harus percaya atau menganggap aneh serta gila sang kakek, namun ia tak dapat menahan kedua matanya terbelalak melihat sebuah topeng berwarna hitam legam tergeletak di geladak kapal di depannya. Topeng itu hanya menutup separuh bagian wajah, sedangkan bila dikenakan, bagian mulut si pengguna akan terlihat.

__ADS_1



Topeng dengan lobang berupa lengkungan garis kecil di bagian mata itu memantulkan alam semesta, menusuk ke hati nurani Jayaseta serta membuatnya terdiam.


__ADS_2