Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Atas Sungai Bagian Kesebelas: Berkobar Semakin Liar


__ADS_3

Fong Pak Laoya menghentakkan kakinya ke atas geladak kapal dua kali. Kedua tangannya masih dikatupkan dan diletakkan di atas kepala dengan jari telunjuk dan tengah mangacung ke langit. Mulutnya terus mengucapkan mantra-mantra yang bagi telinga Yu dan Pratiwi hanya bagai gumaman tak jelas. Api sudah membakar sebagian besar lambung kapal dan terus menggerus seluruh bagian kapal. Kurang dari lima puluh tarikan nafas saja kapal ini akan habis dilahap api.


Namun, bahkan Pratiwi dan Yu masih memusatkan perhatian ke arah sang Laoya yang terlihat sekali menggunakan kekuatan gaibnya untuk melawan musuh yang tak kasat mata, yang tak terlihat sama sekali bagaimana rupanya. Sang perompak sudah berhenti berguling-guling di atas geladak papan. Tubuhnya kini mengejang setegang-tegangnya, melengkung tidak manusiawi.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pratiwi?” ujar Yu. Ia mendekat dan kini sudah berada di samping istrinya tersebut.


Yu juga sudah kembali memerhatikan api dan kemungkinan jalur pelarian untuk keselamatan mereka. Sebaliknya, Pratiwi masih memusatkan perhatian dengan apa yang terjadi di depan matanya.


“Aku penasaran apa yang sebenarnya dilihat Laoya. Masalah ilmu kekebalan dan tenaga dalam, bahkan seperti rawarontek atau pancasona sekalipun aku paham. Beberapa pendekar mampu memiliki kemampuan meringankan tubuh yang cukup luar biasa sehingga tubuhnya bagai terbang saja. Aku sendiri bila kelak telah pulih, tenaga dalamku dapat membuat ilmu meringankan tubuhku mendekati sempurna, tubuhnya bagai seringan bulu burung. Tapi, kau lihat sendiri tadi, Yu. Badan si perompak terangkat ke udara, tanpa menyentuh lantai. Itu sudah keterlaluan,” ujar Pratiwi panjang lebar. Setiap kata yang ia ucapkan serasa penuh dengan kekaguman seorang pendekar.


“Pratiwi, kita tak mungkin bisa lama di tempat ini. Kau lihat bahwa api sudah berkobar semakin liar. Percuma menghadapi perompak kebal itu. Ilmu apapun yang ia miliki, aku tak yakin ia bisa tahan bara api. Kalaupun ia masih mampu, kita yang akan tewas terpanggang, Pratiwi,” jelas Yu.

__ADS_1


“Tunggu, Yu. Kita harus saksikan ini sampai selesai. Aku percaya pada Fong Pak Laoya. Ia pasti bisa menyelesaikan pertarungan ini cepat waktu. Malah sebenarnya, aku lebih tertarik dan penasaran dengan apa yang sedang Laoya itu lihat,” ujar Pratiwi dingin.


“Ah, sialan,” pikir Yu. Berkali-kali ia diingatkan bahwa Pratiwi sang istri adalah seorang pendekar perempuan. Tidak pernah ada waktu bagi Pratiwi untuk tidak memerhatikan hal-hal yang menarik jiwa kependekarannya.


Pratiwi memang tidak salah. Fong Pak Laoya memang sedang melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala manusia.


Dua sosok mahluk adikodrati, menyerupai bentuk sepasang manusia dengan tungkai kaki dan tangan yang serupa tetapi berkepala dua ekor anjing melesat keluar dari tubuh sang perompak, mengakibatkan badannya yang sudah tanpa kekuatan itu jatuh lunglai ke dalam kobaran api.


Pratiwi di sudut lain terlihat kecewa. “Aku tak bisa melihat apa-apa. Pertarungan dengan ilmu gaib ini selalu membuatku bingung,” gumamnya kepada Yu. “Ayo, Yu. Kita tinggalkan kapal ini,” perintahnya kemudian kepada sang suami.


Yu langsung mengangguk setuju. Sudah dari tadi ia menginginkan untuk meninggalkan kapal celaka ini. Dengan cepat ia mendekat ke arah Fong Pak Laoya, kemudian meraih lengannya dan membantunya berdiri. “Kau hebat, Laoya. Jangan paksa aku untuk memantau pertarungan tadi apalagi belajar ilmu semacam itu. Pokoknya engkau hebat. Engkau juga berhasil membuat pikiranku terbuka terhadap segala hal-hal diluar pemikiran pengobatan mutakhirku. Tapi sekarang kita harus meninggalkan kapal ini,” ujar Yu panjang lebar dengan cepat.

__ADS_1


Tak lama ketiga orang ini sudah turun dari kapal yang terbakar, melompat ke perahu dayung milik para perompak.


“Lalu, kemana tujuan kita sekarang?” tanya Yu.


Pratiwi menunjuk ke depan, dimana puluhan perahu mengambang di sungai, ditutupi asap mengepul dari beragam tempat.


“Satu-satunya cara adalah ikut mengekor para prajurit Lan Xang yang menyerang para perompak. Harapan kita adalah mereka berhasil, sehingga kita bisa naik ke kapal besar Lan Xang. Bila toh masih ada pertarungan, aku rasa kita tetap akan bisa menghadapi mereka, selama tujuan kita adalah untuk membela diri. Lagipula, para prajurit sewaan Lan Xang berjumlah cukup banyak untuk membantu kita,” ujarnya.


Yu paham bahwasanya Pratiwi sendiri tidak yakin dengan yang ia ucapkan. Rencana maju ke medan pertempuran bukanlah sesuatu yang rasa-rasanya tepat. Namun, manakala takdir telah menunjukkan wajahnya, manusia hanya perlu menerima dan memandangnya.


Yu mengangguk mantap.

__ADS_1


__ADS_2