
Jaka Pasirluhur melompat kemudian membabat musuh dari belakang dengan kudhinya tepat ketika tombak sang perompak Annam hendak ditusukkan ke arah punggung Sasangka. Teriakan kesakitan merajalela sebelum sang penyerang tewas tergeletak di atas geladak.
Sasangka memandang ke arah orang yang membunuh pembokongnya. Sosok itu bertubuh sedikit gempal, wajahnya tertutup topeng Penthul Tembem yang ia cukup kenal berasal dari budaya suku Jawa Banyumas. Salah satu tangan sang sosok buntung, dan di tangan satunya, ia memegang senjata khas yang juga cukup ia kenal, yaitu kudhi.
Sasangka memang sejujurnya sedang kesulitan untuk menghadapi serangan para perompak yang datang menerjang bagai air bah tersebut. Ia sudah membunuh banyak mereka, tetapi tak cukup banyak untuk membuat mereka berhenti melakukan serangan. Bisa dikatakan saat ini ia memang sedang kalap dan tinggi hati. Ia tak memedulikan perencanaan yang baik bersama para prajurit penjaga Lan Xang, sampai-sampai sempat lengah dan hampir tertusuk tombak seorang penyerang.
Namun, rasa tinggi hati tidak bisa hilang begitu saja dari sosok orang ini. Ia sebenarnya tak terima dibantu apalagi diselamatkan oleh orang tak dikenal dengan busana dan topeng aneh itu. Bila toh tadi tombak sempat mengenainya, itu biasa saja dalam sebuah pertempuran. Pendekar semacam dirinya tak akan langsung tewas terkena serangan remeh semacam itu.
__ADS_1
Sasangka berkelit dari satu serangan lagi, kemudian menunduk serta bangun dalam sekali langkah sembari memutarkan ketiga belatinya. Para penyerang kini yang mundur, menciptakan ruang yang cukup luas di hadapan mereka. Mereka masih terlihat bernafsu membunuh Sasangka, laki-laki berpenutup mulut itu demi melihat kawan-kawan mereka telah tewas terlebih dahulu. Apalagi, jelas perintah mereka adalah membunuh tokoh ini.
Sasangka memandang ke arah sosok bertopeng dan bertangan kutung di sampingnya. “Siapa kau?” serunya.
Jaka Pasirluhur terkekeh di balik topengnya. “Mungkin kau cukup mengenal namaku, hai orang Jawa. Aku adalah yang dikenal dengan julukan Pendekar Topeng Seribu. Tidak hanya di pulau Jawa, tetapi bahkan seluruh nusantara dan mancanegara sudah mengakui sepak terjangku. Jurus-jurus silatmu cukup menarik. Hanya saja kau cenderung ceroboh. Namun, tidak perlu khawatir. Aku akan membantu kau dan kapal ini dari serangan para perompak sialan ini,” ujar Jaka Pasirluhur dengan suaranya yang dibuat sedalam mungkin.
Sasangka tercekat, tetapi lebih terkejut karena geli. Ia sadar siapa orang ini. Tadi ia sempat melihat si buntung ini di lambung kapal. Ia adalah satu-satunya orang Jawa yang ada bersamanya menumpang kapal.
__ADS_1
Jaka Pasirluhur kini balik terkejut. Jelas ia tahu siapa itu Pendekar Topeng Seribu meski memang bukan ia orangnya. Namun, orang Jawa ini mengaku-ngaku sebagai orang yang sama dengan yang ia aku adalah sebuah keterlaluan yang sangat.
“Kau ini dungu atau bagaimana? Buritan dan bagian tengah kapal hampir saja direbut musuh bila tidak aku yang membereskannya. Kau sibuk berkelahi seakan-akan adalah seorang pendekar ulung nan mahsyur yang nyatanya sama sekali bukan,” balas Jaka Pasirluhur.
Sebatang tombak kembali terlontar selagi kedua orang yang mengaku sebagai Pendekar Topeng Seribu ini berbicara dan saling tuduh.
Jaka Pasiluhur menepis lemparan tombak itu dengan sisi kudhinya, membuat batang tombak melesat ke arah Sasangka yang memaprasnya dengan sekali gerak. Batang tombak terlontar lurus dan jatuh ke air dengan keadaan hampir patah jadi dua. Dua pendekar dengan kemampuan silat yang tidak main-main ini mendadak tersadar bahwa mereka masih dalam keadaan berperang. Harga diri dan ketinggian hati mereka sempat menutupi kenyataan ini sejenak.
__ADS_1
Keduanya tak sempat lagi berbicara ketika kapal memang benar-benar telah dipenuhi para perompak yang berhasil naik ke atas geladak kapal bagai kumpulan semut hitam.
Mau tak mau, dalam keadaan yang terlalu mendesak ini, Sasangka dan Jaka Pasirluhur berdiri berpunggung-punggungan. Mereka kini telah siap dengan kuda-kuda masing-masing. Tak sempat ada kata apapun yang terucap. Sebaliknya terikan peperangan kembali mencuat ketika serangan musuh telah dimulai.