
Negeri Joseon tak pernah bisa berkilah bahwa negeri mereka berada di antara dua raksasa, Cina dan Jepun. Tidak bisa dipungkiri pula bahwasanya pengaruh kedua negara begitu besar dalam kehidupan tata kenegaraan sampai ke angkatan perang dan ilmu beladirinya.
Ada sebuah naskah yang ditulis oleh kerajaan di masa kekuasaan Raja Seonjo pada kurang lebih tahun 1608 Masehi. Naskah tersebut bernama Muyejebo, atau dapat diartikan sebagai Ikhtisar Beberapa Seni Beladiri. Namun ketika masih dalam tahap penulisan, sang raja telah wafat sebelum naskah tersebut diselesaikan. Akhirnya, naskah kembali ditulis dan digenapi dua tahun kemudian, tahun 1610 Masehi dengan tambahan bahan-bahan tulisan mengenai gabungan beladiri Jepun.
Awalnya bermula dari Perang Imjin, yaitu serangan penundukan Joseon dari pasukan Jepun pada tahun 1592 dan 1598 Masehi. Perang Imjin ini terjadi dalam babak. Saat itu negeri Jepun dengan maharaja Go-Yōzei dan Samurai Daimyo Toyotomi Hideyoshi serta panglima perang Toyotomi Hidekatsu menyerang Joseon pada tahun 1592 Masehi dengan hasil gencatan senjata pada tahun 1596 Masehi, namun disusul dengan serangan kedua yang juga disebut Perang Chongyu pada tahun 1597 Masehi.
Perang ini dilakukan oleh sang maharaja Jepun, Toyotomi Hideyoshi dengan tujuan menundukkan dan menguasai kepulauan Joseon dan negeri Cina dibawah wangsa kemaharajaan Ming. Sebenarnya saat itu Jepun telah sempat menguasai sebagian besar wilayah Joseon, namun bantuan kerajaan Ming Cina termasuk serangan kapal-kapal angkatan laut Joseon di pantai barat dan selatan memaksa tentara Jepun mundur ke Pyongyang dan daerah selatan di Pusan.
Pasukan Jepun masih bertahan dari serangan-serangan sembunyi-sembunyi pasukan Joseon sampai kepergian pasukan Jepun secara keseluruhan dari daerah-daerah Joseon, terutama di sisi selatan, pada tahun 1598 Masehi.
Sebab dari perang Imjin yang berkepanjangan terjadi bertahun-tahun inilah, kerajaan Joseon memikirkan sebuah cara yang tepat guna untuk melatih prajurit dalam jumlah besar. Untuk kepentingan ini, tentara Joseon mengambil, meniru dan belajar dari naskah Kemaharajaan Wangsa Ming Cina yang berjudul Jixiao Xinshu yang ditulis oleh panglima perang Cina yang termahsyur, Qi Jiguang.
Jelas naskah ini sangat diminati Joseon terutama karena panglima perang Cina ini terkenal karena berhasil mengalahkan bajak laut Jepun yang berlabuh di pantai tenggara Cina sepuluh tahun sebelum perang Imjin dimulai.
Naskah Jixiao Xinshu ini kemudian digubah oleh pejabat-pejabat ketentaraan dan keprajuritan, diciptakankah gaya baru berdasarkan naskah tersebut dan dinamakan Muyejebo.
Raja Seonjo memerintahkan para pejabatnya menuliskan pengetahuan tambahan ke dalam Muyejebo, namun ia sendiri telah mangkat sebelum pekerjaan itu diselesaikan.
Pengganti dan penerusnya, Raja Gwanghaegun, melanjutkan pekerjaan sang ayah sampai diselesaikan menjadi Muyejebo sokjip dan ditulis oleh Choe Gi-nam. Ketika naskah tersebut hendak diumumkan dan dipergunakan sebagaimana mestinya, ditambahkan pula empat bahan dari beladiri gaya Jepun, menjadi Muyejebo Beonyeoksokjip pada tahun Masehi 1610.
Muyejebo ini berisi bab-bab mengenai penggunaan beragam senjata, diantaranya: Jangchang atau tombak panjang, Ssangsudo atau pedang panjang dengan genggaman ganda - dua tangan, Gonbang atau tongkat dan toya panjang, Tameng Deungpae dan lembing, Tameng Deungpae dan pedang atau golok, Nangseon atau tombak berduri dan tombak trisula atau Dangpa.
Yulgok telah mempelajari beragam jenis kemampuan menggunakan senjata dalam perang, terutama juga karena kemampuan sikapnya sangat dipengaruhi oleh para ronin, bahkan penjahat-penjahat dan perompak atau bajak laut Jepun.
Dari para ronin ia mendapatkan gaya bermain pedang ganda yang terdiri dari katana dan wakizashi dalam aliran Tatsumi-ryū Hyōhō yang diciptakan oleh Tatsumi Sankyo pada jaman Eishō yang berlangsung di tahun 1504 sampai 1521 Masehi.
__ADS_1
Ia juga telah mempelajari gaya pedang Ssangsudo, sebuah pedang panjang melengkung dengan pegangan ganda atau menggunakan dua tangan, dari naskah Muyejebo. Pedang ini mulai digunakan akhir abad ke-16 Masehi sampai saat ini, yaitu awal abad ke-17 Masehi.
Kemahsuran penggunaan pedang ini digubah dari gaya bertarung pedang panjang prajurit Cina di masa melawan perompak Jepun di bawah pimpinan Panglima Qi Jiguang. Ia menulis sendiri penggunaan pedang dalam Catatan Latihan Peperangan Prajurit atau dikenal dengan Lianbing Shi Ji. Dikarenakan sang panglima juga menulis naskah terkenal lainnya, yaitu Jixiao Xinshu, maka penggunaan Ssangsudo juga masuk digabungkan ke dalam naskah Muyejebo.
Hanya saja Yulgok menerapkan jurus-jurus baik dari Cina, Jepun dan Joseon ini dalam gaya bertarungnya sendiri.
Keadaan tanah berumput, berlumpur atau penuh lebat dengan pepohonan, maka jurus-jurus jingumnya juga menjadi berbeda. Belum lagi ia sedikit banyak menerapkan jurus kinyah dengan menggunakan do pendek.
Yulgok masuk melalui rongga dari benteng kayu ulin yang dibobol. Ia masuk bersama puluhan prajurit Daya Biaju. Dua puluh dari mereka menyusuri benteng kayu ulin dan sengaja menantang musuh dari depan. Sisanya, di bawah pimpinan seorang panglima perang bernama Panglima Asuam, termasuk Yulgok, menyerang masuk dari belakang.
Panglima Asuam dan Yulgok memandang ke arah Kumang yang masih berada di dalam benteng. Di sampingnya Jipen berdiri dengan menggenggam sebatang parang. Sebagai seorang budak atau Jipen, ia tak terbiasa memegang do atau senjata sejenisnya. Namun, setiap malam dari ia kecil sewaktu pertama dijadikan budak, ia selalu diam-diam mempelajari latihan kinyah para prajurit di dalam benteng ini.
Panglima Asuam terlihat tak acuh. Urusan budak dan kakaknya itu sekarang adalah urusan mereka sendiri. Ia sudah menawarkan kebebasan, namun mereka lebih memilih dendam kesumat. Apa boleh buat. Sebagai seorang panglima perang, tujuan utamanya adalah menundukkan kampung yang terlalu lama bertahan ini.
Yulgok memandang ke arah Jipen, "Cukup kah kau menggunakan parang itu? Kau perlu do, atau tombak?"
Jipen menggeleng, "Aku sudah terbiasa menggunakan benda ini. Kalian silahkan lakukan apa saja, tapi untuk Punyan, kalian harus membiarkanku membunuhnya, ambil saja kepalanya. Kami tak perlu. Temenggung Beruang adalah urusan kalian pula."
Yulgok mengangkat bahu, "Terserah kau."
***
Teriakan memedihkan bersahutan. Dua orang laki-laki renta yang sedang mengunyah sirih di depan rumah betangnya tewas ditusuk-tusuk tombak.
__ADS_1
Beberapa remaja laki-laki yang sedang memberi makan babi diserang dengan do dan tombak. Kepala mereka dipenggal dan dimasukkan ke dalam keranjang anyaman bambu.
Perempuan dan anak-anak berlarian. Semuanya sebanyak mungkin ditangkapi untuk dijadikan budak. Mereka diikat, diseret dan dikumpulkan di bawah pohon dengan dijagai beberapa prajurit. Untuk menangkap para perempuan yang berlarian, tak jarang para prajurit menendang dan memukul untuk melumpuhkan mereka. Bila terpaksa, karena sang korban susah diajak kerjasama, maka ujung tombak akan menembus perut mereka.
***
Tiga orang yang berada di depan bangunan tempat Dara Cempaka menginap sudah mencabut do mereka ketika belasan orang penyerbu telah berada di sana, membakar bangunan dan memporak-porandakan bagian belakang kampung. Para penyerbu mengenakan pakaian perang lengkap dengan tombak, do, tameng, bahkan baju zirah berjaitkan balok-balok besi, atau kerang.
Serangan mendadak ini sontak membuat ketiganya tak benar-benar siap. Dalam satu serangan serentak lima orang penyerbu, satu diantara tiga orang ini tewas bermandikan darah. Yang lain berguling dari lemparan lembing.
Ketika satu orang terdesak dan hampir ditombak, Dara Cempaka yang mendadak muncul, langsung menusukkan belati ke pinggang sang penyerang, membunuhnya. Belati tersebut yang ternyata adalah sebilah pisau dapur saja, terlepas dari tangan Dara Cempaka. Ia melihat ke arah tangannya yang bersimbah darah. Ia sadar, ini kali pertama ia benar-benar membunuh seorang manusia. Sedangkan prajurit yang ia selamatkan langsung berdiri, menunduk memberikan hormat dan bentuk terimakasih, kemudian melompat maju kembali mencari lawan.
Perhatian Dara Cempaka menjadi terkecohkan. Dua prajurit penyerbu langsung mendekap dan menyekapnya dari belakang. Keduanya berusaha membelitkan tali dari akar pohon ke sekeliling tubuh Dara Cempaka.
Gadis itu menggerakkan pinggul dan bahunya, memainkan jurus silat Pattani dan memukul salah satu diantara penyergapnya tepat di ulu hati. Ia langsung terjerembab.
Satunya lagi berhasil berkelit dari pukulan Dara Cempaka, namun genggamannya pada lengan Dara Cempaka dijadikan alat bagi gadis pendekar itu untuk membantingnya.
BUG!!!
Dara Cempaka merasakan perih di perutnya. Seorang prajurit Biaju yang baru datang memukul perutnya dengan pantat tombak, padahal ia telah berhasil melepaskan diri, bahkan melumpuhkan dua penyerangnya.
PAK!!!
Dara Cempaka mencium lantai papan rumah panjang. Ia merasakan tengkuknya berat. Darah mengalir dari bagian belakang lehernya itu ke dagunya. Pandangannya berkunang-kunang meski ia masih sempat melihat sang penyerang mendekat bersama dua orang prajurit lain yang tadi sempat ia lumpuhkan telah perlahan pulih. Mereka membawa tali akar dan mengikatkannya ke tubuh rampingnya.
__ADS_1