Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Dipan


__ADS_3

Hari kedua Jayaseta terbaring bersebelahan dengan Tuan Nio di jung dimana ia berlayar ke Tanjung Pura dari Semarang. Jayaseta begitu lega mendapatkan sang nakhoda ternyata masih hidup walau terluka cukup parah.


Raja Nio jauh lebih terkejut ketika melihat kepala Karsa dibawa oleh Jayaseta yang terluka di dalam sebuah bungkusan kain. Karsa mati entah yang keberapa kali. Sepengetahuannya, ini kali kedua Karsa tak menghirup udara lagi dengan kematian yang sama, dipenggal kepalanya.


Potongan kepala itu sampai hari kedua ini masih belum menjadi busuk, jadi memang ada gunanya juga Jayaseta dan seorang gadis muda yang kemudian Tuan Nio ketahui sebagai Dara Cempaka membawa kepala itu kemana-mana. Ini untuk berjaga-jaga serta memperhatikan bagaimana dan apa akibat yang dihasilkan bila kepala itu lepas lama dari tubuh sang pendekar tua.


Awalnya, para awak, bahkan termasuk Raja Nio mengusulkan untuk membakar saja kepala itu. Jayaseta awalnya setuju, namun tanpa disangka-sangka sang gadis, Dara Cempaka, mencegahnya. Ia memiliki sebuah rencana khusus. Ia akan menjelaskan kepada Jayaseta dan Raja Nio kelak setelah kesehatan badaniah Jayaseta membaik.


Keduanya kemudian berada dalam perawatan para awak dan budak kapal. Walau sama-sama terluka cukup parah, bahkan Jayaseta kerap pusing dan hampir tak sadarkan diri karena penggunaan tenaga dalam yang sangat dilarang oleh Datuk Mas Kuning di masa penyembuhan luka rajah Bunga Kenanga nya, jelas terlihat bahwa Jayaseta membutuhkan waktu yang sangat cepat untuk pulih dibanding Tuan Nio yang bukan merupakan seorang pendekar.


"Abang, kalau abang sudah merasa sedikit lebih baik saja, kita harus segera pergi. Adik rasa sudah saatnya kita menuju ke tempat dimana abang memang harus berasa," ujar Dara Cempaka.


Jayaseta bangun, berdiri kemudian meregangkan tubuhnya. Ia merasakan setiap bagian otot, daging dan tulangnya. Seperti biasa, memang terasa nyeri di beberapa tempat. Ia kemudian memukul dan menendang kecil.


Selain rasa nyeri di beberapa tempat, tidak ada terasa masalah yang terlalu parah. Bekas lukanya sudah mengering, termasuk bekas luka rajah di dada bagian bawah. Luka-luka tersebut sembuh sangat cepat, cenderung ajaib. Ini dikarenakan tubuh Jayaseta yang memang telah terbiasa terlatih dan ditempa dengan keras, maka kemampuan sembuhnya juga cepat.


Raja Nio memandang Jayaseta dengan takjub. Baru kali ini ia melihat orang yang sembuh seketika itu, padahal dua hari yang lalu luka di tubuh Jayaseta sama parahnya, mungkin lebih buruk, dengannya. Kini, laki-laki yang lebih muda itu sudah terlihat segar bugar seperti baru saja dilahirkan kembali.


Jayaseta sendiri, secara kasat mata, jasmaninya memang bisa dikatakan sudah hampir kembali seperti semula. Namun ia pun paham, ada semacam kekuatan aneh di dalam tubuhnya sedang merayap dalam diam untuk menyerangnya.

__ADS_1


Ia tak tahu pasti apa itu, dan bagaimana ia akan diserang. Sebelumnya, tenaga kutukan akan mencoba mengambil alih jati dirinya, membuatnua terlihat kuat dan sakti. Namun sejak ia melanggar permintaan sang Datuk untuk menghindari penggunaan tenaga dalam, ia sering merasa lemah dan tak berdaya. Bebapa kali ia hampir kehilangan kesadarannya.


Jayaseta kemudian duduk di dipan tempat ia berbaring tadi, disamping Raja Nio yang juga berada di sebuah dipan kayu lain yang kaki-kakinya dipakukan ke lantai.


"Baiklah, bagaimana rencanamu, Dara?" tanya Jayaseta.


"Adik akan sedikit menceritakan apa yang adik tahu, terutama dari cerita Datuk," ujarnya.


***


Karsa sudah dikenal lama sebagai seorang pendekar yang meninggikan kemampuan diri. Ia tidak hanya ingin dikenal, namun juga dibayar. Ia berkelana dari pulau Jawa sampai ke pulau Melayu serta pulau Tanjung Pura untuk menawarkan jasanya, membunuh, berperang, mengalahkan lawan, atau apa saja yang penting melibatkan kemampuan silat dan ilmu kebalnya.


Khusus di pulau Tanjung Pura, ilmu kebalnya memiliki banyak lawan dan penggunaan. Ia ditawarkan kerja sama oleh beberapa suku Daya untuk menyerang suku Daya lainnya, dimana kemampuan ilmu kebal juga dimiliki oleh suku-suku pedalaman itu.


Selain itu alasan perang antar suku juga berhubungan dengan perebutan kekuasaan wilayah, dimana mereka juga kerap berpindah bila sumber daya makanan atau alam sudah mulai habis atau tak kaya lagi. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan yang cenderung ingin menguasai wilayah dan daerah lain.


Rupa-rupanya beberapa suku yang bertengkar ini memiliki kepentingan yang lebih rumit terjadi ratusan tahun sebelumnya ketika orang-orang Daya purba telah masih memiliki kerajaan besar dan hidup dengan hukum serta aturan layaknya sebuah kemaharajaan.


Suku yang diincar oleh Karsa dan suku yang membayar untuk meminta pertolongannya adalah sebuah suku di pedalaman yang tinggal di dalam pemukiman yang dikelilingi benteng kayu ulin. Sampai saat ini mereka belum berhasil menembus apalagi mengalahkan suku itu.

__ADS_1


"Nah, orang-orang Daya yang menyerang kita bersama Karsa dua hari lalu itu kemungkinan besar adalah suku yang meminta bantuan Karsa menyerang suku di balik benteng itu, abang," ujar Dara Cempaka.


"Lalu, apa alasan sebenarnya mereka memerlukan Karsa bahkan berani membayarnya? Dan siapa Temenggung Beruang yang selalu engkau ucapkan, Dara?"


"Adik tak benar-benar mengerti permasalahan utamanya, Datuk belum sempat menceritakannya panjang lebar. Namun, dahulu sewaktu adik masih sangat kecil, Datuk beserta rombongan dari kerajaan Sukadana, termasuk adik dan kedua orangtua adik sendiri, pernah bertamu ke benteng kayu ulin itu sebagai bagian dari kunjungan persahabatan," Dara Cempaka ikut duduk di sudut dipan di samping Jayaseta.


"Datuk dan sang ketua suku, Temenggung Beruang kabarnya sewaktu masih remaja dahulu sama-sama berguru di guru silat yang sama. Untuk masalah itu, adik juga belum benar-benar paham cerita secara lengkapnya, tapi ketika mereka berdua dewasa, suku yang dipimpin Temenggung Beruang kerap diserang suku lain. Ini membuat Datuk datang membantu, bersama prajurit dari kerajaan. Namun, itu sebelum terjadi perubahan besar pada ketatanegaraan Sukadana, terutama sejak serangan kerajaan Mataram."


Jayaseta memandang lekat-lekat Dara Cempaka. Garis-garis wajah gadisnya yang penuh keremajaan itu mendadak berubah menjadi sangat dewasa. "Dari situlah Karsa masuk, menggunakan kesempatan demi kepentingan pribadinya. Bahkan Temenggung Beruang pun masih awas terhadap ikut campurnya Karsa, apalagi ia juga kerap membawa rombongannya sendiri."


Kali ini Dara Cempaka yang gantian memandangi Jayaseta lekat-lekat. "Suku Temenggung Beruang tidak mudah percaya orang. Lagipula mereka tinggal di pedalaman, beberapa hari berperahu dari sini. Mereka akan melawan siapa saja yang mendekat ke pemukiman mereka, apalagi Datuk sudah terlalu lama tak dapat menjenguk mereka. Tetapi lucunya, Dara masih ingat dengan baik arah ke perkampungan berbenteng kayu ulin itu, dan Datuk hebatnya juga mengerti bahwa Dara masih mengingatnya dengan baik. Maka dari itu, Datuk berpesan kepada Dara untuk membawa abang kepada Temenggung Beruang," terang Dara Cempaka panjang lebar.


"Dan, aku dapat menunjukkan kepala Karsa sebagai bukti bahwa aku adalah orang yang dapat dipercaya, karena membawakan kepala musuh terberat mereka," potong Jayaseta.


Dara Cempaka tersenyum lebar dan mengangguk mantap.


Namun wajah Jayaseta tiba-tiba menjadi murung. "Dara, tapi aku tak mungkin mengajakmu pergi ke tempat itu. Perjalanan ini akan membutuhkan waktu yang panjang, lama dan berbahaya," ujar pendekar muda itu.


Dara Cempaka jelas terlihat keberatan, "Dara pernah ke tempat itu, dan Dara paham kemana arahny, abang," balas Dara dengan nada suara meninggi.

__ADS_1


"Tapi, itu dulu, ketika kau bersama rombongan kerajaan, termasuk para prajurit bersenjata, termasuk Datuk yang sakti. Aku tidak bisa membiarkan engkau dalam bahaya, Dara," ujar Jayaseta kemudian.


Dara kembali tersenyum, "Ada abang yang juga sakti. Dara juga cukup lumayan dapat membela diri. Kita berdua akan dapat bertemu dengan Temenggung Beruang. Bila abang sendiri merasa mampu pergi walau tak tahu jalan dan tak dapat menggunakan tenaga dalam, lalu apa susahnya membawa adik? Adik janji tak akan menjadi bebas," ujar Dara Cempaka kembali tersenyum manis.


__ADS_2