
Akhir tahun 1639 Masehi, ketegangan antara Kompeni Walanda yang berpusat di pulau Jawa bagian Barat, yaitu Betawi, dengan bangsa bule lain yaitu Pranggi yang menguasai Malaka di Semenanjung Malaya semakin kental.
Kompeni Walanda mulai berani menantang kekuasaan Portugis di Timur sejak awal abad ke-17 Masehi. Di masa itu, Pranggi didapati telah mengubah Malaka menjadi sebuah benteng yang tak tertembus dan begitu kuat bernama Fortaleza de Malaca dalam lidah orang Pranggi. Benteng kota ini mengendalikan saluran ke jalur-jalur pelayaran di Selat Malaka dan perdagangan rempah-rempah di sana.
Walanda sendiri mulai melakukan penerobosan wilayah dan serangan kecil-kecilan terhadap Pranggi sebagai bentuk tantangan terhadap kekuasaan perdagangan dan ketentaraannya. Namun, upaya bersungguh-sungguh yang pertama kali dilakukan oleh Walanda adalah pengepungan Malaka pada tahun 1606 Masehi oleh pasukan VOC ketiga dari benteng Holandia beranggotakan sebelas kapal, di bawah nakhoda Admiral Cornelis Matelief de Jonge yang mengakibatkan pecahnya pertempuran laut di Tanjung Rachado.
Saat itu, Walanda masih kalah dan dibuat kabur kocar-kacir oleh Pranggi meski lebih banyak korban berjatuhan di pihak pasukan laut Pranggi yang dipimpin oleh Martim Afonso de Castro, seorang Pranggi yang diangkat menjadi Raja Muda Goa, sebuah kerajaan di negeri Hindustan yang ditaklukkan Pranggi sejak abad ke-16 Masehi.
Selain itu, akibat pertempuran ini, pasukan-pasukan Melayu Kesultanan Johor menjalin persekutuan dengan Walanda dan kelak juga dengan Kesultanan Aceh.
Sekitar kurun waktu itu, di sisi lain, Kesultanan Aceh telah tumbuh menjadi sebuah kekuatan nusantara dengan kesatuan angkatan laut yang mengagumkan dan menganggap Malaka di bawah kekuasaaan Pranggi ini sebagai ancaman yang perlahan dapat menjadi semakin membahayakan.
Maka, pada tahun 1629 Masehi, Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh mengirim beberapa ratus kapal untuk menyerbu Malaka. Akan tetapi serangan itu mengalami kegagalan besar, dimana di dalam penyerbuan itu seluruh kapal Iskandar Muda dihancurkan dan sekitar 19.000 prajuritnya tewas.
Saat ini, yaitu menunggu beberapa saat menjelang tahun 1640 Masehi, Kesultanan Aceh, Kesultanan Johor dan Kompeni Walanda terus bekerja sama dan membangun kekuatan untuk sekali lagi menyerang Pranggi dan merebut Malaka.
__ADS_1
"Aku memang belum terlalu pikun, apalagi jompo, Sasangka. Tapi aku sedang menuju ke arah sana. Itu tak terhindarkan sama sekali," ujar Babah Lau kepada Sasangka di rumah yang cukup luas tempat tinggal ia dan istrinya, Lau Siufan.
"Usaha ini tak akan mungkin dibiarkan hilang begitu saja. Aku dan ayah sebelumku sudah membangunnya lama. Aku juga melihat bahwa kau adalah pekerja tangguh dan bertanggungjawab. Bukan hanya itu, kau adalah seorang pendekar. Kita memiliki banyak persamaan, Sasangka," lanjut sang mertua.
Sasangka masih diam mencoba menduga arah percakapan ini. Lau Siufan duduk di sampingnya. Wajah cantiknya semakin terlihat bersinar setelah mereka menikah.
"Aku berencana membesarkan usaha penyulingan arakku ini dan bekerjasama dengan Kompeni Walanda," lanjut Babah Lau.
Sasangka tak bisa menolak untuk tersentak terkejut. Ia adalah orang yang paling membenci Walanda, walau ia dan Lau Siufan istrinya tinggal tak jauh di luar pagar benteng kota dan segala sisi kehidupannya adalah bagian dari pemerintahan Kompeni VOC Walanda. "Babah, aku minta maaf sekali. Namun tak cukupkah kita menjual arak para prajurit, perwira dan pejabat Walanda di dalam benteng tanpa harus bekerja bersama mereka?" ujar Sasangka mencoba menahan nada suaranya agar tak meninggi.
"Kita masih bisa meluaskan sayap, Babah. Kita bisa menjual ke pribumi atau terus saja menjual arak kepada Walanda atau orang bule lainnya dengan jumlah yang lebih banyak," lanjut Sasangka.
"Pribumi? Maksudmu para jawara, perampok, pencuri, atau priyayi Jawa yang kerap berkelahi di antara mereka sendiri?" kini malah nada suara Babah Lau yang menjadi naik.
Sasangka menyipitkan matanya.
__ADS_1
Melihat ini Babah Lau segera tersadar akan kesalahan kata-katanya. "Ah, Sasangka. Kau tahu bukan itu maksudku. Aku tidak merujuk para pribumi sebagai para penjahat. Aku merujuk para pembeli arak kita," ujarnya. "Coba kau pikirkan tentang berapa banyak orang pribumi yang mendapatkan pekerjaan bila usaha kita menjadi semakin besar? Pikirkan juga istrimu, Siufan, serta keturunanmu kelak. Bukankah mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik?" lanjut Babah Lau.
Sasangka mengangguk pelan. "Aku paham maksud Babah. Aku yang minta maaf karena telah berpikiran yang bukan-bukan mengenai Babah."
"Sudah, sudah. Jangan kau pikirkan lagi. Sekarang kau mau dengar rencana-rencanaku?" ujar sang Cina pemilik kedai dan penyulingan arak tersebut.
"Walanda, Aceh dan Johor pasti akan dapat mengalahkan Pranggi di Malaka dalam dua tiga tahun kedepan. Saat ini mereka sudah menghimpun kekuatan untuk menguasai Malaka. Artinya, Walanda juga akan menempatkan kantor, pejabat dan para prajuritnya di sana. Pada dasarnya, Malaka kelak akan menjadi Betawi kedua," ujar sang Babah bersemangat.
"Kau adalah pendekar dan pelaut ulung, Sasangka. Kau juga sekarang telah menjadi calon pengusaha penyulingan arak yang bermutu terbaik di seantero nusantara. Sebelum Walanda menaklukkan Pranggi Malaka, aku ingin kau berlayar ke sana, Malaka. Aku ingin kau membuka jalan dan mencari segala berita dan wawasan mengenai penjualan dan penyulingan arak di sana. Berbeda dengan Betawi dimana beberapa penyuling arak berasal dari kelompok orang-orang Cina seperti aku, di Malaka kau akan menemukan sesuatu yang istimewa," jelas sang Babah panjang lebar.
"Ada sebuah kampung bernama Sabba yang dibangun di tepian sungai dan dibina oleh pemerintah Pranggi. Kawasan itu cukup jauh dari Kota karena merupakan kawasan peralihan menuju pedalaman Malaka, tempat melintas kayu dan arang yang dibawa masuk ke Kota. Ada beberapa penghuni Melayu Muslim yang merupakan penghuni asli Kota Malaka sejak sebelum ditaklukkan oleh Pranggi, mendiami daerah rawa-rawa yang ditumbuhi pohon Nipah. Karena itulah, warga kampung tersebut terkenal sebagai para pembuat dan penyuling arak Nipah untuk diperdagangkan, termasuk kepada orang-orang Pranggi dan pendatang serta pengusaha yang mampir ke Malaka oleh beragam keperluan."
Sasangka mulai dapat meraba arah tujuan pembicaraan dan maksud mertuanya ini. Lau Siufan menggenggam tangan suaminya. Babah Lau melihatnya. "Aku tak minta kau pergi sekarang, Sasangka. Aku paham betul bagaimana perasaan orang yang baru saja menikah. Kau bisa pergi kapan saja, dua bulan, tiga bulan lagi. Terserah. Tapi aku berharap kau dapat berangkat sesegera mungkin agar kembali juga sesegera mungkin sebelum Walanda berhasil menduduki Malaka. Kelak sesampainya di sana, pelajari semuanya, pergi ke kampung Sabba dan temui orang-orang Melayu tersebut. Bekerjasamalah dengan mereka agar tak peduli siapa penguasa Malaka nantinya, mereka akan tetap mendapatkan keuntungan penjualan arak. Setelah paham peta perdagangan arak di Malaka, kita akan bekerjasama dengan Walanda kelak setelah mereka menguasai kota itu."
"Aku pasti mempertimbangkannya dengan baik, Babah. Beri sedikit waktu agar aku dan Siufan dapat membahas ini. Aku paham bahwa ini semua bukan hanya untuk kita, namun untuk keturunan kita, anakku kelak dan anak-anak mereka setelahnya," jawab Sasangka. Ia memandang tiga buah wedhung yang berada rapi di dalam warangkanya, diletakkan berjejer di atas sebuah meja jati bulat asal Jepara.
__ADS_1