
Arthit masih berusaha menyerang para prajurit bule dengan mengerahkan serangan-serangan mematikan yang bila memungkinkan dilakukan hanya dengan sekali atau dua kali gebrak.
Para prajurit bule tersebut mungkin memiliki ketangguhan ragawi pula. Bagaimanapun mereka adalah para prajurit pilihan yang sudah melanglang buana dari negerinya untuk bertempur di negeri-negeri asing. Ketangguhan mereka dalam banyak kejadian bisa dibuktikan lebih dari para pasukan nusantara dan sekitarnya. Namun, khusus sepuluh orang ini, mereka adalah pasukan penembak yang dilatih sedemikian rupa agar mahir dalam menembak, sehingga mengurangi kemampuan tempur yang lain.
Selain itu, yang dihadapi mereka kali ini adalah tiga orang pendekar pilih tanding. Ajal jelas sudah berada di depan mereka.
Arthit menghentakkan kaki ke tanah, kemudian menyerudukkan dua kepalannya sekaligus bagai gading seekor gajah. Yang dituju adalah dua orang penembak bule Pranggi.
Yang diserang membatalkan tembakannya dan menahan dada mereka dengan menyilangkan senapan mereka yang berjenis arquebus tersebut. Senapan panjang itu menahan pukulan Arthit dengan cukup baik dan cukup mengejutkan bagi Arthit. Tidak hanya itu saja, mungkin karena baru sadar siapa yang mereka hadapi, para prajurit Pranggi tersebut langsung dengan lincahnya menyesuaikan tindakan mereka.
Satu prajurit Pranggi mundur cepat dan menyetel senapan arquebus panjangnya, sedangkan satunya menyerang Arthit dengan sebuah sepakkan lurus ke perut.
Arthit dengan mudah menyilangkan kedua lengannya dan menahan tendangan itu. Sebagai balasannya, Arthit menyapu kaki sang penyerang keras, membuat musuh jatuh terlentang.
Arthit hendak menyelesaikan serangannya dengan penutupan, menginjak tubuh sang prajurit bule Pranggi tersebut untuk menghancurkan tubuhnya sekalian.
Jaka Pasirluhur meloncat dan menubruk Arthit dengan bahunya sehingga pendekar Siam itu tersentak mundur ke belakang dan bergulingan.
Kesempatan ini malah menjadikan ruang bagi para prajurit Pranggi yang siap untuk langsung menembak.
__ADS_1
DAR!
DAR!
DAR!
Asap mengepul dari moncong arquebus. Para penembak bahkan ada beberapa yang sudah siap dengan menyangga moncong senapan mereka dengan semacam besi panjang ke tanah. Arquebus yang biasanya memang digunakan untuk tembakan jarak jauh itu tentu memiliki gaya ledak yang besar sehingga memerlukan penopang agar arah tembakan bisa mapan dan tak goyah.
Mimis timah berdesingan. Kali ini menyambar bahu Jaka Pasirluhur, tetapi hanya menyerempet kulitnya. Namun, tembakan-tembakan tersebut nyatanya ditujukan kepada Arthit yang telah terdorong ke belakang.
Jaka Pasirluhur menggunakan kesempatan ini untuk bergulingan pula ke belakang. Bersama Sasangka ia sudah siap menerima kemungkinan terburuk karena para pasukan Pranggi tersebut berhasil menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka, dimana mereka memang terkenal lihai dalam hal ini.
Mimis timah panas tak tertahan oleh apapun lagi. Isi senapan itu menubruk tubuh Arthit tanpa ampun.
DAR!
DAR!
DAR!
__ADS_1
Prajurit lain yang sebelumnya sempat rubuh, kini telah kembali bangun dan dengan cepat serta cekatan menembakkan kenapa mereka. Juga pada satu tujuan.
Tubuh Arthit tersentak ke belakang berkali-kali, layaknya benda yang dihajar mimis timas panas.
Lucunya, serangan tembakan yang membabibuta itu tidak sama sekali diarahkan kepada Sasangka maupun Jaka Pasirluhur, padahal keduanya kini juga terbuka untuk serangan. Jarak yang tercipta sudah cukup bagi para prajurit Pranggi yang cekatan menggunakan senapan laras panjang itu untuk menembak mereka.
Asap putih mengepul tebal ke udara, menutupi pandangan.
Letusan berhenti setelah salah satu prajurit yang mungkin sekali adalah pimpinan pasukan ini memerintahkan mereka untuk menghentikan tembakan dengan berteriak dan mengangkat salah satu tangannya ke atas.
Ketika asap dan bau bubuk api perlahan menghilang, terlihatlah sosok Arthit yang meringkuk terbaring di balik rerumputan tinggi.
"Apa dia tewas?" gumam Sasangka?
"Apa ada kemungkinan lain?" balas Jaka Pasirluhur?
Sasangka tak membalas pertanyaan Jaka Pasirluhur yang bersifat sindiran tersebut. Ini karena keduanya sudah menatap para pasukan Pranggi yang tahu-tahu sudah mengarahkan moncong arquebus mereka ke arah kedua pendekar bertopeng dan berpenutup wajah itu.
"Kalau kau mau tahu apa yang terjadi dengan orang yang ditembak itu, mungkin ini saatnya kau buktikan sendiri," ujar Jaka Pasirluhur kembali berseloroh menyindir.
__ADS_1