
Salam pendekar bagi para pembaca yang budiman dan cerdik cendiakawan.
Dalam menulis episode-episode perjalanan Jayaseta ke pulau-pulau Melayu ini, penulis mendapatkan sumber-sumber yang lumayan melimpah, namun tidak sekadar dari buku atau jurnal penelitian. Penulis memanfaatkan blog dan website: baik tulisan pribadi seperti perjalanan pariwisata, sejarah tempat dan pencak silat, juga artikel resmi dari pemerintah daerah.
Agar mendapatkan atmosfir masa lampau, maka nama pulau Sumatra ditulis sedari awal dengan 'Samudra' yang memang menurut beberapa sejarawan, istilah pulau Sumatra berasal dari nama kerajaan besar di Aceh: Samudra Pasai. Walau kadang orang sekadar menyebutnya dengan pulau Melayu.
Meskipun penulis tetap merujuk sebaik mungkin dengan sumber-sumber sejarah, namun, novel ini tetaplah sebuah karya fiksi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan nilai ilmiahnya. Beragam konflik yang terjadi di dalam cerita antara beragam negeri Melayu, Pranggi (Portugis) dan Walanda (Belanda) meski memang tercatat, tetaplah banyak detio yang merupakan rekaan dan imajinasi serta kreatifitas penulis belaka.
Penulis mengharapkan agar setiap episode di cerita ini adalah semacam universe (jagad/dunia/semesta) yang berjalan beriringan dengan sejarah yang sungguh ada, namun bukan merupakan bagian darinya agar tak perlu dicampuradukkan dengan kenyataan atau fakta-fakta sejarah.
Maka dari itu pula, penulis sengaja tidak memberikan penjelasan atau catatan kaki mengenai nama tempat atau istilah yang di masa modern memiliki nama yang berbeda dan lebih dikenal. Misalnya Ayutthaya yang tidak perlu dijelaskan sebagai Thailand di masa kini, Dai Viet dan Champa yang sekarang adalah bagian dari Vietnam, Bisaya (pulau Visaya) yang merupakan bagian dari Filipina modern, atau Johor dan Malaka yang saat ini adalah nama-nama negara bagian negara Malaysia.
Sumber-sumber yang saya tulis berikut hanyalah serpihan kecil referensi yang saya gunakan untuk membantu saya merekonstruksi universe yang saya ciptakan dengan berbagi sejarah atau kejadian yang sungguh-sungguh ada.
Barangkali dengan memberikan beberapa catatan kecil ini, pembaca juga tertarik membaca secara langsung sumber-sumber tersebut.
__ADS_1
*Tidak semua sumber saya tulis di sini, pun tidak semua merupakan sumber yang lengkap (beberapa tak memiliki informasi mengenai penulis, tahun atau terbitan mana).
SEKADAR RUJUKAN
Dr. Hj. Helmiati, M.Ag. (2014). Sejarah Islam Asia Tenggara. Pekanbaru: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
King, Victor T., Ibrahim, Zawawi & Hassan Noor Hasharina. 2017. Borneo Studies in History, Society and Culture. Singapore. Springer Science+Business Media.
Rafiek, M. ---. Wiramartas dan Kapal Prabayaksa dalam Hikayat Raja Banjar. program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Lambung Mangkurat.
Rosnila, Priyadi, Antonius Totok & Salem Laurensius. ---. Mantra Pengobatan Pada Masyarakat Dayak Jelai Dusun Batu Menang Kecamatan Jelai Hulu
Kabupaten Ketapang. Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia FKIP Untan Pontianak.
Ruangsilp, Bhawan. 2007. Dutch East India Company Merchants at the Court of Ayutthaya. Dutch Perceptions of the Thai Kingdom c. 1604-1765. Leiden: Koninklijke Brill NV.
__ADS_1
Santosa, Hery & Bahtiar, Tapip. 2016. Mandau Senjata Tradisional Sebagai Pelestari Rupa Lingkungan Dayak. RITME Jurnal Seni dan Desain Serta Pembelajarannya.
Sewang, MA, Dr. H. Anwar. 2007. Buku Ajar Sejarah Peradaban Islam. Parepare: Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN), Parepare Sulawesi Selatan.
Surat dari Raja Johor, Abdul Jalil Shah IV (1699-1720), kepada Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck, 26 April 1713. Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari Arsio VOC di Jakarta. www.ssejarah-nusantara.anri.go.id
Surat berasal dari Phrakhlang atas nama Raja Siam Narai (berkuasa, 1656-1688) ditujukan kepada Pemerintah Agung, 27 Januari 1683 dan jawaban dari Batavia 11 Mei 1683. Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari Arsio VOC di Jakarta. www.ssejarah-nusantara.anri.go.id
Tarling, Nicholas. 1994. THe Cambridge
History of Southeast Asia Volume One. From Early Times to c. 1800. Cambridge: University of Cambridge Press.
----. Sejarah Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1977/1978.
----. 2018. Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) XIV Bogor, 24 – 27 Juli 2017. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
__ADS_1