
Jayaseta berlari begitu cepat bagai kilat. Dua perampok di depannya yang sedang memasang kuda-kuda mengancam para pedagang sama sekali tak menduga serangan ini. Mereka berada di lapis kedua dari keseluruhan sebelas perampok.
Sebenarnya, bukannya tak siap, tapi Jayaseta terlalu cepat. Lapisan pertama yang terdiri dari lima perampok berilmu paling tinggi langsung terkejut dan keteteran.
Beberapa pendekar yang bertugas melindungi tuan dan dagangan mereka ternyata sudah berguguran. Ada yang tewas di tempat, ada yang terluka, ada pula yang terlucuti senjatanya dan berlarian ketakutan. Keberadaan Jayaseta sebenarnya sangat menguntungkan mereka.
Tiga perampok paling depan membabatkan kedua pedang mereka menyilang berkali-kali demi sabetan daab ganda sosok berpenutup mulut tak dikenal tersebut. Awalnya para perampok berpikir bahwa sosok itu hanyalah salah satu dari para penjaga barang dagangan belaka. Namun, serangannya yang hanya sejurus dua jurus itu begitu galak dan berbahaya.
"Hati-hati. Orang itu pendekar. Ia sudah membunuh rekan-rekan kita," seru salah satu perampok melihat jauh di belakang, teman-teman perampok mereka terkapar di atas tanah.
Percikan api meletup-letup dari bilah logam daab yang saling berbenturan. Satu pedang terlepas dari tangan salah satu perampok yang melihat tak percaya pada musuhnya. Tangannya terasa kebaya dabln kesemutan akibat benturan tersebut.
Namun, keterkejutannya tak bertahan lama. Ujung daab Jayaseta menembus masuk dada langsung menghancurkan jantungnya. Tubuhnya jatuh ke bumi, menegang dan meggelepar sejenak sebelum ia akhirnya benar-benar tewas. Daab masih menempel di dadanya.
__ADS_1
Dengan satu buah daab, Jayaseta mengejar dua perampok lain. Ia memutarkan pedang Siam itu melewati lehernya seperti menggunakan sebilah golok, kemudian menggunakan tangannya yang bebas untuk menepis lengan musuh, sama seperi jurus-jurus Kali Bisaya milik Katilapan. Sedangkan, kakinya menjejak lutut lawan, dan lututnya menyodok perut musuh.
Semua gerakan ini dilakukan dalam tiga jurus saja. Dua perampok jatuh bergulingan di tanah. Ketika mereka mencoba bangun, Jayaseta meluncur lagi, memberikan tendangan Guntur dari Selatan, menjatuhkan mereka lagi. Pedang terlepas dari tangan mereka seutuhnya.
Jurus-jurus Jayaseta sudah mencapai taraf cepat dan tepat guna. Ia paham sekali dengan apa yang mau ia lakukan. Namun di sisi lain, ia juga menyesuaikan gerakan-gerakannya dengan serangan dan jurus-jurus lawan.
Dua perampok terakhir memandang sepak terjang Jayaseta dengan teliti. Ketertarikan tergambar di garis-garis wajah mereka.
Keduanya mengenakan sepasang giwang lebar. Kepala mereka plontos, ditutupi ikat kepala kain yang menjuntai di bagian belakang. Penutup bagian bawah tubuh mereka adalah kain yang dibebat membentuk cawat, sedangkan dada mereka telanjang dengan hiasan rajah terlukis dimana-mana. Sarung daab di punggung diikatkan menyilang. Tubuh gelap mereka tersirami oleh mentari, semakin mengilap dan mengilat.
"Namaku Pendekar Topeng Seribu. Segera pergi tinggalkan orang-orang ini atau kalian akan mendapatkan ganjarannya. Aku tak peduli kalian paham atau tidak dengan bahasaku, yang jelas, aku tak akan mengulanginya lagi," seru Jayaseta ketika melihat sisa dua orang perampok yang berdiri di hadapannya.
Katilapan, Narendra, Siam dan Ireng mengehela nafas panjang. Bahkan Siam menepuk keningnya. "Ah, sial, Jayaseta. Seperlu itulah kau menjelaskan kepada mereka? Bagaimana dengan rencana yang telah kita buat?" desahnya lirih.
__ADS_1
Dara Cempaka secara mengherankan malah tersenyum geli. "Abang Jayaseta adalah orang yang berbeda ketika berada di balik penutup wajah atau topengnya. Ia tak bisa lari dari takdirnya, seorang pendekar bertopeng yang memang bertujuan melawan hal-hal yang tak sesuai dengan hati nurani dan hukum keadilannya," jelas gadis itu.
Katilapan dan Narendra hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Mereka sadar ucapan Dara Cempaka benar adanya. Mereka cukup mengenal saudara pendekar mereka itu.
Di sisi lain, seruan Jayaseta dalam bahasa Melayu itu bagaimanapun dipahami banyak dari rombongan yang langsung saja terdengar berbicara sahut-menyahut. Segala berita mengenai Pendekar Topeng Seribu langsung mereka ungkit kembali. Kehebatan sang pendekar telah tersohor, meski ada desas desus mengenai kejahatan yang dilakukannya pada para prajurit Siam, toh keberadaannya di tempat ini melawan para perampok memberikan angin segar dan harapan. Mereka pasti akan aman.
Kedua perampok ternyata pun paham dengan bahasa Jayaseta. Selama belasan tahun pengalaman merampok, mereka sudah bertemu dengan berbagai macam korban dari pelbagai bangsa. Apalagi orang-orang Melayu yang merupakan tetangga negeri Siam.
Namun, tentu yang membuat kali ini berbeda, adalah bahwasanya bila memang benar, keberuntungan berada di pihak mereka karena akhirnya dapat bertatap muka dengan sosok pendekar tersebut.
Kedua perampok yang tersisa menancapkan pedangnya ke tanah. Kemudian memasukkan jari mereka ke dalam mulut. Suara melengking siulan terdengar keras dari mulut mereka. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali seakan memberikan semacam tanda.
Benar saja, di balik bukit, di sela-sela pepohonan terdengar bunyi gemuruh dan ringkikan kuda. Puluhan pasukan perampok muncul dari atas kuda-kuda yang dipacu dengan cepat. Di tangan para penunggangnya mencuat daab dan tombak panjang.
__ADS_1