Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pendekar Harimau Muda Kudangan


__ADS_3

Dara Cempaka sudah tak mungkin dicegah keinginannya untuk ikut serta bersama Jayaseta pergi ke pedalaman. Raja Nio dan para awak malah menawarkan diri untuk ikut pergi masuk ke rimba bersama mereka.


Jayaseta menjadi semakin heran. Apa yang sudah ia perbuat sehingga orang-orang di sekelilingnya berani memberikan bantuan atau pertolongan? Dengan ini pula ia telah banyak menyebabkan korban berjatuhan. Setiap langkah yang ia buat seakan memberikan akibat yang tidak jarang adalah hal-hal buruk.


Sudah barang tentu Jayaseta menolaknya. Tapi apalah daya, ia benar-benar tak akan dapat selamat sampai tujuan bila bersikeras untuk menolak bantuan yang ditawarkan. Bukan karena bahaya musuh-musuh, perampok atau begal di tengah jalan, namun lebih kepada alam sebagai lawannya.


Jayaseta tak dapat berenang. Ia tak akrab dengan perahu, mendayung dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Sedangkan, Dara Cempaka jelas mengatakan bahwa mereka harus menyusuri sungai selama beberapa hari. Tanpa bantuan sama sekali, tak peduli seberapa sakti dirinya, Jayaseta akan dengan mudah tewas di jalan, mati konyol tenggelam di sungai atau kematian-kematian tak pantas lainnya.


Dara Cempaka bahkan sudah mengenakan pakaian laki-laki yang membuatnya terlihat sangat berbeda. Kain sarung di pinggang, ikat kepala tinggi, baju berkancing berlengan panjang.


"Adik yang akan mendayung perahu kita abang. Tapi terus terang, ini akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama mengingat perahu yang akan kita gunakan lebih kecil dibanding perahu-perahu rombongan kerajaan Sukadana dahulu. Selain itu, ... Eh, maaf, abang ... Ini karena, hanya adik yang mendayung," Dara Cempaka malu-mal untuk mengatakannya, walau Jayaseta sangat paham dengan hal ini.


"Sudah kukatakan kepadamu, Jayaseta. Biarkan aku memberikan bantuan kepadamu sekali lagi. Bila tidak dalam keadaan seperti ini, aku sendiri yang akan mengantarmu ke tempat itu, dimanapun berada. Biarkan dua awakku ikut denganmu. Bila kau takut dengan keselamatan mereka, kau bisa bisa melanjutkan setelah beberapa hari perjalanan tanpa mereka. Keduanya akan menunggu kau pulang di tempat yang nanti kalian sepakati. Lagipula, aku tak akan kemana-mana dalam waktu yang cukup lama," bujuk Raja Nio kepada Jayaseta. Ia berusaha duduk di atas dipan dengan tubuh yang jauh dari kata 'pulih.' Meski begitu, Raja Nio sudah bisa dibilang membaik dengan cukup cepat, melihat luka parah yang ia derita.


Terlambat bagi Jayaseta untuk merasa segan dan tak enak hati, karena kedua awak Raja Nio tiba-tiba sudah siap dengan pakaian dan perlengkapan mereka. Keduanya terlihat sangat bersemangat untuk membantu perjalanan pendekar muda itu. Jayaseta menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya keras.


***


Kerajaan Pagarruyung sudah berdiri di tanah Minang pulau Melayu Samudra semenjak tahun 1300 Masehi pada masa tanah Nusantara masih beragama Hindu. Raja kerajaan Pagarruyung pertama bernama Akarendrawarman. Kerajaan besar ini menguasai banyak negara jajahan di pulau Melayu seperti kerajaan Siak, Kampar dan Indragiri.

__ADS_1


Sayangnya, sama seperti kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, pada saat Majapahit di bawah Patih Gajah Mada yang sedang galak-galaknya memperluas kerajaannya menyerang ke pulau Melayu, kerajaan Pagarruyung harus rela melepaskan negara-negara bawahannya yang dicaplok oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh. Ini dikarenakan kerajaan Pagarruyung menjadi lemah atas peperangan dengan Majapahit yang terjadi di Padang Sibusuk di hulu Sungai Batanghari tahun 1409 dan 1411 Masehi.


Dalam waktu seratus tahun setelah masa kekuasaan Ananggawarman yang turun tahta pada tahun 1411 Masehi itulah, agama Islam mulai masuk mempengaruhi kehidupan masyarakat Pagarruyung di hampir segala sudut dan bagian, sehingga kerajaan Pagarruyung berubah menjadi sebuah Kesultanan dengan Sultan Ahmadsyah sebagai penguasanya.


Pada masa kesultanan Pagarruyung inilah, banyak anggota keluarga kerajaan, prajurit dan masyarakat yang merantau ke banyak daerah di Nusantara dan mancanegara.


Salah satu perantau dari kerajaan Pagarruyung yang bernama Malikur Besar Gelar Patih Sebatang Balai Serunga, yang merupakan seorang datuk dari kesultanan Pagarruyung merantau dengan berlayar ke pulau Tanjung Pura. Datuk Malikur Besar dan beberapa pengikutnya memasuki sebuah alur sungai di pedalaman pulau Tanjung Pura dan menemukan sebuah daerah yang ditinggali suku-suku asli pulau Tanjung Pura yang dikenal dengan sebutan suku Daya atau suku Darat.


Tak lama sang Datuk terpikat dengan perkampungan suku Daya ini. Masyarakat yang sederhana namun penuh dengan gotong royong dan kerjasama yang baik, saling menghargai dan kekeluargaan yang kuat.


Belum lagi sumber makanan yang kaya. Dari buah-buahan di hutan, kayu dengan mutu baik untuk bangunan dan perahu, sungai dan danau penuh ikan, hutan penuh binatang liar dan burung yang laik makan, atau tanah yang menumbuhkan beragam sayuran adalah alasan lain kecintaan sang Datuk dengan tempat ini.


Singkat cerita, setelah melalui beragam permasalahan, memakan korban dan pertikaian, sang Datuk akhirnya berhasil mendirikan sebuah kerajaan kecil yang diberi nama Kudangan. Dalam perkembangannya, kerajaan Kudangan ini kemudian berpenduduk suku asli yang berbaur, bercampur dan berkawin-mawin dengan rombongan Datuk Malikur Besar dari kesultanan Pagarruyung tersebut.


Seorang pendekar berdiri tegak di samping dua perahu yang berisi tujuh orang prajurit dan pengikutnya. Nampak sekali, walau ia adalah seorang pengamal ilmu kanuragan, sang pemuda ini juga memiliki darah kerajaan.


Pandangan matanya bersinar bersemangat melihat arus sungai. Sebagai seorang berdarah Minang namun menetap lama entah keturunan yang keberapa di Kudangan, sang pendekar memiliki sosok yang bisa dikatakan berbeda.


Ia mengenakan ikat kepala khas Minang yang tinggi dan diikat membentuk dan menyerupai tanduk kerbau. Ia juga mengenakan celana panjang berwarna hitam dengan corak benang emas di pergelangan kaki yang menyempit, pinggangnya dibalut kain sutra berwarna cerah, namun dadanya ditutupi rompi kaku yang terbuat dari kulit kayu seperti umumnya pakaian prajurit suku-suku pedalaman tanah Tanjung Pura. Ada sebilah do pendek menggantung di pinggang bagian kiri dan dua buah bilah belati melengkung diselipkan di balik sabuk kulit di bagian depan pinggangnya.

__ADS_1


Pendekar muda itu memiliki sebuah ketampanan yang sulit dilukiskan dengan sederhana. Busananya menunjukkan bahwa ia datang dari keluarga terhormat dan kemungkinan besar berdarah biru. Namun garis-garis wajah dan keliatan otot-ototnya menunjukkan hasil latihannya yang keras.


Ia memandang riak sungai di tepian, serta arus di tengah yang melaju cepat. Ia tak sabar lagi untuk menyambut kedatangan Pendekar Topeng Seribu.


Ia sudah mendengar jauh-jauh hari bahwa sang pendekar tersohor itu akan hadir di tanah Tanjung Pura. Dengan segala kemampuan titahnya, sang pendekar dapat menemukan kabar yang dapat dipercaya bahwa si Pendekar Topeng Seribu akan melewati sungai ini dalam beberapa hari ke depan untuk menuju ke sebuah tempat di pedalaman.


Ia masih memiliki banyak waktu untuk menghadang rombongan itu dan menantang sang pendekar dari Jawa tersebut untuk bertarung tepat di tanah lapang tepian sungai ini.


Namun sementara, ia akan membangun perkemahan untuknya dan para pengikutnya tinggal beberapa hari kedepan.


Ia akan mempersiapkan segala sesuatu demi penyambutan terbaik tokoh yang sudah terlalu lama ia nanti-nantikan.


Ia bahkan sudah menciptakan nama julukan kependekarannya sendiri, yaitu  Pendekar Harimau Muda Kudangan.


Kedua matanya berbinar-binar membayangkan pertemuannya dengan sang pendekar kelak. Ia duduk di tepian perahu dengan santai sembari menunggu para pelayan dan prajurit mendirikan kemah, memasak, dan membersihkan satu dan lain hal.


Sang Pendekar Harimau Muda Kudangan mencabut sepasang belati dengan bilah melengkung bagai cakar harimau itu, memainkannya, berdiri dan memasang kuda-kuda.


Tak lama tubuhnya sudah hanyut dalam sebuah latihan jurus-jurus silat. Gerakannya sangat cepat. Melompat, meloncat, berjumpalitan sekaligus bermain jurus-jurus bawah, seperti satuan maupun serangan rendah. Semua serangan begitu berbahaya sehingga nampaknya memang ditujukan untuk membunuh lawan.

__ADS_1


__ADS_2