
Sudah berbulan-bulan Pratiwi belum mendengar kabar kakek kandung dan kembarannya, Karsa dan Mandura, sepasang pendekar kembar Sang Penyair Baka.
Mereka berdua adalah telik sandi yang cakap selain sakti pula. Andaikata ia sudah pulih benar, jelas ia sudah angkat kaki dari tempat ini untuk menyeret kakang Jayaseta tercintanya, memaksanya mengawininya sekarang juga.
Namun mau dikata apa, serangan Jayaseta yang membekas di dadanya masih kerap kambuh dan menusuk-nusuk bagian dalam tubuhnya.
Karsa sang kakek berjanji akan meringkus pendekar muda bergelar Pendekar Topeng Seribu tersebut. Untuk meyakinkan dirinya, Pratiwi memerintahkan beberapa anggot Jarum Bumi Neraka untuk ikut serta.
Pratiwi bahkan berbohong pada Kompeni Walanda yang membayar mereka, bahwasanya anggota Jarum Bumi Neraka ini sedang dalam sebuah tugas mengamankan kepentingan-kepentingan Walanda di luar Betawi.
Namun mungkin sudah lebih dari dua bulan sejak terakhir ayah dari ibunya, Sarti, itu pergi dan tak ada kabar bahkan dari anggota Jarum Bumi Neraka.
Ia sendiri masih berkutat mengobati rasa sakit yang dideritanya.
Di bawah pohon rindang, di sebuah lapangan agak jauh dari parit yang mengelilingi benteng kota Betawi, Pratiwi mengenakan selembar kain kemben dan selembar kain lagi yang membebat bagian bawah tubuhnya serupa cawat laki-laki.
Tubuhnya yang mulus dan berkulit gelap itu terperciki cahaya mentari yang menusuk bagai jarum semesta melewati sela-sela dedaunan. Rambutnya yang digelung rapat memamerkan tengkuknya yang ramping.
Pemandangan indah penuh berahi ini akan segera terhapus bila melihat apa yang sedang dikerjakan oleh perempuan muda nan mungil tersebut. Pratiwi sedang melatih ilmu kanuragannya.
Lengan dan tungkai kaki yang langsing itu memukul serta menendang udara dengan begitu cepat dan keras. Gerakannya sama sekali tidak gemulai dan lembut, sebaliknya penuh dengan tenaga dan amarah.
Yu memperhatikan tidak begitu jauh dari tempat itu. Seperti semua laki-laki Cina pada jaman kemaharajaan wangsa Ming, ia menggulung rambut panjangnya di atas kepala dan membuat konde dengan satu tusuk panjang dari kayu.
Busananya berwarna putih pudar yang sedikit lusuh. Ia mengenakan baju dengan lengan lebar tak berkancing namun bertali serta celana panjang yang juga lebar dan mengkerucut di bagian pergelangan kaki. Ia tak beralas kaki, duduk bersila, mengunyah sebatang ilalang sembari melihat pemandangan indah di depannya.
Namun sebenarnya hatinya penuh rasa khawatir. Pendekar perempuan itu belum benar-benar pulih, bahkan setelah sekian lama. Hanya karena kekeraskepalaannya lah Pratiwi dapat sembuh dengan lebih cepat, betapa parah luka yang dideritanya.
Walau Pratiwi sudah dapat bergerak dengan lincah dan gesit, pun pukulan dan tendangannya bertenaga, namun ia masih belum bisa menggunakan tenaga dalamnya dengan baik. Setiap ia berusaha menggunakan bahkan sedikit saja tenaga dalam, dadanya akan terasa sesak, bahkan dalam beberapa kejadian, ia bisa memuntahkan darah.
Yu sejak saat pertama menolong Pratiwi terus mencoba memberikan pengobatan teratur dengan Zhen Jiu atau pengobatan tusuk jarumnya kepada Pratiwi.
Awalnya Yu berpikir ia tak akan pernah melihat sang gadis itu kembali setelah kepergiannya tempo hari.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba selang beberapa hari Pratiwi muncul ke rumah pengobatan milik Meester Equa dan langsung mencari Yu. Ia minta Yu untuk memberikannya pengobatan jarum itu karena dadanya terasa sesak. Luka membiru itu kembali muncul.
Yu masih belum menemukan titik tepat pengobatan Pratiwi. Meski berkat pengobatannya, Pratiwi menemukan kekuatan perlahan, namun itu tak cukup. Ia ingin dapat sembuh sempurna secepat mungkin. Banyak urusan yang harus dilakukan dan ia harus turun tangan langsung.
Meester Equa mengatakan bahwa kalaupun ia turun tangan membantu pengobatan, itu tidak ada bedanya. Ia memahami pengobatan barat dan timur dalam bentuk tanaman dan ramuan serta Zhen Jiu yang sudah ia ajarkan kepada Yu. Sedangkan Ngalimin bersikeras ia tak tahu apa-apa tentang luka semacam itu. Ia juga takut dengan Pratiwi karena ia adalah anggota ketentaraan Walanda di bawah kelompok de Jaager. Dari awal ia tak pernah diminta untuk membantu gadis itu, ia tak mau lancang, begitu ujar Ngalimin.
Yu tak bisa menyalahkannya, Pratiwi memang bukan gadis biasa.
Namun bagaimanapun ia masih berpendapat bahwa Ngalimin paham segala sesuatu yang berhubungan dengan pengobatan dari luka semacam ini, luka pertempuran. Mungkin dari hasil ledakan tenaga dalam dan sejenisnya. Hanya saja, tak ada yang bisa ia lakukan saat ini.
Yu membuang batang ilalang yang ia gigit. Mentari sudah makin naik ke atas. Ia tak melihat sesuatu yang memgkhawatirkan hari ini pada Pratiwi. Ia juga tak cukup sabar hari ini karena tidak diacuhkan oleh Pratiwi, sama seperti hari-hari lainnya.
Ia berdiri, berjalan ke arah pasar dekat benteng kota dengan lunglai.
Pratiwi memerhatikan kepergian Yu sang tabib Cina dengan ekor matanya. Ia melanjutkan memainkan jurus-jurus mematikan tanpa mau mencoba menggunakan tenaga dalamnya.
***
Mereka bertani padi dan tebu sehingga dapat menyuling arak yang terbuat dari beras merah, tebu dan nira. Arak buatan orang-orang Cina di Betawi ini bahkan menjadi barang dagangan yang digemari orang-orang bule di negara mereka.
Bahkan Jan Pieterzoon Coen, sang gubernur Betawi kala itu, tepatnya pada tahun 1619 Masehi mengatakan bahwa, "Bangsa kita harus minum atau mati."
Kata-kata ini menunjukkan begitu pentingnya arak bagi orang-orang Walanda, baik bagi diminum dan dinikmati sendiri, untuk kesehatan, kesenangan ataupun bagi perdagangan.
Orang Cina sudah menyuling arak jauh sebelum Walanda datang dan menguasai Betawi.
Tercatat, armada Belanda di bawah pimpinan Wybrand van Warwijck dalam pelayaran kedua ke Nusantara sempat mampir ke Jayakarta, sebelum daerah itu kelak bernama Batavia dalam bahasa Walanda atau dikenal sebagai Betawi di lidah Melayu, dalam perjalan ke Maluku. Di Jayakarta mereka mempersiapkan dan mengisi kapal dengan segala macam perbekalan pada tahun 1599 Masehi.
Disela-sela kegiatan mengumpulkan air bersih untuk minum, mereka juga membeli arak beras dalam jumlah besar dari orang Cina. Delapan tahun kemudian, yaitu pada 1607 Masehi, Laksamana Cornelis Matelied de Jonge yang berlabuh di Jayakarta memberikan kesaksian bahwa mereka memperoleh berkendi-kendi arak di sini.
Selain itu, Gubernur Jenderal kongsi dagang Walanda VOC, Gerard Rejnst turut menandatangani pejanjian kerja sama antara dirinya dengan pangeran Jayakarta pada tahun 1614 Masehi yang berisi kuasa membangun gudang serta penghapusan pajak atas arak.
Babah Lau adalah salah satu pedagang dan pengusaha arak di Betawi ini. Kedai araknya mungkin tak terlalu besar, namun merupakan salah satu yang teramai karena dianggap memiliki mutu dan rasa dengan cita rasa tinggi.
__ADS_1
Prajurit Walanda, prajurit pribumi sewaan, sampai pedagang dan pelancong tiap hari selalu mampir ke kedainya untuk menikmati cairan penenang otak dan jiwa tersebut.
Rambut panjang Babah Lau yang sudah memutih di beberapa bagian terkonde rapi. Ia menggulung lengan pakaiannya yang lebar dan sibuk menuang arak ke gelas tanah dari botol. Di sudut lain kedai tersebut, Lau Siufan, sang putri sedang menggeser-geser guci-guci berisi persediaan arak.
Para pembeli duduk di tanah, sedangkan orang-orang penting serta langganan duduk di bangku panjang dari kayu dan bambu.
Lau Siufan sudah melihat kedatangan Yu dari jauh. Ia menyeret kaki telanjangnya ke kedai arak itu. Kemenakan laki-laki jauh babahnya itu hari ini terlihat tak bersemangat.
Lau Siufan tersenyum. Apa lagi bila bukan perihal asmara, pikirnya.
"Ah, kau, Yu. Masuk, masuklah. Jangan duduk di situ, itu untuk pelanggan. Kau kan kemenakan jauhku," ujar Babah Lau.
"Terimakasih, Gao fu," ujarnya pendek.
"Hari yang bagus untuk secangkir atau dua arak, bukan, koko Yu? Untuk kesehatan hatimu, bukan untuk mabuk," sambut Siufan ketika melihat sepupu tuanya itu mendeprok ke lantai tanah.
"Ah, A Mui, seperti tahu saja kau bagaimana hatiku," ujar Yu.
"Begini-begini, aku kan perempuan dewasa, ko. Aku tahu bagaimana asmara membuat hati seseorang hancur atau sebaliknya berbunga."
Yu memicingkan kedua matanya sembari melihat Siufan, "Kau sungguh tahu bahwa aku sedang gandrung?"
"Naah ... Benar kataku, bukan?"
"Ah, sial! Kau menjebakku, A Mui Siufan!"
Siufan tertawa lepas. "Tenang, tenang, Koko Yu. Aku paham rasanya, aku juga sedang menanti kedatangan orang yang berjanji akan segera mengawiniku setelah syarat yang aku ajukan terpenuhi. Sebenarnya aku agak menyesal meminta syarat tersebut, tapi dia tetap melakukannya demi menunjukkan niatnya. Tinggal aku sekarang yang didera penantian ini."
"Apa?! Kau juga sedang jatuh cinta? Siapa laki-laki beruntung itu, A Mui? Apa yang kauminta padanya? Ceritakan pada kokomu ini!" Yu terlihat girang dan bersemangat.
"Wah, kau harus menceritakan dulu kisah asmaramu dulu, ko. Ceritaku sebenarnya adalah pancingan agar kau mau bercerita lebih dahulu," Siufan terkikik.
"Kau benar-benar licik dan curang, A Mui. Tapi baiklah, aku akan ceritakan semuanya, dan lihat bagaimana dengan ceritamu nanti. Entah mana yang lebih pedih. Namun, beri aku secangkir ... Tunggu, sebotol arak itu dahulu."
__ADS_1